Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Jejak Di Jurnal Ayah

Kaelani gak langsung tidur begitu pulang dari menara.

Jam 2 pagi dia masih duduk di lantai studio, depan jurnal ayahnya. Jurnal tua, kulitnya sudah retak, halamannya kuning dan bau apek.

Tadi dia iseng membukanya lagi untuk mencari tanggal.

Di tanggal 14 Oktober 1998. "Kapal dagang hilang di dekat menara. Hanya ditemukan kuas pelukis mengapung."

Tanggal 3 Maret 2004. "Gadis hilang. Terakhir terlihat membawa kanvas ke arah utara."

Tanggal 21 Agustus 2010. "Lampu di menara menyala 3 malam. Lalu padam lagi selama 10 tahun."

Lalu Kaelani balik ke halaman paling belakang. Halaman yang dulu terlewatkan.

Ada coretan. Tangan ayahnya yang ditulis buru-buru dan tintanya luntur. "V datang lagi, dia butuh wajah baru. Aku menolaknya, tapi dia marah dan mengatakan waktu kita hampir habis. Aku takut kalau dia ambil Kaelani bagaimana?"

Tangan Kaelani berhenti.

V.

V.

Valtier?

Dada Kaelani bergemuruh.

"Gak mungkin," bisiknya. "Ayah kenal dia?"

Kaelani buka lagi ke halaman depan untuk mencari nama.

Nihil. Gak ada nama Zephyros. Cuma inisial V. Tapi tanggalnya ,,, tanggal 21 Agustus 2010. Itu saat Kaelani umur 8 tahun dan ayahnya masih hidup.

"Apa maksudnya 'wajah baru'?" Kaelani menutup jurnal. Kepalanya jadi pusing.

Akhirnya Kaelani tidur jam 4. Mimpi nya aneh. Mimpi ada tangan dingin memegang bahunya dan berbisik. "Jangan gambar aku."

Besoknya dia kerja. Mencari alasan lagi ke Nenek Siti agar bisa ke menara. Dan seperti biasa, malamnya siap-siap lagi.

Malam keempat.

Jalan ke menara rasanya sangat berbeda. Terasa berat karena sekarang di kepalanya punya pertanyaan.

Jam 9, Kaelani sampai di depan pintu. Diketuknya perlahan, dan pintu terbuka sendiri.

Seperti biasa, di dalam ada teh yang masih mengeluarkan uap panas, lilin dan sebuah catatan.

"Lantai 7. Bawa pertanyaanmu. - Z"

Kaelani merinding. "Dia tahu saja."

Tanpa membuang waktu, Kaelani langsung menaiki tangga satu per satu sampai ke lantai 7.

Zephyros sudah duduk di kursi modelnya. Penampilannya sangat rapi, memakai jas mewah, rambut klimis tapi tatapannya sangat dingin.

"Kau telat 2 menit," katanya tanpa melihat Kaelani.

"Macet," jawab Kaelani datar sambil menaruh tas. "Di hutan macet."

Zephyros akhirnya melihat Kaelani. "Kau semalam tidak bisa tidur," katanya. "Lingkaran matamu hitam."

Kaelani diam. Tangannya mulai menggambar. Kali ini melanjutkan lukisan wajah Zephyros. Menambahkan detail di kerah jas.

Hening 20 menit sampai Kaelani yang membuka suara.

"V itu siapa?"

Kuas Zephyros yang tadinya dia pegang buat dimainkan ,,, jatuh.

Duk.

Suasana langsung berubah. Dinginnya terasa berbeda. Bukan dingin ruangan, tapi dingin orang marah.

"Dari mana kau tau huruf itu?" tanya Zephyros pelan tapi penuh bahaya.

Kaelani tidak mau bohong. Dia ambil jurnal dari tas lalu membuka halaman itu.

"Ayahku menulis huruf V datang dengan mengatakan butuh wajah baru. Kamu kenal ayahku kan?" tanya Kaelani. "Kamu sendiri yang bilang begitu malam kemarin."

Zephyros diam. Rahangnya terlihat mengeras.

Selama semenit tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara angin mendesir di luar.

"Tutup jurnal itu," kata Zephyros akhirnya, pelan. "Dan lupakan."

"Gak bisa," Kaelani berdiri, memberanikan diri. "Aku berhak tahu. Ini soal ayahku."

Zephyros ikut berdiri.

"Kau berhak hidup," balasnya. "Itu saja. Pertanyaan lebih dari itu ,,, bikin kau mati."

Ancaman? Iya. Tapi di mata Zephyros tidak ada kemarahan. Malah terlihat takut.

Takut?

Kaelani maju selangkah tanpa rasa takut. "Jelaskan padaku, sekarang!"

Zephyros mendekat. Berdiri depan Kaelani, berjarak hanya 1 meter. Cukup bikin Kaelani merasakan hawa dingin dari tubuhnya.

"200 tahun lalu," Zephyros mulai bicara. Suaranya pelan. "Aku membuat perjanjian dengan seseorang. Aku janji tidak akan keluar dari menara. Dan sebagai gantinya ,,, aku dikasih 'makanan' setiap 10 tahun sekali."

"Makanan?" Kaelani berbisik.

"Manusia. Seorang pelukis," ucap Zephyros sambil menutup mata sebentar. "Mereka datang sendiri. Tertarik sama cahaya. Sama lukisan. Sama kutukan. Dan aku ,,, aku gak pernah menolak."

Kaelani mundur. "Jadi ayahku ,,,"

"Bukan," potong Zephyros cepat. "Ayahmu menolak. Dia satu-satunya yang menolak. Dia bilang 'jangan sentuh anakku'. Dan aku menurut saja."

Sesaat hening.

"Terus yang lain?" tanya Kaelani. Suaranya gemetar. "Gadis 2004? Kuas 1998?"

Zephyros menoleh ke jendela tanpa menjawab.

Dan Kaelani sudah tahu jawabannya.

"Kenapa kamu gak menolak aku?" tanya Kaelani. Air matanya hampir jatuh. "Kenapa aku berbeda?"

Zephyros balik badan. Jalan ke arah Kaelani. Berhenti saat jarak tinggal sejengkal.

"Karena kau melukis aku," katanya. "50 tahun aku menunggu ada yang melukis aku bukan sebagai monster. Kau melukis aku sebagai manusia."

Tangannya naik. Mau menyentuh pipi Kaelani. Tapi berhenti di tengah jalan. Akhirnya, tangannya cuma dikepal.

"Aku gak mau kau jadi salah satu di dinding itu," bisiknya. Dia tunjuk ke dinding. Lukisan-lukisan wajah. Semuanya dengan tatapan mata yang kosong. "Makanya aku membuat perjanjian tujuh malam biar kau aman."

Kaelani menangis tanpa suara. Bulir-bulir air mata jatuh dari kelopak matanya begitu saja.

"Jadi aku umpan?"

"Kau penyelamat," koreksi Zephyros. "Kau satu-satunya yang bisa mengeluarkan aku dari sini. Dengan lukisan itu."

"Caranya?"

"Kalau lukisan itu selesai ,,, dan orang melihat itu ,,, tanpa rasa takut," Zephyros memegang dagu Kaelani pelan. Ujung jarinya menghapus air mata. "Kutukan nya akan patah dan aku terbebas. Atau aku mati. Tergantung apa yang mereka rasakan."

Kaelani mencoba mengerti walau pikirannya masih bingung. "Kenapa gak bilang dari awal?"

"Karena kau akan lari," Zephyros melepas tangannya dari dagu Kaelani. "Dan aku butuh kau menyelesaikan lukisan itu."

Tanpa sadar, jam telah menunjukkan angka 12.15. Waktu sudah terlewat.

"Kau harus pergi," kata Zephyros. "Pintu sudah mau menutup."

Kaelani segera berkemas barang cepat-cepat. Tapi sebelum turun, dia berhenti di anak tangga.

"Zephyros."

"Apa?"

"Terima kasih ,,, sudah jaga janji ke ayah," jawab Kaelani.

Zephyros tidak menjawab, tapi saat Kaelani sudah di luar, kabut merah turun lebih tebal menutupi menara.

Di lantai 7, Zephyros duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke dinding dan di tangannya ada jurnal Kaelani. Dia buka halaman itu lagi.

{ "Kalau dia ambil Kaelani bagaimana?" }

Zephyros menutup jurnal sambil berbisik pelan.

"Aku gak akan mengambilnya. Aku janji."

Lilin pun padam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel