Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

“Bagaimana lukamu?” tanya Masitoh.

“Sudah lebih baik, ingat yah Bi jangan bilang-bilang kak Alfa.”

“Iya baiklah,” seru Masitoh. “Sebaiknya kamu tidur, beristirahatlah. Biark Bibi yang selesaikan semua ini.”

“Apa? enak sekali kau menyuruh bocah cacat ini beristirahat,” seru Amanda yang baru saja datang.

“Tetapi Nyonya, Zara sedang kurang sehat. Badannya panas,” uap Masitoh.

“Bukan urusanku! Zara, cepat bereskan ruang keluarga,” perintah Amanda.

“Baik Nyonya,” jawab Zara. Masitoh  hendak melawan tetapi tangannya di genggam Zara diiringi gelengan kecil darinya membuat Masitoh menghela nafas panjang menahan kekesalannya.

“Zara tidak apa-apa, Bibi.” ucap Zara diiringi senyuman manisnya.

Walau selalu hanya penyiksaan dan rasa sakit yang di terima Zara, tetapi gadis kecil itu  masih tetap menunjukkan senyuman indahnya untuk menenangakan oranglain.

Sungguhlah Zara gadis dengan luas hati dan juga pemaaf. Betapa indahnya berkah darimu.Tuhan.

Penderitaan adalah berkah terkadang ada makna di dalamnya.

Kata itu sungguh mewakilkan diri Zara yang senantiasa bersabar dan memaafkan orang-orang yang selalu menyiksanya.

Zara dengan badan yang lemas dan kepalanya yang pusing berusaha keras bertahan dan tetap membereskan rumah. Punggungnya masih terasa ngilu dan perih, bahkan untuk berjalanpun ia merasa tak mampu.

“Zara hati-hati!” hampir saja tubuh Zara membentur lantai kalau Alfa tidak segera datang dan menahan tubuh kecilnya yang ringkih.

“Ah Kak Alfa,” ucap Zara diiringi senyumannya.

“Kamu sedang sakit?”

“Zara baik-baik saja kok Kak, Kakak tidak usah cemas.” Zara melepaskan pegangan Alfa dan kembali melanjutkan pel lantai.

Alfa menghentikan gerakan Zara dan memegang kening Zara. “Kamu panas Zara!” ucap Alfa dengan begitu khawatir.

“Aku gak apa-apa, Kak.”

“Sudah jangan di kerjakan lagi,” ucap Alfa melepaskan gagang lap pel dari tangan Zara.

“Zara tidak apa-apa Kak, Zara harus selesaikan ini.” Zara tetap ngotot ingin menyelesaikan pekerjaannya.

“Zara, sudah hentikan!” ucap Alfa dengan nada penuh penekanan.

“Zara tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini sebelum selesai, nanti Nyonya akan marah,” seru Zara.

“Zara-“

“Kakak, Zara tidak apa-apa kok, Zara kuat.” Zara membalas tatapan Alfa dan berusaha meyakinkannya.

“Baiklah, aku akan membantumu,” ucap Alfa.

“Tapi-“

“Tidak ada bantahan lagi, Zara.” Alfa merebut gagang pel dari tangan Zara dan melanjutkan pekerjaan Zara.

“Kalau Kakak mengerjakannya, lalu Zara harus apa?” tanya Zara dengan tatapan polosnya yang bingung membuat Alfa tanpa sadar tersenyum manis.

“Kamu cukup memperhatikanku saja, Oke cantik.” Alfa mengusap kepala Zara dengan senyuman manisnya hingga memperlihatkan lesung pipitnya.

Zara begitu terpesona dengan senyuman tampan milik Alfa yang selama ini selalu tersembunyi dan tak pernah menunjukkan senyumannya itu.

“Senyuman Kakak sangat tampan, aku yakin di sekolah banyak wanita yang ingin menjadi pacar Kakak,” kekeh Zara.

“Kau anak kecil, ngerti apa tentang pacaran, hm.” goda Alfa membuat Zara terkekeh. “Kakak, apa sekolah itu menyenangkan?” tanya Zara dengan begitu polos membuat Alfa menghentikan gerakannya dan menatap wajah polos Zara.

“Apa kamu ingin sekolah?” tanya Alfa dengan nada sedih.

“Kakak jangan merasa sedih, Zara tidak masalah kok. Zara bahagia dengan hidup Zara dan Zara bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan dan rezeki untuk Zara hingga Zara masih bisa bertahan hidup dalam keadaan sehat,” serunya dengan nada yang ceria, salah satu kesukaan dan kekaguman Alfa pada sosok Zara yang tetap dan selalu ceria.

“Sekolah itu menyenangkan dan akan banyak teman, suatu saat kalau Kakak sudah menemukan pekerjaan dan mendapatkan gaji, Kakak akan menyekolahkanmu,” ucap Alfa.

“Benar?”

Alfa menganggukan kepalanya sebagai jawaban pada Zara.

  “Alhamdulillah, Zara akan selalu mendoakan supaya Kakak selalu sehat dan menjaga Zara. Zara sayang banget sama Kakak.” Zara dengan manja memeluk tubuh Alfa yang kini tersenyum mengusap kepala Zara yang tertutup kerudung.

Dari kejauhan Meysa melihat mereka dengan penuh kemarahan dan rasa iri. Alfa belum pernah bersikap baik dan perhatian padanya, tetapi pada Zara, Alfa begitu baik dan sangat perhatian.

***

Alfa masuk ke dalam kamar Zara dan melihat Masitoh sedang mengoleskan sesuatu pada punggung Zara.

           "Zara kenapa punggung kamu?" Seru Alfa membuat Zara menoleh begitu juga Masitoh yang kaget. Zara segera menurunkan pakaiannya menutupi punggungnya.

          "Kakak-"

        "Buka Zara!"

      "Ini bukan apa-apa Kak, Zara baik-baik saja," ucap Zara dengan tatapan takut.

"Katakan siapa yang melakukannya?"tanya Alfa geram.

"Ini tertimpa barang saat Zara membereskan barang di gudang," dusta Zara.

"Kamu selalu berkata untuk tidak berbohong, Zara. Jadi katakan sekarang, siapa yang melakukannya?" Tanya Alfa dengan nada penuh intimidasi.

Baik Zara maupun Masitoh sama-sama bungkam, mereka takut dengan amarah Alfa.

"Zara katakan!"

"A-ayah," gumam Zara.

"Tua bangka sialan itu," gerutu Alfa dan bergegas pergi.

"Kakak tunggu!" Zara memeluk tubuh Alfa dari belakang hingga menghentikan langkah Alfa. "Jangan lakukan apapun pada Ayah," ucap Zara.

"Kenapa Zara? Kenapa tidak boleh? Dia sudah menyiksamu! Ini sudah di luar batas!" Amuk Alfa.

"Tidak Kak, Ayah tidak salah, Zara yang salah. Zara ketahuan mengambil makanan di dapur," isak Zara.

Alfa melepaskan pelukan Zara dan berbalik, ia memegang kedua pundak Zara. "Kamu berhak untuk makan, kamu anggota keluarga ini. Ayah sudah salah," ucap Alfa.

"Mereka sudah sangat keterlaluan padamu, Zara! Aku tidak bisa diam lagi," ucap Alfa.

"Tidak Kak, Ayah mungkin sedang ada masalah dan Zara membuatnya jengkel. Zara gak apa-apa, jangan marah pada Ayah."

Alfa menatap sedih ke arah Zara. "Kenapa Zara? Kenapa kamu mau memaafkan mereka. Mereka sudah sangat jahat padamu."

"Karena mereka orangtua. Baik maupun buruk orangtua, mereka tetaplah orangtua kita. Ridha mereka adalah ridha Allah."

"Kenapa kamu melakukan ini," ucap Alfa menarik Zara ke dalam pelukannya.

"Berjanjilah jangan marah pada mereka," ucap Zara dan Alfa hanya diam.

'Maaf Zara, tetapi aku tak bisa berjanji.'  Batin Alfa.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel