BAB 3 - Namanya Revan
"Jadi.. cowok itu siapa?"
Pertanyaanku sebenarnya wajar saja, toh cowok itu kan bersama Rea, adik kesayanganku. Tapi kenapa Rea malah memasang wajah melongo begitu?
"Emangnya kakak nggak kenal sama Kak Revan?" tanyanya kemudian.
Revan? Cowok tadi namanya Revan? Keren juga namanya, tapi tetep aja sih kalau jutek.
"Nggak. Emangnya dia siapa kok gue harus kenal?" gerutuku sinis. "Dan by the way, dia cowok lo?" aku menunjuk ke dalam mushola, ke arah cowok tadi yang sedang sholat berjamaah di dalamnya.
Rea mengikuti arah tunjukku, kemudian menggeleng. Well, kenapa aku senang? "Bukan kak, dia cuma temenku kok,” elaknya.
Aku menyelonjorkan kakiku di tangga masjid, kepalaku mengangguk dengan sok acuh. "Bukan pacar, tapi pergi ke Mall berdua? Hmm,” gumamku penuh arti.
"Beneran kakak. Kak Revan itu temennya Kak Vano sama Kak Marcello, jadi Rea kenal."
Marcello? Aku langsung mendengus begitu Rea membawa nama cowok tolol itu. Cowok yang kini wajahnya banyak muncul di TV dan majalah terkenal di ibukota. Aktor yang - katanya - paling diminati di Indonesia. Idih diminati? Tolol begitu kok pada minat.
"Kok gue nggak tahu si Tolol punya sahabat kayak si Revan?" Aku sengaja memanggil Marcello dengan sebutan tolol, karena malas menyebut namanya.
"Mungkin karena kalian udah putus, jadi kakak nggak tahu kalau kak Marcello punya sohib baru," jawab Rea polos. Tapi jawaban Rea itu malah membuatku curiga.
"Terus kok lo bisa kenal? Gue mantannya aja nggak tau."
Rea tiba-tiba diam, membuatku bertambah curiga. Apa ini?! Jangan bilang kalau Marcello masih berhubungan dengan Rea? Cowok sialan!
"Daddy Dika baru jadi sutradara Film terbaru-nya Kak Marcell, kak. Waktu itu nggak sengaja ketemu." Rea menjawab dengan suara pelan, lalu dia menggigit bibirnya sendiri.
Ha? Sekarang jadi aku yang melongo. Kok Daddy Dika nggak cerita kalau dia jadi sutradara film-nya si tolol sih?! Daddy rese!
"Lagian kak, bukannya Kak Revan juga anak SMA Harapan Bangsa?" lanjutnya heran.
Aku melongo lebih lebar. Revan anak SMA Harapan Bangsa? KOK AKU NGGAK TAHU? "Anak kelas apa?" tanyaku langsung.
"12 IPA 1, kak," jawab Rea.
"Tapi kok gue nggak familiar ya sama mukanya? Anak cupu ya?"
Rea langsung memukul lenganku sebal, "Ish kakak aja tuh yang kuper! Masa nggak pernah ketemu Kak Revan? Padahal Kak Revan kan sahabatnya Kak Vano juga."
Weits? Revan juga sahabatnya Vano? Kevano Putra anaknya Uncle Prada? Oh, tadi Rea juga sempat bilang sih. Tapi, kok aku nggak tahu? Apa aku emang sekuper itu?
Sebentar, aku perlu berpikir. Jadi cowok kece tapi jutek tadi itu namanya Revan, dia sahabatnya si Tolol terus sahabatan juga sama Vano? Terus sekarang berteman sama Rea? Aneh, cowok itu gimana bisa terhubung sama aku tapi aku nggak kenal?
"Kak, udah selesai?" Tiba-tiba Rea berdiri, membuatku ikutan berdiri. Revan ternyata sudah selesai sholat dan kini berdiri di hadapan kami. Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rea, tapi tatapannya mengarah padaku. Ahh melting, lho? "Oh iya, ini Kak Sherina Kak. Kenalin."
Aku memberikan senyum jutaan watt yang biasanya membuat cowok mimisan saking terpesonanya, kemudian mengulurkan tangan kananku. "Hai, gue Sherina Fardhani Damarta."
Revan melirik tanganku, kemudian bergumam pendek tanpa menjawab uluran tanganku. "Revan." What? Cuma itu?
Aku menarik tanganku kembali dengan wajah tebal menahan emosi. Dasar cowok aneh!
"Kak She ini juga anak SMA Harapan Bangsa lho kak, Kak Revan tahu kan?" Rea bertanya ceria, dan demi apa aku lihat cowok itu menggeleng dengan cuek! Dia tidak tahu aku?! Dia hidup di mana sih selama ini?! "Oh nggak ya? Yah wajar sih, kalian beda jurusan kan."
"Iya." Revan menjawab seadanya.
Aku menahan dengusan, kemudian menatap mereka bergantian. "Oke, kayaknya udah siang dan gue nggak ada keperluan lagi disini. Gue balik duluan ya,” pamitku.
Aku mendongakan daguku dengan angkuh pada cowok itu. Memberikan gambaran bahwa aku tak terpengaruh dengan sikap sok cool-nya itu! Ha rasakan!
"Kak She mau pulang naik apa? Bareng kita aja yuk?" Rea menawari dengan polos.
Dih, nggak kamu lihat itu cowok dinginnya kayak apa? Hmm mending juga panas-panasan cari taksi daripada dingin-dinginan di dekat cowok aneh.
"Nggak deh Re, gue balik sendiri aja." Aku menepuk puncak kepala Rea, kemudian menoleh tanpa ekspresi pada Revan. "Seneng kenalan sama lo, sorry gue balik duluan."
Revan mengangguk sekilas tanpa menatapku sedikitpun, membuatku agak kecewa juga sih. Tapi kenapa juga harus kecewa?!
****
Aku mengibaskan rambut dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menggenggam ponsel android keluaran terbaru hasil mengemis sama Mom dan Daddy. Ponsel yang minggu lalu masih kubanggakan, tapi sekarang sudah membuatku bosan.
Aku berjalan santai melewati koridor yang masih sepi, bahkan suara langkahku menggema disekitar lorong. Tapi aku tidak terlalu perduli, dan hanya terus berjalan.
"Pagi She."
"Pagi." Senyumku mengembang dengan sempurna, hingga aku yakin cowok yang barusan menyapaku itu kehilangan keseimbangannya.
"Sherina."
"Hai, pagi."
"Pagi juga, tumben dateng pagi?" Cowok kelas 12 IPA 4 itu bertanya dengan senyum di bibir ranumnya. Manis, tapi bukan tipeku.
"Iya, ada something. By the way, duluan ya," balasku ramah, tak lupa memberikan senyuman sejuta watt-ku.
Sebenarnya hari ini aku sengaja datang pagi karena sekalian mengantar Rea yang mengikuti MOS hari ini. Lagipula aku juga tidak ingin melewatkan lucunya adikku itu mengikuti MOS.
Aku masuk ke dalam kelas 12 IPS 1 yang masih kosong melompong, menaruh tasku di kursi terdepan dari meja guru, lalu langsung keluar dari kelas. Aku mau menonton Rea yang sedang dikumpulkan di Lapangan Basket.
"Mau kemana Rin?" Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa orang yang bertanya. Hanya 1 orang yang memanggilku dengan panggilan cupu itu.
"Mau lihat Rea di MOS." Aku meliriknya, "Lo ketua MOS bukan sih?" tanyaku berharap. Kalau dia ketua MOS juga, sudah pasti Rea akan mendapat masa MOS penuh leha-leha.
"Dia masuk sini ya?" Cowok itu menaikan alisnya sekilas, "Bukan. Ketua OSIS nggak menjabat panitia harian di luar OSIS."
Aku mengangguk sekilas sambil bergumam tidak jelas. Cowok itu mensejajarkan langkahnya denganku, gayanya benar-benar santai dan easy going. Dan tidak perlu menoleh ke arah manapun untuk tahu banyak orang yang menatap dan berbisik untuk kami.
Seperti apa misalnya? Em cowok dan cewek most wanted pacaran? Kepikiran ke arah sana saja nggak pernah. Pertama, karena cowok di sebelahku ini lebih muda 2 tahun dariku. Kedua, dia anaknya Uncle Prada dan Aunt Sarah. Walaupun tidak berhubungan darah secara langsung, aku tetap menganggapnya hanya sepupu.
Tiba-tiba kurasakan jambakan pelan di rambutku yang membuat kepalaku tertarik ke belakang. "Vano! Apaan sih lo?" Aku mendelik sebal pada cowok itu, yang tersenyum sok cool padaku.
"Habis lo dipanggil nggak nyaut. Tuh adik kesayangan lo." Kapan dia memanggilku? Apa saat aku sedang melamun ya? Eh tadi dia menunjuk ke mana ya? Ah iya itu dia.
Rea mengucir rambutnya menjadi 3 kuciran dan memakai karet berwarna merah. Wajahnya agak cemong karna tepung, dan dia mengenakan papan dada bertuliskan 'Rea Bawang.' Apaan tuh? Enak saja adikku dipakaikan seperti itu.
"Heh lo mau kemana?" Vano menarik tanganku begitu aku melangkah cepat ke arah lapangan basket.
"Mau bantuin adik kesayangan guelah." Aku menyentak tangannya dengan santai.
"Pakai cara apa? Ngerengek?"
Aku manyun, "Nggak perlu merengek buat dapet perhatian. Remember who am I?" Aku tersenyum dengan sok genit tapi juga setengah bercanda.
Vano tertawa kecil tapi tetap sok cool, lalu mendorong kepalaku ke kanan. "Jangan aneh-aneh. Mending gue aja yang kesana. Ketua OSIS lebih punya pengaruh, Rina sayang."
Aku menaikan alisku, "Emangnya gue nggak punya pengaruh?!" tanyaku sebal.
"Punya. Tapi gue bisa dibunuh Uncle Damar kalau tahu anaknya tebar pesona buat selametin adiknya."
Aku tertawa mendengarnya, tapi tidak menahan Vano yang berjalan mendahuluiku. Dari belakangnya, aku baru sadar kalau dia memakai bed di lengan kanannya, bertuliskan 'Pengawas' dengan huruf kapital. Wow, memang tidak ada ruginya berteman dengan cowok itu.
Aku mengambil duduk di bawah pohon. Dari sini aku bisa mengamati apa yang terjadi di lapangan basket. Vano muncul dengan tangan terkait dibelakang, berjalan sok cool dan sok bijaksana, lalu melewati para panitia dengan tampang dingin.
Aku mengamati perubahan sikap para panitia yang jadi lebih disiplin dan tidak menye-menye begitu melihat Vano. Aku jadi ingin tertawa melihatnya. Vano berjalan mendekati Rea, dan mengobrol dengannya beberapa saat. Bisa kulihat seluruh orang mengamati Vano dan Rea, dan aku bisa melihat wajah Rea yang semerah tomat.
Aku tertawa melihatnya, apalagi ketika Vano tiba-tiba mencium kening Rea dan membuat hampir semua cewek menghela nafas kaget. Aku memutar bola mataku melihatnya. Aku tidak kaget sama sekali, Vano memang sering melakukan itu. Tapi mungkin apa yang Vano lakukan membuat panitia MOS mendapat peringatan secara tidak langsung.
Hah untung saja. Jadi besok aku bisa mengganti nama dada Rea dengan sesuatu yang lebih unyu, seperti Marmut Rea atau Unyu Rea.
Suara pantulan bola basket memenuhi rongga telingaku, membuatku mengerutkan kening heran. Siapa yang pagi-pagi begini bermain basket? Dan tatapanku langsung bertemu dengan tatapan kelam Revando.
"Em hai?" Aku spontan berdiri dan memberikan senyumku. "Lo Revan kan?"
Cowok itu mengangguk, kemudian mulai memainkan bola basket di tangannya lagi.
"Lo mau nyari Rea ya? Dia ada di situ." Aku menunjuk ke arah lapangan basket, tapi cowok itu tetap cuek dan sibuk dengan dribelannya. Hhhh! Malas banget sudah sok kenal sok dekat dengan si cowok aneh! Aku memalingkan wajah dengan kesal.
Hening. Aku sibuk mengamati Rea yang sedang berbaris-baris di lapangan basket dan Vano yang berdiri di pinggir lapangan basket dengan bersedekap. Sedangkan cowok aneh itu masih sibuk memainkan basketnya.
"Sherina Fardhani Damarta?"
Aku mendongak ketika mendengar Revan menyebutkan nama lengkapku dengan lancar. Aku mengerutkan dahiku bingung.
"Jadi ... lo mantannya Marcello? Si buah Cheri?"
Aku menahan dengusanku ketika mendengar nama si tolol disebut. Dan apa tadi? Buah Cheri? Enak saja! "Iya. Gue emang mantannya Marcello," jawabku datar.
Bibir cowok di depanku tertarik sedikit, membentuk bibirnya menjadi 'seperti' tersenyum. Dia lagi ngapain sih? mencoba senyum? Kalau iya, dia gagal total! Senyum apaan jelek begitu? Oke dia emang kece, tapi senyumnya itu lho! Nggak bikin melting atau apa. Habisnya kelihatan terpaksa!
Revan menyapukan tatapannya ke wajahku, seperti sedang menilai. Dan aku dengan bodohnya malah berfikir, apa penampilanku cukup menarik perhatiannya? Tatapan Revan berhenti di manik mataku.
"Mengecewakan," dengusnya tiba-tiba.
"Apa?!"
Revan tidak menjawab, malah mendrible bolanya menjauh. Meninggalkanku yang hanya bisa menatap cowok aneh itu dengan penuh dendam. Apa tadi dia bilang? Mengecewakan?! Memangnya dia pikir dia siapa sampai bisa memberi penilaian padaku dengan kata 'mengecewakan'?! Dasar cowok aneh, nggak bisa senyum, kotak tertawa karatan, tukang nilai! Awas aja kalau kita ketemu lagi! Udah aku pastiin nih sepatu nemplok di wajah lo Van!
***
