Bab 05 TRAGEDI MALAM JAHANĂM
Saat bersamaan Endro berjalan keluar dari ruang tengah rumah dinas bapak kepala desa menuju motor trailnya yang sudah terparkir di dekat pagar. Siap bertindak sebagai penunjuk jalan rombongan KKN pagi ini menuju lahan kelompok tani.
‘Ini suami istri nggak teguran. Yang satu baru pulang, yang satu mau berangkat, anehnya tak saling sapa, apalagi kecup sayang pagi hari.’
‘Apa pak Endro dan bu Ajeng nggak tinggal di sini, jadi Bu Ajeng nya datang dari rumah mereka, mungkin pak Endro datang ke rumah bapaknya lebih dulu ya?’
‘Mungkin mereka pisah rumah sama Pak kades,’ pikir Ino melihat pasangan itu datang bersamaan dari arah berbeda.
Di antara deru mesin motor lapangan dan kesibukan pagi itu, tatapan mata Bu Ino dan Endro sempat bertemu. Detik itu menjadi momen bisu di mana keduanya secara naluriah saling membaca dan menilai karakter satu sama lain.
‘Ino adalah tipe wanita kota yang langka, dia berpendidikan tinggi, memegang kendali penuh atas anak didiknya, dan memiliki ketegasan yang tidak dibuat-buat.’
‘Pilihan kendaraan lapangannya yang sangar membuktikan bahwa perempuan ini tidak datang ke desa untuk sekadar formalitas atau manja dengan fasilitas mewah.’
‘Aku yakin dia bukan dari masyarakat bawah, walau pilihan model outfitnya sederhana dan tak mencolok, tapi semua berkelas,’ Endro memperhatikan bagaimana dosen muda itu berdiri tegak di samping pintu Double Cabin-nya.
Di mata Endro, ada rasa hormat yang muncul melihat profesionalitas sekeras itu.
Sementara di seberang halaman, Bu Ino mengamati gerak-gerik Endro yang sedang memeriksa rantai motornya. Dalam hitungan detik, insting hukum dan ketajaman menilai orang milik Bu Ino bekerja.
‘Gayanya menyesuaikan kehidupan desa, padahal dia pemuda metropolis,’ Ino melihat sosok pemuda daerah yang matang, praktis, dan memiliki otoritas alami yang disegani warga tanpa perlu banyak bicara.
‘Pak Endro jelas bukan anak manja yang berlindung di bawah nama besar bapaknya yang seorang kades.’
Dua kepala beda gender itu saling menilai dalam diam, keduanya SAMA-SAMA tertarik namun langsung menarik garis batas yang tegas di dalam benak mereka, sebab keduanya sadar, ada tembok tinggi yang memisahkan mereka. Yaitu pernikahan Endro dan Ajeng.
Ino, yakin sama sekali tidak ada celah untuk sekadar ramah yang tidak perlu, apalagi membangun kedekatan emosional dengan lelaki yang sudah beristri. Baginya, batasan moral dan profesionalitas harus berdiri kaku, tidak boleh ada basa-basi yang abu-abu.
Sebab itu, ketika pandangan mereka berpapasan, tak ada satu pun kata atau senyum ramah yang bertukar. Keduanya hanya saling melempar anggukan formal yang sangat singkat. Sebuah gestur kaku antar-pekerja lapangan yang saling menghargai posisi masing-masing, sebelum akhirnya Ino memutar tubuh, membuka pintu kemudi mobilnya, dan bersiap memimpin pasukannya membelah jalanan tanah Semampir.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Ino memperhatikan para mahasiswa yang tekun diskusi membuat laporan. Saat ini sudah satu minggu menjelang penarikan mahasiswa KKN Universitas Kesuma Bangsa di dusun Semampir Telogorejo Semarang.
Atmosfer dusun Semampir mulai melandai. Para mahasiswa sudah tidak sibuk bikin persiapan segala macam atribut buat menjelaskan ke masyarakat, sekarang mereka tinggal merekap hasil kunjungan dan penyuluhan mereka terjun di masyarakat, juga di lembaga desa.
Program kerja utama yaitu mulai dari penyuluhan HAKI hingga penataan administrasi desa sudah rampung 100%.
Saat ini di posko utama yaitu lobi rumah dinas kepala desa para mahasiswa sibuk dengan lembaran data dan laptop. Mereka memperhatikan apakah data yang mereka masukkan ke laptop itu benar atau tidak. Mereka mengetik dan merekap lembar demi lembar laporan akhir kelompok.
Derik suara jangkrik bersahutan dengan suara burung hantu. Sekarang para mahasiswa sudah terbiasa dengan suara burung hantu. Mereka tidak takut lagi. Bahkan kemarin ada yang dapat dua anak burung hantu yang mereka bilang mau dibawa pulang ke kota dan Endro sudah memberitahu bagaimana cara perawatan burung hantu tersebut.
Jarum jam bergeser saat ini sudah lewat dari angka 9 malam.
“Kalian teruskan rekapnya ya. Saya kembali ke penginapan saya di rumah warga.”
“Besok habis subuh saya harus meluncur kembali ke kota. Ada peninjauan mendadak dari DIKTI di kampus. Saya wajib hadir disana tentunya,” pamit Ino pada mahasiswa yang sedang sibuk.
Sibuk kerja sambil tentunya sibuk ngemil. Ino sudah melarang kalau ada dia tak boleh ada yang merokok sebab dia alergi bau rokok dan dia memang benci para perokok.
“Iya Bu, tak apa yang penting nanti saat perpisahan Ibu ada kan?” ucap Nila.
“Insya Allah ada lah. Masa saya nggak ada,” balas Ino.
“Yang penting saya pamit dulu nih. Dua atau tiga hari. Kalian kan di sini masih seminggu. Jadi ya bisalah saya kembali lagi kesini pamit pada Pak Kades,” kata Ino sambil berdiri.
Rumah singgahnya atau tempat Ino menginap di perumahan warga terletak agak terpisah melalui jalan setapak desa yang sepi.
Tapi itu sudah biasa buat Ino. Di beberapa desa sebelumnya di lain lokasi dia biasa seperti itu. Dia tidak takut sama hal mistis padahal banyak perempuan lain yang takut gelap, takut hantu, tapi Ino tidak.
“Diam!” teriak seorang lelaki yang menarik Ino dari belakang di jalan setapak yang gelap dan rimbun oleh pepohonan. Langkah Ino langsung terseret. Ino mencium bau pekat alkoh0l. Lelaki yang menyeretnya dalam gelap itu mabuk berat sehingga kehilangan seluruh akal sehat. Tentu saja Ino berupaya melawan tapi akhirnya dia kalah.
Malam jahanăm terjadi. Ino ternoda dan lelaki jahanăm tersebut adalah Endro Herminanto Sulardi, anak kepala desa Telogorejo.
Sehabis melepas dahaganya, melepas ratusan atau mungkin ribuan benih lele di kolam milik Ino, Endro langsung terkapar tak berdaya.
Saat itu tanpa menjerit tanpa menangis Ino masih bisa berpikir waras. Dia memukul Endro yang sudah lemas dengan gagang pacul yang ada dalam saung. Sesudah itu dia membuat foto tempat kejadian juga pelaku kejadian yang sudah tak sadarkan diri.
Dengan sisa tenaga yang ada Ino merapikan pakaiannya berjalan cepat ke arah rumah tempat singgahnya membereskan barang-barangnya langsung malam itu juga dia meninggalkan dusun Semampir tanpa pamit pada siapapun kecuali pemilik rumah yang terkejut ketika Ino datang sudah dengan wajah kusut masai
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
