Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Taruhan Terakhir yang Menang.

Thomas menghabiskan sisa seribu dollar terakhir di kantongnya untuk membeli semua karcis lotere yang tersisa. Perempuan itu menyerahkan segepok tiket yang tercetak buram, kertasnya tipis, mudah sobek, jumlahnya begitu banyak sampai Thomas harus memegang dengan kedua tangan.

Anehnya, Thomas merasa gembira menerimanya. Itu yang paling membingungkan.

Pukul tiga sore, Thomas tiba di rumah.

Ia berdiri di depan kamarnya, memegang segepok tiket lotere yang terasa semakin ringan maknanya setiap detik kepala jernihnya kembali.

"Kalau hilang, selesai sudah." Gumamnya pelan.

Ia menatap kamarnya. Tidak ada laci yang bisa dikunci. Lemarinya tidak punya kunci. Tas ranselnya sudah sobek di bagian ritsleting.

Matanya berhenti pada pintu kamarnya.

Lima menit kemudian, Thomas berdiri memandang hasil kerjanya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya yakin. Segepok tiket lotere itu sudah terkurung rapi dalam kerangkeng kawat yang ia buat dari sisa kawat di gudang kecil apartemen, seluruhnya terpasang di daun pintu kamarnya.

"Supaya tidak hilang dan mudah dicari." Begitu alasannya untuk diri sendiri.

Ia menutup pintu kamarnya dari luar, memandang konstruksi kawat itu sekali lagi, dan mengangguk pelan.

Sore menjelang, Thomas kembali pergi ke Rumah Sakit Bethesda dengan langkah yang terasa lebih ringan dari yang seharusnya. Ia belum menyadari satu hal sederhana.

Kantongnya sudah kosong total. Uang deposit Elena dari mana?

++++

Tepat pukul lima sore, sesuatu menghantam Thomas seperti benda tumpul yang tidak terlihat.

Ia berdiri di depan meja kasir administrasi Bethesda, dan kesadaran itu datang dengan sangat tidak sopan, menghantam kepalanya lebih keras dari tegangan listrik Peter tadi.

"Terkutuk." Thomas memukul pelan sisi kepalanya dengan telapak tangan. "Lagi-lagi aku kena. Apa yang terjadi dengan otakku? Kenapa aku selalu percaya perempuan itu?"

Perawat yang berjaga di meja administrasi bukan Cindy Guo. Ini perempuan berbeda, lebih tua, dengan wajah yang terlihat tidak sedang dibebani masalah pribadi. Ia memutar radio dengan volume yang cukup terdengar, sesuatu yang jarang terjadi di lobi administrasi rumah sakit.

"Ada yang bisa aku bantu, nak?" Suara perawat itu hangat dan tidak tergesa. "Kenapa kamu terlihat seperti habis ditabrak sesuatu?"

Thomas hampir menyampaikan bahwa ia tidak punya uang deposit, ketika radio di meja perawat itu tiba-tiba menyiarkan sesuatu yang membuat telinganya berdiri.

"Pengumuman lotere untuk putaran kali ini jatuh pada nomor undian sebelas ribu tujuh ratus empat puluh tiga. Hadiah tunai dua ratus ribu dollar bersih tanpa pajak dapat diambil di Toko Gerbang Naga mulai saat ini."

Thomas berdiri sangat diam.

Dadanya berdenyut keras, satu kali, dua kali, tiga kali.

Dengan cepat ia membuka catatan di ponsel lamanya, mencari nomor yang ia catat tadi sore sebelum mengunci tiket-tiket itu dalam kerangkeng kawat di pintu kamar.

Nomor undian sebelas ribu sampai dua belas ribu. Semua tiket itu miliknya.

"Aku..." Thomas menelan ludah. Wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan sesuatu yang belum ia beri nama. "Aku menang lotere. Dua ratus ribu dollar."

Apakah ini nyata?

++++

Dengan wajah masih setengah tidak percaya, Thomas berbicara pada perawat di meja administrasi itu.

Ia menarik napas, berusaha tidak terlihat tergesa-gesa.

"Namaku Thomas Qin." Suaranya dijaga tetap biasa. "Tolong perpanjang tenggat waktu deposit untuk adikku satu jam lagi."

Thomas langsung berbalik badan dan berjalan cepat.

"Nama adikmu siapa, nak?" Perawat itu memanggil ke arah punggung Thomas. "Aku bukan peramal."

"Elena!" Thomas sudah di ujung koridor. "Elena Qin!"

Suaranya bergema di sepanjang koridor sebelum sosoknya menghilang di persimpangan.

Perawat bernama Irene Lin itu diam sebentar. Kemudian ia membuka data pasien atas nama Elena Qin, membacanya dengan teliti. Matanya berhenti di satu baris, dan wajahnya berubah pelan.

Tanpa penjelasan lebih lanjut kepada siapa pun, Irene mengubah tenggat waktu pembayaran deposit Elena mundur tiga jam, bukan satu jam.

Thomas tiba di Toko Gerbang Naga dengan napas tersengal. Ia mendorong pintu masuk, dan lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring.

Perempuan asing itu kini berganti kostum lagi. Sekarang ia mengenakan busana Asia yang lebih formal, duduk di balik meja yang sama, tangannya menyulam dengan gerakan yang sama persis seperti tadi sore. Ia tidak mengangkat wajah ketika Thomas masuk.

"Permisi," kata Thomas.

Tidak ada respons. Jarum sulam bergerak naik turun tanpa henti.

"Permisi." Suara Thomas naik satu level. "Aku datang untuk mengklaim hadiah lotere."

Perempuan itu, Ruby Lin, mengangkat kepalanya.

Satu detik ia menatap wajah Thomas. Ada sesuatu di tatapan matanya yang membuat Thomas merasa seperti sudah mengenal perempuan ini jauh lebih lama dari hari ini, lebih lama dari sekadar dua pertemuan yang tidak ia minta.

"Mana nomor undian Anda?" Suara Ruby tetap tenang.

Thomas menyadari satu masalah.

Kerangkeng kawat itu terpasang di daun pintu. Tiket ada di dalam kerangkeng. Kerangkeng tidak bisa dibuka tanpa merusak kawat. Kawat tidak bisa dilepas tanpa merusak tiket.

Solusi logisnya hanya satu.

Thomas mengangkat sebuah daun pintu kayu lengkap dengan kerangkeng kawat yang masih mengunci segepok tiket lotere di dalamnya. Kedua tangannya memegang benda itu di depan meja Ruby, menopangnya seperti seseorang yang membawa persembahan di sebuah upacara yang tidak ia mengerti ritualnya.

"Di sini."

Ruby menatap daun pintu itu. Tidak hanya daun pintu. Seluruh konstruksinya, kawat yang melilit tidak rata, tiket yang berdesakan di dalam, dan engsel pintu yang masih terpasang di sisi kiri.

Ia tidak langsung bicara.

Dari sudut toko, seorang pria tua yang sedang memilih-milih barang di rak berbalik. Matanya bergerak dari Thomas ke pintu, dari pintu ke Thomas, lalu ke Ruby.

"Dia bawa pintu." Pria tua itu bersuara pelan ke istrinya yang berdiri di sebelahnya.

"Aku lihat." Istrinya menjawab dengan nada yang sama, tidak menyembunyikan senyum di balik kerudung tangannya.

Keheningan beberapa detik berlalu di balik meja Ruby, hanya terdengar bunyi lalu lintas dari luar toko dan suara pria tua yang mendehem menahan tawa.

Thomas melihat sudut bibir Ruby bergerak, menahan sesuatu dengan susah payah.

"Yang aku butuhkan adalah nomor undian." Suara Ruby akhirnya keluar, datar dan sangat hati-hati, seperti orang yang sedang berjalan di atas lantai yang mungkin retak. "Bukan pintu."

Pria tua di sudut tidak berhasil menahan diri lebih lama. Suara tawanya pecah, pendek tapi jelas.

Istrinya menyikutnya. "Hush."

"Maaf, maaf." Pria tua itu berbalik ke rak, bahunya masih bergerak naik turun.

Wajah Thomas memerah sampai ke belakang telinga. Ia tahu ini terlihat sangat konyol. Ia sudah tahu itu sejak tadi, sejak ia berdiri di depan apartemennya dengan daun pintu di tangan dan dua tetangga yang menatapnya dari ujung lorong.

Tapi tidak ada pilihan lain selain menjelaskan semuanya.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel