Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 2

Rupanya, perkenalan yang teramat singkat di ruangan Aiman hari itu tak hanya berakhir sebagai sebatas perkenalan saja. Atas bantuan Aiman, Kian benar-benar serius mendekati Aurelie dan mendapatkan respons yang sangat baik. Beberapa kali mereka jalan berdua meski tanpa hubungan yang jelas. Akan tetapi, keduanya begitu menikmati kebersamaan yang tercipta dengan asyik. Bahkan, ketika Kian tengah dirawat di rumah sakit sekalipun. Aurelie dengan senang hati sesekali menemani laki-laki itu.

Lalu, hari ini adalah tepat empat bulan setelah perkenalan singkat mereka. Dan hari ini juga mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Mereka akan berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mencintai satu sama lain. Mengikat hubungan mereka dengan ikatan halal.

Aurelie sudah duduk di pinggir tempat tidur setelah wajahnya dipoles begitu cantik dan mengenakan gaun berwarna putih bersih. Perempuan cantik itu merasa gerogi. Beberapa kali ia harus mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri.

"Sudah siap?"

Aurelie langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dari balik pintu muncul sosok wanita dengan kebaya berwarna biru muda yang tampak juga sangat cantik. Aurelie masih bisa saja mengulum senyum manisnya meski tengah dilanda kegugupan yang teramat sangat. Sembari menunggu wanita yang tak lain adalah manusia yang sudah mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya itu melangkat mendekat, ia bangkit dan berdiri di dekat tempat tidur.

"Aku gerogi, Ma," ucap Aurelie seraya menunjukkan kedua telapak tangannya yang tampak berkeringat. Lalu, ia menyatukan tangannya dan saling menggenggam erat satu sama lain. Sejauh ini, baru kali ini Aurelie merasakan perasaan yang bahkan untuk menggambarkan dengan jelas saja ia tidak bisa. Apakah memang semua pengantin baru seperti ini?

Jena—sang ibu—hanya terkekeh kecil mendengar ucapan dan melihat ekspresi yang ditunjukkan putri semata wayangnya itu. Jena lantas meraih kedua telapak tangan sang putri dan menggenggamnya dengan erat. Seakan mentransfer ketenangan untuk perempuan manis buah cintanya itu. "Atur napas, ya. Kau hanya butuh tenang," ujarnya dengan suara yang sangat lembut.

"Apakah Mama dulu seperti ini juga?"

Sekali lagi, Jena terkekeh mendengar pertanyaan Aurelie. Lalu, ia menganggukkan kepala. "Mungkin lebih dari yang kau rasakan saat ini," balas Jena. "Tapi, Oma yang selalu meyakinkan Mama untuk tetap tenang," sambungnya.

Jena menatap lekat sepasang bola mata bulat milik Aurelie. "Dan sekarang, kau juga harus melakukan hal yang sama," ucap Jena seraya melayangkan senyum versi terbaiknya.

Seperti terhipnotis, Aurelie langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

•••••

"Saya terima nikah dan kawinnya Aurelie Razeta Giovandra binti Eza Giovandra dengan emas kawin tersebut dibayar tunai."

Ucapan kalimat syukur menggema mengisi ballroom hotel yang menjadi ruang pernikahan itu. Beberapa di antara manusia-manusia dalam balutan kebaya itu tak ayal menitikkan air mata haru. Terlebih dengan seorang perempuan berbalut kebaya putih bersih yang tengah menggenggam tangan sang ibu. Adalah Aurelie.

Perempuan itu tanpa sadar menitikkan air mata setelah Kian dalam sekali tarikan napas berhasil mengucapkan ijab kabul. Ia merasa terharu, karena kini Kian sudah membuktikan dan berjanji di hadapan Tuhan menjadikannya seorang perempuan yang akan dipercaya menemani laki-laki itu sepanjang hidup. Meski tak saling mengenal lama, ia begitu yakin dan dengan cepat menaruh hati pada Kian.

Jena menuntun Aurelie berjalan mendekat ke arah di mana Kian duduk mengucapkan ijab kabul. Ratusan pasang mata menjadi saksi bagaimana kecantikan Aurelie terpancar dengan sempurna. Bak seorang model, Aurelie menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Tak ayal beberapa di antara mereka langsung memuji kecantikan perempuan itu. Kecantikan yang begitu mempesona.

Kian. Laki-laki itu bahkan tanpa berkedip menatap Aurelie yang berjalan dengan begitu anggun perlahan mengikis jarak dengannya. Mata sembapnya semakin terlihat menyipit ketika sebuah lengkungan manis tercipta menghiasi wajah. Kian seperti tidak percaya, bahwa sekarang ia sudah berhasil mempersunting perempuan pujaan hatinya. Perempuan yang mau menerimanya dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak sempurna.

Kini, Kian dan Aurelie berdiri dengan posisi saling berhadapan. Keduanya saling melempar tatapan begitu dalam untuk beberapa saat. Lantas, Aurelie meraih tangan Kian, menggamit, dan mencium tangan laki-laki itu. Sedangkan, Kian langsung meraih kepala istrinya dan mencium kening Aurelie cukup lama.

Laki-laki itu berbisik di telinga sang istri, "Aku mencintaimu, Aurelie Razeta Giovandra."

Pipi Aurelie memerah. Ia menundukkan kepala tersipu malu. "Jangan buat aku salah tingkah di depan orang banyak, Ki," ucap Aurelie dengan suara kecil yang membuat Kian tertawa.

Selepas ijab kabul dilanjutkan dengan acara resepsi. Suasana ramai penuh kebahagiaan itu begitu dinikmati oleh Kian. Ia masih tidak percaya, bahwa hari ini akan benar-benar terjadi dan akan menjadi salah satu hari terindah dalam hidupnya.

Keduanya sudah mengenakan pakaian berbeda dari sebelumnya. Namun, masih tetap setia dengan wajah penuh kebahagiaan itu.

Sebagai raja dan ratu sehari, Kian dan Aurelie harus siap menerima ucapan selamat dari setiap tamu undangan yang menghadiri acara mereka. Mereka harus berdiri lama. Sampai sepasang bola mata bulat Aurelie terarah pada wajah laki-laki di sampingnya.

"Kau capek? ya?" tanya Aurelie dengan suara yang sangat lembut. Di balik kelembutan suara itu, tersirat kekhawatiran di sana.

Kian menoleh. Ia tak langsung menjawab. Ditatapnya wajah cantik dalam polesan make up itu. "Tadinya aku capek. Tapi, setelah aku melihat wajah cantik istriku, capekku langsung hilang," balas Kian membuat pipi Aurelie bersemu merah.

Sebal, tetapi berhasil membuat Aurelie tersipu. "Ki, sudah. Jangan menggombaliku terus," ucap Aurelie dengan suara gemasnya.

"Kata siapa aku sedang menggombalimu, hm? Kau memang cantik, Sayang."

Sekali lagi, Aurelie dibuat tersipu oleh Kian.

"Ki, kalau kau capek bilang, ya," ucap Aurelie setelah beberapa saat terdiam. Jujur saja, ia takut jika kondisi laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu akan menurun. Aurelie tahu jika Kian tidak bisa dipaksakan. Sebab, kondisi tubuhnya tidak sama dengan kondisi tubuh orang normal. Dan Aurelie sangat takut hal buruk terjadi pada Kian.

"Iya. Kau tenang saja," balas Kian dan menggenggam tangan istrinya. Ia bahagia mendapatkan perhatian sesederhana ini dari Aurelie. Ya, meskipun sebelumnya Aurelie juga sering memberikan perhatian sederhana padanya. Mengingatkan minum obat, misalnya.

"Rel."

Aurelie mengangkat pandangan. Menatap sepasang mata sipit milik suaminya yang tengah menatapnya lekat.

"Terima kasih, ya, sudah mau menjadi bagian dari cerita hidup aku," tukas Kian dengan nada serius.

Aurelie mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan yang sangat cantik. Ia kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Apa aku boleh bilang terima kasih juga?"

Kian mengangguk cepat.

"Terima kasih juga sudah memilihku menjadi pasanganmu," ucap Aurelie. Berbeda dengan Kian, nada suara Aurelie justru terfengar bergetar. Kian sadar itu.

"Jangan nangis, ya. Nanti cantiknya hilang."

Seketika Aurelie terkekeh dan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Kian. Laki-laki itu entah berapa kali lagi ia akan membuat Aurelie salah tingkah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel