Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 - Kebingungan Sherina

Hoam...

Aku masih ngantuk banget deh, rasanya pengen tidur lagi. Tapi Mom udah ngomel daritadi, jadi mending aku mengalah saja deh. Aku melenturkan tubuhku, lalu mengucek kedua mataku. Wajah bangun tidurku pasti hancur banget.

Tapi biar deh, toh cuma di rumah ini. Aku turun dari tempat tidur, lalu langsung turun ke lantai bawah. Disana sudah ada Mom dan Daddy yang menonton TV, lalu ada Rea yang sedang mengobrol dengan seseorang. Tunggu! Sepertinya aku kenal sama cowok itu.

"Ada tamu ya Mom?" Aku mengambil tempat di antara Mom dan Daddy duduk.

"Iya, temennya Rea. Katanya teman seangkatan kamu juga She?"

Aku mengerutkan dahiku, "Vano?" tanyaku tidak yakin.

"Bukan. Kalau Vano kan Mom juga tahu. Sudah sana mandi, kamu ini anak perawan malah leha-leha." Hmm ... Mom sudah mulai mengomel lagi. Aku menguap lebar, lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.

"Kak, kakak!" Aku yang sedang meneguk minumanku, menoleh heran ketika Rea masuk ke dapur dengan heboh. "Tebak ada siapa!"

Aku menaikan alisku tanpa menjawab, masih sibuk minum.

"Ada Kak Revan!" Mataku melebar, nafasku jadi sesak, dan aku menyemburkan seluruh air yang kuminum. Revan? Ngapain cowok itu ada disini? "Ih Kak She jorok. Nanti dibersihin lho."

"Revan ngapain disini?" Aku bertanya horor tanpa mengacuhkan gerutuan Rea.

"Dia mau balikin ini katanya, ini punya kakak bukan?" Aku menyipitkan mata melihat anting yang dibawa Rea. Eh iya bener!

"Kok bisa sama Revan?!" Aku menghampiri Rea lalu meraih anting itu.

"Kayaknya ketinggalan di mobil Kak Revan waktu minggu lalu kita nebeng di mobilnya kak." 

Oh gitu. Tapi kenapa baru dibalikin sekarang? Perasaan juga tiap hari kami ketemu, walaupun cuma papasan doang sih.

"Oh bilangin makasih ya," gumamku akhirnya. Aku berjalan melewati Rea yang memperhatikanku dengan aneh, tapi lalu dia menghentikanku tepat di pintu dapur.

"Bilang sendiri, tuh orangnya di depan kak," tolaknya mentah-mentah.

"Lo aja deh, tau sendiri kan orangnya kalau ama gue jutek abis."

"Kak Revan nggak jutek kok, kak. Udah sana temuin, sekalian aku mau ganti baju." Rea mendorongku melewati pintu pembatas ruang tamu, dan walaupun aku sudah meronta, dia tetap berhasil membuatku berdiri di depan Revan.

Cowok itu memakai kemeja hijau tosca dengan lengan digulung hingga siku-nya. Kerahnya dibiarkan terbuka, dan rambutnya dibiarkan berantakan dengan gaya keren. Astaga, cowok ini yummy banget. Eh ngomong apa sih aku!

Revan mendongak dari ponsel-nya, kemudian menatapku dengan alis terangkat. Membuat jantungku yang aneh ini berdetak kencang. Pipiku juga memanas, padahal Revan hanya menatapku saja!

"Kak, aku ganti baju dulu. Kakak sama Kak She dulu yap." Rea bergumam dengan nada ceria. Revan mengangguk tanpa berfikir, kemudian kembali asik dengan ponselnya lagi. "Kak, aku ganti dulu." Rea berbisik menyebalkan di telingaku.

Awas kau nak! Aku sate kamu habis ini. Hih! Aku mengambil duduk didepan Revan, kemudian mulai mengamati cowok itu. Heran deh sama cowok satu ini. Dia itu nggak kelihatan 'niat dandan' tapi gaya-nya udah keren banget. Dan lebih heran lagi, tuh cowok kayak nggak sadar ganteng!

"Apa?" Tiba-tiba dia bertanya tanpa mendongak. Tangannya dan tatapannya serius dengan ponselnya.

"Ha?"

"Kenapa lihatin gue?" Eh? Kelihatan banget ya? Aduh tengsin!

"Em nggak. Itu, gue cuma mau bilang makasih soal anting ini. Thanks ya mau repot-repot anterin ini."

Revan akhirnya mendongak dan menatapku, alisnya terangkat heran. "Gue emang mau pergi sama Rea,” sahutnya datar.

Oh. Entah kenapa aku kecewa mendengarnya. Jadi dia sebenarnya memang mau pergi sama Rea, bukan karna demi mengantar anting ini untukku. Aduh Cheri, heran deh kenapa kamu berharap banget.

"Oh gitu. Kalian mau pergi kemana emang?" tanyaku menutupi malu.

"Nggak tau." Revan kembali sibuk dengan ponselnya, membuatku makin sebal. Huh! Aku mengalihkan pandangan ke arah pintu ruang penghubung ruang tamu, dan melihat Mom berdiri disitu dengan panik.

'Apa?' aku bertanya tanpa suara.

Mom menunjuk-nunjuk ke arah bibirnya, gerakannya antara panik dan malu. Kenapa sih?

'Apa sih Mom?' Aku bertanya lagi, kali ini dengan sebal.

'Itu iler kamu!' Mom menggerakan bibirnya tanpa suara. Dan aku langsung membeku. Iler? Oh My God, jangan bilang ... aku menyentuh sudut bibirku dan argh! Kenapa aku bisa lupa cuci muka?!

Aku menoleh pada Revan, dan langsung tahu kalau dia sedang menahan senyum. Sial! Dia pasti melihat adegan barusan, dan dia menertawai aku! Tapi hei, kenapa dia nggak tersenyum saja sih? Aku kan pengen lihat gimana dia kalau senyum.

Tapi ada hal yang lebih penting daripada melihat senyumnya dia. Aku harus membersihkan wajahku dulu! Aaaaaa serius aku malu, mau ditaruh di mana muka Sherina Fardhani Damarta?

"Em gu-gue ke dalem dulu ya." Dan aku langsung ngacir ke dalam rumah. Nggak cuma cuci muka, aku memutuskan untuk sekalian mandi. Kalau perlu berendam sekalian! Biar maluku bisa hilang segera.

****

Tok Tok Tok~

"Kak?"

"Lo belum berangkat Re?" tanyaku heran begitu melihatnya melongokkan kepala ke dalam kamarku.

"Belum, bentar lagi kayaknya. Itu kak, ada yang nyari kakak," jawabnya ringan.

"Hm? Siapa?" Aku bangkit dari posisi tiduran, lalu melepas handuk yang melilit rambutku. Rambutku jadi berantakan banget habis keramas.

Rea masuk ke dalam kamarku, "Nggak tahu. Tadi yang suruh masuk itu Mom, aku cuma disuruh manggil kakak. Tapi cowok kak, sekarang lagi ngobrol sama Daddy." Ha? Cowok? Siapa? Perasaan aku tidak ada janjian kencan dengan siapapun hari ini.

"Yaudah, nanti gue keluar." Aku mengambil duduk didepan kaca rias, kemudian menyisir rambutku yang masih agak basah. Rambutku yang sedikit bergelombang jadi terlihat lurus kalau basah begini, and I love it. Setelah memakai riasan sederhana, aku bangkit.

Agak heran juga waktu melihat Rea ternyata masih duduk di pinggir ranjang dan memperhatikanku. "Kenapa Re?" tanyaku heran.

"Kakak nggak punya pacar kan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku mengerutkan dahi, "Nggak. Kenapa?" tanyaku lagi. Nggak biasanya Rea kepo tentang kehidupan asmaraku. Biasanya dia cuek dengan hal begituan.

"Ada temenku yang suka sama kakak, makanya aku tanya."

Oh gitu. Aku mengibaskan rambutku, kemudian menatap adik kesayanganku itu dengan senyuman manis. "Gue nggak pernah menghalangi siapapun buat mendekati gue kok, Re. Asal orangnya baik, gue fine aja dekat sama dia."

Rea menggigit bibirnya ragu, "Gimana kalau ternyata orang itu bakal mengecewakan kakak? Gimana kalau orang itu sama kayak Kak Marcello?"

Aku menghentikan gerakanku. Ada bagian dari hatiku yang terluka ketika mendengar nama cowok itu lagi, dan mengingat tentang apa yang dilakukan Marcello dulu. Ada bagian hatiku yang terusik.

"Kakak nggak perlu jawab kalau nggak mau jawab kok." Rea memeluk tubuhku dari samping. "Aku cuma takut kalau kakak disakitin lagi. Aku nggak mau kakak jatuh kayak dulu lagi."

"Gue nggak akan jatuh kayak dulu lagi kok, Re. Karena gue nggak akan pernah mau jatuh cinta sedalem yang gue rasain sama Marcello dulu." Aku menepuk tangan Rea, "Udah ah. Kasihan tamunya nunggu lama."

Aku dan Rea menuruni tangga bersamaan, kemudian langsung menuju ruang tamu. Disitu terdengar suara orang bercakap-cakap akrab.

"Nah itu dia anaknya." Suara Daddy terdengar diikuti berdirinya seorang cowok dihadapan Daddy. Cowok itu melongo menatapku sepersekian detik, lalu memberikan senyuman lebarnya.

Aku membalas senyumnya, walaupun agak terpaksa. Ngapain si Demo datang kesini? Masih belum cukup kekagetanku, ketika tiba-tiba Demo mengulurkan seikat mawar putih ke hadapanku.

"Buat gue?" tanyaku aneh. Demo mengangguk masih dengan senyumannya. Aku menerima bunga itu, walaupun masih agak bingung.

"Anak muda jaman sekarang ya. Sudah, Om tinggal ke dalam dulu. Anggap saja rumah sendiri ya Nak Revan, Nak Demo."

Demo menoleh pada Daddy, tersenyum lalu mengangguk. "Terimakasih Om," jawabnya lugas. Sedangkan cowok satunya, hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.

Aku mengambil duduk di sofa yang tadi diduduki Daddy. "Em duduk, Mo," ucapku kagok.

Demo duduk lalu menghadapkan badannya ke arahku. "Lo cantik banget hari ini,” pujinya.

Oh ya? Padahal aku hanya memakai kaos dan celana pendek sederhana lho. Tapi yah, memang susah sih kalau punya wajah cantik. Mau diapakan juga tetap cantik.

"Makasih," jawabku sambil tersenyum, kali ini tidak terpaksa. "By the way, bunganya cantik."

"Lo suka?"

Aku mengangguk, "Iya. Gue suka mawar putih sih," jawabku santai.

"Berarti gue nggak salah pilih dong?" Demo tersenyum tebar pesona, lalu melanjutkan. "Gue nggak nyangka lo kasih salam ke gue lewat adik lo."

Ha? Kapan? Emangnya aku pernah titip salam buat Demo lewat Rea ya? Perasaan nggak pernah deh. Atau jangan-jangan yang dulu itu? Waktu Rea minta tanda tangan cowok ini? Astaga iya, aku ingat! Jadi cowok ini dateng kesini karena itu?

"Hei?"

"Eh? Oh? I-iya." Aku tergeragap. "Sorry sorry, malah melamun gue. Lo tadi bilang apa Mo?"

"Lo hari ini free nggak? Ada pameran bunga di dekat among rogo, dan ini hari terakhir."

Pameran bunga? Em sebenarnya aku tertarik banget sih. Tapi masa iya aku terima ajakannya? Pasti nggak lucu banget kan kalau ketemu sama temen-temenku.

"Nggak, dia nggak free." Suara dingin itu menyela suaraku. Aku menoleh pada Revan dengan kening berkerut, lalu aku menoleh pada Rea meminta jawaban.

Rea mengangkat bahunya ikutan bingung, sedang Demo langsung menoleh. "Memang dia mau kemana?" Oow, suara Demo juga terdengar dingin sekarang.

"Gue udah ajak dia nonton hari ini."

Ngajak aku? Kapan? Perasaan dia ngomong sama aku aja nggak. Apa lewat telepati? Kalau iya, maaf deh. Sinyalku nggak peka!

"Eh nggak kok, gue free!" Aku membantah begitu mendapat lirikan Demo. "Gue ganti baju dulu ya. Re, ayo temenin!" Aku menarik Rea mengikutiku ke kamar.

"Cowok lo maksudnya apa sih? Dia kok suka ambil keputusan sendiri!" sungutku kesal.

Rea menggaruk rambutnya, "Aduh kak, turutin aja maunya Kak Revan,” bujuk Rea kemudian.

Apa sih nih adik? Kenapa malah suruh aku menuruti cowok aneh itu? "Emang untungnya buat gue apa, Re? Serius deh gue gagal paham sama dia! Pokoknya gue nggak mau ikutan permainannya!" gerutuku.

"Tapi kak--"

"Nggak, udah, lo keluar sekarang!" 

Aku mendorong Rea keluar, lalu langsung berganti baju kilat. Aku berjalan cepat kembali ke ruang tamu, dan merasakan hawa memanas di sekitar Demo dan Revan.

"Pergi sekarang?" Kudengar Demo bertanya pada Revan, seperti meminta persetujuan. Revan melirikku sedikit, kemudian mengangguk.

Rea berjalan disebelahku, sedangkan kedua cowok itu berjalan di depan kami. "Kak, akhirnya kita berempat bakal nonton,” ucap Rea kemudian.

"Ha? Kok bisa?"

"Nggak tahu. Tadi Rea dateng, tiba-tiba mereka udah sepakat buat pergi bareng," jawab Rea pelan.

Aku mendongak pada punggung Revan di hadapanku. Apa sih maksudnya cowok itu? Sedikit-sedikit cuek, sedikit-sedikit jutek, terus sedikit-sedikit mengatur. Aku gagal paham sama cowok model dia!

Aku ikut ke mobil Demo, dan Rea bersama Revan. Sepanjang jalan, Demo terus merayuku dengan aneh. Jelas aja aneh, orang dulu kami pernah sekelas dan nggak ada affair apa-apa. Makanya waktu dia ada tanda-tanda mendekatiku, aku jadi agak aneh.

Dan entah perasaanku saja atau apa, tapi Revan seperti memperhatikan kami terus. Mobilnya pasti selalu berada di sebelah mobil Demo, atau dibelakangnya. Aneh.

Sampai di Mall, kami langsung menuju 21 untuk membeli tiket. Padahal aku nggak tahu mau menonton apa, tapi aku mengikuti 2 cowok itu aja deh. Dan ternyata mereka memilih menonton 3600 detik.

Aku rasanya pengen gubrak begitu melihat mereka langsung memilih Film itu. Bukannya apa, tapi kan mereka cowok. Normalnya, mereka menonton Film action atau apa kek. Rea terkikik disebelahku, dan aku ikutan tertawa kecil.

Aku duduk di antara Demo dan Revan, sedangkan Rea ada di pojokan. Kami menonton Film dalam diam. Sampai tiba-tiba Demo memepetkan bahunya ke bahuku, membuatku berjengkit risi ke arah sampingku dan menyentuh bahu Revan. Revan menoleh padaku, keningnya terangkat tidak suka.

"Sorry, sorry." Aku berbisik dengan wajah merasa bersalah, tapi Revan malah menatap tajam ke arah Demo yang malah dengan asiknya memepetkan bahunya ke kursiku. 

Hiiii, aku pernah dengar sih kalau itu cowok rada mesum. Tapi masa iya sih? Aku menegakan kembali bahuku, berdo'a supaya Demo merasa cukup hanya dengan kursiku saja.

Aku menarik nafas panjang, lalu mencoba fokus ke Film lagi. Tapi hei! Kenapa tangan Demo main kemana-mana sih? Benar-benar aku gampar tuh cowok kalau sampai berani menyentuhku sekali lagi!

Bugh!

"Waaaaaa." Aku memekik kaget ketika Revan tiba-tiba memukul sudut bibir Demo sampai mengucurkan darah.

"Berani lo sentuh dia?!" Suasana benar-benar mencekam sekarang. Walaupun studio bioskop sepi, tetap saja orang-orang itu kini menatap kami dengan kaget.

"Van, udah, Van!" Aku mencengkram tangan Revan yang hampir terayun lagi. Tapi cowok itu kini malah menendang Demo.

Demo menghindar lalu berdiri dan memasang kuda-kuda. "Lo pikir gue takut? Ayo maju!" bentaknya.

"Mo udah! Lo apaan sih?"

Biarpun aku sudah berteriak-teriak meminta mereka berhenti, tapi kedua cowok itu seperti menulikan diri. Mereka adu jotos, bergulung-gulung di lantai, saling mengumpat, dan darah segar mengucur di sudut bibir masing-masing. Orang-orang yang lain menonton dengan panik.

"Van, udah please." Aku memohon dengan memelas, Rea akhirnya ikut membantuku dengan meminta mereka berhenti. Tapi mereka mengacuhkan kami.

Sampai datang petugas yang memisahkan mereka, membuatku dan Rea langsung menghembuskan nafas lega. Mereka masih adu pandangan, tapi aku langsung menggandeng Revan untuk meninggalkan gedung bioskop. Sebenarnya aku juga aneh kenapa tanganku dengan nakalnya malah menggandeng Revan, bukannya menarik atau apa. Rea mengikuti di belakang kami.

"Bego atau apa sih lo? Kenapa berantem di bioskop? Lihat muka lo memar begitu! Mau sok jagoan? Atau mau dilihat yang paling hebat?!" bentakku ketika kami sudah berada di atap Mall.

Rea menyentuh lenganku, "Kak, Kak Revan itu belain kakak lho," belanya.

"Siapa yang tahu dia bener belain gue, atau cuma biar kelihatan keren?!" ketusku. Aku meliriknya sengit, yang malah santai membersihkan darah di bibirnya dengan tangan. "Heh elo! Gue udah capek ya lo cuekin, lo jutekin, dan sekarang lo bertingkah kayak orang paling keren sedunia! Gue udah nggak peduli lagi!"

Aku beranjak meninggalkannya dengan emosi memuncak. Rea menahanku saat aku mau membuka pintu.

"Apa?!"

"Kak, kasihan kenapa sih sama kak Revan. Dia kan cuma belain kakak, kenapa kakak malah marah-marah?"

Aku menarik nafas, "Kalau dia temen gue, gue percaya aja dia belain gue. Tapi nggak Re, dia bukan teman gue. Dia selalu cuekin gue, selalu jutekin gue, terus tiba-tiba dia belain gue? Orang paling goblok pun nggak akan percaya."

"Tapi aku percaya kak!"

"Tapi gue nggak!" Aku menutup mata untuk meredam amarahku, yang entah kenapa muncul begitu saja. Aku mengeluarkan sapu tangan dan air mineral dalam botol kecil lalu memberikan pada Rea. "Bersihin lukanya." Aku melirik Revan yang juga sedang memperhatikan kami.

Aku menghela nafas lagi, lalu berbalik meninggalkan mereka. Aku nggak tahu kenapa aku marah. yang aku tahu, aku nggak suka lihat dia berantem. Walaupun aku nggak tahu kenapa aku kayak gitu.

Tapi biarpun begitu, seharusnya aku nggak semarah itu sama dia. Benar kata Rea, Revan itu cuma mau belain aku. Kalau nggak, nggak mungkin dia repot-repot menghajar Demo sampai wajahnya memar begitu. Perasaanku langsung nggak enak. Aku merasa jahat sekali sama Revan.

Saat keluar dari pintu Mall, tanganku langsung ditarik paksa. Aku mendongak dan merasa de javu ketika melihat Revan-lah yang menarikku. Tapi kali ini aku tidak menolak, aku malah meraih tangannya dan memintanya untuk menggenggam tanganku, bukan mencengkeram lenganku. Revan menoleh sesaat, tapi dia mengikuti permintaanku.

Dan saat tangan kami bersatu. Saat tangannya menggenggam tanganku, aku merasa segalanya benar. Aku merasa memang beginilah seharusnya. Apa aku berhak berpikir begitu?

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel