Quest Pertama, Traktiran Lima Orang.
Thomas Qin terbangun jauh sebelum alarm berbunyi. Euforia dari sistem itu menolak membiarkannya tidur lebih lama.
Di luar jendela apartemennya, langit Kota Jinling masih gelap pekat. Jalanan di bawah belum bersuara, hanya satu dua motor yang melintas di kejauhan.
"Quest dimulai." Gumamnya, duduk tegak di kasur.
"Sistem, aktifkan!"
Layar transparan mengambang di depan matanya dalam hitungan detik. Teks muncul baris demi baris, dan Thomas membacanya dengan mata yang masih setengah mengantuk.
Dada Thomas penuh dengan campuran semangat dan rasa serakah yang tidak ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
[Quest hari ini. Traktir makan lima orang yang berbeda.]
[Anda harus menghabiskan setidaknya seratus dollar per orang.]
Thomas membaca kalimat itu dua kali.
"Apa?" Gerutunya pelan, nada kesalnya jelas. "Seratus dollar per orang? Aku kerja di lembaga sosial sekarang?"
Kebiasaan hidup hemat bertahun-tahun tidak hilang dalam semalam, meski saldo rekeningnya berubah drastis kemarin.
Ia masih menggerutu ketika sistem merespons sebelum ia sempat protes lebih lanjut.
[Quest harian tidak bisa ditolak. Melanggar atau mengabaikan Quest akan mengakibatkan hukuman.]
Thomas mengerutkan dahi. "Hukuman apa?"
Ia mengaktifkan perintah suara. "Sistem, apa konsekuensinya kalau aku tolak?"
Hening beberapa detik. Lalu teks muncul satu per satu, pelan, seperti sengaja memberi jeda.
[Hukuman untuk menolak Quest secara sengaja memiliki beberapa tingkatan, mulai dari ringan hingga berat.]
[Hukuman paling berat adalah kematian.]
Thomas berdiri dari kasur dalam satu gerakan.
Ia tidak memberi dirinya waktu untuk berpikir lebih lama. Dua menit kemudian ia sudah di kamar mandi.
++++
Thomas Qin berjalan ke pusat kota dengan langkah cepat. Pikirannya berputar pada satu masalah yang lebih membebani dari soal seratus dollar per orang.
Siapa yang mau ditraktir?
Selama berbulan-bulan terakhir, ia lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar bermain "The Grand Master Alkemis" daripada bersosialisasi. Hasilnya, daftar orang yang cukup ia kenal untuk diajak makan bisa dihitung dengan satu tangan, dan hampir semua di antaranya punya alasan untuk tidak mau datang.
Sebuah sepeda melintas di sampingnya. Penjual roti, dengan lagu jingle bernada Asia yang tipis mengambang di udara pagi.
Thomas berhenti di trotoar. Kemudian ia tahu ke mana harus pergi.
++++
Thomas berdiri di depan etalase Toko Gerbang Naga, tangan di saku, menunggu.
Sreek. Tirai etalase terangkat dari dalam.
Ruby Lin muncul di balik pintu. Satu detik ia menatap Thomas, dan ekspresinya berubah dengan cara yang tidak ramah tapi juga tidak langsung mengusir.
"Lotere belum dijual jam segini." Suaranya datar. "Pergi dulu, sejam lagi baru buka."
"Aku bukan mau beli lotere." Thomas tidak bergerak. "Aku mau traktir sarapan. Sudah makan?"
Ruby Lin memandang Thomas dengan tatapan yang sulit dibaca. Keheningan berlangsung cukup lama untuk terasa aneh.
"Aku tahu kenapa kamu ke sini." Suaranya turun setengah nada. "Ini karena lotere kemarin, bukan?"
Thomas menggeleng pelan. "Bukan."
"Hubungan kita hanya antara penjual dan pembeli." Ruby meneruskan seolah tidak mendengar. "Kamu ngga perlu merasa berutang hanya karena menang."
"Aku ngga merasa berutang." Thomas menjawab langsung. "Kamu salah satu dari sedikit orang yang bersikap baik ke aku. Itu saja. Ngga ada maksud lain."
Ruby menatapnya sebentar lebih lama. Sesuatu di wajahnya bergerak, tapi tidak sampai ke permukaan.
"Sarapan saja?" Suaranya masih datar, tapi nada penolakan sudah tidak sekeras tadi.
"Sarapan saja."
Ruby menghilang ke dalam toko sebentar. Ketika keluar, ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap yang terlihat seperti jubah dari era yang salah, tapi entah kenapa terasa tepat di tubuhnya.
Thomas tidak berkomentar. Mereka berjalan.
++++
Restoran Golden Palace sudah ramai meski baru pagi. Lampu-lampu hangat menyinari meja-meja kayu hitam yang panjang, dan aroma kaldu menyambut dari dalam.
Thomas memesan menu sarapan standar. Ruby Lin memeriksa daftar menu dengan sangat teliti, lebih teliti dari yang Thomas antisipasi untuk sebuah sarapan.
Pelayan yang berdiri menunggu mulai melirik Thomas dengan ekspresi sedikit bertanya. Tapi tidak ada yang berani berkomentar.
Yang datang kemudian bukan sarapan.
Sup tapak beruang. Soto menjangan. Cah lidah bebek. Hidangan berat yang mengepul panas satu per satu memenuhi meja mereka sampai hampir tidak ada ruang tersisa.
Thomas menatap semua itu dengan ekspresi yang harus ia jaga tetap datar.
Tamu di meja sebelah melirik. Seorang pria paruh baya berbisik ke istrinya, keduanya menatap meja Thomas sebentar sebelum kembali ke makanan mereka masing-masing.
Ruby makan dengan tenang, seolah-olah semua ini adalah hal yang sangat wajar dilakukan pada pagi hari biasa.
Nota datang. Thomas melihat angkanya dan menahan napas satu detik penuh sebelum menyerahkan kartu ATM.
Seribu lima ratus dollar.
Bukan makan siang. Bukan makan malam. Sarapan.
Ia menekan tombol konfirmasi dengan jari yang sedikit kaku, dan memasang ekspresi biasa ketika kasir mengembalikan kartunya.
Ruby berdiri, merapikan mantelnya. "Terima kasih atas sarapannya."
"Sama-sama." Thomas menjawab, memasukkan kartu ke dompet tanpa melihat ke bawah.
Ruby menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa Thomas artikan. Kemudian ia berjalan keluar tanpa menambahkan apa pun.
++++
Thomas tiba di RS Bethesda tepat sebelum jam makan siang. Ia menunggu di kursi depan meja administrasi hampir satu jam sebelum Irene Lin selesai dengan urusan terakhirnya.
Irene melepas celemek administrasinya, melirik jam di dinding, lalu menatap Thomas. "Aku cuma punya satu jam. Tidak lebih."
"Cukup. Restorannya dekat."
"Kamu yakin? Karena kalau kehabisan waktu di tengah jalan, aku harus langsung balik."
"Lima menit jalan kaki." Thomas sudah berdiri. "Aku sudah cek sebelumnya."
Irene mengangguk singkat dan mengikuti.
Mereka makan siang di restoran Eropa beberapa blok dari RS Bethesda. Tempatnya tidak mewah, tapi makanannya layak dan jaraknya tidak membuang waktu Irene.
Thomas membayar dengan ekspresi yang sudah ia latih menjadi biasa.
"Dua ribu lima ratus dollar."
Kasir tersenyum sambil menggesek kartu. "Kalau mampir lagi, saya tunjukkan menu yang lebih spesial."
Thomas mengangguk dan berharap dalam hati kunjungan berikutnya tidak terjadi dalam waktu dekat.
Irene Lin memeluk Thomas sebentar sebelum kembali ke rumah sakit. Pelukannya singkat tapi sungguh-sungguh.
"Kamu anak yang baik."
Thomas memerah. Ia melangkah keluar dengan wajah yang belum kembali ke warna normal.
Sistem bergema di kepalanya.
"Dua dari lima terpenuhi. Tiga tantangan tersisa."
++++
Pukul lima sore. Thomas mendorong pintu The Asian Hawks Bar.
Howard Tang sedang menyeka gelas di balik bar. Ia menatap Thomas dengan ekspresi campuran antara heran dan curiga, tangan tidak berhenti bergerak tapi matanya menilai.
"Kenapa tergesa-gesa?" Nada suaranya sudah mengandung teguran sebelum Thomas sempat bicara. "Dan kamu belum bayar hutang. Bukannya enak-enakan mau kemana dulu, harusnya kamu berpikir..."
"Mana mesin kartumu."
Howard berhenti. "Apa?"
"Mesin kartu." Thomas mengulangi, nada suaranya tidak naik. "Mana."
"Hei, jangan seenaknya masuk ke sini dan langsung minta-minta." Howard meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari perlu. "Kamu masih punya hutang sepuluh ribu dollar ke aku. Ingat itu."
"Aku ingat." Thomas menatapnya langsung. "Makanya aku bilang keluarkan mesin kartu."
Bersambung
