Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1.Undangan Dari Kabut

Angin di desa Lysandre selalu berbau besi.

Bukan karena ada pabrik, dan juga bukan karena perang. Tapi karena 200 tahun terakhir, setiap kali kabut merah turun dari arah utara, pasti ada yang hilang.

Orang tua bilang itu, "napasnya Menara Valtier". Anak-anak dilarang menoleh ke arah sana setelah jam 7 malam. Dan pelukis? Tentu saja tanpa ada pengecualian, pelukis juga dilarang melukisnya.

Namun Kaelani Aru melanggar semua aturan itu.

Dia berusia 24 tahun, anak tunggal seorang penjaga mercusuar yang mati tenggelam 3 tahun lalu. Warisan satu-satunya hanya sebuah studio kecil di ujung tebing, kuas yang bulunya sudah rontok, dan hutang sebesar 80 juta untuk biaya pengobatan ibunya yang belum lunas.

Pameran tunggal adalah satu-satunya jalan keluar dari masalah. Kurator dari Galeri Ardent sudah bilang, "Bawakan kami sesuatu yang belum pernah dilihat orang. Sesuatu yang membuat mereka takut, tapi tidak bisa berpaling."

Semua orang melukis laut. Melukis matahari terbenam, dan melukis bunga. Tapi Kaelani bosan dengan semua itu.

Sampai malam itu, dia melihatnya.

Kabut merah. Turun dari puncak Menara Valtier seperti darah yang mengental di langit. Di tengah kabut itu, menara batu hitam berdiri diam. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Hanya bayangan runcing yang menembus awan.

Dan di bawahnya, ada satu jendela menyala.

Satu-satunya cahaya dalam radius 10 kilometer.

Tangan Kaelani gemetar saat dia menggambar sketsa cepat di buku. Garisnya kasar, tapi matanya tidak bisa lepas. Itu dia. Lukisan yang akan menyelamatkan hidupnya.

Tapi masalahnya sekarang, Menara Valtier tertutup oleh papan kayu, rantai, dan mantra. Begitu kata orang desa. Pemiliknya, Duke Zephyros Valtier, sudah tidak turun ke kota sejak kakeknya Kaelani masih kecil. Katanya dia bertapa. Katanya dia gila. Katanya dia sudah mati.

Tapi jendela itu menyala.

Tiga hari Kaelani tidak tidur. Dia menghitung uang. 200 ribu di dompet. Cukup untuk makanan 2 minggu. Cukup untuk sewa studio 1 bulan. Tapi tidak cukup untuk melunasi semua hutangnya.

Malam keempat, surat itu datang.

Tidak ada perangko dan tidak ada nama pengirim. Hanya amplop hitam tebal, disegel dengan lilin merah dengan inisial `Z.V` yang ditekan dalam.

Di dalamnya, hanya satu kalimat ditulis dengan tinta yang terlalu gelap untuk disebut tinta.

"Jika kau mencari cahaya di menara, bawalah kuas mu. Pintu akan terbuka saat bulan purnama. - Z"

Kaelani tahu dia seharusnya membakar surat itu. Tapi dia juga tahu bahwa ini satu-satunya kesempatan untuk dirinya.

Tidak ada pilihan lain buat Kaelani. Tujuh hari menuju bulan purnama, Kaelani bersiap seperti orang yang akan pergi berperang.

Pertama, dia menjual semua lukisan lamanya ke pasar loak. Dari semua lukisan yang dijualnya terkumpul uang 3 juta. Dia pakai untuk membeli cat terbaik, kanvas ukuran besar, dan sepatu boots yang bisa dipakai lari kalau ada apa-apa.

Kedua, dia berbohong. Dia bilang ke tetangganya, Nenek Siti, bahwa dia dapat job melukis di kota selama 2 bulan. Nenek Siti memeluknya dan membekali dia roti serta doa.

"Jangan ke utara, Nak. Di sana tidak ada Tuhan."

Kaelani hanya mengangguk. Itu kebohongannya yang pertama.

Ketiga, dia mencari tahu tentang menara Valtier, tapi perpustakaan desa tidak punya buku tentang Valtier. Namun di ruang bawah tanah rumahnya, ada jurnal milik ayahnya. Penjaga mercusuar mencatat semua yang aneh di laut.

Tanggal 14 Oktober 1998: "Kapal dagang hilang di dekat menara. Hanya ditemukan kuas pelukis mengapung."

Tanggal 3 Maret 2004: "Gadis hilang. Terakhir terlihat membawa kanvas ke arah utara."

Tanggal 21 Agustus 2010: "Lampu di menara menyala 3 malam. Lalu padam lagi 10 tahun."

Tangan Kaelani dingin. Tapi dia tetap melipat halaman itu dan memasukkannya ke dalam tas.

Keempat, dia berpamitan pada dirinya sendiri.

Malam sebelum berangkat, dia berdiri di depan cermin. Rambut hitamnya diikat. Wajahnya pucat. Di lehernya, dia kalungkan liontin kecil milik ibunya berbentuk tetesan air mata.

"Kalau aku tidak kembali dalam sebulan, "bisiknya pada diri sendiri, "berarti aku gagal. Dan itu tidak apa-apa."

Dan itu kebohongan kedua Kaelani setelah pada Nenek Siti.

Hari yang ditunggu pun tiba. Nanti malam tepat waktunya bulan purnama.

Kaelani berangkat jam 5 sore. Membawa ransel, kanvas gulung, dan kotak cat. Jalan ke Menara Valtier butuh waktu 4 jam lewat hutan. Tidak ada jalan. Hanya jalan setapak yang ditumbuhi ilalang.

Langit semakin gelap. Angin semakin dingin.

Dan semakin dekat ke menara, semakin sunyi.

Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara burung hantu. Yang terdengar hanya suara langkahnya sendiri di atas tanah basah.

Jam 9 malam, Kaelani sudah melihatnya.

Menara Valtier. Tingginya 7 lantai. Dinding batunya hitam dan basah, seperti habis dicuci hujan darah. Tidak ada gerbang. Hanya pintu kayu besar setinggi 3 meter, dengan ketokan besi berbentuk kepala serigala.

Dan benar. Satu jendela di lantai paling atas menyala. Cahayanya kuning temaram.

Jantung Kaelani berdegup kencang. Dia mengeluarkan surat itu. Lilin segelnya terasa hangat.

Dia mengetuk sekali, tapi tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, lebih keras.

Angin berhenti.

Pintu berderit. Terbuka pelan dengan sendirinya.

Di dalam gelap. Bau kayu tua, debu, dan ,,, sesuatu yang manis. Seperti mawar yang sudah terlalu lama di dalam vas.

Kaelani menarik napas untuk menenangkan hatinya. Menelan saliva lalu perlahan melangkah masuk.

Lantai marmer. Tangga spiral ke atas. Di dinding, lukisan-lukisan tua. Semuanya wajah orang. Semua mata mereka seakan mengikuti Kaelani yang sedang melangkah.

Di ujung aula, ada meja. Di atasnya terdapat lilin, kertas kosong, dan satu cangkir teh yang masih mengepul.

Dan sebuah catatan baru, dengan tulisan tangan yang sama.

"Selamat datang, Pelukis. Pergi ke lantai 7, jangan terlambat. Aku tidak suka menunggu. - Z"

Kaelani melihat ke atas. Tangga itu seperti tidak ada ujungnya.

Jantungnya berteriak untuk lari. Tapi tangannya ,,, tangannya menggenggam kuas lebih erat.

Dia melangkah. Satu anak tangga. Dua anak tangga. Setiap langkahnya menggema.

Di lantai 3, dia berhenti. Ada lukisan besar. Seorang pria dengan jas hitam, berdiri di balkon menara. Wajahnya tertutup bayangan. Hanya matanya yang terlihat merah.

Di bawah lukisan itu tertulis, "Zephyros Valtier, 1826."

1826. Itu 200 tahun lalu.

Kaelani melanjutkan jalan. Kakinya mulai lemas.

Lantai 5 terasa lebih dingin. Napasnya keluar seperti kabut.

Lantai 6. Terdengar ada suara, tapi sangat pelan. Seperti seseorang membalik halaman buku.

Di lantai 7. Pintu di depannya terbuka. Ruangan besar. Langit-langit kaca. Bulan purnama tepat di atasnya, bulat dan putih.

Di tengah ruangan, ada easel. Kanvas kosong dan cat yang sudah ditata rapi.

Dan di kursi dekat jendela, duduk seorang pria memakai jas hitam. Rambut hitam panjangnya diikat. Kulitnya sepucat marmer. Dia tidak menoleh saat Kaelani masuk.

Hanya berkata, suaranya rendah, serak, seperti sudah lama tidak dipakai bicara.

"Kau terlambat 4 menit."

Kaelani membeku.

Pria itu akhirnya menoleh. Matanya merah. Bukan merah cat, tapi merah darah yang sudah mengering.

Senyumnya tipis. Taringnya sedikit terlihat.

"Aku Zephyros Valtier," katanya. "Dan kau ,,, adalah tamu pertamaku dalam 50 tahun."

Lilin di ruangan itu padam bersamaan.

Yang tersisa hanya cahaya bulan. Dan suara napas Kaelani yang tertahan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel