BAB 5 - Peduli Padaku?
"Hari terakhir MOS, hmm ... besok udah mulai pelajaran." Rea bergumam di sela kunyahan roti sarapan paginya. Aku yang sedang membaca koran yang juga Daddy baca, menoleh padanya.
Rea kini sudah memakai seragam putih abu-abu, sudah tidak ada tanda-tanda anak SMP-nya lagi. Padahal perasaan baru kemarin dia masuk ke SMP-nya. Waktu memang cepat berlalu.
"Bagus dong. Setelah MOS kan sudah bebas kamu mau ngapain," gumam Mom tenang.
Aku mengangguk, "Iya Re, lo habis hari ini bebas!" kataku semangat.
"Iya sih. Tapi pasti jadi kangen masa-masa MOS deh."
Rea benar. Biarpun bisa bebas dari MOS, tapi nantinya pasti rada kehilangan. Habisnya teman-teman MOS kan nggak tentu satu kelas. Dulu aja aku berpisah dengan semua teman MOSku.
"Daddy, yang lupa matikan TV siapa?" Mom tiba-tiba menggerutu.
"Oh aku lupa, sayang." Daddy melipat koran-nya, tapi aku langsung menahan.
"Cheri aja yang matiin, Daddy." Aku langsung bangkit dan berjalan ke ruang keluarga.
TV memang masih menyala, menampilkan acara infotainment yang sedang memberitakan gosip tentang Sevira Dwiyanti. Aktris yang terkenal bahkan di usia-nya yang menginjak hampir 40 tahun.
"Apakah rencana Sevira Dwiyanti untuk kembali ke Jogja adalah karena tawaran main-nya yang kian menipis? Ataukah ada alasan lain?" Suara si presenter yang lebay itu membuatku batal mematikan TV.
Tante Sevira mau tinggal di Jogja? Kok tiba-tiba ya? Emang sih kata Daddy Dika, Tante Sevira dulu tinggal di Jogja. Mungkin Tante Sev mau pensiun ya?
"Hanya ingin mencari suasana baru." Suara itu diikuti munculnya wajah Tante Sev di layar TV. Terlihat Tante Sev sedang berjalan menuju mobilnya. "Belum pasti juga, masih menimbangkan banyak hal."
"Kakak lama banget eh? Ayo berangkat!"
Ish dasar pengganggu! Lagi asik juga. Aku mematikan TV, lalu berjalan kembali ke meja makan. Setelah mengambil tas, aku langsung berpamitan dengan Daddy dan Mom.
Mobil sudah siap sedia di depan pagar. Pasti Daddy yang memanaskan, lalu menaruhnya disitu. Rea dan aku langsung memasuki mobil dan berangkat ke sekolah. Selama perjalanan, Rea terus bercerita tentang acara MOS-nya.
Sampai di sekolah, aku langsung mengaca di kaca spion mobil. Oke, penampilanku sudah oke. Aku keluar dari mobil dengan menenteng tas sampingku.
"Hari ini jadwalnya di kelas ya?" tanyaku memastikan.
Rea mengangguk, "Iya. Tapi ambil papan dada-nya di deket lapbas kak," jawabnya.
"Yaudah, kita ke sana dulu aja." Aku menarik Rea mengikutiku ke arah samping lapbas, dimana beberapa panitia MOS sedang bergerombol. "Hai guys," sapaku tenang.
"Hai She."
"Wih hai, pagi."
"Ada apa nih?"
Aku tersenyum mendengar sahutan dari mereka. "Pagi juga. By the way, gue mau ambil papan nama adik gue. Nih orangnya." Aku menarik Rea ke sampingku. "Cantik kan?"
"Oh Rea ini adik lo? Pantes, sama-sama cakep." Teran menjawab dengan senyuman di bibirnya.
"Ah lo bisa aja." Aku tertawa kecil, sedangkan Rea tersenyum canggung.
"Ngomong-ngomong, dia ceweknya Vano kan?" Denisa bertanya kepo. Waduh, jawab apa ya?
"Menurut kalian gimana? Jangan tanya gue deh, tanya narasumber langsung aja," jawabku sambil nyengir. Aku menerima papan nama Rea, "Thanks ya, by the way."
Mereka mengangguk sambil tersenyum. Setelah berbasa-basi sedikit, aku menarik Rea meninggalkan mereka. Aku dan Rea berjalan bersisian di pinggir lapangan basket. Namun langkahku langsung terhenti begitu melihat siapa cowok yang sedang bermain basket di lapangan basket.
Cowok itu memakai seragam SMA yang kelihatan sedikit kucel oleh debu, namun benar-benar menunjukan bentuk tubuhnya. Badannya tegap, perutnya sixpack, lengannya berotot, dan langkahnya bermain basket benar-benar lincah. Rambutnya yang sedikit panjang berkibar ke arah manapun, menghasilkan keringat yang menetes di sekitar wajahnya.
Astaga, cowok itu ganteng banget!!!
"Kakak kenapa lihat Kak Revan sampai begitu?" Pertanyaan Rea mampu membawaku kembali ke alam sadar. Sial, kenapa juga aku harus terpesona sama cowok itu?!
"Nggak kok. Bukan lihatin Revan, orang kakak lihatin Vano," elakku cepat. Untung Vano juga ada di lapangan basket!
"Kak Vano?"
"I-iya. Udah ah ayo!" Aku kembali menarik Rea mengikutiku, tanpa menyadari perubahan mimik wajahnya. Kenapa tuh anak?
Setelah memastikan Rea aman dan tentram di kelas MOS-nya, aku berjalan santai menuju kelasku. Tapi ada yang mengusik perasaanku sekarang. Kenapa jantungku jadi berdetak kencang ya kalau mengingat penampilan Revan tadi? Serius, dia keren banget.
Kalau melihat penampilannya, aku jadi merasa dia mirip dengan Marcello. Aku tidak tahu dimana miripnya, tapi aku merasakan perasaan yang sama ketika dulu pertama kali terpesona dengan Marcello.
*****
Re, lo bisa balik sendiri kan?" Aku bertanya cemas. "Ternyata hari ini gue ada rapat OSIS, dan kayaknya sampai malem."
Rea mencebikan bibirnya, "Daddy sama Mom kan hari ini ke luar kota, Kakak." Aduh, benar juga. Terus gimana ya?
"Em, kamu bawa mobil kakak aja gimana? Berani?" tanyaku lagi. Kali ini aku benar-benar bingung.
"Berani berani!" Rea berseru senang. Aduh, sebenarnya bisa kena omel nih kalau sampai ketahuan. Tapi kasihan juga Rea kalau harus menungguku, dia kelihatannya capek.
"Yaudah, kamu hati-hati ya. Ini kunci sama STNK-nya." Aku memberikan semua yang ada di tanganku ke Rea.
"Yaudah, Rea pulang ya kak." Rea berjalan menuju mobil dan aku menunggunya sampai tiba di mobil.
Rea berhenti ketika melihat Revan di dekatnya. Mereka mengobrol disitu. Em jujur ya? Aku rada merasa deg-degan melihat Revan. Aduh sadar Cheri sadar!
Entah apa yang Rea katakan, tapi dia menunjuk ke arahku. Eh tapi si Revan nggak ikut menoleh coba. Mereka mengobrol agak lama, lalu Rea pamit dan berjalan kembali ke arahku sedang Revan langsung menghilang.
"Kak, aku tungguin kakak aja deh."
Lho?
"Kenapa emang?" tanyaku curiga.
Rea nyengir kemudian, "Pengen tahu aja gimana rapat OSIS itu."
Aku mengangkat bahuku acuh, kemudian berbalik menuju ruang OSIS diikuti Rea. Aku sebenarnya hanya mantan PH sih waktu kelas 10, tapi Vano memaksaku ikut rapat ini. Dan ternyata mereka sedang membahas pembentukan panitia acara pramuka. Haduh apa banget sih mereka.
Aku memasuki ruang OSIS ketika mereka sedang membicarakan tentang panitia tahun lalu. Bisa kulihat Vano menaikan alisnya melihat Rea berjalan dibelakangku, tapi dia tidak berkomentar apa-apa. Aku mencari duduk di pinggir ruangan, lalu menarik Rea mengikutiku.
"Rin, lo tahun kemarin kan dapet penghargaan sebagai panitia paling berguna tuh. Gimana kalau lo jadi panitia lagi?" Nggak usah tanya siapa yang bertanya, nggak denger dia manggil aku siapa?
"Gila lo Van! Gue kan udah kelas 12, bisa ganggu sekolah gue kalik," tolakku mentah-mentah.
"Terus gimana?" Denis bertanya.
"Ya gue bisa bantu-bantu dikit, tapi kalau untuk jadi panitia kayaknya nggak bisa," jawabku.
"Lo kan anak IPS, She. Sibuk apa coba? Waktu luang lo pasti banyak." Bintang, salah satu mantanku yang paling menyebalkan - eh yang paling menyebalkan itu Marcello sih - berkomentar jahat.
"Kenapa kalau anak IPS?" tanyaku dengan alis terangkat.
"Anak IPS kan hidupnya santai. Belajar nggak belajar tetep aja sama," komentarnya jahat banget! Hmm tapi aku tahu cara mengatasi cowok sinis ini.
"Oh jadi bagi elo anak IPS nggak perlu belajar karna udah pintar tanpa belajar ya? Wah elo terlalu memuji deh," jawabku dengan senyuman sinis.
Bintang membuka mulutnya, hendak membalas. Tapi kata-katanya langsung dipotong Vano, "Lo sekali lagi bikin masalah sama Rina, gue nggak akan segan keluarin lo dari kepengurusan."
Noh dengerin tuh ketua OSIS-nya bilang apa! Bintang membisu, tapi wajahnya memerah menahan malu. Lagian tuh cowok kenapa sih dendam banget sama aku. Padahal dulu kami pacaran juga cuma seminggu, terus aku putusin. Eh itu jahat ya?
Aku mendengar Rea mendengus tiba-tiba, "Kenapa Re?" tanyaku pelan. Rea menggeleng langsung. Aneh.
Rapat kembali berlangsung dengan berbagai percakapan tentang pemilihan PH untuk acara pramuka itu, pemilihan sie-sie dan penanggung jawab dan sebagainya. Seharusnya sih kelas 12 udah nggak boleh ikut. Tapi masih ada yang ngeyel gitu.
Rapat berlangsung sampai jam 9 malam, lalu Vano mengakhiri acara rapat dengan do'a bersama. Keputusan rapat hari ini sebenarnya nggak gitu aku dengarkan. Aku lebih sibuk saling melotot dengan Bintang rese!
"Mau langsung pulang atau makan dulu Re?" Aku bertanya saat kami berjalan bersisian menuju mobilku. Rea jadi pendiam banget sekarang, kenapa ya?
"Pulang aja, kak." Tuh! Jawabannya singkat kan? Aneh deh. Nggak biasanya si Rea jadi pendiem gitu. Badmood apa ya tuh anak? "Lho?"
Aku ikut berhenti ketika Rea berhenti, aku mengikuti arah pandang Rea. Revan? Cowok aneh itu berjalan ke arah kami, kemudian berhenti tepat di hadapan kami.
"Ayo pulang." Aku menaikan alisku mendengar kata-katanya yang aneh. Ayo? Pulang? Eh tapi tatapan matanya mengarah ke Rea sih, jadi dia mengajak Rea pulang. Dasar! Gayanya kayak nggak melihatku sama sekali.
"Aku bareng Kak She, Kak." Rea menjawab pelan. "Makasih ya tawarannya kak."
Aku menoleh ke arah Revan untuk melihat bagaimana reaksi cowok itu. Tapi wajahnya masih tetap sama, datar. Seperti tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Udah malem, nggak baik cewek pulang sendirian."
Aku menaikan alisku ketika mendengarnya berbicara 'rada' banyak. Suaranya ternyata keren banget, terus wajahnya yang datar itu juga kelihatan keren. Tapi, barusan dia bilang apa?
"Em sory ya, tapi Rea nggak pulang sendiri kok. Dia bareng gue," ketusku langsung.
Revan menoleh padaku, wajahnya kelihatan agak heran. Tapi dia langsung merubah ekspresinya menjadi datar lagi. "Tetep aja."
"Em nggak usah kak, nanti Kak Revan bolak-balik lho." Rea menolak dengan halus, menahan kata-kataku yang sudah mau keluar.
"Nggak apa-apa." Nggak apa-apa apanya?! Enak saja! Aku membuang muka dengan sengaja. Dia sih nggak apa-apa, lha aku? Aku kan jadi harus pulang sendiri! Tapi ... kok Revan perhatian banget ya sama Rea?
Hmm. "Yaudah, lo balik sama dia aja Re. Nanti kita ketemu di rumah." Noh, aku mengalah noh! Denger gak, cowok aneh?
"Jangan! Nanti kakak pulang sendirian."
"Ya gak apa-apa, udah biasa kok," jawabku santai.
"Nggak boleh. Mending kakak ikut aku sama Kak Revan aja. Gimana?" Rea menoleh pada Revan dan aku juga menatapnya. Kira-kira Revan bakal kasih reaksi apa? Dia mengangguk saudara-saudara!
"Eh em nggak deh. Lagian nanti mobilnya gimana coba? Udah kalian balik aja, gue nggak apa-apa kok. Fine." Aku menepuk bahu Rea, "Ati-ati ya." Lalu aku berbalik dan berjalan menuju mobilku.
Aku sengaja tidak pamit pada si cowok aneh, karena aku yakin pasti tuh cowok nggak akan menanggapi. Jadi percuma aja sih.
"Kakak hati-hati ya!" teriak Rea. Aku memberikan jempolku tanpa menoleh padanya. Okelah, jadi ini dia hasil dari upayaku sok mengalah. Pulang sendirian! Malem-malem pula, niat banget ya? Hm.. Semoga aja nggak ada hal aneh-aneh yang terjadi. Semoga.
Tarikan kuat di lengan kananku membawaku tertatih berjalan ke arah sebaliknya. Aku mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah DENGAN SOPANNYA menarik-narik tanganku!
"Revan?" aku memekik kaget. Ngapain ini cowok? "Van lepasin! Apaan sih lo?" Aku meronta, tapi tangannya tidak melepas cengkramannya. Terpaksa banget aku mengikutinya, aku jadi seperti apa aja deh diginiin.
Kami berjalan mendekat ke mobil sedan silver yang sedang disandari Rea. Aku langsung menahan langkahku dengan sekuat tenaga, kemudian menyentakkan tangannya dari lenganku. Hanya beberapa meter dari mobil itu.
"Lo apa sih? Ini itu udah malem, gue mau balik! Lo nggak kasihan apa lihat gue balik lebih malem lagi gara-gara harus ditarik-tarik begini? Mana tangan gue sakit lagi!" Aku terengah-engah sambil memakinya dengan sebal.
Rea langsung berjalan cepat menghampiri kami, sedangkan Revan malah menunjuk mobilnya dengan dagu. "Masuk!" What?
"Lo apa banget sih! Kalau gue masuk, terus mobil gue mau ditaruh dimana? Kalau sampai hilang, lo mau tanggung jawab? Lo--"
"Cerewet banget, tinggal masuk apa susahnya?" Apa dia bilang?! Cerewet?! Dia mengataiku cerewet?!
"Udah sih kak, ayo pulang sama dia aja." Rea berbisik padaku.
"Nggak. Nggak sudi!" teriakku sebal sambil melotot padanya yang dengan sial-nya malah memasang wajah tanpa ekspresi! Arghhhhhh!!!
"Lo masuk atau gue gendong?"
"Gendong aja kalau berani! Bye!" Aku berbalik tanpa gentar oleh ancamannya. Apa tadi? Gendong? Mana berani dia gendong-gen-- "Kyaaaaa lo ngapain sih Van? Van turunin gue! Turunin!"
Badanku terlempar masuk ke kursi belakang mobilnya. Sialan!!! Dia nggak ada lembut-lembutnya sih?! Tapi apa tadi? Dia kenapa gendong-gendong segala sih?! Mana Rea malah ketawa lagi. Dasar adik durhaka! Aku pecat kamu Re dari posisi adikku!
"Cowok lo ngeselin banget sih Re?!" Aku berbisik sebal pada Rea yang duduk di sebelahku, ketika mobil mulai melaju.
"Kak Revan bukan pacarku, Kak. Dan dia nggak menyebalkan kok," jawab Rea kalem.
"Nggak menyebalkan? Hello! Lo nggak lihat tadi dia melakukan apa?!" geramku sembari melemparkan tatapan keji ala musuh bebuyutan.
"Dia nggak menyebalkan, dia cuma peduli. Dia care sama kakak, makanya dia nggak mau kakak pulang sendiri malem-malem begini. Aku aja sampai heran kenapa Kak Revan ngotot banget pengen Kakak pulang bareng kami, Kak."
Aku langsung terdiam mendengar kata-kata Rea itu. Revan ... peduli sama aku? Demi apa?
*****
