Sepuluh Ribu Dollar untuk Nyawa Elena.
Thomas Qin berlari kencang menuju Rumah Sakit Bethesda. Panggilan telepon itu datang mendadak, suara seseorang dari rumah sakit yang terdengar datar namun berat.
Elena, adik satu-satunya, sedang terbaring sakit. Belum ada diagnosis pasti, tapi dari nada suara penelepon itu, Thomas tahu ini bukan hal kecil.
Thomas berdiri di depan gedung berlantai lima belas itu. Bangunan modern dengan kaca biru tua memantulkan langit sore yang mendung.
"Biaya menginap di sini pasti mencekik." Gumamnya pelan, matanya menelusuri fasad gedung dari bawah ke atas. "Harusnya Elena dipindah ke rumah sakit daerah saja."
Belum ada apa-apa, pikirannya sudah berlari ke urusan uang.
Keluarga Thomas bukan keluarga berada. Itu bukan rahasia, bahkan bagi diri Thomas sendiri.
Victor Qin, ayahnya, bekerja sebagai pengemudi taksi online untuk perusahaan Jazz Enterprises. Bukan pekerjaan yang buruk, tapi juga bukan pekerjaan yang mudah, terutama di masa seperti sekarang.
Di Kota Jinling, ketika ekonomi sulit, orang memilih jalan kaki atau naik kereta bawah tanah. Tidak ada yang mau membuang dollar hanya untuk naik Mercedes-Benz E-Class yang biayanya tinggi.
Hasilnya, Victor lebih sering duduk menganggur daripada mengantar penumpang. Ditambah biaya sewa apartemen sempit mereka bertiga, tagihan listrik, air, dan kebutuhan sehari-hari yang terus berjalan.
Sepuluh tahun lalu, Victor dipecat dan diusir dari Qin Enterprises, perusahaan besar milik keluarga Qin. Monica, ibu Thomas, pergi tidak lama setelah itu dan tidak pernah kembali.
Sejak saat itu Victor merawat Thomas dan Elena seorang diri, dengan caranya sendiri.
Sekarang Victor berusia empat puluh sembilan tahun. Thomas dua puluh tahun, pemain musik kafe yang hidupnya masih setengah jalan. Elena masih sekolah.
Thomas menarik napas panjang dan melangkah masuk ke dalam gedung.
++++
Thomas berdiri membeku di depan ranjang rumah sakit.
Elena terbaring pucat seperti kertas, napasnya lemah di balik tirai kain putih ruang IGD. Bau antiseptik memenuhi udara, berat dan dingin di paru-paru.
Seorang dokter residen muda berdiri di sisi ranjang. Wajahnya serius, matanya menatap Thomas langsung.
"Gadis ini harus dioperasi segera," katanya tegas. "Jika dibiarkan berlarut-larut, racun dalam tubuhnya akan membunuhnya."
Ia berhenti sebentar, memberi jeda yang terasa seperti jatuhnya batu besar.
"Mula-mula ia kehilangan kesadaran. Sesudah itu, semua selesai."
Jantung Thomas seolah berhenti satu detik. Dua kata terakhir itu bergema di kepalanya, tidak mau pergi.
Ia menatap wajah pucat Elena di balik tirai. Pipi adiknya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Thomas melihatnya dua hari lalu. Bibirnya kering, tangannya kecil di atas selimut putih.
Thomas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, tidak terasa.
"Apakah tidak bisa dilakukan hemodialisis dulu, Dok?" Suara Thomas keluar pelan, tapi cukup jelas.
Dokter residen itu menatapnya sebentar, seperti menimbang apakah pertanyaan itu layak dijawab panjang.
"Kondisinya sudah melewati tahap itu." Suaranya tidak keras, tapi tidak ada ruang di dalamnya untuk negosiasi. "Hanya ada satu jalan. Operasi."
Thomas membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Dokter residen itu meninggalkan Thomas tanpa menunggu respons. Suara sirine ambulans meraung dari arah luar, dan teriakan-teriakan dari koridor lain ikut memenuhi kepala Thomas.
"Emergency! Emergency!"
"Pasien status serangan jantung!"
Thomas berdiri sendirian di antara kekacauan itu. Matanya masih menatap wajah Elena yang tidak bergerak di balik tirai putih. Ia berdiri di sana lebih lama dari yang ia sadari, sampai suara langkah kaki perawat yang lewat akhirnya memaksanya bergerak.
++++
Thomas berdiri di depan meja administrasi dengan langkah yang masih ragu.
Di balik meja itu, seorang perawat berambut pirang menunduk, matanya terpaku pada layar ponselnya. Pakaian dinas hijaunya satu nomor terlalu kecil, dan ia tidak terlihat menyadari kehadiran Thomas sama sekali.
Ia sedang video call dengan seseorang. Dari suara yang bocor keluar, jelas mereka sedang bertengkar. Suara laki-laki di ujung sana terdengar dingin, dan perawat itu menjawab dengan nada yang sudah hampir menangis.
Thomas menunggu. Satu menit berlalu. Tidak ada yang mengakui keberadaannya.
"Permisi." Suara Thomas keluar pelan.
Tidak ada respons.
"Nama pasien?" Suara perawat itu akhirnya keluar tanpa mengangkat wajah. Tegas, cepat, dan tidak peduli. Matanya masih di layar ponsel.
Thomas menarik napas pelan. "Elena. Elena Qin."
Perawat itu, Cindy Guo, mengusap layar iPad dengan gerakan malas, satu tangan masih memegang ponsel ke telinga. Matanya melirik sekilas ke data pasien atas nama Elena Qin.
Ekspresinya berubah satu detik sebelum ia memasang senyum palsu. Bukan senyum yang hangat. Senyum orang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum bicara.
"Uang muka untuk biaya perawatan, belum termasuk biaya bedah dan jasa dokter, Anda harus menyediakan deposit sepuluh ribu dollar." Suara Cindy kembali datar. "Jika tidak mampu menyetor uang muka, dengan sangat menyesal kami tidak bisa melanjutkan perawatan."
Thomas terdiam.
"Sepuluh ribu dollar?" Ulangnya pelan, memastikan ia mendengar dengan benar. "Kapan tenggat waktunya?"
"Paling lambat pukul tujuh malam ini."
Cindy tersenyum sekali lagi. Senyum yang terlatih, tipis, dan tidak sampai ke matanya.
Thomas mencoba tetap tenang. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Maaf sebelumnya. Rumah Sakit Bethesda ini rumah sakit berbasis lembaga keagamaan, bukan?" Suaranya dijaga tetap sopan. "Apakah ada keringanan untuk pasien yang kurang mampu? Setidaknya cicilan atau potongan harga?"
Wajah Cindy berubah.
Senyum palsu itu runtuh dalam hitungan detik. Matanya menyipit, tatapannya menajam. Ia meletakkan ponselnya di meja, seolah ingin memastikan tangannya bebas untuk urusan ini.
"Keringanan?" Cindy mengulangi kata itu dengan nada seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sangat lucu. "Kamu dengar itu?" Ia menoleh ke rekan perawat di meja sebelahnya. "Dia minta keringanan."
Rekan perawat itu mendongak sebentar, melirik Thomas dari atas ke bawah, lalu kembali ke layarnya tanpa ekspresi.
Cindy berdiri. Satu tangan bertolak pinggang, stylus di tangan satunya menunjuk ke arah Thomas.
"Pergi." Suaranya turun satu oktaf, lebih keras, lebih tajam. "Kamu pikir ini lembaga sosial?"
Bersambung
