Bab 01 SETELAH 12 TAHUN
“Ino,” sapa seorang lelaki macho, tak tampan, tapi terlihat sangat mapan. Dari outfitnya kelihatan dia itu berkelas. Pakaiannya branded, kaos krem dan celana chino warna dark brown dia kenakan, dan kesan santai dilengkapi sepatu jenis plimsolls, juga berwarna coklat.
“Hai,” sapa Ino pelan, sedikit kaget karena setelah 12 tahun lulus SMA dia kembali bertemu dengan Heri Agustinus Santosa. Salah satu dari kembar Heri~Heru.
Mau dibilang mantan pacar juga bukan, mereka belum jadian 13 tahun lalu. Saat itu dia masih di kelas 2 IPA 3, tahun 2012.
Saat itu, Heri pernah pedekate padanya. Itu saja. Jadi Ino nggak berani bilang bahwa itu mantan pacarnya.
Lelaki tak tampan dan biasa-biasa saja namun berkharisma itu tersenyum, dia sudah pegang tas plastik apotek, tempat Ino lagi antri obat.
“Kamu sakit atau siapa yang sakit?” Tanya Heri penuh perhatian.
“Anakku,” jawab Ino jujur.
“Obatmu sudah selesai, kamu sakit apa?” tanya Ino, Heri duduk di sebelah Ino, sehingga Ino jelas melihat plastik obat itu.
“Kamu kan tahu, sejak SMA aku gila suplemen. Aku selalu ingin sehat, jadi ya aku kontrol, lalu minta vitamin resmi, agar enggak asal-asalan minum obat,” balas Heri ringan.
“Lama banget ya kita nggak ketemu,” ucap Heri berbasa-basi.
“Besok kan ada reuni 12 tahun kita lulus SMA. Bulan depan maksud aku,” kata Ino.
“Berarti 12 tahun lah kita nggak ketemu,” jawab ibu muda tersebut.
“Kamu selama ini tinggal di mana?”
“Pindah dari Semarang atau gimana?” cecar Heri.
“Aku nggak pernah pindah sejak lulus SMA tetap di sini. Mungkin kamu yang pindah atau kamu terlalu sibuk jadi kita nggak pernah ketemu di manapun,” balas Ino tenang.
“Aku juga nggak pindah sih kecuali waktu kuliah aku kuliah di Singapura S1 dan S2,” balas Heri.
“Ya itu kan jelas kamu yang nggak ada d Semarang sekitar 4 atau 7 tahun kan kalau S1 dan S2,” ucap Ino.
“Iya sih, tepatnya 6 tahun, tapi memang jarang pulang juga ke Semarang saat kuliah dulu. Walau kangen banget sama rumah, tapi ya ya emang aku jarang pulang,” balas Heri. Sejak Ino kenal, memang Heri sering mengulang kata bila dia gugup. Entah apa yang saat ini membuat lelaki itu gugup.
“Itu obat anakku sudah selesai, aku langsung balik ke kamar anakku ya,” pamit Ino saat nama anaknya dipanggil petugas apotik.
“Loh anakmu dirawat?” nada suara Heri langsung meninggi.
“Iya radang tenggorokan. Biasalah, anak lelaki kecil kan aktif teriak-teriak terus, jadi dia demam tinggi. Untungnya tidak ada indikasi DB,” jelas Ino. Dia langsung mengambil obat yang saat pemesanan sudah harus langsung dibayar jadi sekarang tinggal ambil.
“Aku boleh melihat anakmu? Berkenalan dengan suamimu?”
“Oh anakku di kamar, ditunggu baby sitternya. Tak apa-apa kalau kamu sempat dan mau melihat anakku. Ayok,” ajak Ino tanpa ragu. Dia tak peduli.
Memang mereka tidak sengaja bertemu, tidak janjian dan memang seperti Heri tadi bilang, 12 tahun mereka tidak pernah bertemu sama sekali juga tidak melakukan komunikasi.
Saat mereka SMA 13 tahun lalu di kelas 11, mereka masih pakai ponsel BB atau BlackBerry bagi kalangan the haves, dan untuk masyarakat biasa, pakai ponsel biasa atau itu hape symbian.
Dulu juga belum ada WA, hanya ada SMS. Biasa ada SMS gratisan dari provider bila sudah mengirim jumlah SMS tertentu, tergantung profidernya.
Tentu ketika itu Ino punya kontaknya BBM Heri. Tapi sesudah itu Blackberry ganti ke Android ya dia nggak punya lagi. Sebab kontak BB tak sama dengan nomor ponsel.
“Anakmu berapa tahun?” tanya Heri sambil berjalan bersisian dengan ibu muda tersebut.
“Agustus tahun ini ( th 2025 ) dia 3 tahun,” balas Ino.
“Lah Agustus? Samaan sama aku ya bulan lahirnya,” ucap Heri antusias.
“Bahkan tanggalnya pun sama dengan kamu 13 Agustus,” Ino menjawab tenang tanpa menoleh.
‘Dia masih mengingat tanggal ulang tahunku dengan jelas,’ batin Heri hangat.
‘Dan aku juga nggak pernah melupakan ulang tahunnya dia tanggal 5 Mei,’ Heri langsung ingat ulang tahun gadis yang pernah dan selalu dia cintai itu.
‘Ah semua kembali aku ingat! Andai dulu aku tidak bodoh. Andai dulu aku percaya sama omongan teman-temanku. Andai aku tidak pernah berpaling. Tentu sampai saat ini kami masih bersama dan bahagia. Mungkin dengan anak-anak kami. Enggak seperti sekarang,’ keluh Heri dalam hatinya
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kamu sudah bikin PR kimia?” tanya Heri ketika pagi-pagi dia lihat gadis hitam manis teman sekelasnya di 11 ipa3 datang.
“Sudah, kenapa?” Balas gadis hitam manis, dan tinggi standar, tak tinggi seperti gadis model. Juga tak putih. Dia hanya punya inner beauty yang membuat teman-teman cowoq di kelasnya betah memandang wajahnya, apalagi bicara dengannya.
Mau topik apa pun akan dia timpali dengan piawai.
Mau bicara basket? Bola? Perang? Politik? Catur? Puisi? Masakan? Berkebun? Apapun akan dia layani, dan pengetahuannya tentang topik pembicaraan tak kaleng-kaleng.
Heri memutar-mutar pensilnya dengan gusar. Di depannya, sebuah buku tulis bersampul cokelat terbuka lebar, menampilkan deretan soal bab Larutan Asam Basa yang masih beberapa belum dia kerjakan.
PR itu harus dikumpulkan jam ke lima sehabis istirahat nanti. Resikonya terlalu besar jika dia sampai dihukum berdiri di depan kelas oleh Bu Ida Wardah, guru kimia manis tapi killer.
“Bisa bantu nomor 4-7. Aku koq mentok,” balas Heri penuh harap.
“Asam lemah ketemu basa kuat itu piye rumus hidrolisisnya?”
“Otakku wis jempalikkan iki, blunder moco valensi," keluh Heri sambil mengetuk-ngetukan ujung pensil ke kertas.
"Nomor tujuh, kok malah nyari pH campuran? Jan-jane sing dicampur iku larutan opo kuah soto, kok ruwet men," keluh Heri.
Ino menghela napas panjang, lalu memutar badannya menghadap Heri. Dia menarik buku tulis Heri ke hadapannya dengan gestur tenang, tipe pembawaan khas anak juara kelas yang selalu punya jawaban untuk segala kepanikan.
"Iki lho, Her. Kuncinya itu kamu lihat dulu mol-nya," kata Ino sambil menunjuk baris soal nomor empat.
"Kalau asam lemahnya bersisa, kamu pakainya rumus penyangga, bukan hidrolisis.”
“Jangan kebalik. pH = -\log [H^+]."
Heri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap coretan tangan Ino dengan dahi berkerut.
"Lha terus, kuwi sing nomor pitu?"
"Nomor tujuh itu dijabarkan dulu pakai MRS atau Mula-mula, Reaksi, Sisa.”
“Nanti ketahuan mana yang habis bereaksi. Sini, aku kasih jalannya, tapi nanti kamu hitung sendiri angka-angkanya," ujar Ino, mulai menggoreskan pensil, membuatkan pola rumus di pojok halaman buku Heri.
Bukannya memperhatikan apa yang Ino tulis, Heri malah memperhatikan gerak bibir Ino yang menjelaskan detail apa yang dia gores.
“Jelas enggak?” Ino baru sadar, saat dia mengangkat wajah dan menatap Heri ketika bertanya, ternyata temannya itu tak fokus pada apa yang dia jelaskan.
Dengan marah gadis itu keluar kelas. Dan Heri?
Heri masih terpana mengingat gerak bibir Ino!
“Eeeeh, No!” Teriak Heri ketika sadar temannya sudah tak ada di hadapannya.
“Kamu marah?” Tanya Heri yang melihat Ino duduk di kursi kayu panjang depan kelas mereka.
“Kenapa marah, enggak,” balas Ino menghindar.
“Aku selesaiin PR dulu, nanti istirahat kita jajan bareng ya,” ucap Heri serba salah.
Ino sudah tak menjawab, dia mulai bercanda dengan banyak teman yang datang.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
