Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Lukisan Pertama

Malam ketiga.

Kaelani sudah mulai hafal jalannya. Empat jam jalan kaki melewati hutan yang sunyi dan ilalang. Bedanya, kali ini dia nggak takut. Yang ada malah ,,, kesal.

Kesal karena tiga hari ini dia kepikiran satu hal,

_"Aku lupa rasanya dilihat."_

Apaan sih. Drama banget. Tapi tetap saja kepikiran.

Jam 9 malam dia sampai di depan pintu dan langsung mengetuk pintu.

Tak lama pintu kebuka dengan sendirinya dan seperti biasa di dalam ada teh yang masih mengeluarkan uap panas serta catatan di atas meja.

_"Lantai 7. Bawa keberanianmu juga. - Z"_

Kaelani mendengus. "Sok tau!"

Langkah kaki Kaelani menuju tangga, satu per satu anak tangga dinaiki. Sampai di lantai 3, Kaelani sejenak melihat lukisan 1826. "Udah ah ngeliatin mulu," ucapnya pada lukisan itu.

Lalu Kaelani melanjutkan lagi tujuannya. Melewati lantai 5, lantai 6 yang terasa dingin. Akhirnya sampai di lantai 7.

Pintu kebuka.

Zephyros sudah menunggu. Tapi posisinya berbeda dengan yang kemarin. Sekarang dia nggak duduk. Dia berdiri di depan jendela, punggung ke Kaelani. Jasnya dilepas. Tinggal kemeja hitam, lengan digulung. Rambutnya terurai sedikit.

Zephyros terlihat dewasa dan bahaya.

Kaelani batuk kecil biar dia nengok.

Dan Zephyros nengok juga. Mata merahnya menyapu Kaelani dari atas sampe bawah.

"Kau bawa apa?" tanyanya.

"Keberanian," jawab Kaelani sambil taruh tas. "Sesuai permintaan."

Zephyros nyengir. Kali ini beneran kelihatan taringnya sedikit. "Bagus. Kita butuh itu malam ini."

"Kenapa?"

"Karena malam ini," Zephyros jalan ke tengah ruangan. "Kau akan melukis aku."

Kaelani diam lalu memberanikan bicara lagi. "Tadi kamu bilang jangan."

"Itu tadi," Zephyros duduk di kursi. Kali ini posisinya menghadap ke Kaelani. Kaki disilang. Santai. Tapi auranya ,,, menekan. "Sekarang aku berubah pikiran."

"Alasannya?"

"Karena kalau kau terus menggambar ruangan, lukisanmu nggak bakalan laku," jawab Zephyros menyandarkan tubuhnya ke belakang. "Orang mau melihat monsternya. Bukan temboknya."

Kaelani melepas kanvas. Jantungnya sudah dag dig dug tak karuan, tapi tetap mencoba tenang. "Oke. Mau posisi bagaimana?"

"Terserah kau. Kau pelukisnya."

Kaelani mikir. Terus dia tunjuk ke arah pojokan dekat jendela. "Di situ. Cahaya bulan di belakang kamu. Setengah wajah gelap."

Zephyros mengikuti kemauan Kaelani. Duduk dengan punggung tegap dan tangan di sandaran kursi. Dagu sedikit dongak ke bulan.

"Jangan bergerak," perintah Kaelani seperti ke modelnya.

Zephyros ngangkat alis. "Kau nyuruh aku?"

"Iya. Masalah?"

"Gak." Zephyros kemudian diam. "Mulai."

Dan seketika hening.

Arang ketemu kanvas. Tik. Tik. Tik.

Lima menit. Sepuluh menit. Zephyros beneran nggak gerak. Cuma matanya ,,, matanya ngikutin tiap gerakan tangan Kaelani.

"Kenapa lihatin terus?" Kaelani akhirnya bertanya tanpa nengok.

"Karena aku penasaran," jawab Zephyros. "Bagaimana caranya manusia bisa bikin sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada."

"Dengan latihan 20 tahun," kata Kaelani. "Dan hutang."

Zephyros ketawa pelan. "Kau lucu kalau lagi fokus."

Kaelani nggak jawab lagi karena merasakan pipinya panas setelah mendengar yang diucapkan Zephyros.

Jam 10.30. Sketsa wajah sudah jadi. Garis rahang. Hidung. Mata. Tapi masalahnya ,,, mata.

Mata Zephyros susah banget. Merah dan sangat dalam. Kayak ada 200 tahun di dalamnya.

Kaelani frustasi, mengusap dahi sampai kotor oleh arang.

Zephyros melihat frustasinya Kaelani. "Kesulitan?"

"Mata kamu aneh," jawab Kaelani jujur. "Nggak bisa digambar."

"Karena kau takut," Zephyros berdiri. Berjalan ke arah Kaelani. "Biar aku bantu."

Dia berhenti di samping Kaelani lalu menunduk. Jaraknya dekat banget sampai Kaelani bisa melihat bulu mata dia yang panjang. Dan Kaelani merasa itu tidak adil karena bulu matanya tidak sebagus punya Zephyros.

"Tarik napas," kata Zephyros.

Kaelani nurut.

"Buang."

Kaelani buang napas.

"Lalu gambar, apa yang kau lihat. Bukan apa yang kau pikir harusnya ada."

Tangannya Zephyros tiba-tiba megang tangan Kaelani buat menuntun kuasnya.

Kulitnya dingin, tapi tidak mengerikan seperti yang orang bilang. Malah Kaelani merasa tenang.

"Caranya begini," bisik Zephyros di telinga Kaelani. "Jangan gambar warna merah. Gambar kekosongan. Gambar 200 tahun yang menunggu."

Kuasnya bergerak pelan membuat bayangan di bawah mata dan juga membuat kedalaman.

Jantung Kaelani mau copot. Karena tangan Zephyros masih di tangannya.

"Sudah," kata Zephyros setelah semenit. Dia lepas lalu mundur. "Sekarang lanjutkan sendiri."

Kaelani diam lalu melihat kanvas. Dan ,,, sialan. Bagus. Beneran bagus. Mata di kanvas itu hidup.

"Bagaimana?" tanya Zephyros.

"Bagus," akui Kaelani pelan. "Makasih."

Zephyros diam. Terus dia balik ke kursinya.

Jam 12 lewat.

"Tutup," kata Zephyros. "Cukup."

Kaelani segera merapikan semuanya. Tapi sebelum pergi, dia tidak tahan ingin menanyakan sesuatu.

"Zephyros."

"Apa."

"Kenapa kamu bantu aku?" tanya Kaelani.

Sebelum menjawab, Zephyros melihat Kaelani lama. "Karena 50 tahun terakhir," katanya pelan. "Nggak ada yang berani nyuruh aku diam dan diam." Terus dia melihat ke arah jendela.

Kaelani mengerti itu kode agar dirinya segera pergi. Tapi saat sampai di tangga, saat mau sampai lantai 1, Kaelani berhenti.

"Besok malam keempat," katanya ke atas. "Aku mau menambahkan detail di baju kamu."

Hening, nggak ada jawaban. Tapi pas dia keluar, dia mendengar pelan banget kayak bisikan.

"Baiklah, Pelukis."

Di luar, kabut merah lebih tebal dari kemarin. Tapi Kaelani melangkah pulang sambil senyum, nggak tahu kenapa.

Di lantai 7, Zephyros masih duduk di tempat yang sama. Melihat kanvas yang setengah jadi itu. Jemarinya menyentuh pipi di lukisan itu sangat pelan.

"Dasar manusia keras kepala," bisiknya.

Lalu dia tiup lilin. Gelap.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel