Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dua Ratus Ribu dan Awal Sistem.

"Salah satu tiket yang menang ada di antara tumpukan ini, masih tersegel dalam kerangkeng kawat yang terpasang di pintu kamar aku." Thomas mempertahankan nada suaranya serata mungkin.

"Aku tidak bisa membuka kerangkengnya tanpa merusak tiket, jadi aku bawa semuanya, lengkap dengan pintunya."

Ruby menatap Thomas.

Lalu menatap pintu.

Lalu menatap Thomas lagi.

Kemudian ia tertawa. Kali ini ia tidak menahannya, dan suara tawanya memenuhi toko kecil itu sampai pria tua di sudut merasa mendapat izin untuk ikut tertawa lebih keras.

"Hahaha." Pria tua itu tidak repot-repot menyembunyikan dirinya lagi. "Anak muda ini luar biasa."

Istrinya menepuk bahu suaminya. "Sudah, sudah."

"Tidak bisa tidak tertawa." Pria tua itu mengangkat kedua tangan. "Dalam hidup aku enam puluh tahun, baru sekali ini aku lihat orang klaim hadiah lotere bawa pintu."

Thomas berdiri dengan daun pintu masih di tangannya, menunggu semua orang selesai, dengan ekspresi yang sudah menyerah sepenuhnya pada rasa malu.

Ruby mengusap sudut matanya. "Letakkan pintunya di sana." Ia menunjuk ke sudut ruangan. "Aku proses klaimnya."

"Aku lakukan itu karena aku sangat pelupa," kata Thomas akhirnya, pelan, sambil membawa pintu ke sudut yang ditunjuk. "Dan tiket-tiket itu dibeli dengan uang terakhir yang aku punya."

Tawa Ruby berhenti.

Pria tua di sudut juga diam. Ia melirik Thomas sekali lagi, kali ini dengan ekspresi yang berbeda.

Ruby menatap Thomas sebentar lebih lama, kemudian mengangguk kecil dan mulai memproses klaim hadiah itu tanpa banyak bicara.

++++

Thomas berjalan keluar dari Toko Gerbang Naga dengan langkah yang jauh lebih ringan dari tadi.

Di saku bagian dalam jaketnya, dua lembar cek disimpan rapat-rapat. Ia sengaja meminta pembayaran non-tunai, lebih aman untuk perjalanan ke rumah sakit.

Lampu-lampu gedung di sepanjang jalan sudah mulai menyala ketika Thomas tiba di Bethesda. Dari bawah, ia menatap bangunan tinggi itu dan menghela napas pelan.

"Aku terlambat satu jam dari yang kujanjikan."

Irene Lin masih ada di meja administrasi. Seorang keluarga pasien sedang berbicara panjang dengannya, dan Thomas duduk di kursi tunggu dengan gelisah, matanya terus melirik ke arah meja.

Setiap menit yang berlalu terasa dua kali lebih panjang dari biasanya. Di sakunya ada dua ratus ribu dollar dalam bentuk cek. Di lantai atas sana, Elena masih terbaring.

Ketika keluarga pasien itu akhirnya pergi, Thomas langsung berdiri dan berjalan ke meja Irene.

"Kamu lagi." Irene menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa langsung dibaca. "Kedatanganmu lebih dari satu jam dari yang kamu janjikan."

Thomas membuka mulutnya untuk menjelaskan.

Irene mengangkat satu tangan, memotong sebelum Thomas sempat bicara. Ia menyentuh layar iPad-nya dan memutar layar itu ke arah Thomas.

Layar itu menampilkan status pembayaran deposit atas nama Elena Qin. Tenggat waktu belum jatuh tempo.

Thomas terdiam, menatap angka di layar itu tanpa mengerti.

"Aku yang ubah." Nada suara Irene biasa saja, tidak meminta terima kasih. "Aku lihat alamat Elena di catatan. Satu jam terlalu sempit bagimu. Tiga jam lebih masuk akal."

Thomas menatap perempuan ini sebentar. Di antara semua orang yang ia temui hari ini, Irene Lin terasa seperti anomali.

"Terima kasih," katanya akhirnya, dan ia bermaksud serius.

Irene mengambil cek deposit dari tangan Thomas dan memprosesnya tanpa banyak bicara. Jarinya bergerak di layar iPad, menginput data dengan cepat dan efisien.

"Semoga Elena segera pulih," kata Thomas.

Irene hanya mengangguk kecil, sudah kembali bekerja, matanya kembali ke layarnya.

++++

Di kamarnya yang sempit malam itu, Thomas berbaring menatap langit-langit.

Satu hari yang panjang dan tidak masuk akal.

Mulai dari Elena yang terbaring di IGD, Cindy yang mengusirnya seperti mengusir kecoak, Howard yang hampir tidak percaya hutangnya dibayar, Peter yang menyetrumnya di lobi gedung Qin sendiri, batu yang meresap ke tangannya, lotere yang menang dengan tiket yang dikurung di kerangkeng kawat di daun pintu.

Thomas menutup matanya sebentar.

Kemudian ia teringat sesuatu yang sudah ia tunda sejak tadi sore.

Sistem di telapak tangannya. Tato berbentuk mata yang muncul setelah batu Ruby Lin meresap masuk.

Thomas menyentuh tato itu dengan jari telunjuknya. Sesuatu terbuka di depan matanya, layar transparan yang mengambang di udara, mirip dengan panel chat dalam program AI yang pernah ia pakai saat kuliah.

Thomas bukan orang yang terlalu mengerti teknologi. Ia pernah belajar menggunakan aplikasi berbasis AI waktu mengerjakan tugas di universitas, sebelum biaya pendidikan memaksanya mengambil cuti dan mencari pekerjaan.

Thomas juga penggemar game. Salah satu yang paling banyak ia habiskan waktu di depannya adalah "The Grand Master Alkemis," game tentang seorang ahli alkimia yang meracik pil dan menjualnya dengan harga tinggi.

Panel di depan matanya sekarang terasa sangat mirip dengan panel game itu.

"Apa aku harus ngetik?" Thomas menatap layar itu. "Tapi tidak ada keyboard."

Ia teringat sesuatu dari game yang pernah ia mainkan. Fitur suara yang pernah ia pakai berbulan-bulan.

"Bicara. Aku tinggal bicara."

"Apakah kamu bisa mengerti apa yang aku katakan?"

Tidak ada suara yang menjawab. Hanya teks yang muncul di layar transparan itu, huruf demi huruf.

[Waktu Anda telah habis. Tugas hari ini telah selesai. Silakan kembali besok pagi dan ajukan pertanyaan.]

[Hadiah atas penyelesaian tugas harian telah tersimpan di tas. Silakan periksa.]

Thomas mengerutkan dahi. "Apa? Disuruh kembali besok?"

Hampir saja ia menutup layar itu ketika matanya menangkap ikon gambar tas kecil di sudut kanan bawah layar, persis seperti ikon inventory dalam game-nya.

Thomas menyentuh ikon itu. Di dalamnya ada satu amplop yang belum dibuka.

Ia menyentuh amplop itu.

[Selamat. Anda telah memperoleh satu buah payung. Terima atau tolak?]

Thomas menatap layar itu tanpa ekspresi selama beberapa detik.

"Payung." Ulangnya pelan. "Hari ini aku menang dua ratus ribu dollar. Dan hadiahnya payung."

Layar tidak merespons keluhan itu.

[Jika tidak ingin menggunakan hadiah, Anda dapat menyimpannya di dalam tas.]

Suara bot muncul, datar dan efisien. [Terima atau buang hadiah ini dari sistem?]

Thomas menghela napas. "Simpan saja."

Ada bunyi singkat, dan ikon payung muncul dalam daftar inventory yang masih hampir seluruhnya kosong.

Thomas hendak mengajukan pertanyaan ketika suara bot memotong sebelum ia sempat membuka mulut.

[Semua pekerjaan sistem telah selesai. Anda dapat berbicara dengan aku besok pagi.]

Layar mati.

Yang tersisa adalah kamarnya yang sempit, pakaian kotor berserakan di lantai, dan lubang menganga di bingkai pintu karena pintunya masih ada di Toko Gerbang Naga bersama Ruby Lin.

Thomas merebahkan diri di kasur. Di luar sana, Elena masih terbaring di Bethesda. Victor belum tahu apa yang terjadi hari ini. Dan di telapak tangan Thomas, tato kecil berbentuk mata itu terasa hangat, seperti sesuatu yang sedang menunggu.

Thomas memejamkan mata. Dalam mimpinya ia berdiri di depan meja laboratorium alkimia, meracik sesuatu yang belum ia tahu namanya, tapi tangannya bergerak seolah sudah melakukannya ribuan kali.

Bersambung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel