Bab 6
ZARA tengah membersihkan membersihkan bekas acara bakar barbeque di samping villa dekat danau. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, dan Zara masih sibuk membersihkannya karena perintah Papanya, besok pagi harus sudah bersih kembali.
"Zara."
"Kak Alfa," ucapnya menoleh ke sumber suara dengan senyuman khasnya. "Kakak belum tidur?"
"Kamu lapar tidak?" tanya Alfa.
"A-aku-"
"Kakak bisa sulap lho, sebentar yah." Alfa mengambil piring kosong lalu menutupnya dengan salah satu penutup. "Baca doa dulu," perintah Alfa.
Zara membaca al-fatihah, dan diam-diam dari balik badan Alfa, ia menukar piring itu.
"Bismillah, taraaaa!"
Zara terpekik kaget saat melihat piring itu berisi sepotong daging sapi yang di bakar dan di kasih bumbu barbeque yang menggiurkan.
"Wah, Kakak bisa sulap darimana?" tanya Zara yang terkekeh polos khas anak kecil yang polos.
"Rahasia dong, sekarang makanlah." Alfa menyodorkannya ke arah Zara.
"Ini beneran kan Kak, takutnya ini gak asli kan tadi di sulap," ucap Zara dengan polosnya membuat Alfa terkekeh seraya mengusap kepala Zara.
"Insa Allah asli, higienis dan juga halal. Makanlah, kamu pasti ingin tau kan rasanya." Zara mengangguk antusias dan segera menikmati daging empuk itu.
"Emmm, ini sangat enak Kak. Alhamdulillah, ya Allah sudah kasih Zara rezeki yang enak ini lewat tangan Kakak aku yang ganteng," ucapnya menautkan kedua tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya membuat Alfa terkekeh dan gemas sendiri.
Zara memakan daging itu dengan lahap dan begitu menikmatinya. Alfa sangat senang melihatnya, adik kesayangannya itu selalu membuatnya tersenyum.
Selesai makan, Alfa mengambil gitar miliknya dan memetiknya. Ia mengajak Zara duduk di atas kursi kayu yang terarah ke Danau.
"Nyanyi Ra," ucap Alfa.
"Nyanyi apa Kak?" tanya Zara.
"Yang kamu tau saja," ucap Alfa yang di angguki Zara.
"Aku ingin bawakan Deen Assalam, salah satu solawat yang sedang viral di Indonesia." Zara berucap dengan sangat antusias, dia sering sekali mencuri-curi waktu untuk menonton televisi atau meminjam handphone nya Bi Masitoh untuk sekedar melihat youtobe. Zara begitu menyukai musik dan dia juga memiliki suara yang merdu.
"Oke, Kakak lihat dulu kuncinya." Alfa membuka Iphone nya dan mencari lagu yang di maksud Zara.
Alfa mulai memetik gitarnya dan Zara mulai melantunkan suaranya. Suara Zara begitu merdu dan indah hingga Alfa begitu hanyut dan menikmati setiap lantunan yang di nyanyikan Zara. Solawat untuk nabi Muhammad Saw, Zara lantunkan dengan khusu, bahkan matanya berkaca-kaca karena merasa terharu dan sungguh ia mengagumi juga mencintai sosok rosulnya itu.
Alfa tersenyum memperhatikan wajah cantik Zara yang bernyanyi dengan senyuman polosnya tanpa beban. Dan Alfa ingin selalu melihat itu, melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu menenangkan hati.
"Zara," ucap Alfa membuat Zara menatap Kakaknya dengan polos.
"Berjanjilah untuk selalu berbahagia dan kuat menghadapi apapun. Kakak akan berusaha untuk terus melindungimu," ucapnya menggenggam tangan Zara.
"Kakak juga berjanji akan selalu menemani Zara sampai kapanpun juga, hanya Kakak yang Zara punya."
Alfa mengangguk diiringi senyumannya. "Kakak akan selalu di sisi kamu," ucapnya mengusap kepala Zara.
'Ya Allah, sehatkan dan lindungi selalu Kak Alfa, Zara sangat menyayanginya.' batin Zara.
***
Zara bersama keluarganya telah kembali ke rumah mereka. Dan sudah berlangsung beberapa hari.
Selama beberapa hari itu juga Zara tetap menerima siksaan dari Ayah, Ibu tiri dan juga saudaranya. Tetapi ia tetap kuat dan tak menangis lagi karena dia sudah berjanji akan selalu tegar dan kuat.
Saat ini Masitoh pergi ke pasar bersama Zara. Saat sedang berbelanja, salah seorang pedagang yang baik hati memberikan sekotak ayam yang siap di makan kepada Zara karena Zara anak yang baik dan juga rajin.
Zara tampak senang sekali menerima hadiah makanan itu, dia sangat jarang bisa memakan makanan enak. Seringnya dia hanya memakan makanan sisa, dan terkadang hanya sepotong roti dan itupun kadang yang sudah basi dan keras.
"Kau bisa langsung menikmatinya nanti saat sampai di dalam kamar, biar Bibi yang bereskan semua belanjaan."
"Apa tidak apa-apa? Zara bantu Bibi dulu saja yah, Zara takut nyonya marah lagi."
"Tidak akan, Bibi yang akan handle."
Saat mereka tengah berjalan bersama, tampak seorang Nenek tua yang lumpuh dan hanya duduk di sisi trotoar tak berdaya. Zara berlari dengan sedikit kesusahan karena kakinya mendekati Nenek tua itu.
"Assalamu'alaikum, Nenek."
Salam Zara hanya di jawab dengan tatapan bingung dari sang Nenek. Nenek itu menjawab kalau dia bukanlah seorang muslim saat melihat Zara memakai kerudung.
Gadis cantik itu hanya mengangguk diiringi senyumannya, lalu ia duduk di depan Nenek tadi.
"Nenek kenapa ada di sini?'
"Nenek tidak memiliki tempat tinggal, dan hanya bisa tinggal di sini." Zara merasa simpati pada Nenek itu.
"Keluarga Nenek kemana? Anak atau cucunya?"
Nenek itu menggelengkan kepalanya dan menjelaskan bahwa anaknya sudah 5 tahun tak pernah datang menengoknya setelah menikah dan suaminya sudah meninggal.
Zara merasa sangat prihatin sekali pada Nenek itu. Sungguh beruntung dirinya yang masih bisa tidur nyenyak di dalam kamar tanpa kehujanan dan kepanasan. Walau ia harus bekerja menjadi seorang pembantu dan kadang kelaparan di rumah Ayahnya sendiri, tetapi dia ikhlas dan masih merasa sangat beruntung.
"Nenek, Zara punya ayam. Ini buat Nenek saja yah. Untuk makan malam," ucap Zara menyerahkan kantong keresek berinsi Ayam yang di beri pedagang tadi. Masitoh kaget melihat Zara menyerahkan ayam itu. Dia ingin menegurnya tetapi tidak bisa. Hati Zara sungguh bersih dan suci.
"Terima kasih Nak," sahut si Nenek tadi dengan sendu dan terharu. Dia langsung membuka bungkusan itu dan melahapnya dengan nikmat di depan Zara.
Zara tersenyum dan tergiur melhatnya, tanpa sadar ia mengusap perutnya yang terasa sakit karena belum makan. Masitoh ingin menangis melihatnya. 'Ya Allah berikanlah kebahagiaan untuk gadis sholehah ini,' batin Masitoh memalingkan wajahnya dan mengusap sudut matanya yang basah.
"Terima kasih banyak Nak, Nenek doakan kamu selalu bahagia, dan damai hidupnya," sahut Nenek itu.
"Amin, tetapi Zara boleh minta sesuatu?" tanya Zara yang di angguki sang Nenek. "Tolong doakan juga Ayah Zara, supaya dia selalu bahagia, dan selalu sehat."
"Pasti Cantik," ucap Nenek itu yang membuat Zara tersenyum.
Setelah berbincang cukup lama, mereka berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
***
