BAB 1 - Sherina Fardhani
Kring… Kring… Kring…
Argh berisik! Siapa sih orang kurang kerjaan yang bikin suara jelek macam itu? Setelah ini, dia harus berurusan denganku! Aku langsung menutup kepalaku dengan bantal, demi meredam suara jelek dan basi itu. Tapi ya ampun, kenapa suaranya tetap terdengar nyaring?? Apapun benda yang berbunyi itu, siap-siap saja ku musnahkan nanti! Siapa suruh dia berani mengganggu tidur seorang Sherina Fardhani?!
Beberapa detik berikutnya, suara menyebalkan itu hilang. Ahhh akhirnya, terimakasih Ya Allah. Aku melepas bantal yang menutupi kepalaku, lalu kembali berusaha terlelap. Indah itu adalah ketika tidur dengan damai. Eh, tapi bukan mati lho ya maksudnya.
“Kakak, bangun. Jangan ngebo mulu, nanti rezekinya dipatok ayam.”
Bawel! Baru saja lolos dari suara menyebalkan tadi, sekarang si adik bawel ikutan mengganggu. Cuekin sajalah, malas sekali kalau harus bangun segala. Lagian dia kerajinan amat sih subuh-subuh begini bangun pagi?
“Kakak.” Selimut yang menutupi tubuhku tersingkap, tapi aku tetap memilih menutup mataku dengan malas. “Disuruh solat subuh sama Mom, kakak. Nanti Mom marah lho.” Oke, aku memang takut sih dimarahin Mom. Apalagi Mom orangnya tegas naudzubilah. Tapi rasa kantuk ini lebih berat ketimbang memikirkan resiko dimarahin Mom berjam-jam. Jadi maaf-maaf saja ya.
Andrea--adikku itu, masih berusaha mentoel-toel lenganku, walaupun dia tahu itu percuma. Malah membuatku makin nyaman untuk tidur. Sadar dia tidak akan berhasil, Andrea turun dari ranjangku. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi semoga saja dia tidak mengguyurkan air kepadaku. Karena aku pasti akan memaksanya membersihkan tempat tidurku!
Suara pintu kamar terbuka, kemudian tertutup lagi terdengar. Ahh sepertinya Rea sudah benar-benar menyerah. Adik kesayanganku itu tumben tidak merecoki aku lama-lama. Biasanya sih dia akan nongkrong di kamarku sampai aku bangun. Sudahlah, lebih baik melampiaskan kantukku saja.
Kutarik selimut yang tadi disingkap Rea, kemudian kembali menyelubungi tubuhku dengan selimut itu. Sepertinya jendela kamar sudah dibuka, karena disini terasa dingin sekali. Apalagi aku hanya memakai celana pendek dan kaos sepanjang lutut yang membungkus celanaku.
“Sherina Fardhani Damarta.”
Eh? Aku langsung membuka mataku lebar-lebar dan bangkit duduk, kemudian melihat siapa orang yang berdiri didepan pintu kamarku. Kya, aku langsung memekik dan melompat ke pelukannya.
“Daddy!” Aku memekik girang sembari memeluknya dengan erat. Daddy membalas pelukanku, kemudian mengelus rambutku dengan sayang. Ah, aku kangen banget sama Daddy Damar. “Daddy kapan pulang?! Emang kerjaan Daddy yang di Singapura udah selesai? Terus Daddy udah nggak balik ke sana lagi kan? Daddy nggak akan ke luar negeri lagi kan?” Aku memberikan pertanyaan bertubi-tubi dengan semangat.
Tapi bukannya menjawab, Daddy malah tertawa kemudian melepas pelukannya. “Hmm anak perawan Daddy, jam segini kok masih bau iler begini sih?” Bau iler? Nggak kok! Aku langsung menciumi badanku, dan memang tidak ada bau seperti yang dibilang Daddy. Uh bikin kaget aja sih Daddy. Daddy ketawa lagi, lalu mengacak rambut panjangku dengan gemas. “Sekarang kamu sholat subuh dulu, habis itu temuin Daddy di bawah. Nanti Mom marah kalau kamu belum solat.”
Aku mengangguk semangat, ingin cepat-cepat mendengar cerita dan jawaban Daddy. Aku kangen banget sama Daddy-ku yang satu ini. Soalnya Daddy udah lebih dari seminggu pergi ke Singapura, untuk mengurus pekerjaan. Aku yang nggak biasa ditinggal lama sama Daddy, jelas aja dong kangen banget. Daddy mencium dahiku sebentar, hal yang biasa beliau lakukan ketika melepas rindu, kemudian membiarkanku untuk sholat.
Aku buru-buru mengambil air wudhu, lalu solat subuh. Entah kantukku hilang ke mana tadi, yang jelas sekarang aku semangat banget. Daddy pulang! Selesai solat dan mengaji, aku langsung berlari menuruni tangga.
“She, jangan lari-larian di tangga. Bahaya.” Itu suara Mom yang sedang berdiri didepan pintu rumah untuk mengambil surat-surat yang datang. Aku menghampiri Mom lalu menciumnya sekilas, setelahnya aku langsung berlari ke arah Daddy yang sedang minum kopi di ruang makan.
“Daddy hutang jawaban sama Cheri!”
Daddy menaruh cangkirnya, kelihatan agak kaget dengan kata-kataku. “Kamu udah solat princess?” tanya Daddy dengan wajah heran. Aku mengangguk cepat dan semangat. “Udah baca Al-Qur’an?” Aku mengangguk lagi, kali ini lebih semangat. “Udah—“
“Daddy sebenernya mau jawab nggak sih? Daritadi muter-muter terus.” Aku mengeluh sebal, mengambil duduk disebelah Daddy. “Daddy kapan pulang dari Singapura? Daddy nggak perlu kesana lagi kan? Pekerjaan Daddy udah selesai kan?”
Daddy tertawa kemudian mengangguk dengan wajahnya yang kelihatan sumringah. “Udah, pekerjaan Daddy disana sudah selesai. Kamu ini She, sudah 17 tahun tapi nggak bisa lepas dari Daddy!” komentar Daddy geli.
Aku memeluk Daddy dengan manja. “Sampai Cheri umur 100 tahun juga Cheri nggak akan mau lepas dari Daddy kok!” Aku menjawab dengan tegas, membuat Daddy kembali tertawa.
“Emangnya kakak nggak mau menikah?” Suara manis itu terdengar dari belakangku, dan aku langsung tahu itu Rea biarpun tidak menoleh. Ya iyalah, orang dia adikku satu-satunya. “Assalamualaikum, Dad.” Rea mencium tangan Daddy, kemudian duduk di seberang kami.
“Waalaikumsalam. Ini anak Daddy kok sudah rapi? Mau kemana Rea?” Daddy bertanya ketika melihat Rea sudah rapi jali dengan kemeja lengan panjang dan jeans pensilnya.
“Mau ke rumah temen, Dad.” Rea menjawab saat tangannya tengah sibuk mengambil roti dan selai.
“Mau ngapain lo ke rumah temen pagi-pagi gini?” tanyaku heran.
Rea mengerling padaku, “Kakak mau tahu aja sih,” jawabnya jahil.
“Daddy!” Aku langsung merajuk pada Daddy, hal yang selalu kulakukan tiap rasa penasaranku belum terpuaskan.
“Ssstt ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ribut.” Mom datang ke meja makan, kemudian menaruh susu putih di meja Rea.
“Rea nggak mau kasih tahu alasan dia pergi ke rumah temennya, Mom,” jawabku sebal. Mom melirikku sedikit, kemudian tersenyum kecil. Tanpa menghiraukan kami, Mom berbalik dan berjalan ke halaman belakang. Mom ish!
Daddy tiba-tiba berdiri dari kursinya, lalu merapikannya lagi. Daddy seperti terburu-buru berjalan ke arah yang sama dengan Mom.
“Dad, mau kemana?” Rea bertanya mendahuluiku.
“Mau … ada deh.” Daddy langsung ngacir mengikuti Mom ke halaman belakang. Aku dan Rea berpandangan sesaat, kemudian sama-sama memutar bola mata kami.
Pasti Daddy mau kangen-kangenan sama Mom deh. Dan kalian jangan tanya deh apa yang mereka lakukan, bukan tontonan anak kecil seperti kalian. Lebih baik kalian tidak tahu, daripada otak kalian jadi dicuci. Oke bukannya apa sih, cuma waktu melihat adegan mereka itu umurku masih 8 tahun. Dan bagiku, mereka yang mesra itu sangat-sangat tidak patut.
Tapi hei, sekarang aku sudah 17 tahun. Bagiku, kegiatan mereka sudah biasa banget mereka lakukan. Sama kayak Daddy Dika dan Mama Andhita, mereka juga suka mesra begitu. Eh kalian tahu kan Daddy Dika dan Mama Andhita itu siapa? Oh Daddy Dika itu ayah kandungku, dan Mama Andhita itu istrinya Daddy Dika.
Ehm ... iya, Daddy Damar memang bukan Daddy kandungku. Aku sudah tahu itu sejak umur 5 tahun lho, jadi aku nggak merasa aneh atau malu kok. Walaupun Daddy Damar bukan Daddy kandungku, aku tetap menganggap Daddy Damar sebagai Daddyku kok. Jadi kalian bisa lihat kan kedekatan kami tadi?
By the way, yang ada di depanku ini adalah Andrea Damarta. Dia adikku satu-satunya, dan adik paling manis sedunia. Dia bisa jadi teman curhat, bisa jadi temen berantem, bisa jadi segalanya deh. Aku beruntung Mom dan Daddy Damar kasih adik kayak Rea. Walaupun kami saudara tiri sebenarnya.
Rea ini sebenarnya cantik banget, bahkan aku kadang iri dengannya. Tapi biarpun cantik, Rea nggak pernah mengurus dirinya dengan benar. Contohnya ya pakaian yang digunakan itu. Out of date banget kan? Padahal kalau diteliti, wajahnya itu benar-benar menarik dan pantas dengan segala macam mode jaman sekarang.
Garis wajah Rea itu mengikuti Mom, tapi sisanya dia benar-benar jiplakan Daddy Damar versi cewek. Bayangin aja, padahal dia baru saja lulus SMP tapi wajahnya sudah kelihatan secantik itu. Ah aku benar-benar iri sekarang.
“Kesambet lho kalau bengong terus, Kak.” Rea bergumam dengan geli. Aku hanya mendengus, kemudian pura-pura serius memakan roti selaiku. “Rea pergi sekarang aja deh. Pamitin ke Mom sama Dad ya, kak.”
“Kenapa nggak pamit sendiri aja lo?”
“Ih males banget dapet tontonan nggak senonoh pagi-pagi.” Aku tertawa terbahak mendengar kata-katanya. Rea mengangkat bahunya dengan polos, kemudian mencium pipiku sekilas. “Dadah kakak princess.” Lalu dia langsung ngacir keluar.
Jangan heran kenapa dia memanggilku seperti itu. Dia terbiasa memanggilku begitu karena Daddy juga suka memanggil begitu. Ahh pokoknya kalau kalian bertanya tentang Daddy, aku bisa menghabiskan seluruh cerita ini dengan cerita tentang kami deh. Aku menarik hp dari saku celanaku ketika merasakan getarannya.
From: Cogan 7
Gmn kalo nongky di Starbak Plaza Ambarukmo siang ini?
Hope you’ll come on time sweety xxx
Hmm ... ada undangan kencan dadakan. Biasanya aku tidak menerima kencan dadakan seperti ini, tapi untuk cogan level tujuh ... hmm sepertinya tidak masalah.
***
