Bab 03 BERAWAL SAAT KKN DI DUSUN SEMAMPIR
“Esty itu cantik. Dia sedang merintis buat jadi model, tiba-tiba kamu dideketin dan kamu langsung klepek-klepek. Kamu gobl0k! Kamu gila, teriak Doddy waktu itu.” Heri melanjutkan kalimat penyesalannya.
“Benar-benar aku nggak mikir. Padahal seharusnya Doddy senang dong kalau aku jadian sama Esty, dia bisa langsung deketin kamu kan?”
“Kenapa jadi dia yang ngamuk?”
“Saat itu aku berpikir, mungkin dia ngamuk karena kamu tersakiti!”
“Itu yang aku pikir. Bukan karena dia nggak dapetin Esty, tapi karena kamu tersakiti!”
Ino ingat, Doddy Lukito, cowoq kecil manis yang memang pernah menyatakan suka padanya, namun dia bilang, dia belum siap pacaran, sebab Doddy menyatakan cinta di semester 2 kelas 1 SMA atau kelas 10.
Ketika itu, Ino baru saja masuk SMA, tak ingin pacaran.
“Ternyata omongan mereka benar,” sesal Heri sambil menyeruput kopi pahit miliknya.
“Esty itu deketin aku cuma buat ambil materiku. Dia butuh driver untuk kemanapun dia syuting, untuk kemanapun dia pemotretan dan pastinya dia butuh ATM buat dia beli baju branded yang nggak dia dapetin dari hasil pemotretan kecil-kecilan yang sedang dia rintis.”
“Dan aku dengan bodohnya seperti kerbau dicocok hidung saat dia bilang suka padaku.”
“Aku suka rela mengantar kemanapun dia mau dan aku dengan bodohnya menggelontorkan pundi-pundi ku buat dia bayar apa yang dia mau.”
“Yang penting aku dapat pacar keren!”
“Dan aku sangat menyesal, bahkan aku sampai babak belur ketika debat dengan Heru dan dia emosi memukulku habis-habisan.”
“Kenapa menyesal?” akhirnya Ino bicara.
“Kamu kan punya anak dengannya?” Tekan Ino.
“Dua anak!”
“Aku sama dia punya 2 anak, yang satu umur 12 tahun karena belum lulus SMA dia sudah hamil dan yang satu 10 tahun.”
“Tapi dua anak itu nggak pernah Esty pegang.”
“Keduanya anaknya simbok anaknya baby sitter atau siapapun yang mau pegang.”
“Aku saat itu sedang jungkir balik kuliah. Jadi aku serahkan mereka ke mami.”
“Kenapa aku wajib prioritas kan kuliah?”
“Sebab papiku ngamuk saat aku harus menikahi Esty ketika ijazah SMA saja belum aku pegang. Kami harus menutup masalah itu agar tak di DO, saat menunggu ijazah.”
“Papi bilang aku wajib selesai S2, dia nggak mau tahu walaupun sudah punya anak sekalipun. Kecuali aku sanggup ditutup biaya hidupku, dan dikeluarkan dari keluarga besar.”
“Terus terang aku nggak mampu.”
“Kami menikah, satu hari setelah pengumuman kelulusan, tanpa pesta meriah, hanya syukuran di rumahku saja.”
“Aku punya anak, punya istri, dana hidup masih dari papi, daripada aku mati kelaparan.”
“Memang saat ketahuan Esty hamil, akhirnya benar-benar aku tanda tangan di notaris perjanjian dengan papiku.”
“Bukan cuma sekedar kertas bermaterai! Dan banyak pasal bila aku melanggar janji itu. Papi nggak mau janji asal-asalan.”
“Di notaris aku tanda tangan bahwa aku wajib menyelesaikan S2, padahal Heru tenang-tenang aja karena Heru enggak punya masalah apa-apa.”
“Heru juga menyelesaikan S2 cuma agak terhambat juga sih. Dia habis S1 menikah lalu anaknya bermasalah di perkembangan kesehatan, jadi dia S2-nya masuk belakangan dari aku.”
“Waktu anakku yang bungsu umur 2 tahun, akhirnya aku capek juga. Aku memutuskan cerai. Waktu itu aku baru selesai S1, 4 tahun sejak menikah.”
“Bagaimana mungkin aku punya dua anak, punya istri, tapi dia nggak pernah di rumah apalagi pegang anak.”
“Dan aku tahu dari teman-temannya Esty malah lebih gila dari waktu masih gadis. Dia main sama banyak lelaki, dia minum, ah pokoknya gitu lah.”
“Akhirnya aku cerai dan dua anak itu hak asuhnya ada di tangan aku.”
“Tapi ya akhirnya yang rawat dan didik mami aku sih.”
“Lalu, apa urusannya denganku?” Tanya Ino sambil menggigit lumpia yang sudah hangat.
“Aku menyesal No, sungguh andai bisa, aku ingin kembali sebelum aku bertemu Esty di pesta kemenangan Akbar jadi juara balap mobil dan disana Esty menyatakan suka padaku,” balas Heri.
“Karena tak mungkin kembali kemasa lalu, aku sekarang ingin kita menyambung kisah kita yang terpotong,” Heri menatap Ino dengan tajam.
“Sepertinya kamu pasti tahu jawabanku, aku tak mau main-main, jadi tak perlu lah kamu ingin merajut kisah kita yang memang belum ada ikatan apa pun saat itu,” tenang, lirih dan lembut jawaban Ino, tapi menikam Heri sangat dalam.
“Kita memang pernah bersinggungan dalam orbit yang sama, namun kita tak ditakdirkan bersama. Kalau kamu anggap kita pernah jadian, buatlah itu sebagai kenangan manis masa muda kita,” lanjut Ino tenang.
‘Aku hafal karaktermu No, aku tak akan menekanmu saat ini,’ batin Heri.
“Tak apa, yang penting kamu tak menghindar, juga tak memusuhiku,” balas Heri berupaya tenang.
“Memang aku salah apa koq menghindar darimu?”
“Dan kita punya masalah apa sehingga kita bermusuhan?”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Ino memandang wajah teduh Ree yang tertidur lelap. Putra semata wayangnya ini tak punya ayah secara hukum negara maupun agama karena dia dilahirkan di luar pernikahan.
Ino sama sekali belum pernah menikah.
Semua berawal saat tahun 2022 saat dia menjadi dosen pembimbing KKN di dusun Semampir, desa Telogorejo Semarang.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Lampu antik yang bergantung di tengah pendopo rumah dinas kepala desa Telogorejo membuat suasana malam menjadi hangat walau di sekitarnya dipasang juga lampu neon agar penerangan malam itu benar-benar terang.
Bau harum bunga kopi membuat suasana menjadi sedikit mistis. Anak-anak kota tidak tahu kalau itu adalah harum bunga kopi. Mereka pikir ada makhluk dunia lain yang berseliweran.
Belasan mahasiswa KKN dari Universitas Kesuma Bangsa atau UKB duduk dengan rapi diatas tikar mengenakan jaket almamater kebanggaan mereka.
Bau pekat aroma kopi Ungaran dan jajan pasar yang tersaji di meja-meja panjang di depan para mahasiswa bergantian dengan bau bunga kopi tadi.
Retno, duduk di sebelah kiri pak kades, walau tidak langsung di sebelahnya, sebab disebelah kiri pak kades langsung adalah pak Kesra, lalu wakil kades, sekretaris desa, baru dia.
Ibu Retno dosen muda fakultas Hukum universitas Kusuma Bangsa yang bertugas sebagai pembimbing lapangan KKN fakultas Hukum kali ini duduk tenang dan santun.
Bu Retno tampil santai tapi sopan. malam itu dia pakai kemeja tenun yang rapi dipadu dengan celana panjang kain. Tatapan matanya seperti biasa. Tajam, pembawaan kesehariannya memang minim senyum. Dia memang orang yang tegas, seorang akademisi akademisi hukum yang terbiasa memegang kendali.
“Ehm, ehm,” kepala desa Telogorejo berdehem ramah sebelum memajukan mikrofon dan mengetuk-ngetuk mikrofon memastikan bahwa mikrofon itu beroperasi dengan optimal.
Padahal tanpa mikrofon pun suaranya tetap akan terdengar toh pendopo itu tidak terlalu besar dan tamunya juga tidak terlalu banyak.
