Bab 6 : Bingung dan Takut
Happy Reading!!
***
“Lo mau turun gitu aja?” Aruna menaikan sebelah alisnya, menatap Mario yang hendak membuka pintu mobil setibanya mereka di depan gedung apartemen. Dan Mario lantas menghentikan gerakannya, lalu menoleh pada Aruna.
“Maksud lo?” tanya Mario tak paham. Hal itu membuat Aruna memutar bola matanya, namun kemudian mengutarakan maksudnya.
“Lo gak mau nyium gue dulu gitu? Hitung-hitung tanda terima kasih karena udah nganterin lo pulang,” ucapnya tanpa sama sekali merasa malu. Sukses membuat Mario tercengang, namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja, sebab selanjutnya tatapan jahil lah yang Mario berikan. Meski kepalanya tetap saja melontarkan rasa tak percaya. Aruna benar-benar gila. Sangat gila. Tapi jujur saja Mario suka.
“Lo ketagihan?”
“Kayaknya,” jawab Aruna ringan. “Ciuman lo bikin gue lupa sama patah hati gue.” Aruna tidak membual, itu memang kenyataannya. Aruna tak lagi kepikiran tentang Bian yang meninggalkannya menikah dengan Zinnia di saat pertunangan sudah mereka langsungkan. Ciuman Mario berhasil menggantikan isi kepalanya seharian ini. Dan Aruna tidak ingin munafik, ia menginginkan ciuman Mario lagi.
“Jadi lo manfaatin gue?” ujar Mario dengan nada seolah tak terima.
“Kalau bisa, ya, kenapa enggak,” ucapnya tanpa beban, membikin Mario nyaris menjatuhkan rahang saking takjubnya pada Aruna yang begitu blak-blakan.
Mario jadi penasaran seperti apa sih sebenarnya Aruna ini? Kenapa tidak sama sekali merasa malu terang-terangan mengakui menginginkan ciumannya lagi? Padahal yang Mario tahu perempuan itu bisanya malu-malu, mau tapi gengsi untuk meminta lebih dulu. Sementara Aruna … ck, Mario tidak bisa menebaknya dengan mudah. Aruna tidak terlihat seperti wanita murahan, tapi pengakuannya barusan sukses membuat Mario berpikir ulang.
Berdecak pelan, Mario kemudian memilih untuk memberikan yang Aruna inginkan. Mencium perempuan itu dengan cukup liar. Ia gemas sekaligus tak mengerti dengan isi kepalanya sendiri.
Aruna sempat terkejut karena Mario menyerangnya tiba-tiba, tapi kemudian perempuan itu membalasnya dengan suka cita. Mario sampai menggeram dan semakin memperdalam ciumannya, menyalurkan nafsu sekaligus kesal yang entah diakibatkan oleh apa. yang jelas mulai detik ini Mario tak akan lagi merasa sungkan jika diantara mereka memang ada kesempatan.
“Jangan sampai lo benar-benar jatuh cinta sama gue, Run,” peringat Mario kala ciuman mereka terlepas akibat kehabisan nafas.
“Gak usah mimpi! Sampai saat ini Mas Bian masih yang gue cintai,” sahutnya masih dengan nafas yang berantakan. Tatapannya mendelik tak senang, sementara bibirnya mencebik menanggapi kepercayaan diri laki-laki yang masih berada begitu dekat dengannya itu.
“Bagus kalau gitu,” setidaknya itu sedikit membuat Mario lega. “Tapi, awas aja lo! jangan pernah coba-coba berpikir untuk ganggu Bian dan Zinnia,” lanjutnya kembali memberi peringatan.
“Ck, gue bukan perempuan kayak gitu!” seru Aruna kesal kala paham maksud dari peringatan Mario.
Aruna akui ia masih begitu mencintai mantan tunangannya, tapi menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain, terlebih sudah berada dalam status pernikahan itu bukan gayanya. Ia masih memiliki nurani, sekalipun saat itu pernah berniat meminta Zinnia pergi sejauh mungkin dari Bian yang adalah tunangannya. Tapi perlu di ketahui bahwa Aruna bukan tipe perempuan yang akan melakukan berbagai cara demi memiliki laki-laki yang dicintainya. Ia masih punya harga diri. Jadi jelas saja ia tidak akan mungkin mengganggu pernikahan Bian dan Zinnia. Aruna hanya belum bisa mengenyahkan pria itu dari hatinya. Namun seiring berjalannya waktu Aruna yakin dirinya bisa.
“Terus lo perempuan kayak apa dong?” tanya Mario dengan tatapan jahilnya yang lantas membuat Aruna berdecak malas.
“Yang jelas bukan kayak yang lo pikirin.”
“Emangnya lo tahu gue berpikir apa tentang lo?”
Aruna hanya mengedikkan bahunya singkat, tidak sama sekali berniat menanggapi kalimat Mario, justru Aruna malah mengusirnya. Meminta pria itu segera enyah dari mobilnya.
“Awas lo kalau minta gue cium lagi!” ancam Mario main-main seraya turun dari mobil Aruna, diikuti perempuan itu yang akan mengambil alih kemudi.
“Tapi gue yakin seratus persen, tanpa gue minta, lo bakalan ngambil kesempatan nyium gue kalau kita ketemu lagi,”
“Ngarep!” meski pada kenyataannya dalam hati Mario tidak memungkiri itu. Lagi pula menurutnya, jika bisa, kenapa tidak? Mario paling pantang menyia-nyiakan kesempatan. Percayalah, Mario memang seberengsek itu. Saking berengseknya, entah sudah berapa banyak perempuan yang menghangatkan ranjangnya hingga detik ini.
Seperti yang pernah Mario bilang, ia tidak suka berkomitmen, ia kencan dengan siapa saja yang menarik perhatiannya. Dan kedekatannnya dengan para perempuan selalu berakhir di ranjang. Namun Mario memiliki prinsip, ia tidak tidur dengan perempuan yang sama secara berturut-turut. Hanya sekali atau dua kali, besoknya Mario akan berganti pasangan.
Bajingan!
Ck, Mario sudah sering mendengar itu dari teman-temannya. Tapi Mario tidak pernah menghiraukan itu. Ia senang dengan dunianya yang bebas ini.
Di saat Bian gila karena satu wanita, Mario justru gila karena tidak bisa berhenti bermain wanita.
Tapi tenang saja, seberengsek-berengseknya Mario, ia tidak pernah memaksa wanita. Mario melakukannya dengan perempuan yang juga menginginkannya. Itu jelas tidak merugikan siapa pun ‘kan?
Dan alasan kenapa Mario tidak pernah meniduri wanita lebih dari dua kali, itu karena Mario enggan si wanita menyimpan hati, karena kembali pada poin awal, ia tidak suka dengan komitmen. Apa pun bentuknya.
Sambil menatap kepergian Aruna, Mario kini mulai berpikir, mungkinkah perempuan itu akan menjadi perempuan kesekian dalam petualangan hasratnya? Jujur Mario tak sampai hati. Ia cukup menghargai Aruna sebagai mantan kekasih sahabatnya. Meskipun Bian tidak pernah bisa melupakan Zinnia dan tidak bisa berpaling dari wanita yang telah melahirkan putrinya, Mario cukup tahu bahwa ada sayang yang sahabatnya itu punya untuk Aruna.
Hubungan mereka boleh tak lama, tapi dari bagaimana cara Bian memperlakukan Aruna, Mario tahu sahabatnya itu tulus menyayangi Aruna. Meski pada akhirnya melukainya juga. Tapi itu karena semesta memang tidak berpihak pada Aruna. Lebih tepatnya takdir Tuhan yang tidak bisa siapa pun ubah, hingga menjadikan Aruna sosok menyedihkan di cerita Bian dan Zinnia.
Karena Bian lah Mario jadi berpikir ulang untuk menjadikan Aruna salah satu perempuan yang hadir dalam cerita perjalanan nafsunya. Andai Aruna bukan mantan tunangan Bian, atau andai Bian bukan sahabatnya, mungkin Mario tidak akan berpikir panjang untuk menarik Aruna ke ranjangnya. Sial saja hubungan yang pernah Aruna rajut dengan Bian tidak bisa Mario enyahkan.
Mario bukannya takut mendapat tinjuan dari Bian, hanya saja Mario enggan menodai persahabatannya dengan Bian hanya karena seorang perempuan. Sekalipun hubungan mereka sekarang telah selesai, Mario yakin Bian tidak akan senang ia menjadikan Aruna salah satu koleksinya. Ya, meskipun pada kenyataannya Mario tidak mengoleksi mereka, karena setelah puas bersenggama Mario jarang berhubungan lagi dengan mereka. Tak ubahnya orang asing, begitulah Mario dengan wanita-wanita yang pernah menjadi patner ranjangnya.
Tapi jika di pikir ulang, sayang mengabaikan Aruna. Perempuan itu berbeda, bikin ia penasaran. Hanya saja, apa tidak masalah? Maksudnya perasaannya. Baru kali ini Mario merasakan perasaan yang menggebu. Itu membuatnya takut. Bukan pada Aruna, tapi pada dirinya sendiri. Masalahnya Mario belum siap jika harus bermain hati.
Bukan tanpa alasan dirinya seperti ini. Jauh sebelum dirinya tumbuh menjadi sebesar ini, Mario telah merasakan patah hati. Itu membuatnya takut hingga hari ini. Dan alasan itu juga yang membuatnya memilih untuk hidup seperti sekarang ini.
Mario percaya cinta itu ada, tapi tidak pada dirinya sendiri. Di hidupnya cinta itu ilusi. Meskipun sejauh ini ia menyaksikan adanya cinta dari cerita teman-temannya, Mario tetap tidak bisa mengubah pandangannya.
Dan sekarang Mario sedang dilanda kebingungan sekaligus ketakutan. Aruna membuat sesuatu yang tak pernah Mario rasa hadir begitu saja. Itu tak baik untuknya. Tapi sekali lagi, mengabaikan Aruna pasti terasa sulit. Terlebih setelah apa yang mereka lalui semalam dan hari ini.
Terlalu cepat untuk mengartikan semuanya memang, tapi Mario sadar bahwa ini tidak akan sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Aruna berbeda. Perempuan itu mampu menyentuh bagian terdalam hatinya. Hanya dalam kurun waktu satu hari. Gila bukan?
Entah pelet apa yang perempuan itu gunakan untuk menarik perhatiannya.
Jika seperti ini Mario jadi ingin menyesali kenapa ia harus menghampiri perempuan itu di bar semalam. Padahal suruh saja salah satu karyawannya memantau Aruna.
Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi, dan Mario tidak tahu bahwa Aruna ternyata sebahaya ini.
Ya, bahaya untuk perasaannnya.
***
Bersambung ..
