Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 04 SOSOK PETUGAS PPL

“Assalamu’alaykum, selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua.” Pak Kades membuka pertemuan itu dengan salam terlebih dahulu. 

“Yang saya hormati Ibu Retno dari fakultas Hukum universitas Kesuma Bangsa dan adik-adik mahasiswa fakultas Hukum yang saya banggakan, yang rencananya akan ber KKN fokus di dusun Semampir, desa Telogorejo,” buka pak Wisanggeni dengan suara yang berwibawa. 

“Pemerintah desa Telogorejo,  khususnya dusun Semampir sangat gembira menerima kedatangan panjenengan semua.”

“Semoga dalam 45 hari kedepan ilmu hukum yang adik-adik bawah dari kota bisa menular dan membawa manfaat untuk semua warga kami yang mayoritas adalah petani dan peternak dalam hal ini tambak.” 

Retno Giriwati Danoeswan atau yang biasa dipanggil akrab Ibu Ino mengangguk hormat memberi senyum mengapresiasi sapaan pembuka yang diberikan oleh Bapak kepala desa. 

“Nah untuk mendukung program kerja adik-adik sekalian terutama yang nanti bersinggungan dengan kelompok tani atau urusan lapangan, saya tidak akan membiarkan panjenengan meraba-raba sendirian,” ucap Wisanggeni  Sulardi sambil matanya menatap satu persatu wajah para mahasiswa memastikan semuanya mendengar perkataannya. 

“Untuk itu seperti yang tadi saya katakan, agar panjenengan tidak meraba-raba, malam ini saya perkenalkan seorang petugas PPL atau penyuluh pertanian lapangan yaitu insinyur Endro Herminanto Sulardi.”

“Kebetulan ….”

“Sekali lagi saya bilang hanya kebetulan ya. Kebetulan dia anak lanang saya.”

“Dia lulusan dari Universitas Diponegoro Semarang,” ucap Bapak Wisanggeni dengan penuh kebanggaan. Tangan kanannya menunjuk pada sosok di sebelah kanannya seorang lelaki muda menggunakan kemeja flanel kasual dengan celana jeans yang melempar senyum ramah kepada semua mahasiswa.

“Dia bertugas sebagai penyuluh pertanian lapangan sambil menunggu panggilan kelulusan PNSnya. Semoga cepat keluar.”

“Jadi kalau adik-adik butuh masuk ke lokasi terpencil atau mau sosialisasi hukum lewat kelompok tani, seret aja Mas Endro ini. Dia yang tahu tiap jengkal tanah di Semampir,” ucap Pak kades sambil bertanya renyah, disambut tawa para mahasiswa tentunya.

“Tapi buat para mahasiswi nggak usah berharap banyak. Mas Endro sudah punya pendamping tetap.”

“Wuuuuuuu,” sorak para mahasiswi saat pak Kades mengatakan hal itu.

“Saya perkenalkan menantu saya, yang ada di sebelah kanannya Endro, namanya Ajeng. Dia seorang model,” jelas Pak kades. 

Perempuan yang disebut bernama Ajeng tersenyum manis. Keanggunannya begitu memikat dalam balutan blus sutra simpel yang membungkus tubuh semampainya. Terlihat jelas kulitnya terawat, mempertegas statusnya sebagai perempuan kota kelas atas yang terbiasa menjadi pusat perhatian. 

Kontras dengan gaya anak-anak mahasiswa yang masih santai. Bu Retno juga walau jelas melakukan perawatan maksimal, namun terlihat santai, tak mencolok, dia merasa di desa pakai pakaian mewah tentu akan jomplang. 

Bu Retno menunjukkan aura ketegasan berbalut kharisma intelektual, sedang Ajeng menunjukkan pesona feminim yang berkelas. 

Retno membalas anggukan Ajeng dan Endro dengan mengatupkan kedua tangannya di daada tanpa mendekat pada Endro dan Ajeng mewakili bersalaman. 

Matanya menilai tajam semua orang yang baru dia jumpai pertama kali.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈  

Mentari masih tersipu malu di balik perbukitan Telogorejo, cahayanya sedang gerilya untuk mengusir sisa kabut yang bergelantung di atas puncak Cemara.  

Di pendopo rumah dinas bapak kepala desa kesibukan mahasiswa sudah mulai ramai 

Ada yang masih ngemil kudapan, ada yang sudah memasukkan berkas, atau papan klip dan proyektor ke bak belakang mobil double cabin milik dosen pembimbing mereka yang mereka biasa panggil Ibu Ino. Toyota Hilux warna silver! 

“Itu teh yang disiapin sama tuan rumah habiskan dulu. Enggak sopan loh. Sama jajan pasarnya juga. Kalau jajan pasarnya nggak kemakan sekarang ya kalian bawa aja,” tegas Retno. 

“Iya Bu. Pasti kami bawa. Tenang aja nggak bakalan lah kami buang-buang makanan,” ucap Usman seorang mahasiswa yang paling mudah dekat dengan sang dosen. 

“Jatah sarapan pagi kalian sudah matang?” 

“Sudah Bu sudah habis semua malah,” ucap Nila yang hari ini bertugas di dapur umum kelompok mereka. Para mahasiswa ini memang membuka dapur umum, memasak sendiri. Bu Kades hanya menyuguhkan teh pagi dan snack. Bukan hanya untuk anak mahasiswa, namun tiap pagi pak Kades akan briefing dengan semua petugas lapangan di rumahnya sebelum jam kantor, jadi Bu kades memang terbiasa menyiapkan.

“Oke, sebentar lagi kita jalan langsung ke lapangan.”

“Hari pertama ini jadwal kita penyuluhan hukum untuk kelompok tani di dusun Semampir.”

“Bidikan kita adalah edukasi HAKI atau Hak Kekayaan Intelektual.”

“Nah tugas kalian itu adalah menterjemahkan bahasa undang-undang yang baku tentang merek dan indikasi geografis menjadi bahasa yang dimengerti oleh para petani.”

“Pasti mereka sulit mengerti tentang bahasa Hukum dan bahasa undang-undang. Masyarakat awam saja yang melek ilmu itu sulit mencerna bahasa hukum lebih-lebih para petani.”

“Walau kita tidak mendiskredit pengetahuan petani, tapi ya pokoknya kita usahakan untuk mengubah bahasa hukum itu ke bahasa sehari-hari yang mereka mengerti.” 

“Jelaskan mengapa mematenkan hasil olahan mereka itu sangat penting, agar produk mereka tidak disambar tengkulak langsung diganti nama.”

“Jelas?” tanya Ino. 

“Jelas banget Bu. Sangat jelas, tapi kalau nanti di lapangan kami menemukan sesuatu kesulitan, saya boleh tanya kan?”  

“Selama saya ada di lapangan ya nggak apa-apa. Tapi kan saya tidak bisa 45 hari full bersama kalian. Saya kan tetap harus balik ke kampus tidak setiap saat saya ada di sini.”

“Oke Bu tenang saja. Kalau kami nggak bisa jawab, kami akan tanya Ibu secara tertulis aja lewat email.”

“Ya gabungkan semuanya jadi satu ya. Jangan bertanya perorangan, biar saya juga jawabnya global,” balas Ino. 

“Baik Bu,” jawab Angga mahasiswa yang menjadi penanggung jawab KKN saat ini 

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Jadwal kita besok penuh seharian di kantor desa ya. Jadi kita nggak di dusun Semampir melainkan kita ke desa Telogorejo-nya untuk membantu penertiban administrasi.”

“Kalian ingat-ingat buku letter C, arsip sengketa tanah yang lama, sampai draft peraturan desa, harus mulai kita rapikan.”

“Dan jangan ada yang datang terlambat. Takutnya besok saya agak siang tiba di kantor Desa, karena pagi saya zoom meeting dulu dan juga memberi materi secara zoom video call di kelas lain. 

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈  

Tepat saat Bu Ino selesai memberikan arahan pada para mahasiswa deru halus mesin Mercedes Benz C class merah marun berhenti dengan anggun beberapa meter dari monster double cabin silver milik Bu Ino yang tampak berdebu di bagian rodanya. 

Pintu sedan terbuka seorang perempuan sangat cantik turun dari pintu kemudi. 

Penampilannya pagi ini nggak fresh, tapi tetap cantik. Menggunakan rajut kasual memancarkan pesona seorang model profesional yang kontras dengan kondisi anak-anak lapangan. 

Langkah model tersebut yang mereka semua tahu bernama Ajeng berhenti sebentar lalu tersenyum pada Ino sambil menggangguk sekadarnya, tidak ada lambaian atau sapaan. Cukup senyum dan Retno pun membalas dengan senyum yang sangat manis sambil mengangguk sopan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel