Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2 - Cowok Dingin

Aku melapisi bibirku dengan lipgloss bening, kemudian merapikan sedikit alis mataku yang berantakan. Oke, perfect! Aku siap untuk kencan hari ini. Aku mengambil cardigan putihku, tas tangan putih yang hadiah ulang tahunku beberapa bulan lalu, kemudian memakai sepatu high heels hitam yang serasi dengan warna jeans yang kupakai.

Em sejauh ini, aku mungkin akan jadi teman kencan paling menarikmu cogan level tujuh. Yah walaupun aku belum tahu kamu siapa, tapi pastinya kegantenganmu udah berada di level tujuh dan itu level tertinggi untuk kadar kegantengan seseorang yang aku kenal.

Aku berjalan menuruni tangga sambil mengingat barang apa saja yang harus aku bawa. Sampai terdengar suara Mom yang memekik kaget, membuatku ikutan panic.

“Mom? Kenapa? Ada apa? Maling?”

“Apa yang kamu pakai itu, Sherina?!”

Hmm? Aku menunduk memperhatikan pakaian yang aku kenakan. Tanktop putih yang dipadukan dengan cardigan lengan panjang warna putih, lalu jeans warna hitam yang bermodel pensil, dan sepatu high heels setinggi 3 cm. Penampilanku aneh?

“Daddy! Daddy Musi Damarta!” Sebelum aku sempat bereaksi, Mom sudah berteriak-teriak memanggil Daddy.

Daddy muncul dari halaman belakang dengan panik, “Kenapa? Siapa yang teriak?” tanyanya. Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Daddy. Apalagi kini Mom mengetuk kepala Daddy dengan tas handphone yang kebetulan dibawanya.

“Kamu lihat itu hasil didikanmu! Lihat nggak bagaimana penampilan She?”

Emangnya penampilanku kenapa sih? Aku heran deh kenapa Mom nggak jelas seperti itu sampai bikin geger serumah, yang maksudnya aku dan Daddy doang sih.

“Memangnya kenapa, Sayang?” Daddy bertanya, kemudian menoleh padaku. Dan detik itu juga kulihat mata Daddy membulat shock, eh ada apa? “SHERINA FARDHANI DAMARTA, APA YANG KAMU PAKAI SEKARANG?!”

Aku mundur selangkah dengan kaget mendengar teriakan Daddy. “Apa sih Daddy? Ada yang kurang ya dari penampilannya Cheri? Kurang apa Daddy?” tanyaku agak panik. Apalagi Daddy kelihatan kayak marah.

“YANG KURANG ITU BAHAN PAKAIAN KAMU, SHE!” Bentak Daddy tiba-tiba, dan aku melongo karenanya. Mom menarik tangan Daddy tiba-tiba, kemudian menatapku dengan pandangan tegas beliau. Aku masih bengong di tempat.

“Kamu ganti pakaian kamu sekarang, Sherina.”

“Tapi, Mom—“

“SHERINA!” bentak Daddy lagi.

Aku langsung ngacir kembali ke kamar. Duh sial, kenapa Daddy jadi semarah itu sih sama aku? Emangnya penampilanku kenapa sih? Perasaan aurat juga ketutup kok, kecuali rambut sih. Tapi emang aku kan belum berhijab seperti Mom, terus kenapa dong?

Aku masih muter-muter bingung di kamar ketika Daddy membuka pintu kamar dan melangkah masuk. Aku langsung mengkerut ditempat, mengingat hari ini Daddy sedang hobi membentak dan berteriak. Lebih baik aku terima aman saja deh.

“Maaf She, tadi Daddy kelepasan.” Daddy mendekat padaku, kemudian mengelus rambutku. “Daddy cuma kaget, kenapa pakaian kamu jadi begitu.”

Aku mendongak menatap Daddy dengan takut-takut, “Emang penampilan Cheri kenapa, Daddy?” tanyaku heran sekaligus bingung.

“Pakaian kamu terlalu ketat, She. Daddy memang tidak mengharuskan putri Daddy untuk berhijab kalau mereka belum siap. Tapi Daddy tetap mengharuskan kalian memakai pakaian yang sopan. Dan pakaianmu itu bukan seperti pakaian, tapi seperti bungkus lemper. Membungkus tanpa menutup yang ada didalamnya.”

Aku menunduk dengan malu, iya yah? Padahal kupikir pakaian menutup aurat itu asal aurat itu ditutup. Tapi ternyata kalau ketat, sama saja membungkus tanpa menutup aurat. Aku jadi malu sama Daddy.

“Daddy nggak marah kok, maaf tadi Daddy kelepasan.” Daddy mencium dahiku sebentar. “Sekarang kamu ganti ya.”

“Tapi Cheri boleh pergi kan Daddy?”

“Boleh, asal pakaian kamu sopan. Sudah ya, Daddy keluar.”

Aku menghembuskan nafas dengan panjang. Fuhhh, untung masih boleh pergi. Pokoknya setelah ini, pakaian ini harus dibakar secepatnya. Aku nggak mau Daddy marah lagi, aku lebih baik dikurung dirumah daripada dimarahin Daddy. Aku nggak mau bikin Daddy kecewa.

****

“She ... lo cantik banget.” 

Em oke. Aku tidak tersipu sama sekali, walaupun cogan level tujuh itu mengatakannya dengan tulus. Aku lebih fokus pada beberapa temannya yang dia ajak ‘kencan’ bersama kami itu. Mereka menatapku seperti singa lapar yang siap menerjang kapan saja.

“Thanks,” jawabku seadanya.

Cogan level tujuh itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya padaku. “Gue Andre, anak 12 IPS 4,” katanya, memperkenalkan diri.

Oh namanya Andre. Aku membalas uluran tangannya dengan malas-malasan.

“Lo udah kenal gue kan?” tanyaku malas.

Andre tersenyum kemudian menarikan kursi untukku, membuat siulan teman-temannya membahana di sekitaran Café. Sial, aku illfeel banget sama cowok yang membawa temannya di kencan pertama. Awalnya aku mau aja sih bermain-main dengannya barang sebulan dua bulan, tapi.. aku illfeel.

“Lo ke sini naik apa? Nanti pulang bareng gue aja ya?” Dia menawariku dengan senyum yang harus kuakui cukup menawan, tapi aku sudah badmood.

“Nggak, thanks. Gue bawa kendaraan kok.” Bohong. Padahal tadi aku kesini naik taksi, soalnya Daddy dan Mom melarangku memakai mobil kecuali untuk berangkat sekolah. Sedangkan motor bisa merusak penampilanku.

Andre mengangguk-angguk, masih dengan senyum bodohnya. “Em gue nggak nyangka lo mau dateng ke undangan gue,” gumamnya kelihatan gugup.

“Gue juga nggak nyangka,” Aku nyengir padanya tanpa repot-repot menghilangkan tampang illfeel-ku.

“M-maksudnya She? Lo nggak nyangka apa?” Andre tersenyum kePEDean. Sial, emang kata-kataku bisa membuatnya jadi GR? Bagian mananya?

“Gue nggak nyangka kalau di kencan pertama kita, lo … bawa pasukan.”

Andre mengikuti arah tatapanku, kemudian dia menggaruk tengkuknya. “Em itu, mereka maksa ikut.” Dia mengelak dengan cepat.

Aku tersenyum sinis. “Cuma ada 2 kemungkinan kenapa cowok bawa temen-temennya saat kencan pertama.” Aku memberikan dua jariku dihadapannya. “Pertama, karena dia gugup dan nggak tahu mau ngapain.”

Andre mendongak, dan aku yakin dia bukan tipe cowok yang mengajak cewek baru sekali dua kali saja.

“Tapi gue yakin lo bukan tipe cowok culun itu. So, lo termasuk dalam kemungkinan kedua.” Aku tersenyum manis, berusaha terlihat menggoda.

“Kemungkinan apa itu?” tanya Andre dengan alis terangkat. Senyum bodoh masih menghiasi bibir ranumnya. Sial, kenapa bibir sebagus itu harus dimiliki cowok seperti dia?

“Kemungkinan kedua,” Aku mendekatkan wajahku padanya, dan langsung terdengar siulan teman-teman Andre. “Gue dijadikan bahan taruhan kalian semua.”

Andre tersentak, dan aku langsung tahu kalau tebakanku benar. Well, ini bukan pertama kalinya ada orang yang melakukan itu. Jadi, aku sudah pasti tahu apa yang harus kulakukan. Aku mencetak senyum evil, kemudian berdiri dari dudukku.

Aku menarik gelas dihadapan Andre, dan menuangkannya di wajahnya. “Gue sama sekali nggak tertarik sama elo.” Dan aku langsung berbalik meninggalkan mereka.

Aku tidak perduli biarpun dia cukup famous di sekolah, toh kenalanku juga nggak kalah banyak. Jadi tidak akan ada yang berani menyentuhku sedikitpun. Terlebih lagi mereka pastinya memandang Daddy Dika sebelum melakukan itu semua.

Tapi biarpun aku sudah biasa menangani masalah taruhan ini, tak ayal aku sebal juga. Karena aku akhirnya harus menjomblo lagi, dan aku tidak betah. Ngomong-ngomong soal jomblo, aku sudah jomblo hampir sebulan lamanya. Oh no, aku benar-benar butuh pacar sekarang.

Yah walaupun akhirnya aku akan mencampakan mereka, tapi tetap saja aku butuh seorang pacar. Untuk menutupi kejombloan, dan untuk menemani malam mingguku yang pastinya sepi. Hmm apa? Mau mengataiku playgirl? Biar saja, toh itu semua juga salahnya Daddy Damar. Kata Uncle dan Aunt, bakat playgirl-ku ini adalah bakat yang menurun dari Daddy Damar.

Jadi bisa dibilang: Aku, Damarta Junior.

Dan kenapa memangnya? Aku bangga kok jadi juniornya Daddy Damar, soalnya diluar sifat playboynya dulu, Daddy itu bisa jadi panutanku banget.

Brak

What the-- Siapa sih orang nggak punya mata yang udah nabrak-nabrak aku segala?! Mana minumannya jadi tumpah ke bajuku lagi. Uhh aku langsung melotot ke arah orang itu yang... eh batalin pelototan batal! Aku nggak mungkin melotot ke cowok seganteng ini!

Cowok dihadapanku ini punya bibir tipis yang membentuk garis lurus, tatapannya datar tanpa ekspresi, wajahnya lonjong dengan dagu agak meruncing yang keren banget, badannya tegap dan pastinya hasil latihan tahunan. Serius, aku belum pernah lihat cowok sampai hampir ngiler begini. Oh siapapun, bangunkan aku!

"Ganti."

Aku mengerutkan dahi bingung, kenapa cowok kece ini tiba-tiba bilang 'ganti'? Aku suruh ganti baju gitu kalik ya? "Em, aku nggak bawa pakaian ganti sih. But it's okay, aku bisa hilangin nodanya di kamar mandi kok," jawabku lemah lembut.

Cowok kece itu menaikan sebelah alisnya - hei, aku selalu suka dengan orang yang bisa melakukan itu! - keningnya berkerut. Tapi dia tidak menjawab, malah menyorongkan minuman di tangannya padaku.

"Apa? Oh nggak usah, aku udah minum kok." Sial, kenapa aku jadi gugup banget sih? Lagian cowok ini aura dinginnya mencekam banget.

"Ck!" Cowok itu kelihatan kesal, bibirnya menggerutu tanpa suara membuatku nggak tahu apa yang dia katakan. Aku jadi bingung sekarang. Aku mengibaskan rambutku dengan gaya slow motion, tersenyum penuh pikat, kemudian menatapnya dengan tatapan kucing manis yang polos. "Ganti."

Ish apa sih ini orang? Radio rusak banget. Reaksinya bikin illfeel serius, jadi makin badmood! Masa bodohlah dengan gantengnya cowok ini. "Iya, aku ganti baju! Tapi aku nggak bawa baju ganti, dan aku--"

"Ganti." Cowok itu memotong kata-kataku, kemudian menyorongkan gelas plastik minumannya padaku lagi. "Ganti minuman gue."

Dan aku sukses melongo sejadi-jadinya karena apa yang dia katakan.

"Kak, kok lama?"

Dan aku lebih melongo lagi, ketika melihat seorang cewek tiba-tiba berdiri disamping cowok kece itu sambil bertanya bingung. Aku familiar dengan pakaian yang ia kenakan.

"Rea?" Aku bertanya ragu, namun langsung yakin begitu cewek itu menoleh.

"Kakak?"

Aku menahan nafas secara spontan. Jangan bilang kalau cowok kece itu pacarnya Rea? Argh Rea curang! Kenapa dia mendahului aku buat pacaran?!

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel