2. Perjanjian Darah
Cahaya bulan itu sialan.
Itu pikiran pertama Kaelani saat lilin-lilin di ruangan lantai 7 padam semua. Satu detik masih terang, detik berikutnya gelap total. Yang tersisa cuma cahaya putih dari langit-langit kaca, jatuh tepat di tengah ruangan, tepat di kanvas kosong, dan tepat di wajah pria yang duduk di kursi itu.
Zephyros Valtier.
Dia belum bergerak dari tadi. Jas hitamnya rapi banget, kayak baru disetrika. Rambut hitamnya diikat ke belakang. Dan matanya ,,, sialan. Matanya merah, tapi bukan merah lampu, dan bukan merah efek. Merah darah yang sudah mengering dua ratus tahun.
Kaelani bersumpah jantungnya mau copot.
"Kau terlambat empat menit," ulang Zephyros. Suaranya pelan dan serak. Kayak orang yang sudah lama banget nggak ngomong sama manusia.
Kaelani mau menjawab, tapi tenggorokannya kering. Akhirnya, dia cuma mengangguk kecil. Namun dirinya jadi merasa bodoh karena gelap-gelap begini mana kelihatan kepalanya mengangguk.
Zephyros mendengus. Pendek. Entah itu ketawa atau kesel.
"Duduk," katanya, sambil menunjuk easel di tengah ruangan. "Melukis."
"Langsung?" Akhirnya, suara Kaelani keluar walau pelan bahkan hampir berbisik.
Zephyros baru menoleh penuh ke arahnya sekarang. Dan ya Tuhan. Dekat. Terlalu dekat. Dia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata merah itu.
"Lalu mau apa? Minum teh? Ngobrol? Kita tidak punya waktu banyak, Nona Pelukis."
Ada penekanan di kata terakhir. Terdengar sangat dingin.
Kaelani buru-buru jalan ke easel. Tangannya gemetar saat melepas kanvas dari tabung. Dia bisa merasakan tatapan itu di punggungnya. Berat seperti ditusuk.
Dia mulai dengan arang. Garis kasar. Bentuk menara dari luar. Karena itu satu-satunya yang dia ingat dengan jelas.
Hening.
Cuma ada suara arang ketemu kanvas. Tik. Tik. Tik.
Sampai akhirnya Zephyros bicara lagi.
"Namamu."
Kaelani kaget. Kuasnya hampir jatuh. "Hah?"
"Namamu," ulang Zephyros, kali ini lebih sabar. Tapi tetap ada tajamnya. "Aku tidak suka memanggil orang 'kamu'. Terlalu ,,, umum."
Kaelani menelan saliva, sebelum menjawab. "Kaelani. Kaelani Aru."
"Kaelani," Zephyros mengecap namanya. Pelan. Kayak lagi mencoba rasanya. "Nama yang bagus. Artinya apa?"
"Langit. Dari bahasa daerah."
"Hm. Cocok."
Lalu hening lagi.
Tiga menit. Lima menit. Sepuluh menit. Kaelani sudah mulai keringetan padahal ruangan ini dingin banget. Napasnya keluar jadi kabut tipis.
Terus Zephyros berdiri.
Kursinya berderit. Kaelani refleks nengok. Dan langsung menyesal.
Zephyros jalan memutari easel. Pelan. Tangannya masuk ke saku jas. Matanya melihat kanvas, melihat Kaelani, melihat kanvas lagi. Kayak lagi menimbang-nimbang.
"Jelek," katanya datar.
Kaelani berhenti. "Apa?"
"Garisnya terlalu takut," jelas Zephyros. Dia berhenti tepat di belakang Kaelani. Saking dekatnya, Kaelani bisa mencium baunya. Kayak buku tua, kayu, dan sesuatu yang manis tapi busuk. "Kau menggambar seolah-olah kau minta izin pada kanvas."
"Terus harus bagaimana?" tanya Kaelani. Emosi, capek dan takut campur jadi satu.
Zephyros menunduk. Jauh lebih dekat. Suaranya sekarang ada di telinga Kaelani.
"Perintahkan kanvas itu. Kau yang bayar dia dengan darah dan waktu. Bukan sebaliknya."
Lalu dia mundur lagi. Duduk di kursinya.
Kaelani diam. Pipinya panas. Marah? Malu? Dia juga nggak tahu. Tapi tangannya ,,, tangannya beneran jadi lebih berani. Goresan arangnya jadi lebih tegas.
Dan Zephyros diam. Cuma mengawasi.
Sampai jam 12 lewat.
"Bulan purnama akan pergi sebentar lagi," kata Zephyros tiba-tiba. "Kau harus pulang."
Kaelani langsung nengok. "Pulang? Sekarang?"
"Perjanjian kita," Zephyros berdiri lagi. Kali ini dia jalan ke jendela. Punggungnya menghadap Kaelani. "Kau melukis saat bulan purnama. Hanya saat itu pintunya terbuka. Kau punya tujuh malam."
"Tujuh malam?" Kaelani berdiri juga. Kakinya terasa pegal. "Untuk satu lukisan?"
"Untuk lukisan yang bisa membuat orang takut, tapi tidak bisa berpaling," Zephyros menoleh sedikit. Setengah wajahnya kena cahaya bulan. Taringnya keliatan sekilas saat dia bicara. "Kau yang bilang itu ke kurator mu, bukan?"
Kaelani membeku. Dari mana dia tahu?
Seolah baca pikiran, Zephyros bicara lagi. "Surat itu bukan aku yang kirim. Itu diriku yang lain. Bagian dariku yang masih ingin dilihat dunia. Bagian yang bodoh."
Dia balik badan. Jalan ke meja. Di atasnya ada gulungan perkamen tua dan sebuah pisau kecil. Pisau perak. Gagang nya diukir kepala serigala.
"Sebelum kau pergi, kita harus buat perjanjiannya menjadi resmi," kata Zephyros. Dia dorong perkamen itu ke arah Kaelani. "Biar kau tidak kabur di tengah jalan. Dan biar aku tidak ,,, lapar."
Kata terakhir itu dia bisikin.
Kaelani melihat perkamen nya. Tulisannya memakai bahasa yang tidak dia mengerti. Tapi di bawahnya ada terjemahan:
"AKU, KAELANI ARU, BERJANJI UNTUK DATANG SELAMA TUJUH MALAM BULAN PURNAMA KE MENARA VALTIER. AKU AKAN MELUKIS. AKU TIDAK AKAN BERTANYA TENTANG MASA LALU PENGHUNI MENARA. AKU TIDAK AKAN MENCOBA KELUAR SEBELUM WAKTUNYA. IMBALANNYA: AKU HIDUP. DAN AKU DIBAYAR."
Di bawahnya ada garis. Dan noda tinta merah.
"Darah," kata Zephyros datar. "Setetes saja. Di sini." Dia tunjuk garis itu pake pisau.
Kaelani mundur selangkah. "Aku ,,, aku gak bisa."
"Kau bisa," Zephyros mendekat lagi. Pisau itu dia pegang tapi bukan untuk mengancam. "Atau kau mau pulang sekarang, bawa hutang 80 juta, dan melihat ibumu mati pelan-pelan?"
Bagai sebuah tamparan. Itu yang Kaelani rasakan.
Tangannya gemetar saat dia ambil pisau itu. Dingin. Tajam. Dia sayat ujung jarinya pelan, terasa sakit. Setetes darah jatuh ke perkamen dan langsung meresap.
Begitu darahnya menyentuh kertas, lilin di ruangan itu menyala sendiri. Semua dan sekaligus.
Dan di mata Zephyros, ada sesuatu yang berubah. Kayak ,,, lega?
"Bagus," katanya. Dia juga menyayat jarinya. Setetes. Di sebelah tanda tangan Kaelani. "Sekarang kita terikat."
"Terikat bagaimana maksudnya?"
"Artinya kalau kau bohong, kau sakit. Kalau aku bohong, aku sakit," Zephyros menyeka darahnya ke sapu tangan. Santai banget. "Sederhana."
Kaelani mau protes. Tapi kepalanya tiba-tiba pusing. Dunia terasa berputar.
Tangan Zephyros langsung menangkap lengannya. Cepat. Kuat. Tapi tidak menyakiti.
"Duduk!" perintahnya.
Kaelani menurut saja. Duduk di lantai marmer yang dingin.
Zephyros jongkok di depannya. Kali ini jarak mereka dekat banget. Dia mengeluarkan sapu tangan bersih, membalut jari Kaelani yang berdarah. Hatinya Kaelani jadi aneh. Deg-degan. Takut. Tapi juga ,,, aman?
"Sudah," kata Zephyros setelah selesai. Suaranya lebih pelan sekarang. "Jam 1. Kau harus pergi karena pintu akan menutup."
Dia berdiri, menarik tangan Kaelani supaya ikut berdiri.
Di tangga, saat mereka jalan turun, Zephyros bicara lagi tanpa melihat Kaelani.
"Tiga aturan, Kaelani. Ingat baik-baik."
Kaelani menghela napas.
"Pertama. Jangan pernah datang di luar bulan purnama. Pintunya nggak akan kebuka. Dan kau bisa mati di hutan."
"Kedua. Jangan sentuh apapun di menara ini kecuali kanvas dan cat mu. Kecuali aku yang kasih izin."
"Ketiga ,,, " Dia berhenti di depan pintu besar. Tangannya di ketokan kepala serigala. "Jangan tanya berapa umurku. Jangan tanya, kenapa aku di sini. Dan jangan pernah ,,, pernah ,,, menatap mataku terlalu lama saat aku haus."
Kaelani mengangguk. Cepat. "Iya."
Zephyros buka pintunya. Angin malam langsung masuk. Dingin langsung menyergap kulit.
"Kembali tiga hari lagi," katanya. "Dan bawa lukisan yang lebih bagus. Yang tadi kau buang saja."
Pintu menutup.
Kaelani berdiri di luar. Sendirian. Dengan jari berdarah, tas di punggung, dan jantung yang masih dag dig dug gak jelas.
Di atas, di lantai 7, lilin padam lagi.
Tinggal cahaya bulan.
Dan di balik kaca, Zephyros masih berdiri di sana. Memperhatikan dia pergi.
