Bab 10 Surat pengunduran diri
Bab 10 Surat pengunduran diri
Seperti hari-hari sebelumnya, Stella menyiapkan diri untuk berangkat bekerja. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam apartemen. Saat ia membuka pintu, ia terkejut karena Edward sudah berdiri di hadapannya.
"Pagi, sayang." Sapa Edward tersenyum
"Edward, sejak kapan kau datang?" tanya Stella.
"Baru saja, aku akan mengantarkanmu untuk mengajukan surat pengunduran diri." Jawab Edward.
Stella mengerutkan keningnya.
"Siapa yang akan mengajukan surat pengunduran diri?" tanya Stella dengan raut wajah yang bingung.
"Dirimu, Stella. Aku tidak mengizinkanmu terus berada di dekat laki-laki itu." Jelas Edward.
"Edward, jangan mengaturku seperti itu. Memangnya siapa dirimu?" Ucap Stella.
Edward terdiam menatap Stella.
"Kau tak menganggap diriku?" tanya Edward pada Stella.
Kali ini Stella yang terbungkam.
"Kau tak ingin bersamaku? kau bisa menghancurkan segala perjuanganku untukmu selama ini. Tak apa jika kau tak ingin bersamaku. Terimakasih untuk kemarin." Ucap Edward sembari mengusap lembut kepala Stella.
"Aku pergi dulu, Stella. Jaga dirimu baik-baik." Tambah Edward.
Stella menahan tangan Edward saat ia akan melangkahkan kakinya pergi.
"Maafkan aku, Edward." Ucap Stella.
Lalu Edward menyingkirkan tangan Stella dari tangannya.
"Edward, aku tak ingin menjadi beban untuk orang lain. Kau harus tahu, aku hidup seorang diri tanpa keluargaku. Jika aku tidak bekerja, bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya. Kumohon, kau mengertilah." Ucap Stella dengan suara pelan.
Edward berbalik badan lalu menatap Stella.
"Lalu apa gunanya diriku? selama ini aku berjuang untukmu, Stella." Jawab Edward.
Entah dorongan dari mana, Stella sontak memeluk tubuh Edward. Edward tersenyum saat wanita itu memeluk dirinya.
"Aku sangat menyayangimu, Stella. Semua yang kumiliki adalah milikmu." Ucap Edward.
"Tidak. Aku tidak berhak dengan semua yang kau miliki, aku bukan istrimu." Jawab Stella.
Edward tersenyum miring mendengar perkataan Stella.
"Jadi, kau ingin menikah secepatnya denganku?" tanya Edward pada Stella.
"Bukan begitu, maksudku … " ucapan Stella terputus saat bibirnya dikecup oleh Edward.
Mata Stella terbelalak lebar.
"Edward, apa yang kau lakukan?" tanya Stella kesal.
"Aku tidak butuh alasan apapun darimu. Kita akan segera menikah, Stella." Ucap Edward.
Jantung Stella berdetak lebih kencang dari biasanya. Baru kali ini ia merasakan kenyamanan dengan seseorang yang baru saja ia temui lagi. Anak kecil yang dulu pernah menghiburnya, kini telah dewasa.
"Ternyata kau lebih tinggi dariku sekarang." Ucap Stella pada Edward.
Edward hanya terkekeh.
"Aku tampan, bukan?" goda Edward.
Stella menganggukkan kepalanya.
"Kau jauh lebih tampan sekarang." Kata Stella menatap wajah Edward.
Edward hanya terdiam menatap wajah Stella dengan jarak yang sangat dekat.
"Edward, kau sudah sarapan?" tanya Stella.
"Belum, aku ingin memakan sarapan bersamamu." Ucap Edward.
"Baiklah, ayo masuk. Kita akan memakan sarapan bersama. Aku akan membuatkan sandwich untuk kita." Kata Stella menggandeng lengan Edward dan menariknya masuk ke dalam apartemennya.
Edward pun mengikuti langkah kaki kekasihnya.
Lalu mereka sampai di dapur Stella.
"Kau perlu bantuan ku, sayang?" tanya Edward lembut.
"Tidak. Kau tunggu saja, ini tidak akan lama." Ucap Stella yang mulai berperang dengan alat dapurnya.
Edward hanya menatap punggung Stella. Ia merasa bahagia saat ia bersama dengan Stella.
Tiga puluh menit kemudian, Stella telah selesai membuatkan sandwich untuk mereka berdua.
"Kau ingin aku membuatkan minuman apa untukmu, Edward?" tanya Stella menatap Edward.
"Aku terbiasa meminum secangkir coklat hangat dan segelas air putih untuk menemani sarapan pagi ku." Kata Edward.
"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu." Ucap Stella lalu membuatkan minuman untuk Edward.
"Bahagia sekali, serasa di buatkan sarapan pagi oleh istriku." Ucap Edward tersenyum.
Stella hanya tersenyum tipis mendengar ucapan itu.
"Ini untukmu." Kata Stella sembari memberikan secangkir coklat hangat untuk Edward.
"Terimakasih, sayang." Ucap Edward.
Stella hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu mereka memakan sarapannya dengan tenang.
Setelah itu, Stella mencuci piring bekas sarapannya dengan Edward.
Tiba-tiba Edward memeluk Stella dari belakang.
"Edward, jangan begini. Menyingkirlah … " Ucap Stella pada Edward.
Bukannya menyingkir, Edward justru menaruh kepalanya di bahu Stella. Ia mencium bahunya.
"Stella, kau belum menjawab pertanyaanku." Kata Edward.
"Pertanyaanmu yang mana, Edward?" tanya Stella pada Edward.
"Ayo, menikahlah denganku." Jawab Edward.
Stella terdiam mendengar perkataan Edward.
Lalu Stella berbalik dan menatap Edward.
"Edward, apa kau yakin dengan ini?" tanya Stella memastikan.
"Sangat yakin." Jawab Edward dengan penuh keyakinan.
"Edward, kau tidak tahu asal usul ku darimana. Aku orang yang hidup seorang diri, aku juga bukan orang berada. Aku hanya pelayan cafe. Apa kau masih yakin dengan itu?" tanya Stella lagi.
"Stella, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku tulus mencintaimu. Bukan harta dan tahta yang aku inginkan, melainkan memilikimu seutuhnya." Jelas Edward.
"Jika kau memintaku untuk pergi, aku akan pergi." Ucap Edward menatap dalam pada bola mata Stella.
"Aku hanya tidak yakin, kau akan bahagia denganku Edward. Umurku jauh lebih dewasa darimu. Kau bisa mencari gadis lain yang seumuran denganmu." Ucap Stella.
"Aku tidak bisa. Karena sejak dulu, tujuanku hanyalah dirimu." Jawab Edward membelai lembut pipi Stella.
"Aku tidak butuh alasan apapun darimu untuk menolak. Kecuali kau mengatakan, kau tidak ingin hidup bersamaku. Kau tidak butuh diriku, maka aku akan pergi." Lanjut Edward.
Lalu Stella memeluk tubuh Edward, menghirup aroma wangi tubuhnya.
"Aku membutuhkan waktu untuk ingin terus bersamamu, Edward." Jawab Stella.
"Aku akan terus menunggumu, sampai waktunya tiba." Sambung Edward.
Dan kemudian bibir mereka saling bersentuhan, untuk saling menyalurkan rasa kasih.
***
Kelly duduk di ruang tamu bersama Vivi. Ia menyuruh Vivi untuk datang.
"Kau tenang saja, Vivi. Edward pasti akan menikah denganmu." Ucap Kelly pada Vivi.
Vivi menganggukkan kepalanya.
"Iya Tante, Aku percaya itu." Ucap Vivi.
"Iya, kita tunggu sampai dia pulang. Kau tetaplah disini." Ucap Kelly mengelus punggung Vivi.
"Kalau bukan karena harta, aku tidak mungkin masih berada dalam situasi ini." Batin Vivi.
"Kau melamun, sayang?" tanya Stella pada Vivi.
"Tidak. Aku hanya berpikir, bagaimana jika nanti Edward akan tetap terus menolak dengan perjodohan ini. Mungkin aku dan ayahku akan sangat kecewa." Ucap Vivi.
"Edward akan menikah denganmu, tante pastikan itu." Jawab Kelly meyakinkan.
Lalu Vivi menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum tipis dengan hal itu.
***
Edward mengantarkan Stella ke cafe milik Johan.
Edward menunggu Stella menghadap pada Johan. Di depan ruang kerja Johan ia menunggunya.
Di dalam ruang kerja Johan.
"Stella, surat apa ini?" tanya Johan menatap Stella yang duduk di hadapannya.
"Maaf, Jo. Ini surat pengunduran diri dariku." Jawab Stella.
Johan terkejut.
Lalu ia berdiri dan mendekat pada Stella.
"Apa aku mengganggumu, Stella?" tanya Johan padanya.
"Tidak, Jo. Bukan begitu, aku hanya,-" ucapan Stella terputus saat Johan menariknya berdiri dengan kasar.
"Atau karena lelaki itu, jawab aku Stella." Johan mengguncang tubuh Stella dengan kasar.
"Johan, tolong lepaskan aku. Jangan begini, aku mohon." Ucap Stella yang kini buliran air matanya mulai berjatuhan membasahi pipinya.
"Kenapa kau tak pernah memandangku, Stella. Kenapa?" tanya Johan dengan nada meninggi.
Edward yang menyadari hal itu langsung masuk kedalam ruang kerja Johan.
Lalu ia menarik kerah kemeja Johan.
Tatapan amarahnya sangat jelas terlihat karena ia berani menyentuh dan berbuat kasar pada wanitanya.
"Jangan pernah kau sentuh wanitaku, kau brengsek." Ucap Edward meninju wajah Johan.
Johan pun tersungkur ke lantai.
"Ini peringatan pertama dan terakhir dariku untukmu. Aku bisa menjatuhkan dirimu hanya dengan memetikkan jariku. Jadi kau harus ingat itu." Ucap Edward menunjuk pada Johan.
Lalu ia menarik tangan Stella dan membawanya menjauh dari sana.
Johan mengerang marah dan ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
Di dalam mobil, Stella masih menangis sesenggukan.
Edward menghela napas berat.
Lalu ia memeluk tubuh Stella dan mengusap lembut punggungnya.
"Tenang ya sayang, aku akan selalu bersamamu. Jangan pernah takut." Ucap Edward lembut.
"Aku tidak menyangka jika Johan akan berbuat seperti itu padaku. Karena setahuku dia orang yang baik." Ucap Stella.
"Don't look from the cover, baby." Ucap Edward sembari menghapus air mata Stella.
"Lebih baik dengan orang yang terlihat brutal tetapi dia memiliki hati yang baik, dibandingkan dengan orang yang tampak polos namun hatinya seperti harimau, buas." Tambah Edward.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
Bersambung..
