Bab 5
Keesokan harinya mereka pergi bersama, Masitoh tak bisa ikut karena Nyonya besar melarangnya ikut. Tetapi Abraham entah kenapa memaksa Zahra untuk ikut padahal Zahra sempat menolaknya.
Setelah menempuh jarak beberapa jam, mereka sampai di sebuah vila milik Abraham. Semuanya langsung berlarian menuju taman yang terdapat sebuah danau. Sedangkan Zara sibuk sendiri mengangkat semua barang yang ada di mobil. Karena tak ada satupun pembantu di sana kecuali Zara. Alfa mengambil tas miliknya dan membantu Zara membawakan barang yang lain sebagian.
"Kakak, mau Zara buatkan orange juice?" tanyanya pada Alfa yang hendak menaiki tangga.
"Tidak usah, sebaiknya kau istirahat. Perjalanan kita jauh dan kau pasti lelah." Zara hanya mengangguk diiringi senyumannya.
***
"Zara!!!!" teriakan wanita itu menggema di lorong rumah.
Brak
Zara terhentak dari tidurannya saat kamarnya di buka dengan keras.
"Dasar disabled!! Enak sekali kau tidur!"
"Ma-af Nyonya," gumamnya menundukkan kepalanya. "Aghhhh!!!" Amanda menjambak keruduk dan rambut Zara membuatnya meringis kesakitan.
"Ikut aku! Dasar anak malas!"
Amanda menyeret Zara keluar dari kamar dengan menjambak rambutnya lalu mendorongnya hingga tersungkur di lantai dapur.
"Buatkan makanan untuk makan siang kami semua! Kau di bawa ke sini bukan untuk berleha-leha! Dasar tak tau diri!"
Setelah memaki Zara, Amandapun berlalu pergi meninggalkan Zara yang terpojok di sudut dekat kitchen set. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit dan ngilu. Di tambah lagi kepalanya masih pusing karena perjalanan jauh dan dia harus duduk dengan memangku beberapa barang milik mereka.
"Bunda," bisiknya terisak kecil. "Bunda, Zara kangen."
***
Zara tengah membaca ayat Al-Quran dengan syahdu di dalam kamarnya, sedangkan semua keluarganya tengah menikmati malam indah dengan membakar barbeque di dekat danau. Hanya Zara yang tidak di ajak dan hanya diam saja di kamar. Dia menghabiskan waktu untuk mendoakan mendiang Ibunya juga Papanya dan keluarganya. Lalu ia membaca Al-Quran dengan khusu. Suara merdunya mengalun indah di setiap penjuru rumah itu.
Setiap kali melantunkan ayat-ayat Al-Quran, hati Zara selalu tenang dan damai. Ia juga bisa merasa dekat dengan sang Ibu dan juga Tuhannya. Dan semua ketakutan hidupnya lenyap begitu saja karena ia merasa tak sendiri. Allah selalu ada untuk dirinya.
Selesai membaca ayat Al-Quran, Zara mengendap-endap ke dapur dan memeriksa bahwa keadaan sudah aman. Zara sudah sangat kelaparan karena sejak tadi siang belum makan apapun. Ia menuju ke dapur dan mencari makanan tetapi tak ada apapun, hingga dia menemukan satu buah mie instan.
"Alhamdulillah," gumamnya tersenyum senang. Ia memasaknya sendiri dan sudah membayangkan betapa nikmatnya ia memakan semangkuk mie instan itu di malam yang dingin.
Saat matang, Zara menuangkannya ke dalam mangkuk dan segera mematikan kompor juga mencuci bekasnya supaya tak meninggalkan jejak dan mereka curiga.
Karena sudah terlalu lapar, Zara tak membawa mie nya ke kamar. Ia langsung menikmatinya di dapur dengan duduk di atas lantai. Selesai membaca doa, ia langsung menikmati mie nya yang terasa hangat dan gurih ke kerongkongannya.
"Enak yah bisa makan dan santai di sini!" ucapan itu membuatnya menoleh dan melihat Amanda berdiri di sampingnya.
"Nyo-nya," gumamnya dengan tatapan syock.
"Di luar masih banyak pekerjaan dan kamu mencuri mie di sini! Dasar Maling!" pekik Amanda menjambak rambut Zara di balik kerudungnya hingga membuat Zara berdiri dari duduknya.
Mendengar keributan itu, Alfa yang saat itu hendak masuk ke kamarnya kembali berbalik menuju dapur. Alfa melotot saat Amanda mengguyur mie yang sudah hangat ke kepala Zara yang menunduk,
"Mom!" pekik Alfa membuat Amanda menoleh ke arahnya.
"Dia mencuri mie dari dapur kita, Alfa!" ucap Amanda.
"Dia tuan rumah juga, jadi dia tidak mencuri apapun!" bela Alfa.
"Sudahlah Alfa, semuanya juga tau si cacat ini hanya pembantu di sini."
"Jaga ucapanmu!" pekik Alfa tajam membuat Amanda menghela nafasnya dan berlalu pergi dengan tatapan sinisnya.
Alfa segera menghampiri Zara. "Kamu baik-baik saja?" tanya Alfa yang kini sudah berada di sisi Zara.
Zara mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya diiringi senyumannya yang selalu polos. "Harusnya Zara minta ijin dulu yah," ucapnya membuat Alfa merasa sakit, matanya tampak berkaca-kaca menatap Zara yang hanya bisa tersenyum polos.
"Untung tidak panas, tetapi mubajir sih. Kerudung Zara jadi kuah mie, gurih pedas." Zara kembali terkekeh membuat Alfa mau tidak mau tersenyum dengan matanya yang merah. Ia mengusap pipi Zara dengan lesung pipi nya yang manis.
"Sebaiknya kamu mandi dan bersih-bersih."
Zara menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan Alfa sendiri. Alfa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga memutih, tatapan tajam dan merah. Ia bersumpah akan membalas perbuatan mereka pada Zara.
***
