Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Nama Qin yang Ditolak.

Kantor utama Gregory Qin dan Qin Enterprises tidak terlalu jauh dari tempat Thomas berdiri.

Thomas berdiri di depan gedung itu, memandang papan nama besar di fasad bangunan. Ia masih kanak-kanak ketika ayahnya dipecat dari perusahaan ini, dan hubungan keluarga mereka dengan Gregory Qin sudah putus sejak saat itu.

Tapi tidak ada pilihan lain sekarang.

Thomas masuk ke lobi gedung Qin. Pendingin udara menyambutnya dengan tiupan dingin yang terasa seperti tamparan di wajah setelah panas di luar.

Ini musim panas. Thomas berkeringat dan berbau matahari. Sementara semua orang di lobi berbau parfum mahal dan berpakaian rapi, turun dari mobil ber-AC.

Seorang satpam bernama Peter Kong sudah memperhatikan Thomas sejak ia masuk. Bukan karena Thomas berbuat sesuatu, tapi karena penampilan Thomas yang mencolok di antara semua orang di sini.

Peter mengikuti dari belakang, menjaga jarak, menunggu momen.

Thomas berdiri di depan lift khusus, lift yang hanya diperuntukkan bagi pemegang saham dan pemilik perusahaan. Wajah Peter berubah langsung.

"Hei. Apa yang kamu lakukan di sana?" Peter mengangkat tongkat listriknya. Nada suaranya sudah tidak basa-basi.

"Aku mau ketemu Tuan Gregory Qin," jawab Thomas langsung. "Ada hal penting yang harus disampaikan."

"Pergi." Peter melangkah satu langkah maju. Jarak antara mereka menyusut. "Perusahaan ini tidak menerima proposal permohonan sumbangan."

"Tapi aku bukan..."

"Pergi, kataku!" Suara Peter naik, wajahnya merah. Beberapa karyawan yang lewat di dekat mereka mulai memperlambat langkah, mengamati dari sudut mata.

Thomas tidak mundur.

"Aku juga Qin." Suaranya keluar keras, cukup keras untuk didengar siapa pun yang ada di lobi. "Ayahku Victor Qin. Dulu beliau bagian dari perusahaan ini."

Keheningan singkat jatuh di lobi Gedung Qin.

Satu per satu orang-orang berhenti berjalan. Nama Qin selalu menarik perhatian di Kota Jinling, dan mendengarnya diteriakkan oleh anak muda lusuh seperti Thomas adalah tontonan yang tidak biasa.

Peter semakin tertekan. Kerumunan yang terbentuk membuatnya makin tidak nyaman.

"Apa kamu bilang?" Peter mencibir, suaranya meremehkan. "Aku sudah hampir lima tahun kerja di sini. Belum pernah sekalipun aku dengar nama Victor Qin disebut sebagai bagian keluarga Qin."

Ia tidak memberi Thomas kesempatan menjawab.

Peter menancapkan tongkat listrik tegangan rendah ke bahu Thomas.

Tubuh Thomas mengejang. Kakinya tidak bisa dikontrol, bergerak kacau. Ia menabrak dinding lift dan jatuh ke satu lutut sebelum bisa menahan dirinya.

Tawa meledak dari orang-orang di sekitar mereka. Beberapa menutupi mulut, beberapa tidak repot-repot menyembunyikannya.

"Campakkan dia ke luar, Peter."

Peter menyeret Thomas ke arah pintu lobi dengan satu tangan, melewati barisan orang yang menyingkir memberi jalan, sebagian masih tertawa, sebagian hanya diam menonton.

Thomas berdiri di trotoar luar gedung Qin, bahunya masih terasa panas dari bekas tegangan. Ia merapikan bajunya yang kusut, berdiri tegak.

Di dalam kepalanya, satu catatan mengendap diam-diam. Nama-nama. Wajah-wajah.

Hari ini ia tidak punya apa-apa. Tapi hari ini juga ia tidak akan lupa siapa yang berdiri di mana.

++++

Peter semakin tertekan. Kerumunan yang terbentuk membuatnya makin tidak nyaman, dan posisinya di sini bergantung pada seberapa cepat ia menangani situasi seperti ini.

"Apa kamu bilang?" Peter mencibir, suaranya meremehkan. "Aku sudah hampir lima tahun kerja di sini. Belum pernah sekalipun aku dengar nama Victor Qin disebut sebagai bagian keluarga Qin."

Ia tidak memberi Thomas kesempatan menjawab.

Peter menancapkan tongkat listrik tegangan rendah ke bahu Thomas.

Tubuh Thomas mengejang. Kakinya tidak bisa dikontrol, bergerak kacau seperti seseorang yang menari di atas lantai yang tidak stabil.

Tawa meledak dari orang-orang di sekitar mereka. Beberapa menutupi mulut, beberapa tidak repot-repot menyembunyikannya.

Seorang karyawan muda di dekat lift berbisik ke rekannya. "Kasihan. Datang ngaku-ngaku Qin, ujungnya disetrum."

Rekannya menahan tawa dengan menutup mulut menggunakan berkas dokumen yang ia pegang.

"Campakkan dia ke luar sesudahnya, Peter."

++++

Thomas berjalan terhuyung-huyung setelah diseret ke trotoar luar gedung Qin. Bahunya masih terasa panas dari bekas tegangan listrik, dan sedikit rasa mual naik ke tenggorokan.

Pintu lobi menutup di belakangnya. Di balik kaca, beberapa karyawan masih menatap ke arahnya sebelum akhirnya membubarkan diri, kembali ke rutinitas masing-masing seperti tontonan gratis yang sudah selesai.

Ia berdiri di trotoar, mencoba merapikan bajunya yang kusut. Kerah bajunya tertarik ke kiri, dua kancing bagian atas hampir lepas.

"Wajar saja mereka ngga kenal Victor Qin." Gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. "Ayah sudah dipecat sepuluh tahun lalu."

Bahu Thomas masih berdenyut. Ia memutar lengannya pelan, memastikan tidak ada yang cedera.

Deposit Elena masih nol. Ia sudah kehilangan seluruh uang yang ada. Dan sekarang ia baru saja disetrum di lobi kantor milik keluarganya sendiri, menjadi tontonan gratis untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu namanya.

Thomas menarik napas panjang dan berjalan.

++++

Thomas berjalan tanpa tujuan yang jelas, kepalanya masih pening, ketika pandangannya tersangkut pada sebuah toko di pinggir jalan.

Dari luar, toko itu terlihat biasa saja. Tapi kata-kata di etalasenya menarik mata Thomas sebelum ia sempat mengalihkan pandangan.

"Lotere Gerbang Naga. Hadiah spesial dua ratus ribu dollar menanti Anda. Nikmati liburan gratis sebagai bonus."

Ada foto perempuan berkulit coklat dengan gigi putih dan pantai berpasir cerah. Gambar itu terasa hangat, terlalu hangat untuk sekadar gambar di kaca etalase.

Thomas berhenti. Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang semestinya berkata ini bukan ide bagus.

Suara itu tidak keluar.

Bunyi pintu toko terbuka ketika Thomas mendorongnya.

Ngiiik.

Seorang perempuan setengah baya duduk di balik meja kerja, menunduk, tangannya menyulam. Ia tidak mengangkat wajah ketika Thomas masuk.

Aroma toko itu aneh. Campuran kayu tua dan sesuatu yang manis yang tidak bisa Thomas beri nama. Rak-rak di dinding penuh dengan benda-benda kecil yang tidak langsung jelas fungsinya.

Thomas berhenti di tengah toko. Ada sesuatu yang sangat familiar dari perempuan ini. Busananya berbeda, riasannya berbeda, tapi cara ia duduk dan cara ia menahan diri untuk tidak melihat ke arah Thomas terasa seperti sesuatu yang pernah Thomas kenal hari ini.

"I-ini..." Thomas hampir mundur selangkah. "Bukankah dia mirip perempuan yang jual artefak tadi?"

"Lotere Gerbang Naga." Suara perempuan itu keluar tanpa ia mengangkat wajah, merdu seperti seruling, memenuhi ruangan kecil itu dari lantai ke langit-langit. "Anda tidak akan tahu kejutan apa yang menanti sebelum membeli tiket dari toko kami."

Suara itu memukul Thomas di tempat yang sama seperti sebelumnya. Pikirannya yang tadi tajam dan waspada tiba-tiba terasa seperti kabut yang merata.

Dan seperti sebelumnya, sesuatu di dalam kepalanya yang seharusnya berteriak berhenti justru terdiam.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel