Bab 9
Berita pembom-an dan teroris sedang booming di AS. Beritanya ada dimana-mana, dan kebanyakan mereka adalah warga asing.
Sekelompok teroris ini di curigai beragama islam dan berpakaian tertutup serba hitam. Banyak warga AS yang beragama islam dan berjilbab di curigai dan di selidiki.
"Honey," seru Amanda masuk ke dalam ruang kerja Abraham.
"Ada apa?" Tanya Abraham menutup berkas yang tengah ia baca.
"Apa kau sudah dengar berita akhir-akhir ini mengenai teroris?" tanya Amanda.
"Kenapa memangnya?" tanya Abraham.
"Kau pasti tau para tentara AS mencurigai dan melakukan penyelidikan pada mereka yang memakai kerudung atau cadar," jelas Amanda.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Honey? Aku tau mengenai berita itu," seru Abraham.
"Ini mengenai anak pincang itu, tidakkah dia akan menjadi masalah untuk keluarga kita? Bagaimana pemerintahan melakukan penyidikan pada keluarga kita? Apa itu tak akan berefek negative pada bisnis kita? Bagaimana kalau para investor mengetahui kalau kamu memiliki anak pincang berkerudung dan bisa saja di anggap sebagai kelompok teroris itu. Bahkan kamu juga bisa terkena masalah dan di tuduh sebagai teroris." Abraham terdiam mendengar penjelasan dari Amanda.
"Kau benar, aku tak memikirkan hal itu," seru Abraham.
"Kamu harus segera bertindak," ucap Amanda yang di angguki Abraham.
***
"Zara!"
Azahra yang sedang menyapu halaman belakang rumah menghentikan gerakannya.
"Iya Ayah," serunya.
"Buka jilbabmu," perintah Abraham.
"Apa?" Pekik Zara.
"Buka kerudungmu dan jangan pernah memakainya lagi," ucap Abraham.
"Tapi kenapa?" Tanya Zara kebingungan.
"Tak ada alasan! Yang jelas buka sekarang!" Bentak Abraham.
"Tidak Ayah, ini menutupi auratku. Ini perintah Allah swt, seorang wanita wajib menutup auratnya," seru Zara.
"Berani melawan kau!" Bentak Abraham.
"Tidak Ayah, tapi Zara tidak bisa melepaskan kerudung ini," ucapnya.
"Aku tidak mau tau, besok kau sudah harus melepaskan kerudung sialan itu!" Setelah mengucapkan itu, Abraham berlalu pergi.
"Astagfirulloh, kuatkan hati Zara ya Allah. Kuatkan iman Zara, aamiin yrb."
***
"Bi Masitoh mau kemana?" Tanya Zara saat melihat Masitoh menangis memasukan pakaiannya ke dalam tas.
"Bibi akan kembali ke Indonesia, kamu jaga dirimu baik-baik yah," ucap Masitoh.
"Tetapi kenapa.mendadak? Lalu Zara sama siapa, Bi?" tanya Zara diiringi air mata yang luruh membasahi pipi.
"Kamu gadis yang kuat, Bibi yakin kamu akan bisa menghadapi segala cobaan ini. Percaya lah bahwa Allah akan selalu bersama hambanya. Allah tak aka memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia." Masitoh memeluk Zara dan mengecup kepala Zara sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Tetapi kenapa? Apa Bibi melakukan kesalahan? Tanya Zara.
"Nyonya memaksa Bibi untuk melepaskan kerudung, tetapi Bibi menolak dan dia memecat Bibi," ucap Masitoh.
"Apa? Ini tidak adil. Kenapa mereka memaksa kita melepaskan kerudung ini," gumam Zara.
"Zara akan berbicara dengan Nyonya," seru Zara beranjak dari duduknya.
"Tunggu Zara!" Panggil Masitoh tetapi Zara tetap terus berjalan tanpa henti.
"Nyonya," panggil Zara.
"Apa?"
"Kenapa Nyonya memecat bibi Masitoh? Apa salahnya," tanya Zara.
"Heh bocah pincang! Siapa kamu berani mempertanyakan keputusanku! Aku Nyonya besar di rumah ini. Jadi aku berhak melakukan apapun yang aku mau!" Serunya.
"Tapi Nyonya tidak boleh seenaknya memecat bibi Masitoh! Bibi sudah bekerja di sini dari sejak Ayah menikah dengan Bunda!"
"Bunda dan Ayahmu sudah bercerai dan disini tak ada Bunda! Jadi berhenti bersikap layaknya anak tuan besar! Kau ini tak lebih dari seorang pelayan!"
"Apa kau ingin pergi bersama Masitoh? Maka dengan senang hati aku mempersilahkan kalian berdua," ucapnya.
Zara hanya diam membisu saat Amanda berlalu pergi melewati dirinya.
Zara berjalan lesu memasuki kamar Masitoh. "Maafkan Zara, Bibi. Zara tidak bisa membantu," isak Zara.
"Hey anak cantik jangan menangis," ucap Masitoh menarik Zara untuk duduk di atas pangkuannya. "Maafkan Bibi karena tidak bisa lagi menjagamu, bagaimana kalau kamu ikut Bibi saja. Di Indonesia nanti kita bisa bertemu Bundamu."
"Tidak Bibi, di sini rumah Zara. Ayah, kak Alfa, kak Rival mereka ada di sini dan Zara tak bisa meninggalkan mereka. Insa Allah Zara kuat," ucap Zara diiringi senyuman lebarnya.
"Kamu anak yang baik, Bibi akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Insa Allah suatu saat nanti, kamu akan menemukan kebahagiaanmu." Ucap Masitoh yang di jawab senyuman lebar Zara. Mereka berdua saling berpelukan satu sama lainnya.
"Jangan pernah tinggalkan solat, dan jangan pernah melupakan Allah. Karena Allah akan selalu ada untuk hambanya yang senantiasa mengingatnya dalam keadaan suka maupun duka," ucap Masitoh.
"Iya Bibi. Zara pasti akan sangat merindukan Bibi."
"Bibi juga akan sangat merindukan Zara."
***
