Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Romantis

Bab 9 Romantis

Lalu, Edward mengajak pergi Stella ke tempat pameran malam di kota itu. Edward terus menggenggam tangan Stella. Ia tak ingin melepaskan tangannya dari tangan Stella.

"Edward, apa kau tak lelah terus menggenggam tanganku?" tanya Stella pada Edward.

"Tidak, sayang. Aku harus terus menggenggam tanganmu, karena aku takut jika tanganmu akan digenggam oleh orang lain." Jawab Edward.

"Itu tidak akan pernah terjadi, karena selama ini bayangan dirimu selalu datang dalam mimpiku. Dan hal itu membuatku kesulitan untuk tidur." Ucap Stella sambil mengerucutkan bibirnya.

"Benarkah yang kau katakan, Stella?" tanya Edward.

Stella menganggukkan kepalanya.

"Itu artinya, kau ini memang kekasihku." Ucap Edward.

"Aku selalu datang padamu, bukan?" tambahnya.

"Edward, belikan aku gula-gula itu." Kata Stella menunjuk penjual makanan manis gula-gula itu.

"Kau tunggulah sebentar dan jangan kemana-mana, kau mengerti?" ucap Edward.

Stella menganggukkan kepalanya lagi.

Tak lama kemudian Edward datang dengan membawa gula-gula di tangannya.

"Ini untukmu, sayang." Ucap Edward sembari memberikan gula-gula untuk stella.

"Terimakasih.", Balas Stella menerima gula-gula itu.

"Kau ini sudah manis, kenapa masih memakan makanan manis. Kau ingin membuatku memiliki penyakit gula?" Gombal Edward.

Stella hanya tertawa mendengar perkataan Edward.

"Kau lucu sekali, Edward." Ucap Stella.

Edward terus menatap wajah manis Stella dari samping, sesekali ia tersenyum. Ia sangat bahagia karena kini Stella sudah mengingat dirinya. Wanita yang sangat ia rindukan.

Lalu suara ponselnya menghancurkan suasana indahnya.

"Tunggu sebentar, sayang. Adikku menghubungi ku." Kata Edward pada Stella.

Stella menganggukkan kepalanya,alu Edward berjalan sedikit menjauh darinya.

"Ada apa, Rey? kau sangat menggangguku." Ucap Edward pada adiknya.

"Kau dimana? Ibu mengkhawatirkan dirimu, karena kau tak pulang." Ucap sang adik.

"Aku baik-baik saja, aku akan pulang nanti. Sudah dulu, aku sedang sibuk." Ucap Edward lalu memutus sambungannya dengan Rey.

Edward kembali mendekati Stella.

"Kau mau gula-gula lagi?" tanya Edward pada Stella.

"Tidak. Aku takut sakit gigi." Ucap Stella.

"Kau sering sakit gigi?" tanya Edward pada Stella.

"Tidak sering, tapi pernah." Jawabnya.

Tak lama kemudian, Stella merasakan ngilu di mulutnya.

"Aw … " Stella memegang pipinya.

"Kau kenapa, sayang?" tanya Edward pada Stella.

"Edward, sepertinya gigiku akan sakit." Ucap Stella dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan menangis, sayang. Ada aku, kita akan mencari obat untuk gigimu itu." Kata Edward menenangkan kekasihnya.

Stella menganggukkan kepalanya.

"Apa kau ingin pulang sekarang?" tanya Edward pada Stella.

"Iya, Edward." Jawab Stella dengan suara manjanya.

"Kau menggemaskan sekali, aku semakin menyukaimu jika kau akan bertingkah manja padaku." Kata Edward mengelus kepala Stella.

"Ayo Edward, aku takut gigiku keburu sakit." Kata Stella sembari menarik tangan Edward.

"Iya sayang, ayo." Balas Edward.

***

Saat ini, Kelly sedang menunggu Edward.

Dia sangat khawatir dan juga, ingin membicarakan soal perjodohannya dengan Vivi.

"Kau tidak bisakah tenang sedikit, Kelly?" tanya Tama pada istrinya.

"Tidak sebelum dia kembali.", Jawab Kelly singkat.

"Baiklah. Terserah padamu saja.", Balas Tama.

"Rey, apa kau sudah menghubunginya?" tanya Kelly pada putra keduanya.

"Sudah. Sepertinya dia sedang berada di luar, terdengar sangat ramai." Jawab Rey.

"Ibu, jangan memaksanya. Mungkin saja dia sudah memiliki seorang kekasih?" Ucap Rey lagi pada ibunya.

"Diamlah, Rey. Kau tidak akan tahu seberapa dalam rasa keinginan ibu untuk menikahkan Edward dengan Vivi." Jawab Kelly dengan nada sedikit meninggi.

Rey dan Tama terdiam. Karena ini baru pertama kalinya Kelly menaikkan nada bicaranya.

Kelly menghela napas panjang.

"Sudahlah, ibu akan pergi ke kamar saja." Ucap Kelly lalu pergi meninggalkan Rey dan suaminya di ruang keluarga.

Rey dan Tama hanya menghela napas berat.

"Ayah, kakak tidak akan mau untuk di jodohkan. Karena dia sudah memiliki seorang kekasih." Kata Rey pada Tama,ayahnya.

"Ayah juga tahu jika Edward akan menolak perjodohan. Ibumu keras kepala, jadi tidak mau mendengarkan perkataan ayah." Ucap Tama pada putranya.

"Biarkan kakak yang berbicara pada ibu nanti, mungkin ibu akan mengertinya." Kata Rey.

Tama hanya menganggukkan kepalanya.

***

Edward mengantarkan Stella sampai depan pintu apartemennya.

"Stella, kau masuklah. Aku akan pulang, besok aku akan mengantarkan dirimu bekerja." Ucap Tama membelai lembut pipi Stella.

"Iya dan kau pulanglah. Kabari aku jika kau sudah sampai." Ucap Stella pada Edward.

"Aku mencintaimu, Stella." Ucap Edward lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Stella.

Lalu ia pergi setelah memastikan wanitanya telah pulang dengan selamat.

Stella bersandar di dinding kamar.

Ia tersenyum dan terasa seperti mimpi. Ia dibuat hanyut dengan sikap lembut Edward padanya.

"Aku ga menyangka jika dirinya akan kembali saat ini. Kau yang selalu mengerti aku, Edward." Ucap Stella.

Lalu ia merebahkan tubuhnya, rasa lelah bercampur bahagia tercampur menjadi satu.

***

Johan terdiam mengingat kejadian tadi siang di cafenya.

Ia menghisap sebatang rokok yang menyelip di sela-sela jari tangannya.

"Benarkah itu kekasihmu, Stella? kenapa aku tidak tahu, atau semua itu hanya alibi kalian berdua. Aku sangat menginginkan dirimu tapi kenapa kau tidak menginginkanku."

"Stella, aku sangat menyukaimu." Ucap Johan pada dirinya sendiri

Lalu Johan memandang di layar ponselnya, terlihat wajah Stella menghiasinya.

"Aku akan menghubungimu." Ucap Johan sembari mencari kontak Stella lalu menghubunginya.

Tak lama kemudian Stella menjawab panggilan darinya.

"Ada apa, Jo?" tanya Stella.

Johan terdiam sejenak.

"Tidak. Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja." Ucap Johan pada Stella.

"Ya. Aku baik-baik saja, Jo." Jawab Stella.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu sejak tadi, Stella." Ucap Johan lagi.

"Tapi aku baik-baik saja. Terimakasih kau telah mengkhawatirkan diriku, Jo." Kata Stella lagi.

"Stella … " panggil Johan lembut.

"Ada apa, Jo?" jawab Stella.

"Apa benar dia kekasihmu?" tanya Johan pada Stella.

Stella terdiam mendengar pertanyaan Johan.

"Maaf, Jo. Aku sudah mengantuk, aku harus tidur. Selamat malam." Ucap Stella mengalihkan pembicaraan dan segera menutup sambungannya dengan Johan.

Johan menghela napas berat.

"Apa yang harus aku lakukan, jika dia memang benar-benar kekasihmu Stella." Ucap Johan sendu.

***

Setelah memutuskan sambungannya dengan Johan. Stella menatap langit-langit kamar dan ia berpikir sejenak.

"Sebenarnya siapa Edward?"

"Aku bahkan belum menjawab pertanyaan darinya. Aku juga belum menyetujui jika dia adalah kekasihku."

Ucap Stella pada dirinya sendiri.

Lalu muncullah ucapan Edward di benaknya.

"Kau adalah milikku, wanitaku dan selamanya akan tetap menjadi milikku." Edward.

"Edward, benarkah yang kau katakan itu? aku takut jika semua itu hanya pembualan darimu. Aku takut jika aku menaruh hati padamu, aku bahkan baru bertemu denganmu beberapa kali." Ucapnya lagi.

***

Edward kini sudah berada di rumah. Lalu ia merebahkan tubuhnya di dalam kamar. Ia sangat bahagia untuk hari ini, karena apa yang ia harapkan akan terwujud sebentar lagi.

Lalu Rey memasuki kamarnya.

" Kakak … " panggil Rey pada Edward.

"Ya, ada apa?" jawab Edward.

"Kau sudah bertemu dengan ibu?" tanya Rey lagi pada kakaknya.

Edward hanya menggelengkan kepalanya.

"Besok saja aku bicara dengan ibu, sekarang sudah larut." Ucap Edward.

Rey menganggukkan kepalanya.

"Apa kau sudah menemui wanitamu?" tanya Rey penasaran.

"Sudah." Jawab Rey singkat.

"Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya Rey antusias.

"Dia tidak mengingatku, lalu aku membawanya ke tempat yang bisa membuatnya ingat siapa diriku." Ucap Edward.

"Dia cantik sekali, bukan?" tanya Rey pada Edward.

"Ya. Dimataku, dia selalu cantik sejak dulu." Kata Edward.

"Jika aku menjadi pemilik cafe itu, aku sudah melamarnya sejak kau belum kembali." Kata Rey tertawa mengejek sang kakak.

Edward hanya menatap sinis pada adiknya.

"Tidak lucu, Rey." Kata Edward.

"Baiklah. Aku hanya bercanda." Kata Rey.

"Aku tahu." Balas Edward.

"Kakak, apa kau tidak takut jika dia masih bekerja di tempat laki-laki yang menyukainya?" tanya Rey pada Edward.

Lalu Edward terdiam mendengar pertanyaan itu, ada benarnya pertanyaan Rey. Tidak menutup kemungkinan, si pemilik cafe itu akan terus berusaha untuk mendekati Stella.

"Aku akan menyuruhnya berhenti bekerja disana." Ucap Edward.

"Lalu kau akan memberikan dia uang untuk hidup?" tanya Rey lagi.

"Kenapa tidak?" balas Edward.

"Saranku, lebih baik kau cepat membawanya kemari, lalu kau perkenalkan dirinya pada ayah dan ibu." Kata Rey.

"Benar yang kau katakan. Secepatnya aku akan membawanya kerumah ini, Rey. Terimakasih atas saranmu, adik kecil." Ucap Edward mengusap kasar kepala sang adik.

Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel