BAB 7 - Mengamati Revan
"Gue heran deh sama lo." Medina bergumam padaku setelah beberapa saat kami duduk di meja kantin.
"Kenapa emang?" tanyaku sambil mengerutkan dahi.
Medina membenarkan poni-nya, "Ya aneh. Tiap istirahat pertama, pasti langsung minta nongkrong di kantin."
Aku nyengir, tapi tidak menjawab. Aku malah sibuk mengamati sekelompok anak cowok yang sedang bercandaan dengan riuh. Tapi tatapanku jelas terarah langsung ke sosok cowok yang ada di antara mereka. Cowok yang memakai kemeja seragam lengan pendek, yang rambutnya sedikit berantakan, dan yang wajahnya paling datar.
Aku sengaja pergi ke kantin tiap istirahat, hanya untuk melakukan misi ini. Misi mengamati cowok bernama Revando Sumaska itu. Bukan karna apa sih, aku cuma ingin memenuhi rasa penasaranku. Habisnya cowok bernama Revan itu benar-benar misterius.
Bayangkan! Setelah hampir sebulan mengamati cowok itu, aku cuma mendapatkan beberapa hal darinya. Seperti makanan favorit. Lihat saja apa yang ada di depannya, sepiring nasi goreng dengan telur dadar diatasnya. Dia selalu memesan itu kalau makan di kantin.
Minuman favorit? Dia suka minum air mineral botolan dengan merk khusus. Aku dengar sih dia tidak bisa minum air yang direbus itu, dia hanya suka yang merk itu saja.
Dia suka menaikkan alisnya, dia juga suka mengerutkan keningnya kalau sedang bingung. Hobinya bermain basket dan membaca buku-buku karya sastra terjemahan.
Sudahlah, pokoknya aku tahu semua hal kecil tentangnya. Tapi mengenai kehidupan pribadinya, aku benar-benar nol besar. Aku tidak tahu bagaimana keluarganya, aku tidak tahu siapa pacarnya, aku hanya tahu dia bersahabat dekat dengan Rea, Vano, dan 'katanya' Marcello.
"Ish ini anak! Diajak ngomong juga!" Aku tergeragap mendengar gerutuan Bella.
"Apa bell? Lo ngomong apa barusan?"
"Basi! Udah ketelen. Lagian lo kenapa ngelamun sih?" Bella menjawab sebal. Dia mengamatiku seperti mengamati hewan spesies baru yang belum pernah ditemukan.
"Nggak ngelamun kok, fitnah lo." Aku menyeruput jus jerukku, "Tadi lo ngomong apa?"
"Idih nggak ngelamun tapi nggak tahu gue ngomong apa. Basi ah." Bella melempar tisu padaku. Untungnya aku langsung menghindar. Enak saja dia mau mengotori penampilanku dengan tisu kotor itu.
Aku bangkit berdiri, "Balik ke kelas yuk," gumamku setelah bosan mengamati Revan dan konco-konconya.
Bella dan Medina ikut bangkit berdiri, lalu kami langsung berjalan bertiga. Ketika melewati meja Revan, teman-temannya bersuit-suit nggak jelas menggodaku. Aku hanya melirik malas melihatnya.
"Rin." Oh ternyata ada Vano. Dan barusan dia menyapaku. Aku mengangguk tanpa mengacuhkannya, memilih berjalan melewati mereka dengan cool.
Biasanya aku bakal sksd sama mereka, mengobrol dan menanggapi godaan mereka. Tapi entah kenapa belakangan ini aku merasa malas melakukannya.
"Hai."
Sebuah tangan terulur merangkul bahuku ketika aku sudah berhasil keluar dari kantin, aku menoleh heran dan melihat Fadhil dengan entengnya merangkulku. Fadhil itu 'mantan'-ku yang masih sering mengajakku balikan. Dia kayaknya cinta banget ye sama gue.
"Apa sih lo?" Aku berjengkit risi sambil menghindarinya.
"Dhil, tangan lo dijaga dong. Main pegang-pegang anak orang aja." Bella menyentil tangan Fadhil dengan gemas.
"Aw sakit cantik, lo galak banget deh. Jadi cewek itu anggun dong sayang." Idih! Aku melotot ke arah cowok norak itu, yang kini mengangkat tangannya tanda menyerah.
Aku menggerutu sendiri begitu Fadhil meninggalkan kami dengan senyum cengengesannya.
"Lo sekarang berubah, She."
Ha? Aku menatap Medina heran. Berubah bagaimana maksudnya? Bukan berubah seperti power ranger kan? Ah apa sih.
"Lo bukan lagi Sherina yang suka tebar pesona."
Aku mengibaskan rambutku dengan gaya biasa. "Jelasss."
Dan mereka berdua langsung menjitakku. Ih apa coba, emang kepalaku apaan?
****
"Kakak, lagi apa?"
Aku mendongak dari buku yang kubaca, aku mengamati Rea yang berjalan canggung masuk ke kamarku. Kenapa tuh anak?
"Lagi baca-baca aja. Kenapa?" tanyaku heran.
Rea mengambil duduk di pinggir ranjangku, dan aku langsung memutar kursiku menghadapnya. Rea sedang memainkan kakinya dengan gugup, membuatku bertambah heran.
"Aku boleh tanya sesuatu kak?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk tanpa menjawab, aku hanya menatapnya dengan alis terangkat. Memintanya melanjutkan pertanyaannya.
"Menurut kakak, Kak Vano itu gimana?"
Vano? Cowok sok cool itu? "Dia baik, enak diajak ngobrol, selalu bisa diandelin." Aku menoleh ke arah Rea. "Emang kenapa Re?"
Rea menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kakak suka ya sama Kak Vino?"
"Suk-- apa?" Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Aku nggak salah denger kan? Rea mengira aku suka sama Vano? Hahahahaha!
"Ih kakak kenapa ketawa? Rea tanya serius!"
"So sorry Re, habis pertanyaan lo lucu sih. Apa tadi? Suka? Aduh Re, gue nggak mungkin suka sama dia. Bagi gue, dia itu cuma adik sepupu gue doang. Nggak lebih Re," jelasku panjang lebar.
Rea mendesah, antara lega dan frustasi. "Tapi kayaknya Kak Vano suka deh sama kakak," gumamnya lesu.
Aku mengangkat bahu cuek, "I don't really care. Lagipula kalau emang iya, toh gue nggak ada rasa sama dia. Jadi lo tenang aja Re."
"Iya kak." Rea mengangguk, tapi sedetik kemudian langsung melotot. "Apa maksudnya 'tenang aja'? Ih kakak nyebelin!"
Aku tertawa geli. "Lo nggak usah tutupin apapun deh, gue juga peka kalik kalo lo suka sama Vano."
"Nggak! Kakak sok tahu ah." Rea menutup wajahnya dengan bantalku.
"Emang tahu!" Aku tertawa lagi. Kali ini aku berdiri dan berlarian mengelilingi kamarku untuk menghindari Rea yang wajahnya sudah memerah malu. "Ketebak banget sih lo. Lo suka kan sama Vano?"
"KAK SHE NYEBELIN!!"
***
Revan mengerutkan keningnya, membuatku langsung bertanya-tanya apa yang salah dengan buku yang dia baca. Tangan kanan Revan meraih botol air mineralnya yang tidak tertutup, kemudian diteguknya air itu sampai tinggal setengah. Kemudian dia kembali serius dengan bacaannya.
Huft sepertinya aku benar-benar gila hanya karena Revan. Masa iya aku sampai rela datang ke Mall ini hanya untuk mematai Revan? Padahal belum tentu juga cowok itu mau kencan sama cewek. Bisa aja kan dia cuma mau maen doang? Tapi masa maen sendirian?
Lho eh kemana si Revan? Aku menyapukan pandangan ke sekeliling kafe, tapi tidak juga menemukan sosok Revan. Padahal buku dan minumannya masih ada di atas meja-nya, tapi ke mana cowok itu?
Aku berdiri, hendak mencari Revan saat tiba-tiba sebuah suara membuatku membeku.
"Nyari gue?"
Aku menoleh dengan horor, sambil berharap kalau orang itu bukan Revan. Tapi sepertinya imanku kurang kuat, karna harapanku nggak terkabul. Revan benar-benar berdiri disitu, dengan alis terangkat tinggi. Kemeja biru muda-nya jadi tampak keren dilihat dari dekat begini.
Tapi ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan selain terpesona sama penampilannya! Beri senyuman terbaik, wajah polos tak berdosa, kibas rambut. "Em hai Van, lo ada disini? Ke-kebetulan banget ya kita ketemu disini?!" Aku tertawa sok asik - yang malah terdengar seperti kucing tercekik daripada tertawa - padanya.
"Ya. Kebetulan lo ikutin gue kesini."
KOK DIA TAHU? Hueeee ini mukaku mau ditaruh dimana setelah ini? Ketahuan ngikutin cowok ini lagi! Ngeles aja ah ngeles!
"Ha? Kata siapa? Nggak lagi Van, gue aja kaget lihat lo disini. Lo ngapain disini?" Aku masih memasang wajah polosku, berharap cowok itu percaya kalau aku tidak bohong - walaupun sebenarnya aku bohong sih.
Tapi ternyata Revan tidak sebodoh itu, yang langsung percaya dengan wajah polosku. Dia mendengus lalu menatapku dengan jenis tatapan yang tidak terbantah.
"Hukuman lo karna udah ikutin gue hari ini." Dia menarik tanganku, lalu membawaku ke meja-nya. Dia mengambil buku dan botol minumannya, dan membawaku keluar dari kafe.
Aku malu banget dilihatin hampir seluruh orang yang ada di kafe, tapi aku nggak tahu kenapa aku nggak mau ngelepas tangannya dari tanganku. Aku malah merasa kangen ditarik-tarik begini.
"Hukuman apa? Lo mau bawa gue kemana? Van, gue minta maaf oke? Iya gue salah karna ngikutin elo, jadi tolong maafin gue dan lupain soal hukuman itu. Please Van, gue nggak mau lo hukum aneh-aneh!" Aku mengeluh dengan suara memelas.
Revan melirikku sedikit, kemudian bergumam, "Nggak aneh-aneh."
Aku menggigit bibirku, pergulatan batin ini namanya. Antara percaya dan nggak sama kata-katanya. Tapi akhirnya aku bertanya begitu kami sampai di depan mobilnya. "Hukuman apa yang mau lo kasih ke gue?"
"Temani gue seharian penuh."
"Maaf?" Aku mengerutkan kening. Sepertinya pendengaranku mulai bermasalah, aku harus ke dokter THT habis ini.
"Lo, temenin gue seharian penuh."
Sepertinya pendengaranku tidak bermasalah. Aku malah berpikir jantungku yang bermasalah, karena sekarang jantungku berdetak dengan kecepatan tak wajar. Seharian penuh bareng Revan? Aku?
***
