Bab 5
“Betty, kenapa kamu mau menjual tanahmu itu?”
“Biarlah, Yah. Aku ingin membantu Mas Farid agar sukses,” balasku seraya meletakan secangkir kopi di atas meja lalu mendudukan diri di samping Ayah.
“Iya, tapi kan itu harta warisan orangtuamu. Farid tidak punya hak untuk menikmatinya.”
“Mas Farid berjanji akan menggantinya ko, Yah.”
Ayah tampak kecewa atas keputusanku untuk menjual tanah warisan itu. Kemarin malam, Mas Farid memintaku untuk menjual tanah itu supaya ia bisa mengikuti kursus cinematografi di Jakarta. Aku tak enak hati dan tak tega membiarkan Mas Farid harus pupus dalam mengejar cita-cita. Bilangnya, suatu saat nanti setelah sukses ia akan membayar kembali uang hasil pinjaman itu dariku. Sebetulnya aku tidak terlalu mempedulikan harta warisan itu. Kalau untuk kesuksesan Mas Farid aku rela, yang penting Mas Farid bisa bahagia.
“Betty, coba pikir lagi keputusanmu itu.”
“Nggak apa-apa, Yah. Asal Mas Farid bisa sukses.”
Ayah menyandarkan tubuhnya di sofa, menghela napas kasar. Menatap langit-langit rumah. “Dasar, Farid! Jika dia ingin sukses kenapa tidak berusaha sendiri saja dengan cari modal sendiri. Ayah benar-benar jengah padanya.”
Aku terkekeh kemudian. Ayah hanya tidak mengerti, bahwa itu kulakukan karena dia adalah suamiku dan aku sangat mencintainya.
“Ayah kenapa harus jengah padanya, Mas Farid, kan anak Ayah.”
Ayah kemudian menatapku lekat. Ada genangan air di matanya, dan senyuman tipis terpampang di wajahnya. Tangannya turut menepuk bahuku pelan. “Kamu memang terlalu baik dan dermawan, Betty. Tak heran, jika kamu menuruni watak kedua orangtuamu yang baik dan selalu menolong orang. Makanya Ayah makin sayang padamu.”
Dengan senyuman lembut aku menarik tangan ayah, menggenggamnya lantas berkata, “Aku hanya wanita biasa yang ingin menjadi seorang istri yang berbakti pada suami. Dan aku sangat menyayangi Mas Farid, Yah "
"Kamu punya hati yang tulus, Betty. Ayah bangga padamu."
"Aku juga bangga punya Ayah mertua yang baik."
Kami berdua saling memandang dan melempar senyum haru. Beruntung aku masih punya ayah Tarjo yang sudah aku anggap sebagai ayah kandungku sendiri.
***
Kuserahkan uang sebanyak tujuh puluh juta rupiah pada Mas Farid. Luas sepetak tanah yang berukuran 350 m² itu hanya dihargai delapan puluh juta. Sisanya untuk aku tabung.
“Makasih ya, Betty,” ucapnya dengan senyum merekah disertai mata yang berbinar-binar. Mas Farid menyimpan uang itu ke dalam laci lemari. Seminggu lagi ia akan berangkat ke Jakarta.
“Jadi, Mas Farid akan kerja apa nanti di sana?” tanyaku sambil mendudukan diri di ranjang.
“Masih jadi ojek online. Motor Vario putih akan aku jual, dan beli motor baru di Jakarta.”
Aku mengelus pundaknya pelan. “Mas, jaga diri ya di sana. Jangan telat makan,” kataku.
“Iya,” ucapnya singkat dengan senyum tipis, lalu merebahkan diri di atas ranjang, memeluk Nita erat. Sejenak aku merenung. Setelah kepergian Mas Farid, pasti Nita akan merindukan sosok sang ayah. Aku jadi kasihan pada Nita. Namun, harus bagaimana lagi. Kami harus berkorban dahulu dengan hubungan jarak jauh supaya Mas Farid bisa menggapai impiannya yang sempat terkubur.
***
Aku berdiri di stasiun kereta api, hatiku penuh dengan perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan. Di sisiku, Nita, putri kecil kami, berpegangan erat pada tanganku. Di seberang kami, ayah mertua, memberikan dukungan dan kehangatan.
Kami mengantar Mas Farid, yang akan pergi ke Jakarta untuk mengejar mimpinya dalam menggapai cita-cita. Melihat wajahnya, aku merasa hatiku hancur dan dipenuhi dengan rasa sedih. Kami telah melewati begitu banyak hal bersama, dan sekarang aku harus merelakan ia pergi untuk sementara waktu.
Ketika Mas Farid mendekatiku, aku merasakan kekuatan dalam pelukannya. Pelukan itu penuh dengan cinta, kasih sayang, dan harapan. Aku mencoba menahan air mata yang terus menetes, mencoba untuk menjadi kuat di hadapannya.
"Berhati-hatilah di sana, Mas," bisikku dengan suara lembut. "Aku yakin kamu akan meraih impianmu. Kami akan selalu mendukungmu dari sini."
Mas Farid mengangguk dengan senyum tipisnya, tetapi aku bisa melihat kesedihan yang tersembunyi di baliknya. Ia mencoba menguatkan diri, tapi aku tahu betapa berat hatinya meninggalkan kami.
Mas Farid mengulurkan tangannya dan memeluk Nita dengan penuh kelembutan. Aku merasakan getaran emosi saat mereka berdua bersatu dalam rengkuhan itu. Tanganku mengusap lembut punggung Nita, memberikan dukungan dan kenyamanan pada putri kecil kami yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.
Tatapan kami bertemu. Sesaat aku merasa sulit untuk melepaskan Mas Farid ke Jakarta. Namun, aku tahu bahwa ini adalah perjalanan yang harus ia ambil untuk menggapai impian-impiannya. Aku harus bersabar dan mempercayai bahwa cinta dan ikatan kami akan terus memperkuat diri, walaupun jarak memisahkan.
Setelah pelukan itu terlepas, aku merasakan kekosongan di dada. Berusaha tersenyum untuk memberikan kekuatan pada Mas Farid, meskipun hatiku penuh dengan rasa rindu dan kekhawatiran. Aku ingin ia tahu betapa aku akan merindukannya setiap hari, dan betapa aku berharap suatu hari kita bisa bersama lagi.
"Aku akan selalu menunggumu, Mas," bisikku dengan suara lemah. "Jangan lupa betapa besar cinta kami untukmu. Aku bangga padamu, dan aku tahu kamu akan mencapai segala hal yang kamu impikan."
Ayah dan ibu kemudian bergantian memeluk Mas Farid. Ibu sedikit menitikkan air mata karena baru kali ini Mas Farid dan ibu akan berpisah. "Hari-hari di jalan, ya, Nak," ucap ibu sambil menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Kalau kamu bertekad ingin sekolah, yang serius. Jangan main-main." Ayah dengan wajah datar memberi pesan yang kemudian dibalas anggukan kaku dari Mas Farid. Setelah berpamitan, And Farid berjalan masuk ke dalam, dan berhenti sejenak di ambang pintu.
Ketika kereta berangkat, aku memperhatikan Mas Farid yang berdiri di sana, melambai kepadaku dengan senyumnya yang khas. Aku yang tengah memangku Nita ikut melambaikan tangan ke padanya, mencoba menahan air mata yang ingin tumpah. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan tetap kuat, akan menjaga semangat dan kasih sayangku untuknya.
***
Tiga bulan sudah tanpa kehadiran Mas Farid, rasanya hari-hariku hampa. Aku begitu merindukannya. Apa Mas Farid baik-baik saja di sana? Apa makannya teratur? Apa Mas Farid bisa jaga kesehatan? Katanya ia hanya tinggal sendirian di kosan. Jujur aku sangat mengkhawatirkannya.
Selesai menidurkan Nita, aku meraih gawai yang tergeletak di atas kasur. Menekan nomor Mas Farid. Namun, satu menit berlalu Mas Farid tak kunjung menerima panggilanku. Sedang apa ia maghrib-maghrib begini? Apa ia masih sibuk?
Terpaksa aku harus mengakhiri panggilan itu. Akhir-akhir ini Mas Farid jarang mengangkat telepon ataupun menghubungiku. Aku jadi kecewa dibuatnya. Tetapi biarlah, mungkin Mas Farid sedang sibuk jadi aku tidak boleh menganggunya.
***
Farid POV
Lagi asyik-asyiknya bermain game di ponsel tiba-tiba si gembrot menghubungiku. Sengaja aku tidak mengangkat panggilannya. Bosan dan malas untuk hanya sekedar berbicara. Bisakah dia sehari saja tidak menelepon?
Aku bangkit dari pembaringan. Menggambil hoodie hitam yang tergantung di dinding kemudian mengenakannya. Kutengok jam di pergelangan tangan. Pukul 06.45 malam. Sepertinya asyik juga mencari angin dan pergi ke mall malam-malam begini. Menikmati kota Jakarta yang tak pernah tidur.
Kupacu motorku berkeliling mengitari ibu kota. Hingga memutuskan untuk singgah ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelah memakirkan motor, aku berjalan memasuki mall yang begitu megah, mengitarinya sesekali melihat-lihat barang belanjaan yang branded dan mahal. Ada sepatu, tas pria, pakaian, jam tangan dan sebagainya. Seandainya aku punya uang banyak ingin kubeli barang-barang berkelas itu, tapi apalah daya.
Sebetulnya uang dari Betty masih tersisa banyak. Namun, aku harus menghemat untuk biaya sesi kursusku nanti. Bayangkan, hanya untuk satu kali pertemuan saja membutuhkan biaya lima ratus ribu rupiah. Tapi biarlah, yang penting aku sukses.
Keluar dari toko itu, arah pandangku teralihkan pada tempat bioskop. Terpajang deretan poster film di dinding dan kebetulan ada film fantasi yang aku gemari. Tampak seru, jadi ku putuskan membeli tiket untuk menontonnya. Lampu teater belum dimatikan karena waktu pemutaran film belum dimulai.
“Kita duduk di sini aja, Sa.”
“Ok.”
Sayup-sayup aku mendengar percakapan dua orang wanita. Wangi parfumnya menguar di indra penciuman. Aku yang awalnya menatap ke depan reflek menoleh ke sebelah kanan. Kedua mata ini terbelalak seketika. Bagaimana tidak. Clarissa, artis FTV itu kini tengah duduk di samping kananku. Oh Tuhan. Aku bertemu dengannya untuk yang kedua kali!
Memandangnya sedekat ini membuatku terkesima. Cantik nan mempesona. Satu kata yang cocok untuk Clarissa. Entah mengapa ada getaran aneh timbul di dada, membuatku gemetaran saja. Aku langsung membuang muka, di saat dirinya menolehkan kepala ke arahku. Sontak aku jadi salah tingkah.
Sesaat kemudian lampu teater dimatikan dan filmpun diputar. Aku menghela napas berat. Sejenak kulirik ke sebelah kanan, tampak ia fokus ke layar. Sial. Aku tidak bisa fokus menonton film sama sekali. Gara-gara si cantik Clarissa duduk di sisiku, hatiku jadi ketar-ketir dibuatnya.
