Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB. 7 PERTEMUAN PERTAMA

Jam 06.30, Salsa sudah siap di rumah Surya.

Saat ia masuk ke dalam rumah Surya, dilihat papinya Tari itu, masuk ke dalam rumah dari pintu samping, dengan tubuh penuh keringat. Tanpa sungkan, Surya melepaskan kaosnya yang basah oleh keringat.

Terlihat jelas dada, dan perutnya, juga lengannya yang berotot. Salsa pernah merasakan, cengkeraman jemari dari lengan Papi Tari itu.

Salsa mengamati Surya tanpa rasa sungkan.

Melihat otot di tubuh Surya,

Salsa jadi teringat dengan The Rock, idolanya. The Rock pegulat, dan petarung WWF yang kini menjadi bintang film Hollywood.

Meskipun sebenarnya otot, dan tubuh Surya tidak sebesar The Rock.

Salsa sendiri, sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu di rumahnya. Ayah, dan abangnya juga hampir tiap pagi berolah raga, dan biasa bertelanjang dada di depannya. Tapi karena sekarang abangnya tengah berada di Australia, jadi hanya ayahnya kini yang berolahraga sendirian di setiap pagi hari.

"Ehm ... sudah datang," sapa Surya datar saja. Salsa hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Ingin minum?" Tawar Surya, Salsa menggelengkan kepala.

"Sudah sarapan?" Tanya Surya lagi.

Sekali lagi Salsa menggelengkan kepala.

"Aku ke atas dulu, Tari mungkin masih bersiap-siap, kalau ingin ke kamar Tari naik saja ke atas," kata Surya dengan nada santai.

"Terima kasih," jawab Salsa.

Dipandang punggung Surya yang menaiki tangga, Salsa memilih menunggu Tari dengan duduk di sofa ruang tengah.

'Uhhh ... kalau sikapnya manis begini, kelihatan gantengnya. Uuppss ... ngapain gue memuji Om songong itu, cih!' Salsa mencibirkan bibirnya ke arah punggung Surya.

Tiba-tiba Surya menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Salsa yang tengah mencibir ke arahnya, cepat Salsa mengalihkan pandangan.

Surya kemudian kembali meneruskan langkah menaiki anak tangga, untuk menuju kamar tidurnya.

'Jinnya ngasih tahu barangkali, kalau tadi aku mencibir ke dia, pakai nengok segala, iiishh.' Salsa menggedikan bahunya.

Salsa jadi teringat akan kejadian satu bulan lalu, yang mempertemukannya dengan Papi Tari itu.

Flashback

Salsa baru saja turun dari mobil yang parkir di parkiran kampusnya dulu.

"Ca!" Suara panggilan Santi mengagetkannya, wajah Santi tampak sangat murung, dan bersaput kecemasan, Santi yang meminta mereka bertemu di sini.

"Ca, tolongin gue dong!" mohon Santi

"Ada apa?" tanya Salsa.

"Lo tahu adik gue, Sinta'kan?"

"Iya, gue tahu." Kepala Salsa mengangguk.

"Dia nggak pulang dari kemarin, gue sudah tanya Miko pacarnya, Miko bilang mereka sudah putus beberapa bulan lalu, karena Sinta selingkuh sama Om-Om, Ca."

"Heeh, masa sih?"

"Iya, Ca, please tolongin gue ya, Ca."

"Begini deh, pertama kita harus cari info dari Miko, tapi pasti Miko lagi kuliah, dan lo juga harus kuliah pagi ini. Nah, lo kuliah dulu deh, nanti selesa kuliah, baru kita cari dia, oke!"

"Oke, terima kasih ya, Ca"

Salsa menganggukan kepalanya

-

Setelah Santi selesai kuliah, mereka pertama-tama menemui Miko, untuk tahu lebih jelas tentang si Om selingkuhannya Sinta.

Miko menunjukan tempat tinggal si Om, yang diketahuinya dari teman Sinta sendiri, Celia.

Salsa, dan Santi meluncur dengan mobil Salsa ke tempat yang ditunjukan Miko.

Mereka tiba di depan sebuah pintu apartemen. Salsa memencet bel, dan pintupun terbuka. Sinta sendiri yang membuka pintunya. Rambutnya terlihat basah, dan ia hanya mengenakan kaos oblong yang kepanjangan.

"Kak Santi!"

"Ngapain kamu di sini hahh! Kenapa tidak pulang dari kemarin!" Santi mendorong bahu adiknya, dengan rasa marah di dalam hati.

Sinta mundur beberapa langkah, tubuh Sinta menabrak tubuh seorang pria yang berdiri di belakangnya.

"Kalian siapa? Kenapa membuat keributan di sini!?" Tanya pria itu dengan wajah menyimpan kemarahan.

"Owh ... jadi lo yang mempengaruhi adik gue haah, dasar Om mesum!" Jerit Santi yang tidak bisa menahan kemarahannya.

Santi menyerang pria itu dengan pukulan tasnya, pria itu mencekal lengan Santi untuk menghentikan pukulannya.

Santi menjerit, karena merasa sakit pada tangannya.

"Lepasin tangan teman gue!"Salsa maju untuk memukul pria yang tengah mencengkeram lengan Santi.

"Pergilah! Jangan membuat keributan di sini!" Bentak pria itu.

"Kami tidak akan pergi, sebelum memberi pelajaran pada pria hidung belang seperti lo!" Salsa masih berusaha memukuli pria itu.

"Dasar gadis ingusan, bisanya menghakimi orang tanpa meminta penjelasan!" Umpat pria itu semakin marah.

"Dasar pria mesum, bisanya hanya mempengaruhi gadis-gadis ingusan!" Balas Salsa yang terus menyarangkan pukulannya ke tubuh pria itu.

Tanpa melepaskan lengan Santi, pria itu mencengkeram satu tangan Salsa dengan tangannya yang lain. Si pria tidak tahu, kalau gadis yang dihadapinya bukanlah gadis sembarangan.

Dengan tangannya yang bebas, Salsa meninju wajah pria itu, dan tepat mengenai bibir, dan hidungnya, yang seketika langsung berdarah.

Pria itu melepaskan Santi, kini ia fokus menghadapi serangan Salsa, dengan cepat kedua tangan besarnya sudah merangkum kedua tangan Salsa. Tapi Salsa tidak habis akal, ia mempergunakan kakinya untuk menendang selangkangan pria itu dengan lututnya. Pria itu mengaduh, sambil memegangi selangkangannya yang terasa ngilu.

Pria itu terduduk di sofa dengan tubuh membungkuk dalam, merasa sangat kesakitan.

"Itu pantas untuk pria mesum seperti lo! Ayo kita pergi dari sini, Sinta ikut pulang sekarang juga bersama kami!" Ujar Salsa tegas.

"Tapi ...."

"Tidak ada tapi, Sinta, atau aku akan meminta Mamah datang ke sini, dan menyeretmu untuk pulang!" Ancam Santi.

"Aku ambil tasku dulu." Sinta masuk ke dalam salah satu kamar, lalu ke luar dengan pakaian miliknya sendiri, yang membungkus tubuhnya.

Sebelum pergi, Sinta mendekati pria yang sudah dikalahkan Salsa.

"Om Surya, aku minta maaf atas kesalah pahaman ini ya, Om, tolong sampaikan ke Om Fedi, kalau aku pulang, karena Om Fedi belum bangun juga."

Pria yang dipanggil Om Surya oleh Sinta itu, hanya menganggukan kepala, tanpa merubah posisinya yang masih duduk di sofa, dengan tubuh membungkuk dalam.

**BERSAMBUNG**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel