Bab 7
Malam itu Zara berjalan menuju dapur dengan mengendap-endap. Dia belum makan dari tadi siang karena Amanda terus saja menyuruhnya bekerja. Ia terpaksa harus mengendap-endap untuk mencari makanan di tengah malam, karena ia yakin saat siang hari, ia tak akan bisa memakan makanan apapun.
Perlahan Zara membuka pintu kulkas dan matanya menelusuri isi kulkas. Lalu pandangannya tertuju pada sepotong cake yang di makan oleh Mesya tadi siang.
Cake itu tersisa sedikit dan Zara yakin tak akan ada yang memakannya lagi. Karena di rumah ini tak akan mau memakan makanan sisa.
Zara mengambil piring cake dan menutup pintu kulkas, lalu ia duduk di pojokan.
“Bismillahirohmani rohim .....” setelah membaca doa sebelum makan Zara langsug melahap cake dengan begitu antusias. Cake itu sungguh lezat, creamnya begitu lembut di lidah dan rasa manisnya seperti permen yang selalu Zara beli.
“Alhamdulillah ya Allah, ini sangat enak,” gumamnya dan memasukan potongan terakhr ke dalam mulutnya lalu menjilat ujung-ujung jarinya lalu membaca doa sesudah makan.
“Terima kasih atas rezekimu hari ini, Ya Allah.” Zara beranjak dari duduknya dan mencuci piring itu untuk meninggalkan jejak.
“Sedang apa kau!”
Deg
Zara terpekik kaget hingga piring itu jatuh ke lantai dan pecah karena kaget. Zara menoleh ke sumber suara dan menatap takut seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
“A-ayah-“ gumamnya.
“Kau mencuri makanan di tengah malam seperti ini, hm?” serunya.
“Tidak Ayah, sungguh. Zara hanya lapar,” gumam Zara menatap takut Ayahnya.
“Kau lapar dan kau mencuri, begitu?” bentaknya membuat Zara ketakutan. “Dasar anak cacat tak tau diri! kesini kamu!”
Abraham melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya lalu menarik lengan Zara.
“Ayah maafkan Zara, Zara tidak akan melakukannya lagi. Zara janji, Ayah maafkan Za- ah!” teriaknya saat Abraham mencambuk punggung Zara dengan sangat kuat.
“Ah! Ampun Ayah, hikzzz....” isak Zara kesakitan.
“Dasar anak tak tau terima kasih! Masih untung kau tidak ku usir dari sini!” amuk Abraham.
Bug
“Ampun Ayah, sakit, hikz...”
“Rasakan itu! Kau pantas menerimanya. Berani sekali kau mencuri makanan dari rumahku!”
“Ampun, hikzz...”
Zara menangis seraya mengucapkan kata ampun berkali-kali karena tak kuasa menahan perih dan sakit di punggungnya.
Abraham menghentikan pukulannya dan mendorong tubuh Zara hingga tersungkur ke lantai.
“Pergi ke kamarmu!” bentaknya membuat Zara berusaha bangun dan berjalan terseok seok menuju kamarnya.
Isakan Zara membangunkan Masitoh yang kebetulan kamar mereka bersebelahan. Masitoh bangun dan masuk ke dalam kamar Zara.
“Zara,” seru Masitoh saat melihat Zara duduk memeluk kedua lututnya di pojok ranjang dengan menundukkan kepalanya.
“Ada apa Nak?” Masitoh duduk di samping Zara dan mengusap kepala Zara membuatnya mengangkat kepalanya dan menatap Masitoh dengan mata sembabnya yang merah.
“Bibi sakit, hikzzz...” isaknya.
“Apa yang sakit, apa ada yang menyakitimu?” tanya Masitoh yang di angguki Zara.
“Punggung Zara-“ sebelum ucapan Zara selesai, Masitoh segera mengangkat kaos bertangan panjang yang di gunakan Zara ke atas hingga memperlihatkan punggung putih Zara yang kini berubah warna menjadi merah kebiruan dan sampai lecet di kulitnya.
“Ini kenapa?” pekik Masitoh karena seluruh punggung Zara penuh dengan luka cambukan.
“A-ayah-“ belum sempat Zara menyelesaikan kata-katanya Masitoh langsung menariknya ke dalam pelukannya.
“Bibi akan ambilkan obat untukmu,” ucap Masitoh melepas pelukannya dan beranjak dari duduknya.
Tak butuh waktu lama Masitoh kembali datang dan membantu Zara melepaskan pakaian yang di gunakannya lalu memintanya tengkurap di atas ranjang lantai usang.
“Ini akan sedikit perih, tahan yah,” ucap Masitoh yang di angguki Zara.
“Aww,” ringis Zara saat Masitoh mengoleskan alkohol ke lukanya. “Bibi, kenapa Ayah begitu membenciku, apa salah Zara?” tanya Zara membuat Masitoh tak kuasa menahan lagi air matanya yang kini luruh membasahi pipi.
“Bukankah aku anak kandungnya Ayah, tetapi kenapa aku di bedakkan dengan saudara-saudaraku? Apa salah Zara? Apa karena kaki Zara yang cacat?” tanya Zara.
“Tidak Nak, sudahlah jangan terlalu di pikirkan.” Masitoh mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Apa benar Zara yang menyebabkan Bunda meninggal?” tanyanya lagi.
“Tidak sayang, Zara tidak bersalah. Itu sudah takdir dari Allah Swt,” jawab Masitoh.
“Kalau memang begitu, kenapa mereka sangat membenci Zara>: tanyanya.
“Sebaiknya kamu beristirahat, Bibi sudah mengobati lukamu.” Masitoh bergegas membereskan peralatan p3k dan hendak berlalu pergi sampai pertanyaan Zara yang menyakitkan kembali menghentikan langkah Masitoh.
“Apa benar Zara pembawa sial, hingga lahir cacat, membuat Bunda meninggal dan menyusahkan Ayah?” tanya Zara dengan penuh kesedihan membuat Masitoh tak kuasa lagi menahan dirinya. Ia berbalik ke arah Zara yang kini sudah duduk menghadap padanya.
Masitoh langsung memeluk tubuh ringkih Zara dengan isakan tangisnya. “Kamu bukanlah pembawa sial, kamu bahkan adalah hadiah terindah dari Allah. Hatimu sungguh sepuih mutiara dan suci bersih,” ucap Masitoh membuat Zara terdiam.
Setelah lama dalam pelukan Masitoh, Zara terlelap dengan wajahnya yang masih sembab dan merah. Zara terlelap dalam tidurnya membuat Masitoh perlahan melepaskan pelukn mereka dan merebahkan Zara di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan air mata yang luruh dari pipinya.
“Ya Allah lindungi selalu anak ini, dan berikahlah kebahagiaann untuknya. Jangan uji lagi dirinya,” gumam Masitoh mengusap kepala Zara yang tertidur dengan posisi tengkurep.
***
