Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Ini adalah hari keempat Farid magang di sebuah rumah produksi setelah tiga bulan pas ia melaksanakan kursus sinematografy.

Farid sengaja memilih three pictures sebagai tempat magangnya. Production House itu mempunyai relasi yang kuat dengan sekolah kursusnya. Di mana, para angkatan senior telah banyak mendapat pekerjaan di sana.

Alasan satu lagi Farid sengaja memilih tempat itu karena ada seseorang yang berhasil membuatnya terpikat sehingga mengganggu pikiran.

Clarissa. Pesona artis FTV yang baru memulai karir selama dua tahun itu, berhasil mencuri perhatian seorang Farid Soetomo akhir-akhir ini. Seharusnya Betty lah yang masuk ke dalam pikirannya. Namun, kenyataannya malah Clarissalah wanita asing yang membuatnya tergila-gila.

Jangan harap Betty bisa masuk ke dalam pikiran dan hati seorang Farid. Jika pada awalnya, pernikahan itu hanya membahagiakan satu pihak. Betty. Hatinya mungkin berbunga bisa mendapatkan laki-laki pujaan, tetapi bagi Farid pernikahan itu adalah bencana.

Farid, membenci Betty karena perjodohan yang terkesan dipaksakan. Meskipun selama ini Betty mencoba melakukan hal yang terbaik agar perannya sebagai seorang istri dapat sempurna, tapi tetaplah tidak mampu membuka hati sang suami. Sebab, Farid membenci kekurangan Betty hanya karena fisiknya yang berbadan gemuk dan terkesan tak terurus.

Kini, Farid terpaku memperhatikan Clarissa yang tengah serius menjalankan perannya sebagai Jihan, seorang remaja badgirl.

Plak!

Suara tamparan terdengar menggema di sebuah ruangan.

“Lo berani sama gue, hah?!” seru Clarissa dengan tatapan horor dan nada mengintimidasi.

“Ampuun, Jihan.” Gadis itu tampak memohon dengan mata yang menggenang.

“Sini lo!”

Clarissa menarik kerah seragam sekolahnya, lalu menghempaskan gadis itu ke lantai dengan kasar.

Bruk!

“Aww!” ringis sang gadis disusul air mata yang mengucur ke luar. Dia terisak.

“Mampus lo dongo! Come on girls, kita cabut,” kata Clarissa sambil berjalan angkuh ke luar dari gudang tersebut, diekori oleh ketiga gadis di belakangnya.

“Cut! Bagus.”

Mendengar seruan sang sutradara, para pemain tersenyum lega. Akhirnya adegan pembully-an di gudang sekolah selesai juga.

“Kita break dulu satu jam,” kata sutradara sambil beranjak dari tempat duduk. Diikuti semua kru yang meninggalkan lokasi syuting untuk beristirahat. Sedangkan Farid yang menjadi asisten kameramen masih terpaku di tempat. Sorot matanya tidak bisa lepas dari pesona seorang Clarissa.

Clarissa bersama sang asisten yang kebetulan akan pergi ke toilet, tak sengaja berpapasan dengan Farid. Kedua mata mereka pun bertemu. Panik dan salah tingkah, Farid reflek membuang muka ke sembarang arah.

Jantungnya berdebar kencang kala Clarissa berhasil memergoki Farid yang tengah curi-curi pandang terhadapnya. Sontak Farid langsung beranjak dari tempat dan berlalu pergi dengan muka yang memerah.

Di toilet Clarissa menggerutu kesal. “Ish, sebel gue!”

“Kenapa si lo, Sa?” tanya Bela sang asisten.

“Kapan nih gue dijadiin peran utama? Perasaan setiap ada tawaran FTV atau sinetron gue jadi figuran mulu,” gerutunya sambil mencuci muka di wastafel.

“Ya ... disesuaikan kemampuan aktinglah, Clarissa. Lu cocoknya memang peran antagonis. Muka lu jutek sih, hehe,” cibir Bela dengan kekehan.

“Ya elah. Kali-kali dong gue pengen peran protagonis atau tokoh utama di sinetron gitu. Bosen gue dibully mulu sama warganet.”

“Haha, sabar ya. Jadi artis emang gitu. Harus siap mental dibully haters.”

Clarissa mendelik sebal pada asistennya, kemudian mengulurkan tangan. “Puas lo ketawa? Siniin tas gue!”

“Haha ... Ini Nyai,” kata Bela sembari menyodorkan tas pribadi sang bos yang berisi peralatan make up mahal.

Hening sesaat. Kemudian, Bela membuka suara. “Sa, lu merasa nggak sih kalao Mas-Mas magang yang jadi asisten kameramen itu suka merhatiin sama lihatin lu terus?”

“Nge-fans kali dia sama gue. Tadi juga gue nggak sengaja dapetin dia lagi curi-curi pandang ke gue.” Sambil fokus memoleskan liptint di bibir, Clarissa merespon ucapan Bela dengan terkesan biasa saja.

“Ya, cuman gue merasa tatapannya itu lho, kaya orang lagi kasmaran.”

“Udah biasa bagi gue disukai fans.”

“Pede banget si, lu.”

“Iya, dongs ... gue ‘kan cantik. Semua cowok pasti akan terpana,” ucap Clarissa nyengir dengan bangganya.

Bela mendecih sinis. “Sombong,” seloroh Bela yang direspon kekehan Clarissa.

***

Farid POV

Aku diam-diam memandanginya dari belakang. Dia tengah duduk sambil asyik bermain ponsel. Entah mengapa pandanganku tak bisa berpaling darinya. Seandainya dia jadi milikku, pasti hidup ini terasa indah.

Mencebikkan wajah. Kesal. Mengapa harus si gajah itu yang jadi istriku? Ini semua gara-gara Ayah.

Akan tetapi, ada untungnya juga aku menikah dengan si Betty. Kalau bukan karena tanahnya, mamamungkin aku bisa kursus perfilman yang aku idamkan selama ini. Lagian, itu bayaran yang pantas untukku karena aku terpaksa rela menikah dengannya. Jadi, sah-sah saja jika aku turut memanfaatkan hartanya. Iya, ‘kan?

Waktu bergulir dengan cepat. Saatnya pulang karena hari sudah petang. Proses syuting kali ini agak molor karena hutan deras mengguyur lokasi. Alhasil, terpaksa dijeda dulu sampai hujan mereda.

Memasang helem full faceku di kepala. Ketika hendak menaiki motor, arah pandangku lagi-lagi teralihkan padanya. Clarissa. Ia tengah berjalan menuju parkiran bersama asistennya, lantas memasuki sebuah mobil.

Menghela napas sesaat. Aku mendadak minder. Bagaimana mungkin aku bisa mendekatinya jika keadaanku saja seperti ini?

Aku yang hanya seorang ojek online, tinggal di kosan dan tidak punya apa-apa menginginkan seorang Clarissa yang cantik nan glamour?

Ingin rasanya aku mengantarkan Clarissa pulang ke rumahnya. Namun, apalah daya. Tidak mungkin ia mau aku antarkan dengan hanya menggunakan sepeda motor matik.

Di tambah lagi dengan status pernikahanku. Tidak mungkin seorang Clarissa mau dengan cowok sepertiku.

Tiba-tiba kurasakan ponsel bergetar di saku celana, aku lantas mengambilnya. Sudah kuduga, pasti si gembrot itu yang menghubungi. Aku mendelik jengkel, dan menghela napas kasar.

Dasar pengganggu. Dia tidak ada bosennya apa menghubungiku terus?

Kuangkat teleponnya dengan ogah-ogahan. “Halo. Ada apa?” tanyaku sedikit malas.

“Mas, lagi apa?” tanyanya di seberang sana.

“Lagi di parkiran mau pulang.”

“Oh, ya sudah. Hati-hati pulangnya ya, Mas.”

“Iya,” balasku singkat seraya mematikan sambungan telepon secara sepihak.

***

Seminggu sudah aku menjalani magang di PH ini. Selama itu juga aku hanya bisa jadi pengangum rahasinya.

Kadang, aku diam-diam memotretnya dari kejauhan dengan kamera DLSR-ku, dan senantiasa kupandangi dengan senyuman kala setiap malam aku melihat wajah indahnya.

Hari ini aku iseng membawa mobil Avanza milik Doni, tetangga kosanku. Kata Doni ia tidak keberatan aku meminjam mobilnya asalkan aku mengisi bensinnya full.

Ingin coba-coba saja ke lokasi syuting membawa kendaraan roda empat, biar dikira keren. Gengsilah, masa bawa motor terus.

Seperti biasa proses syuting kali ini berjalan lancar. Waktunya untuk pulang.

Kuinjak pedal gas, melaju membelah jalanan. Belum jauh dari lokasi syuting, sebuah mobil di depanku yang tak asing hendak menepi. Seorang wanita ke luar membuka kap mobil. Mataku melebar sempurna kala menyadari jika wanita itu adalah Clarissa.

Spontan aku menepi dan mengerem laju kendaraan di depan mobilnya. Segera aku turun dari mobil dan mendapati Clarissa tengah terlihat bingung memandangi mesin yang mengepulkan asap di kap mobilnya.

Menghampirinya, lalu bertanya, “Kenapa?”

Clarissa menoleh. Agak terkejut ketika menyadari kehadiranku. “Mobil aku mogok.”

Pipiku mendadak panas saat ia menatapku. Oh Tuhan, please jangan buat jantungku berdebar kencang.

“Sendirian aja?” tanyaku heran. Pasalnya, tidak terlihat keberadaan managernya.

Clarissa cuman mengangguk.

Kupandangi mesin yang tak dimengerti itu dengan kening berkerut. Aku pun tidak paham tentang mesin karena aku bukan seorang montir.

“Haduuh, gimana nih? Mana lagi buru-buru lagi.” Ia bergumam bingung.

“Ikut aja denganku. Aku antarkan kamu ke rumah. Mobilmu tinggal dulu di sini, nanti ‘kan bisa hubungi montir untuk diderek ke bengkel. Gimana?”

Clarissa memandangku, tampak ragu.

“Kamu, nggak keberatan?”

Aku tersenyum. “Engga ko. Aku senang bisa bantu kamu.”

Sesaat kemudian Clarissa mengangguk. ”Ok deh.”

Yes! Aku bersorak kegirangan dalam hati. Untuk yang pertama kalinya aku bisa berduaan dengannya. Untungnya aku bawa mobil, jadi tidak terkesan memalukan.

Selama perjalanan, kami saling terdiam. Jujur, aku merasa canggung di dekatnya. Demi menghancurkan atmosfir kecanggungan, ku mulai percakapan.

“Tumben pulang sendiri? Memangnya ke mana asistenmu itu?” tanyaku sedikit gugup, seraya melirik ke arahnya.

Clarissa yang awalnya memainkan ponsel melirik ke arahku. “Dia pulang duluan, Ada urusan penting mendadak katanya.”

“Oh.”

Kesunyian kembali tercipta, dan rasa gugup kembali melanda.

“Aku Farid,” ucapku menghancurkan keheningan.

“Clarissa.”

“Salam kenal ya, Clarissa. Meskipun sebenarnya aku udah kenal kamu karena kamu publik figur. Namun, aku pengen kenal kamu secara pribadi,” aku berujar diikuti tawa ringan. Mencoba seramah mungkin.

Kulirik lewat ekor mata ke samping kiri, tampak Clarissa hanya merespon dengan senyum tipis tanpa teralihkan dari menatap ponselnya.

“Itu rumahku yang cat warna cream.” Clarissa menunjukan arah rumah di samping kanannya. Sebelumnya, ia telah memberitahukan alamat rumahnya padaku.

Sebelum turun, Clarissa menoleh ke arahku lalu mengucapakan terimakasih diringi seulas senyum. Membuatku terkesima saja!

***

Betty POV

“Betty!”

“Iya, Bu.”

“Mama, huaaa ...” Nita kembali menangis dan merengek memintaku untuk tetap menemaninya di kamar. Sudah dua hari Nita kena flu, dan di saat seperti ini ia tidak mau ditinggal.

“Betty!”

“Iya, Bu, bentar!”

Aku belai rambutnya. “Bentar ya, Sayang. Mama tinggal dulu soalnya nenek kamu manggil-manggil.”

Aku segera beranjak dari ranjang. Menemui Ibu yang terus saja berteriak manggilku. Pasti Ibu menyuruhku melakukan sesuatu.

“Ada ada, Bu?” tanyaku seraya menghampiri Ibu yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Ibu menatapku tajam. “Lama amat Ibu panggil-panggil,” katanya dengan nada ketus.

“Nita, ‘kan lagi sakit, Bu. Dia nggak mau ditinggal kalau kondisinya seperti itu,” jelasku lembut.

“Bikinin Ibu gudeg,” perintahnya dingin.

Benar saja. Pasti ujung-ujungnya menyuruhku membuatkan sesuatu. Mengapa Ibu tidak buat sendiri saja? Apa Ibu tidak lihat aku yang sedang kerepotan?

“Betty, kenapa kamu bengong? Cepetan sana bikinin!”

Aku menarik napas lelah lalu mengembuskannya. Lekas aku pergi ke dapur membuatkan sesuatu yang Ibu mau.

Setelah selesai membuat gudeg dan membawakannya ke meja ruang tengah, aku masuk ke dalam kamar memeriksa keadaan Nita. Tampak tertidur dengan pulasnya. Mungkin lama menungguku akhirnya ia ketiduran.

Aku mengernyit heran. Baru ingat kalau dari jam sembilan pagi sampai siang ini Ayah belum ke luar dari kamarnya. Kuhampiri Ibu yang tengah asyik menyantap gudeg buatanku.

“Bu, apa Ayah masih tidur?” tanyaku.

“Barusan Ibu periksa, dia masih tidur.”

Tentu saja Ibu tidak merasa heran. Ibu baru pulang karena dari pagi tadi Ibu asyik main di rumah Bu Tejo.

Entah mengapa perasaanku tidak enak. Segera aku berjalan menuju kamar Ayah. Membuka pintu dan begitu masuk kudapati Ayah yang masih tertidur lelap.

Aku mengguncang-guncang pundak Ayah yang berbaring telentang. Bermaksud membangunkannya karena Ayah belum sembahyang dan makan siang, barangkali saja dia ingin gudeg buatanku.

“Ayah, bangun. Sudah jam setengah dua siang, Ayah belum sholat duhur,” ucapku sembari mengguncang-guncangkan pundaknya. Namun, Ayah masih tidak bereaksi.

Mengerutkan dahi keheranan. Mengapa Ayah tidak bangun-bangun? Aku mulai resah.

“Yah?”

Kalau dilihat-lihat wajah Ayah tampak pucat, dan tak terdengar dengkuran seperti biasanya. Aku makin tambah khawatir saja.

“Yah?” Aku meraih tangan kanan Ayah. Terasa dingin. Perasaanku mulai tak enak. Lalu kudekatkan jari telunjukku ke arah lubang hidung Ayah. Aku mulai panik, karena tidak kurasakan udara terembus. Untuk memastikan kembali, kudekatkan telinga kananku ke dada Ayah.

Deg!

Jantungku mendadak berdetak cepat. Seketika aku termangu. Pasalnya, tak terdengar suara detak jantung Ayah.

Tidak! Ini tidak mungkin! Apa jangan-jangan Ayah ...

“Ayah! Bangun!” seruku panik, seraya mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan keras. Akan tetapi, Ayah masih tetap bergeming. Tangan Ayah yang semula berada sedekap di dada, terkulai lemas.

Air mata mendadak tumpah tanpa diminta.

“Ayah!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel