Pustaka
Bahasa Indonesia
Penulis
Ervan Cahyadi
204.0K
Kata
1
Cerita

Cerita

BANGKITNYA MANIFESTASI BATINIAH

80·Ervan Cahyadi

Mang Darsam tersenyum tipis, angin malam berhembus lembut melewati musholla, membawa kesunyian yang lebih dalam. Ia menutup matanya, dan dalam kesadarannya, bayangan pemuda itu berdiri di tempat yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata bukan kota, bukan ruangan, melainkan ruang waktu yang tenang. Pemuda itu tampak seperti sedang mencari sesuatu. Mang Darsam berbicara dalam batinnya, "Apakah kau bisa mendengarku?" Tidak ada jawaban, namun kilatan cahaya di sekitar bayangan pemuda itu bergetar sedikit. Mang Darsam kembali berbicara, suaranya seperti desahan angin. "Jika benar kau adalah generasi kedelapan… maka jalur ini pasti akan terbuka." Ia membuka matanya, pandangannya kembali tertuju pada sumur. Permukaan airnya mulai bergetar sangat pelan, seolah-olah sesuatu di kedalaman sumur merespons percakapan batin yang baru saja terjadi. Mang Darsam berdiri perlahan, menatap ke dalam sumur dengan mata yang telah melihat lebih dari sekadar fisik. "Jawaban yang kucari… ada di bawah sana," katanya, suaranya seperti gumaman yang membawa rahasia. Beberapa saat ia hanya berdiri diam, kemudian ia berkata dengan suara pelan namun tegas, "Kalau aku ingin membangunkan jalur generasi kedelapan… aku harus membuka gerbangnya." Mang Darsam menarik napas panjang, melangkah naik ke bibir sumur. Kedalaman sumur itu terlihat sangat gelap dari atas, namun dalam penglihatan batinnya, air di dasar sumur bukanlah akhir air itu hanyalah lapisan pintu. Mang Darsam berbicara lagi, seolah kepada seseorang yang tidak terlihat, "Ki Antaseno mungkin mengira permainan ini hanya tentang kekuatan lama." Ia tersenyum tipis. "Padahal masa depan juga sedang bergerak." Tangannya menyentuh bibir sumur, dan dalam sentuhan itu, ada kekuatan yang tidak terlihat. "Kalau kau benar cucuku… maka suatu hari kau akan memahami mengapa malam ini aku harus masuk ke tempat ini." Mang Darsam menatap ke dalam sumur untuk terakhir kali, kemudian ia berkata dengan sangat pelan, "Bersiaplah… generasi kedelapan." Tanpa ragu sedikit pun, Mang Darsam melangkah maju. Batiniah pun aktif, melahirkan jiwa muda sejati…

FantasiOngoing