Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Flashback

Bab 8 Flashback

Dua belas tahun sebelumnya…

Stella yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, usianya tujuh belas tahun waktu itu. Ia diusir sang mama karena ia adalah anak yang dilahirkan di luar pernikahan.

Sang mama(Melia) kalah dengan emosi karena ocehan orang-orang sekitar yang mengatakan jika Stella adalah anak haram. Melia sangat stress saat itu, hingga ia kalut terbakar amarah yang sangat memuncak tanpa didampingi suaminya.

"Mama sangat membencimu, Stella. Karena dirimu lah, mama dijauhi semua orang." Ucap sang mama dengan penuh amarah pada Stella.

Stella terisak mendengar ucapan sang mama.

"Mama, maafkan Stella. Stella sayang sama mama dan papa. Maafkan Stella, jangan usir Stella." Ucap Stella sambil memeluk kaki mamanya.

"Pergilah, mama sudah tidak sanggup dengan semua ini." Jawab sang mama dengan mendorong Stella keluar dari rumahnya.

Stella pun pasrah dengan keadaan.

"Baiklah mama, Stella akan pergi. Asal itu bisa membuat mama bahagia." Ucap Stella lali berjalan menjauhi halaman rumahnya.

Melia menghancurkan beberapa barang di dalam rumahnya, ia melempar vas bunga sambil terisak dan juga sesekali menangis dengan teriakan keras.

Beberapa minggu kemudian, Dony mengetahui hal ini. Melia mengusir Stella dari rumah, Dony sangat marah dan kecewa dengan Stella. Karena ulahnya, Dony kehilangan putrinya. Auristella Jefrey, dia adalah anak tunggal di pernikahan Dony Jefrey dan Melia Syamil.

Sejak saat itu, Dony memperlakukan Melia seperti orang asing. Hal itu semakin membuat hati Melia seperti teriris. Melia sangat menyesali perbuatannya.

Beberapa upaya telah mereka lakukan mencari Stella, namun mereka tak kunjung menemukannya.

***

Dua hari setelah kejadian itu..

Stella terduduk di tangga gereja besar di samping sekolah dasar.

Stella menutup wajahnya, ia terisak dan menangis.

Saat itu pula, seorang anak laki-laki datang menghampiri dirinya dengan pelan.

Lalu ia berdiri tepat di hadapan Stella.

Melia mendongakkan kepalanya, menatap anak itu.

"Kakak manis, kenapa kau menangis?" tanya anak laki-laki itu pada Stella.

"Aku sangat sedih, mama ku tak suka padaku." Jawab Stella pada anak itu.

"Jangan menangis, kakak manis. Aku menyukaimu." Balas anak itu dengan senyum manisnya.

"Terimakasih." Ucap Stella singkat.

"Kau sudah tidak bersedih?" tanya anak itu lagi pada Stella.

"Sedikit berkurang." Jawab Stella.

Anak itu hanya menganggukkan kepalanya.

"Kau, bukankah anak yang kemarin ku tolong karena terjatuh dari sepeda?" tanya Stella menatap pada anak itu.

"Iya itu, aku. Aku pikir kau melupakanku." Jawab anak itu.

"Aku mengingatmu." Jawab Stella.

"Kakak manis, kau jangan bersedih lagi." Ucap anak itu.

"Aku tidak berjanji. Aku sangat sedih karena tidak ada orang yang menyukaiku." Jawab Stella.

"Ayolah, kakak manis. Jangan berkata seperti itu, aku menyukaimu. Aku juga menyayangimu." Gombal anak laki-laki itu.

"Kenapa kau bisa merayuku? kau masih duduk di bangku sekolah dasar." Ucap Stella.

"Kakak manis, aku benar-benar menyukaimu dan aku menyayangimu sejak kemarin." Ucap anak itu lagi.

"Benarkah?" tanya Stella memastikan.

"Ya. Dan jika aku sudah besar nanti, ayo menikahlah denganku?" Ucap anak itu pada Stella.

Stella tertawa dan memeluk anak itu.

"Terimakasih, kau sudah menghiburku. Tapi jika kau ingin menikahi ku, kau harus jadi orang yang sukses dulu." Kata Stella pada anak itu.

Anak itu pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Lalu mereka berpisah, dan anak itu pindah ke negara tetangga untuk melanjutkan sekolah khusus disana.

***

Edward memberitahukannya pada paman Rio.

"Paman, aku sudah memiliki janji dengan kakak manis." Ucap Edward kecil pada sang paman.

"Oh.. benarkah? Kau berjanji untuk apa?" tanya paman Rio menanggapinya.

"Aku berjanji untuk menikahinya jika aku sudah besar nanti dan dia mengizinkan aku menikahinya jika aku jadi orang yang sukses." Ucap Edward kecil berbicara dengan polos.

Paman Rio tersenyum dengan ucapan Edward.

"Jadi, kau harus lebih giat belajar dan harus jadi orang cerdas. Kelak kau akan sukses dan berhasil mendapatkan izin untuk menikahinya." Ucap sang paman memberi semangat untuk Edward kecil.

Edward kecil menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.

Anak kecil laki-laki yang selalu menghantui Stella melalui mimpinya adalah Edward kecil. Anak yang pernah merayu dan menghiburnya saat ia bersedih.

****

Stella telah mengingat semuanya, ia mengingat anak kecil itu.

"J-jadi, kau anak laki-laki itu?" tanya Stella gugup.

"Menurutmu?" balas Edward dengan senyuman.

"Aku tidak percaya dengan ini. Aku mengira kau hanya bercanda, sebatas menghiburku waktu itu." Ucap Stella.

"Tidak. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku. Selama ini aku berjuang untukmu, aku memperjuangkan dirimu. Aku sudah menjadi orang sukses dan aku datang untuk menepati janjiku padamu. Aku datang kembali untuk mengajakmu menikah denganku, kakak manis." Ucap Edward panjang.

Jantung Stella berdetak kencang tak beraturan setelah mendengar ucapan Edward. Ia tak menyangka jika semua itu adalah nyata.

"Aku benar-benar menyukaimu, selama ini aku berjuang untukmu. Ayo, menikahlah denganku?" ucap Edward lagi.

Lagi-lagi Stella terdiam dengan ucapan Edward.

"Namaku Edward Golden. Panggil saja sayang untukku." Tambah Edward dengan percaya diri.

"Apakah ini mimpi? Aku masih tidak percaya dengan ini.". Ucap Stella pada Edward.

"Tenanglah, sayang. Ini semua nyata, jangan menjauh dariku. Jangan pernah membiarkan siapapun untuk menyentuhmu, hanya aku yang boleh menyentuhmu. Karena kau adalah milikku, Stella." Ucap Edward sambil membelai lembut pipi Stella.

Stella memejamkan matanya dan merasakan ada ketulusan dari setiap belaian Edward di pipinya.

"Kau adalah milikku, wanitaku dan selamanya akan tetap menjadi milikku, Stella." Ucap Edward dengan lembut dan ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Stella.

Mata Stella terbelalak lebar dan ia terkejut, tidak menyangka jika Edward akan mengecup keningnya di tempat umum.

"Aku benar-benar mencintaimu dan juga menyayangimu. Sejak kau menolongku, aku selalu terbayang wajahmu. Aku selalu mengikuti kemanapun kau pergi tanpa kau sadari." Kata Edward.

"Maafkan aku, aku benar-benar tak ingat apapun tentang itu dan aku butuh waktu untuk ini semua." Ucap Stella menatap Edward tak percaya.

Edward memberikan senyuman manis untuk Stella.

"Tak apa. Karena bagaimanapun juga, kau adalah wanitaku. Tetap menjadi milikku selamanya, Stella." Kata Edward.

"Tak ada yang boleh memilikimu selain aku." Tambahnya.

Lalu Edward memeluk erat tubuh Stella. Stella masih terdiam karena ia masih tidak percaya dengan ini semua.

"Aku sangat merindukanmu, sayang." Ucap Edward sembari membelai lembut kepala Stella, sesekali ia mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepalanya.

Entah mendapat dorongan dari mana, Stella pun membalas pelukan Edward. Ia merasakan nyaman saat ia berada di pelukan Edward.

"Terimakasih, Edward. Kau telah memberiku sebuah harapan hidup saat itu." Ucap Stella.

"Disaat aku sudah tidak ada tujuan hidup, kau datang dan memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang yang tidak mudah untuk menyerah." Tambahnya lagi.

"Begitu juga denganmu, kau membuatku semakin bersemangat belajar dan semangat untuk meraih kesuksesan. Terbukti, sekarang aku sudah sukses dan aku datang padamu. Karena kau adalah tujuan hidupku." Ucap Edward mempererat pelukannya pada tubuh Stella..

Stella pun terbatuk.

Lalu Edward bertanya dengannya.

"Ada apa, sayang? kenapa kau terbatuk?" tanya Edward masih memeluk Stella dengan erat.

"Kau memelukku terlalu erat dan aku sangat kesulitan untuk bernapas." Jawab Stella terbata-bata.

Edward terkekeh dan ia langsung melonggarkan pelukannya.

"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu bahagia dengan ini." Ucap Edward.

Lalu Stella mengelus punggung Edward.

"Aku menyukai aroma wangi tubuhmu." Kata Stella kelepasan.

Edward tersenyum lebar.

"Ayo menikahlah denganku, kau bisa menghirup aroma tubuhku setiap detik jika kau menikah denganku." Balas Edward.

"Diamlah, aku hanya ke lepasan bicara tadi." Kata Stella.

Edward terkekeh kembali mendengar ucapan Stella.

"Kau menertawakan diriku?" tanya Stella pada Edward

"Ya, itu karena kau sangat menggemaskan." Jawab Edward.

"Aku sangat menyukaimu, sejak dulu dan selamanya takkan berubah." Ucap Edward.

"Kau pintar merayu sejak kecil, Edward." Kata Stella.

"Aku hanya bisa merayumu, tidak dengan gadis lain.", Balas Edward.

"Tetaplah menjadi milikku, Stella. Jangan pernah pergi dariku." Tambahnya.

.

Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel