Pustaka
Bahasa Indonesia

BERUBAH CANTIK UNTUK BALAS DENDAM

106.0K · Tamat
Author Da
65
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Sambil menyantap makan malam di meja makan, sesekali Farid menoleh memperhatikan Betty yang sudah beranjak menuju wastafel untuk membasuh piring. Matanya turut menyapu dari ujung rambut sampai kaki. Farid mendecih sinis. Ada rasa malu, gengsi dan kesal ketika menyadari kenyataan bahwa wanita dengan fostur tubuh sedikit gempal, wajah kusam dan kulit coklat kering kurang terurus itu adalah istrinya. “Udah item, kucel, kumel, gembrot lagi!” batin Farid mencibir. Betty akhirnya sadar jika selama ini sang suami tidak pernah mencintainya dan hanya memanfaatkannya. Perlakuan Farid yang dingin terkesan tidak peduli selama tiga tahun menikah itu, harus berakhir dengan rasa sakit yang Betty terima. Kejujuran Farid terhadap tampilan fisik sang istri membuat hati Betty teriris. Mulai detik ini, Betty bertekad untuk berubah menjadi cantik dan membalaskan dendamnya.

RomansaPerselingkuhanPerceraianPengkhianatanMenyedihkanWanita Cantik

Bab 1

Bag.1 ( Penderitaan Betty )

“Betty!”

“Iya, Ibu. Sebentar!” Mendengar seruan cempreng seorang wanita paruh baya itu, Betty berlari dengan cepat menuju asal suara, kemudian menghampiri Ema-sang ibu mertua. Raut muka judes dari Ema menyambutnya.

“Lama amat!” ketus Ema sambil berkacak pinggang.

“Iya, Bu. Soalnya tadi Betty lagi momongin Nita.”

Ema merogoh sesuatu di saku daster, lalu menyodorkannya pada Betty. “Beliin Ibu martabak.”

“Sekarang?” tanya Betty dengan muka cengo.

“Tahun depan. Ya sekaranglah! Gimana sih kamu?!” seru Ema sewot, dengan mata yang melotot.

“Tapi Bu, ini sudah jam sepuluh malam, emang tukang martabak masih jualan?”

“Bodo amat! Pokoknya Ibu pengen martabak sekarang. Cepetan!” bentak Ema tidak ingin ada penolakan.

“I--iya.”

Bergegas Betty ke luar rumah, berlari kecil menuju jalan raya tempat pedagang kaki lima mangkal, termasuk tukang martabak. Walau ini sudah larut malam, ternyata si penjual masih belum beranjak dari tempatnya. "Untunglah tukang martabak belum pulang,” gumam Betty dengan napas terengah.

***

“Mas?” Betty menepuk-nepuk pundak sang suami yang tengah berbaring telentang di atas ranjang.

Farid mendelik malas pada Betty. “Apa?”

“Temenin aku ke pasar yuk,” pinta Betty dengan senyuman.

“Ogah ah panas, berangkat aja sendiri,” balas Farid sambil merubah posisi berbaringnya memunggungi Betty.

“Ya sudah.”

Betty merasa kecewa dan terluka. Berharap Farid akan selalu ada untuknya, terutama ketika Betty sedang membutuhkan bantuan suami. Pada awalnya, ia berusaha memahami kelelahan Farid, tetapi rasa kekecewaan semakin membesar ketika ia memikirkan berbagai momen saat Farid memilih untuk bersama teman-temannya atau melakukan kegiatan pribadi tanpa memedulikan kebutuhan dan harapan Betty.

Hanya bisa pasrah dengan penolakan dari sang suami yang sudah beberapa kali ia dengar. Tiga tahun menjalin rumah tangga dengan Farid, hanya tiga kali Betty ditemani Farid berbelanja, kala usia pernikahan mereka menginjak satu bulan. Bukan hanya itu saja, semenjak kelahiran Nita dan sepeninggal sang ayah, sikap Farid mendadak berubah drastis. Dingin dan tak acuh. Meskipun begitu, Betty tetap senang karena bisa memiliki Farid.

Dari dulu Betty naksir berat pada Farid, dan mengaguminya. Farid tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, karena faktor minimnya biaya. Sementara Betty, lebih memilih menikah dengan Farid yang kala itu dengan tiba-tiba melamarnya selang satu tahun setelah wisuda SMA.

Padahal sang ayah menginginkan Betty untuk kuliah dengan menjual satu-satunya tanah peninggalan sang kakek. Namun, Betty menolak. Ia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga, menjadi istri Farid adalah kebahagiaan baginya. Namun, kenyataannya apa? Dari hari ke hari Betty merasa tersiksa. Perlakuan sang ibu mertua dan suami yang kian tak peduli seolah-seolah tidak punya istri.

Cinta. Satu kata itulah yang membuatnya bertahan bersama Farid. Betty bisa memaklumi sikap Farid yang demikian, karena Betty yakin jika Farid sangat mencintainya. Buktinya, Farid memintanya untuk menjadi istri. Betty hanya tidak menyadari bahwa sebenarnya ia bak seorang pelayan. Bisa dikatakan jika Betty adalah seorang istri yang merangkap jadi seorang pembantu.

Akhirnya, Betty memutuskan untuk pergi ke pasar sendiri, tetapi beban kecewa itu tetap ada dalam hatinya. Ketika ia berjalan melintasi lorong-lorong pasar yang ramai, ia melihat pasangan lain yang tampak bahagia dan saling mendukung. Pemandangan itu semakin menekankan kekosongan yang Betty rasakan saat ini.

***

Betty, seorang istri yang tekun dan penuh tanggung jawab, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Pada suatu sore yang panas, ia sibuk di dapur, mengeluarkan semua kemampuannya menyajikan hidangan lezat untuk makan malam keluarga. Sayur asem dengan rasa segar, gorengan yang renyah, dan daging kecap yang menggugah selera.

Namun, di tengah kesibukannya, Betty merasa terbebani dengan tugas-tugas rumah yang harus ia bereskan. Meskipun ada ayah mertua yang sibuk mengasuh Nita, sang cucu, Betty enggan meminta bantuan pada Ema, ibu mertuanya. Ia merasa segan dan tidak enak hati untuk meminta bantuan pada orang lain.

Rasa kelelahan mulai menyusup ke dalam hati Betty. Ia merasa seolah-olah semua beban rumah tangga ini jatuh sepenuhnya pada pundaknya, tanpa adanya bantuan dari anggota keluarga lain terutama Ema, bahkan Farid pun enggan bantu. Meskipun Betty mencintai suaminya, ia kadang merasa sendirian dalam memikul tanggung jawab ini.

Setelah beberapa hidangan selesai disajikan, Betty duduk di meja makan dan mencoba menyembunyikan kelelahan yang dirasakannya. Tarjo, sang ayah mertua yang sedari tadi memerhatikan Betty di dapur menyadari gurat keletihan dari wajah menantunya itu. Beberapa kali Betty menyeka dahinya dengan punggung tangan. Dia merasa kasihan dan ingin membantu mengurangi beban yang sedang dialami oleh Betty. Tarjo memutuskan untuk mengambil inisiatif.

Betty berdiri dari kursi ketika melihat Tarjo sedang bersiap-siap untuk mencuci peralatan dapur. "Ayah, kenapa Ayah cuci wajan sama spatula? Biarin aja, Yah. Nanti Betty cuciin," kata Betty dengan bahasa Jawa medoknya.

"Nggak apa-apa Betty. Biar Ayah yang cuci ini." Betty merasa tak enak hati karena dengan tiba-tiba Tarjo datang ikut membantu. "Betty, Ayah melihat kamu kecapean. Makanya Ayah ingin membantumu lebih banyak," ucap Tarjo dengan penuh perhatian.

"Makasih, Ayah. Udah mau bantu Betty."

Tarjo tersenyum hangat. "Kamu adalah bagian dari keluarga kami, Betty. Dan Ayah senang bisa membantu. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya. Kita semua saling mendukung di sini," ujar Tarjo seraya membersihkan peralatan bekas memasak Betty.

Walaupun Betty merasa segan untuk meminta bantuan, ia terharu dengan perhatian dan keinginan Tarjo untuk menolong. Mereka berdua berbagi pekerjaan dengan cermat, saling bekerja sama dan mengobrol sepanjang waktu. Betty merasa lega karena tidak lagi sendirian dalam menghadapi semua ini. Ia jadi terbantu dan dihargai oleh Tarjo, ayah mertuanya.

Sementara itu, suami Betty, Farid, sibuk di kamarnya tanpa memperhatikan segala urusan sang istri. Betty merasa kecewa dengan sikap Farid yang tampak tidak peduli. Namun, dengan kehadiran dan bantuan Tarjo, Betty merasa ada dukungan yang ia butuhkan.

Ketika maghrib tiba, Betty dan Tarjo selesai dengan semua urusan dapur. Mereka duduk bersama di meja makan, sambil menikmati hidangan yang mereka persiapkan berdua. Ema sembari menggandeng Nita datang bergabung untuk makan malam. Dalam momen itu, Betty merasa bersyukur memiliki Tarjo sebagai ayah mertua yang baik.

"Panggil Farid, Bet. Suruh dia makan," titah Ema seraya menyiapkan nasi ke piring.

"Iya, Bu." Betty yang hendak beranjak dari kursi, diurungkan mana kala sesaat kemudian Farid datang, duduk di samping Betty ikut bergabung untuk makan bersama.

"Semua ini hasil masakan istrimu, Rid. Pasti enak." Tarjo dengan raut muka penuh semangat mulai mencicipi makanan yang terhidang. Farid hanya menanggapi dengan deheman tanpa pujian atau apresiasi terhadap Betty.

Aktifitas makan malam itu pun berlangsung hening antara Betty dan Farid. Sesekali terdengar Tarjo dan Ema mengobrol santai membicarakan tetangga sekitar. Hingga, makanan tak terasa tandas di piring masing-masing. Tarjo dan Ema beranjak dari kursi, untuk menunaikan ibadah maghrib, sedangkan Farid masih asyik menikmati makanannya dan Betty yang sibuk menyuapi Nita.

Sambil menyantap makan malam di meja makan, sesekali Farid menoleh memperhatikan Betty yang sudah beranjak menuju wastafel untuk membasuh piring. Matanya turut menyapu dari ujung rambut sampai kaki. Farid mendecih sinis. Ada rasa malu, gengsi dan kesal ketika menyadari kenyataan bahwa wanita dengan fostur tubuh sedikit gempal, wajah kusam dan kulit coklat kering kurang terurus itu adalah istrinya.

“Udah item, kucel, kumel, gembrot lagi!” batin Farid mencibir.