Bab 02 MEMANG KITA PERNAH JADIAN?
“Itu Ree, anakku,” ucapan Ino membuyarkan lamunan Heri ke masa SMA dulu, awal dia mendekati gadis yang dia sukai.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Esoknya, Heri kembali hadir di ruang rawat Ree, atau Bryatta Bratindra, membawa mainan mobil dengan remote control, dan sekeranjang jeruk santang serta kelengkeng, buah kesukaan Ino.
“Ibu sedang memberi ujian di kampus, belum datang,” ucap Nonik, babysitter yang menjaga Ree.
“Dia memberi kuliah dimana?” Tanya Heri.
“Di universitas KESUMA BANGSA”
“Kalau Bapak?” Tanya Heri penasaran dengan sosok suami Ino.
“Bapak enggak ada,” balas Nonik.
‘What?’ Heri langsung terlonjak, dia tak bicara, hanya tatap tajam pada babysitter dari anak yang sedang terlelap.
‘Suami Ino sudah meninggal?’
‘Atau bercerai seperti aku?’ segala praduga timbul tenggelam di benak Heri.
Satu kesimpulan yang dia yakini, Ino tak ada suami! Itu saja yang terpenting.
“Apa ibu bilang, dia akan datang jam berapa?”
“Ibu bilang dia akan datang jam dua siang, sebab ada meeting dulu,” balas babysitter cukup umur itu.
“Kalau begitu saya pamit dulu, salam buat ibu ya,” pesan Heri. Dia harus menemui importir yang sudah dijadwalkan akan makan siang bersama.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Loh pasien di kamar 207 ke mana ya Sus? Barusan saya masuk kok sudah beda pasien,” Heri terkejut ketika keesokan harinya dia datang ke ruangan anaknya Ino ternyata sudah ganti orang.
“Nak Bryatta kemarin siang sudah pulang Pak,” ucap suster yang melihat daftar di kamar 207.
‘Ah aku kembali kehilangan jejak dia. Kemarin aku lupa nanya nomor teleponnya. Bodohnya aku,’ keluh Heri.
‘Aku harus ke mana cari dia?’
‘Di Kesuma Bangsa Pak!’ Heri ingat kemarin sempat bertanya Ino memberi kuliah di mana.
“Aku cari di kampusnya aja. Aku harus cari dia di fakultas Hukum,” Heri langsung melajukan mobil sport mewahnya ke universitas Kesuma Bangsa dia cari fakultas Hukum untuk mencari nomor teleponnya Ino perempuan yang ternyata, walau dia pernah menikah dengan Esty Amrita tetap tak bisa hilang dari ingatannya.
“Ibu Ino-nya nggak ada tuh Pak. Dia 3 hari sedang mengawas KKN jadi tidak masuk ke kampus.” Jelas resepsionis di fakultas Hukum.
“Bisa minta nomor telepon beliau?” pinta Heri. Dia merasa jalannya semakin terjal. Ternyata sulit mencari jejak Ino, perempuan yang pertama membuatnya jatuh cinta, namun karena kebodohannya, dia tinggal demi mengejar bayang-bayang semu. Dan akhirnya dia selalu menyesali sepanjang hidupnya.
Resepsionis fakultas Hukum langsung memberikan kartu nama Ino. Disana tercantum nomor telepon Ino secara umum. Entah mungkin Ino punya nomor lain yang private, tetapi nomor yang tertera di kartu namanya itu memang boleh dibagikan pada siapapun.
“Terima kasih,” jawab Heri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Aku tadi pagi ke rumah sakit. Ternyata anakmu sudah pulang.’
‘Dan aku ke kampusmu dapat kartu nama, sebab kamu 3 hari ke depan enggak ngasih kuliah di kampus.’
‘Kapan kita bisa ketemu?’ Ino membaca pesan dari nomor tak dikenal.
Dari kalimatnya Ino yakin itu pasti Heri. Karena yang berkunjung menjenguk Ree dan tidak tahu nomor dia cuma Heri.
‘Aku nggak bisa mastiin kapan bisa ketemu,’ balas Ino cepat
‘Weekend, kamu nggak mungkin kan ngasih kuliah?’ desak nomor itu.
‘Weekend itu full untuk keluargaku,’ balas Ino.
‘Ya ketemu sebentar aja lah. Ada hal penting yang harus aku katakan sama kamu,’ balas nomor itu.
‘Baik. Sabtu pagi jam 10.00 di cafe Ringin Rindang,’ balas Ino.
‘Aku punya waktu 30 menit buat kamu karena 10.30 aku mulai bertemu dengan para mahasiswa yang minta bimbingan khusus tambahan buat skripsi mereka. Kebetulan mereka juga sudah aku jadwalkan bertemu di sana.’
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Heri menatap ponselnya dengan alis mengernyit, ‘Aku cuma dikasih waktu 30 menit?’
‘Ya ampun pelit banget sih. Belum lagi kalau aku datang telat atau dia datang telat, waktu pertemuan berkurang dong?’
‘Ah nggak. Yang aku tahu Ino nggak pernah datang terlambat.’
‘Bahkan dia selalu datang lebih awal. Baik pada saat janjian dengan teman-teman atau hari sekolah.’
‘Berarti aku aku harus datang lebih awal agar punya waktu bicara lebih lama dengan dia,’ tekad Heri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa? Apa yang penting?” Todong Ino saat Heri datang, bersamaan dengannya. Pk 09.42. Mereka bertemu di parkiran.
“Ya ampuuuun No. Belum juga duduk, belum pesan minum, 30 menit masih bisa minum kopi kan?” Balas Heri. Dia lihat Ino menggunakan mobil yang tak umum digunakan perempuan muda.
Ino mengendarai Toyota Hilux hitam metalik yang memberi vibe "wanita tangguh yang tidak bisa didebat.”
Kabin depan sangat longgar untuk 2 orang dan di pintu baris kedua muat untuk 3 orang namun memiliki bak terbuka di belakang dengan kapasitas kargo yang sangat luas.
Heri yakin, mobil ini memang armada perang Ino di lapangan saat KKN.
Berbeda jauh dengan mobil pilihannya yaitu mobil sport BMW M4 warna Crayon Grey.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Aku to the poin seperti yang kamu mau,” ucap Heri saat telah memesan double shot americano, yaitu kopi hitam yang dibuat dari dua takaran espresso dengan sedikit air, sehingga memberikan rasa pahit yang bersih tanpa campuran susu.
Sedang Ino memesan einspänner atau vienna coffee, yaitu espresso yang diberi topping whipping cream kental yang melimpah di atasnya.
“Aku mau minta maaf. Dulu aku tinggalin kamu,” Heri membuka percakapan mereka pagi ini.
“Tinggalin? Memangnya kita sudah jadian?” potong Ino tenang, dia mengucap terima kasih pada waiters yang mengantar kopi dan cookies yang mereka pesan.
“Dan namanya anak SMA, ya wajarlah kalau cari-cari yang lebih. Lebih cantik atau ganteng, lebih famous,” Ino menjawab datar sambil mengaduk pelan kopinya dan mengambil sejumput whipping cream untuk dia cicipi.
“Aku salah besar ketika itu No. Sangat salah dan aku menyesal,” suara Heri bergetar penuh penyesalan.
“Eh.”
“Apa maksudmu?” tanya Ino kaget. Sungguh diluar dugaan mendengar penyesalan dari mantan teman SMA nya ini.
“Waktu itu beberapa teman kita udah bilangin aku. Kayak Anton, Dudi, Doddy, Bambang, pokoknya semua teman-teman dekat kita udah ngebilangin, Her loe mikir dong loe ngaca dong, siapa elo kok tiba-tiba loe senang banget dapat Esty!”
“Itu yang mereka omong.”
“Ya semua tahu lah kayak apa sih wajahku. Sampai sekarang kan gini-gini aja nggak tampan. Aku dibilang jelek lebih masuk kan, paling tidak aku cuma masuk kelas standar saja.”
“Apa sih menangnya aku dari Anton misalnya, dari Lucky, dari Ipho misalnya.”
“Semua ganteng-ganteng aku cuma standar, nilaiku 5,5 sampai 6. Mereka 9 sampai 10.”
“Makanya mereka bilang kamu sadar nggak sih?”
“Itu memang menyakitkan tapi kenyataan!”
“Tapi aku nggak terima,” kata Heri, dan Ino tak mau memotong cerita teman SMA nya itu.
