Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Malam Kedua

Tiga hari itu berasa tiga tahun.

Kaelani ngitungin jam. Di tembok studionya, dia coret-coret pake arang. Satu coretan buat satu hari. Pas hari ketiga malam, tangannya sudah gemetaran bukan karena takut. Tapi karena ,,, menunggu.

Gila. Dia menunggu buat balik ke menara angker itu.

Nenek Siti sempat tanya saat mengantar roti. "Kamu kenapa, Nak? Wajahmu pucat."

"Kurang tidur, Nek," jawab Kaelani bohong. Dan itu adalah bohong yang ketiga. "Besok berangkat ke kota."

Nenek Siti cuma mengusap kepalanya. "Hati-hati ya. Jangan lewat utara."

Kaelani mengangguk. Terus malamnya dia siap-siap lagi. Ransel yang sama. Kuas yang sama. Tapi kali ini ada tambahan lain yaitu perban di jari yang masih sakit karena perjanjian darah itu.

Jam 5 sore dia jalan. Langit sudah oranye. Angin dari utara bau besi lagi. Kabut merah belum turun, tapi hawanya sudah berbeda. Lebih berat.

Empat jam jalan. Sama seperti sebelumnya. Sunyi. Hanya suara langkah sama jantungnya sendiri yang terdengar.

Jam 9 lewat sedikit, dia sudah di depan pintu kayu besar dengan ketokan kepala serigala.

Kaelani mengetuk sekali. Gak ada jawaban.

Ngetuk lagi.

Klik.

Pintunya kebuka sendiri.

Di dalam gelap. Bau mawar basi dan kayu tua menyeruak masuk ke penciuman. Lilin di meja sudah menyala. Teh masih mengeluarkan uap panas dan di atas meja, ada catatan baru.

"Lantai 7. Jangan buang waktu. - Z"

Kaelani menarik napas lalu perlahan menaiki tangga satu per satu.

Anak tangga satu. Dua. Sepuluh. Di lantai 3, dia berhenti. Melihat lagi lukisan Zephyros yang 1826 itu. Matanya yang merah kayak mengikuti dia.

"Sudah puas kamu melihat ku," bisik Kaelani pada lukisan. Terus dia lanjut jalan. Kaki sudah tidak segemetar kemarin.

Lantai 7.

Pintunya kebuka. Dan dia di sana.

Zephyros. Duduk di kursi yang sama. Jas hitam. Teh di tangan. Tapi kali ini dia tidak melihat jendela, melainkan melihat pintu seperti sedang menunggu Kaelani.

Begitu melihat Kaelani, alisnya naik sedikit.

"Kau datang lebih cepat 7 menit," katanya. "Bagus. Karena aku benci menunggu."

Kaelani masuk lalu menutup pintu. "Halo juga ke kamu."

Zephyros nyengir. Tipis banget. Hampir nggak kelihatan. "Lidahmu mulai tajam."

Kaelani diam. Jalan ke easel. Kanvas baru sudah disiapin. Catnya juga sudah ditata. Rapi banget. Kayak ada yang mengatur.

Dia mulai melukis. Kali ini bukan pemandangan menara. Kali ini dia mau menggambar bagian dalamnya. Langit-langit kaca. Cahaya bulan dan kursi kosong.

Sepuluh menit hening. Yang terdengar hanya suara kuas. Sampai Zephyros membuka suara.

"Kenapa bukan aku?"

Kuas Kaelani berhenti di tengah udara. "Hah?"

"Kau menggambar ruangan," Zephyros nunjuk kanvasnya pake dagu. "Kenapa bukan aku? Aku kan objek utamanya."

Kaelani menelan saliva, pertanyaan Zephyros membuat tenggorokannya jadi kering. "Aku ,,, belum siap."

"Siap apa?" Zephyros berdiri. Jalan memutar ruangan kayak kemarin. "Takut?"

"Iya," jawab Kaelani jujur.

Zephyros berhenti di belakangnya lagi. Jaraknya sama kayak kemarin. Sangat dekat dan Kaelani merasa itu bahaya.

"Bagus," bisiknya di telinga Kaelani. "Takut membuat warnanya lebih hidup."

Kaelani merinding. Tapi tangannya lanjut melukis.

Satu jam. Dua jam. Zephyros tidak duduk. Dia jalan-jalan. Kadang berhenti melihat lukisan-lukisan tua di dinding. Kadang berhenti di belakang Kaelani sampai napasnya terasa di leher.

Jam 11, Zephyros tiba-tiba bertanya sesuatu. "Kau punya keluarga?"

Kaelani kaget. "Kenapa?"

"Aturan ketiga," Zephyros bersandar di dinding. "Jangan tanya aku. Tapi aku boleh tanya kau."

"I,,,ibu sakit. Dan untuk biaya pengobatan, aku berhutang 80 juta." Suara Kaelani pelan. "Ayah sudah meninggal. Penjaga mercusuar."

Zephyros diam sangat lama seperti sedang berpikir. "Penjaga mercusuar," ulang dia. "Aku tahu dia. Datang tiap bulan untuk membuat laporan kapal. Orangnya keras kepala."

Kaelani langsung melihat Zephyros. "Kamu kenal ayahku?"

Zephyros mengangkat bahu. "200 tahun, Kaelani. Aku kenal setengah desa ini. Termasuk kakekmu. Termasuk kau waktu masih kecil, lari-lari bawa kertas gambar."

Dunia Kaelani serasa berputar. "Kamu ,,, bohong."

"Aku tidak bohong," Zephyros jalan ke arah jendela. "Aku hanya tidak pernah turun."

Dia lalu diam, melihat bulan.

"Terus kenapa baru panggil aku sekarang?" tanya Kaelani mulai berani bicara. "Kalau sudah melihat aku dari kecil, kenapa baru sekarang?"

Zephyros balik badan. Matanya sekarang terlihat beda. Tidak merah banget, tapi lebih ke gelap.

"Karena sekarang kau butuh aku," katanya pelan. "Dan aku butuh kau."

Jantung Kaelani serasa lepas begitu mendengar apa yang dikatakan Zephyros.

"Terus bayarannya apa?" tanya Kaelani sedikit meledek untuk menutupi gugup. "Uang? Emas? Darah?"

Zephyros ketawa. Beneran ketawa walau pendek dan terdengar serak.

"Kau pikir aku miskin?" Dia jalan ke laci lalu membukanya. Isinya emas batangan, berlian dan surat tanah. "Aku punya semua itu. Yang aku nggak punya hanya ,,,"

Dia diam.

"Apa?" tanya Kaelani penasaran.

Zephyros tunjuk kanvas kosong di easel satunya. "Subjek. Aku sudah 50 tahun tidak melihat orang melukis. Aku juga lupa rasanya dilihat orang."

Jam 12.30.

"Tutup. Jangan melukis lagi," kata Zephyros. "Kau harus pulang."

Kaelani menurut saja. Segera peralatan lukisnya dirapikan. Tapi sebelum pergi, dia nanya satu hal walau tahu itu melanggar aturan.

"Zephyros."

"Apa?"

"Kenapa matamu merah?" tanya Kaelani.

Zephyros diam. Punggungnya terlihat jadi kaku begitu mendengar pertanyaan Kaelani.

"Lama tidak minum," jawab Zephyros akhirnya dengan suara datar. "Pergi."

Kaelani langsung cabut. Cepat-cepat menuruni anak tangga lalu keluar.

Di luar, angin lebih kencang. Kabut merah mulai turun dari puncak menara. Tipis. Kayak asap.

Saat dia sudah agak jauh, dia nengok ke atas.

Jendela lantai 7 masih nyala. Dan Zephyros masih di sana sedang melihatnya.

Tangan Kaelani otomatis ke leher. Megang liontin tetesan air mata punya ibunya yang terasa dingin.

Di kepalanya teringat kata-kata Zephyros tadi.

_"Aku butuh kau."_

Butuh buat apa?

Dia nggak tahu. Dan itu yang bikin dia nggak bisa tidur semalaman.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel