Mata Sang Ratu.
Beberapa orang di kursi tunggu berbalik menatap ke arah mereka. Seorang ibu tua yang sedang menunggu menekan tangan anaknya pelan, isyarat untuk tidak ikut campur.
"Kalau semua orang miskin datang minta keringanan seperti kamu, dari mana kami bisa gaji pegawai?" Suara Cindy tidak turun sedikit pun. "Rumah sakit ini bukan tempat amal."
Thomas tidak bergerak. "Aku hanya bertanya apakah ada prosedur untuk..."
"Prosedur?" Cindy memotong langsung. Sudut bibirnya naik ke sesuatu yang bukan senyum. "Prosedurnya adalah bayar atau keluar. Itu saja. Simpel sekali, bahkan untuk orang seperti kamu."
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari nada suaranya.
Cindy belum selesai. Ia melangkah satu langkah mendekati meja, semakin dekat ke Thomas.
"Kamu pikir kamu satu-satunya yang punya keluarga sakit di sini? Semua orang di ruang tunggu itu juga punya masalah." Stylus-nya bergerak, menunjuk ke arah kursi tunggu yang penuh. "Bedanya, mereka ngga berdiri di sini minta belas kasihan."
Seorang pria di kursi tunggu menundukkan kepala, pura-pura membaca ponselnya. Seorang wanita muda di sebelahnya menelan ludah, menatap ke lantai.
"Kalau ngga mampu, pergi ke rumah sakit daerah. Orang seperti kamu memang tempatnya di sana." Cindy mengetukkan stylus-nya ke meja, satu ketukan untuk setiap kata terakhir. "Atau cari cara lain. Pinjam dari rentenir. Jual diri. Kamu masih muda dan kuat. Banyak yang bisa dilakukan untuk dapat sepuluh ribu dollar."
Keheningan di area meja administrasi terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang berani menatap Thomas secara langsung.
Cindy tersengal-sengal setelah selesai. Matanya masih menyipit ke arah Thomas, menunggu ia pergi.
Thomas tidak bergerak. Ia biarkan semua kata itu menghantam, mengendap, dan lewat.
Kemudian ia menarik napas satu kali.
"Baik," kata Thomas akhirnya. Suaranya tetap, tidak patah. "Aku akan kembali dan menempatkan deposit. Tolong berikan perawatan terbaik untuk adikku."
Cindy melambaikan tangan, mengusir Thomas seperti mengusir orang yang tidak penting.
Thomas membalik badan dan berjalan keluar. Punggungnya tegak. Ia tidak melihat ke belakang.
Di dalam dadanya, sesuatu yang belum punya nama mengeras pelan-pelan.
++++
Meski suaranya biasa saja, Thomas beruntung bisa diterima bekerja di The Asian Hawks Bar. Ia bekerja sebagai pelayan, merangkap pemain gitar tunggal dan penyanyi solo di malam hari.
Penghasilannya tidak besar untuk bertahan di Kota Jinling yang mahal. Tapi ini lebih baik dari tidak ada sama sekali.
Di Kota Jinling, banyak anak muda miskin yang akhirnya turun ke jalan dengan cara yang lebih buruk. Perdagangan manusia marak, dan semua kalangan punya pasarnya sendiri.
Thomas keluar dari The Asian Hawks Bar dengan wajah sedikit lebih cerah dari tadi.
Howard Tang, pemilik bar, memberikan pinjaman delapan ribu dollar. Belum cukup, tapi sudah sangat membantu. Thomas masih punya sedikit tabungan yang bisa ditarik dari ATM.
Ia berjalan ke arah mesin ATM di pinggir jalan, menyiapkan kartu di tangannya, ketika seseorang menyapanya dari arah samping.
Perempuan itu berbusana gaya Asia, nyentrik, usianya mungkin lima puluh, mungkin juga enam puluh. Suaranya keluar seperti seruling, merdu aneh, membikin udara di sekitarnya terasa berbeda.
"Mata Sang Ratu." Suara perempuan itu pelan, tapi terdengar sangat jelas di telinga Thomas, seperti bisikan yang menolak kalah dengan keramaian jalan. "Artefak dari negeri nun jauh di Timur yang dapat membawa sejuta keberuntungan. Sepuluh ribu dollar, tidak kurang."
Thomas merasa kepalanya berdenyut aneh. Suara jalanan di sekitarnya terasa menjauh, seperti volume yang dikecilkan perlahan.
Di depan matanya, batu ukiran bermata besar itu terlihat seperti permata merah delima. Bercahaya. Berat dengan makna yang ia tidak bisa jelaskan.
Tangannya bergerak tanpa ia perintahkan. Thomas menyerahkan delapan ribu dollar kepada perempuan itu.
"Sisanya akan aku tarik dari mesin ATM. Tunggu sebentar."
Perempuan itu menunggu diam, senyumnya tidak berubah.
Thomas berjalan ke mesin ATM. Jari-jarinya memasukkan PIN dengan gerakan yang terasa bukan miliknya sendiri. Layar mesin menampilkan saldo, tangannya sudah menekan angka sebelum matanya sempat membaca dengan benar.
Dua ribu dollar terakhir dari rekeningnya berpindah tangan. Thomas menyerahkannya juga, dan perempuan itu menerimanya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.
"Semoga bintang-bintang memberkatimu." Perempuan itu pergi, melangkah ke lorong sempit di dekatnya, dan hilang.
Thomas berdiri di pinggir jalan. Suara jalanan kembali normal. Kepalanya jernih kembali dalam hitungan detik, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur.
Dan tangannya memegang batu ukiran yang tidak terasa seperti apa-apa.
++++
"Terkutuk."
Thomas menatap batu itu di telapak tangannya di bawah cahaya lampu jalan. Tidak ada kilau permata. Tidak ada cahaya merah delima. Ini hanya batu alam biasa yang diukir menyerupai mata, dibuat terlihat tua dengan cat dan pelapukan buatan.
Ia berdiri di sana beberapa detik, menyadari apa yang baru saja terjadi.
Delapan ribu dollar pinjaman Howard. Dua ribu dollar tabungan terakhir. Semuanya habis. Untuk ini.
Deposit Elena masih nol.
Thomas mengangkat tangan, hampir melempar batu itu ke got di pinggir jalan, ketika suara asing bergema di dalam kepalanya.
"Selamat. Anda telah menggunakan Sistem Mata Sang Ratu. Level Anda adalah nol. Sistem akan memberi tugas, dan kejadian menakjubkan menanti di depan mata."
Thomas membeku.
Batu itu memudar pelan-pelan, meresap ke dalam telapak tangannya seperti cat yang terserap kain basah. Yang tersisa hanya tato kecil berbentuk mata di tengah telapak tangannya.
Thomas menatap tato itu lama. Jari telunjuknya menyentuh tepian gambar itu, memastikan ini nyata dan bukan efek dari kepala yang terlalu lelah.
"Apa ini?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin sore yang melewati kerah bajunya.
++++
Thomas menatap tato di telapak tangannya dengan perasaan campuran antara panik dan jengkel.
"Kenapa harus ada tato aneh di tanganku?" Gerutunya pelan, menutup genggamannya. "Orang bakal nyangka aku ikut sekte sesat kalau lihat ini."
Di Kota Jinling, sekte dan ordo bermunculan dalam dua tahun terakhir. Sebagian besar penipu yang mengincar turis dan orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Kelompok-kelompok ini sudah dicap sebagai scammer, dan nama mereka cukup membuat orang menjaga jarak.
Thomas sangat tidak ingin diasosiasikan dengan kelompok semacam itu.
Ia masih memandangi tato itu ketika suara asing kembali bergema di kepalanya.
"Tugas pertama Anda di level nol. Pasang taruhan pada undian jenis apa pun, sejumlah seribu dollar. Nantikan hadiah menarik."
Thomas mengedipkan mata.
Ia berhenti di tengah trotoar, membiarkan orang-orang melewatinya dari kanan dan kiri.
"Setelah nipu aku dengan batu tua yang ujung-ujungnya jadi tato aneh di tangan, sekarang kamu mau aku habiskan sisa uang untuk beli lotere?" Suaranya keluar setengah berbisik, separuh mengumpat. "Tidak."
Thomas melanjutkan langkahnya. Deposit Elena masih nol. Tidak ada waktu untuk omong kosong.
Bersambung
