Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Bertemu Kembali

Bab 7 Bertemu Kembali

Seperti biasanya, Stella sedang membersihkan meja Cafe bersama dengan Elly. Kali ini kantung mata Stella sangat terlihat jelas, jika dia tidak tidur semalaman.

"Stel, apa kau tidak tidur semalam?" tanya Elly pada Stella.

Stella hanya menguap dan menganggukkan kepalanya.

"Jadi benar kau tidak tidur ya? kali ini siapa lagi yang menghantuiku?" tanya Elly lagi.

"Laki-laki itu." Jawab Stella singkat.

"Laki-laki yang,-" ucapan Elly terhenti saat Johan menyambar ucapannya.

"Apa kau tidak tidur karena ku, Stel?" tanya Johan pada Stella.

"Bukan, Jo." Jawab Stella singkat

"Maafkan aku, aku yakin itu semua karena diriku semalam. Aku sudah membuatmu tak bisa tidur dengan nyenyak, aku jadi merasa tak enak denganmu." Ucap Johan menatap Stella.

"Aku sudah mengatakan, jika semua ini bukan karena dirimu, Jo." Tegas Stella lagi.

Johan dan Elly terdiam, karena baru kali ini Stella berbicara dengan nada meninggi.

"Maaf." Ucap Stella lalu pergi ke dalam kamar toilet cafe.

Stella mengusap wajahnya kasar. Ia sangat menyesal dan sangat lelah lebih tepatnya.

"Gara-gara lelaki itu, aku jadi tidak fokus." Ucap Stella lalu menghela napas panjang.

***

Edward, saat ini ia tengah bersiap untuk pergi mengunjungi cafe. Namun, saat ia keluar apartemen ia terkejut saat ibunya telah berada di hadapannya.

"Ibu?" Ucap Edward dengan bingung.

"Edward, kenapa kau tak pulang kerumah?" tanya ibu dengan pelan.

"Maaf Bu, seharusnya ibu tahu sendiri. Alasan apa yang membuatku tak pulang kerumah." Jawab Edward dengan senyuman.

"Edward, kenapa kau pergi saat acara belum selesai? Apa semua itu ada yang salah?" tanya ibunya lagi.

"Maaf, Bu. Aku rasa, ibu sudah paham kenapa aku pergi secara tiba-tiba saat acara belum selesai." Jawab Edward santai.

Kelly terdiam menatap putranya.

"Sudah ya, Bu. Aku harus pergi, aku akan menyuruh Rey untuk mengantar ibu pulang." Ucap Edward sambil melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan sang ibu.

Lagi-lagi sang ibu hanya terdiam menatap punggung putranya yang mulai menjauh.

***

Edward duduk di dalam cafe, nomor meja yang biasa ditempati Rey.

"Aku akan mengawasi kalian." Ucap Edward.

Tepat di hadapannya, ia melihat Stella sedang melayani pelanggan cafe. Dan mereka pun bertemu pandang, Edward mencuri kesempatan untuk memandangnya dan tersenyum manis padanya. Stella hanya mengeluarkan raut wajah masam untuknya. Hal itu membuat Edward terkekeh pelan.

"Lucu sekali, dirinya." Ucap Edward.

***

Dony menatap wajah istrinya, Melia.

Sangat pucat dan terlihat kurus.

"Melia, maafkan aku. Aku sudah menambah beban pikiran padamu. Aku terlalu egois dan terlalu larut dalam kekecewaan. Kumohon, maafkan aku." Ucap Dony menggenggam telapak tangan Melia.

"Aku memang pantas mendapatkan itu semua. Aku menyesal, Don. Aku tak bisa mengontrol emosiku. Saat itu pikiranku sangat stres karena mendengar omongan orang lain tentang kita." Balas Melia.

"Kita sama-sama salah, aku memang salah waktu itu tidak membawa kalian bersamaku." Ucap Dony menundukkan kepalanya.

"Sudahlah, aku yakin. Kita pasti akan menemukan dia. Aku yakin itu." Ucap Stella meyakinkan suaminya.

"Aku berharap begitu. Dan aku ingin kau cepat sehat, agar kita bisa mencarinya bersama-sama. Aku yakin, dia sudah berkeluarga." Ucap Dony tersenyum menatap istrinya.

Melia pun tersenyum, ia sangat bahagia karena suaminya telah kembali menjadi suami yang sangat baik padanya seperti dulu.

***

Kelly meminta Rey untuk mengantar dirinya ke kantor sang suami. Sesampainya di halaman parkir kantornya, ia meminta Rey untuk pulang dan Rey pun menurutinya.

Lalu Kelly berjalan memasuki ruang kerja sang suami.

Tama pun terkejut melihat wajah sendu sang istri.

"Ibu, kenapa kau tampak sedih?" tanya Tama pada sang istri lalu menghampirinya.

"Ayah, ibu mau Vivi jadi menantu kita. Tapi kenapa Edward menolaknya." Ucap Kelly dengan pelan.

Terlihat jelas, ada kekecewaan di raut wajahnya. Tama hanya memijat pelipisnya dan menghela napas panjang.

"Sudah ayah bilang, Edward akan menolak perjodohan. Tapi kau tetap kekeuh dengan keputusanmu." Ucap Tama pada istrinya.

"Tapi bagaimana? Aku benar-benar menginginkan Vivi, Tama." Balas Kelly pada suaminya.

"Iya, terserah padamu. Aku sudah cakap, kalau aku tidak akan ikut campur jika Edward menolak." Ucap Tama lagi.

"Baiklah. Kalau kau tidak mendukung ku, aku akan memaksanya menikah dengan Vivi." Ucap Kelly dengan tegas.

Tama hanya menggelengkan kepalanya. Ia sedikit tak percaya jika istrinya bisa memiliki kepala sekeras batu.

***

Hingga siang hari, Edward masih terduduk menunggu wanitanya selesai bekerja.

"Aku akan menunggumu, sayang." Ucap Edward menatap wanitanya.

Stella yang melihatnya pun memutar bola mata malas dan Edward hanya terkekeh dengan hal itu.

Di sela-sela hal itu, Johan kembali menghampiri Stella. Dan hal itu membuat Edward terbakar api cemburu.

"Stella, ayo makan siang denganku. Kau sudah terlihat lelah." pinta Johan pada Stella.

"Tak apa, Jo. Aku belum lapar." Jawab Stella berbohong, padahal sebenarnya ia belum memakan sesuap nasi pun sejak pagi. Hal itu ia lakukan untuk menghindar dari Johan.

"Ayolah, Stella. Aku tak ingin kau sakit." Ucap Johan sambil memegang lengan Stella.

Melihat hal itu, Edward pun berdiri dan menghampiri mereka. Ia sudah tak tahan dengan sikap Johan.

"Jangan kau sentuh wanitaku." Seru Edward membuat Johan dan Stella melihat padanya.

"Apa maksudmu?" tanya Johan pada Edward.

"Kau jangan pernah menyentuh, kekasihku." Jawab Edward dengan lantang.

Johan menatap Stella.

"Omong kosong macam apa ini? Bahkan, mengenalmu saja tidak. Sejak kapan aku menjadi kekasihku?" ucap Stella pada Edward.

"Kau akan ingat aku, aku ini kekasihmu. Dan kau adalah milikku." Jawab Edward pada Stella.

"Sudahlah, jangan kau mengaku-ngaku menjadi kekasihnya. Lihat saja, Stella tak mengenalmu." Ucap Johan sinis pada Edward.

"Diamlah kau, sialan. Aku tak berbicara padamu, aku dan kau lebih dulu aku yang mengenalnya." Balas Edward pada Johan.

Stella hanya bingung dengan situasi ini.

"Ah.. kepalaku sangat pusing dengan hal ini. Sebaiknya aku izin pulang saja, Jo." Kata Stella.

"Baiklah, aku akan mengan,-" ucapan Johan terputus saat Edward menyambar ucapannya.

"Tidak perlu. Karena ini adalah tugasku, untuk mengantarkannya pulang dengan selamat." Ketus Edward pada Johan.

Stella memijat pelipisnya.

"Ayo, sayang. Aku akan mengantarkanmu pulang dan akan membuatmu ingat padaku." Ucap Edward menarik tangan Stella.

Edward membawa Stella ke halaman parkir cafe.

"Berhentilah, jangan memaksaku.", Ucap Stella pada Edward dan sedikit memberontak.

"Diamlah, atau aku akan menciummu di sini?" ucap Edward pada Stella yang terus memberinta.

"Kau benar-benar menjengkelkan." Kata Stella.

Lalu Edward terhenti dan menolehkan kepalanya pada Stella.

"Jadi kau ingin ku cium di sini?" Ucap Edward dengan senyuman miringnya.

Stella langsung terdiam dengan ancaman Edward.

Edward menahan tawanya.

"Kau semakin manis jika menurut begini." Puji Edward pada Stella.

Stella hanya terdiam.

"Ayo masuklah, sayang. Aku akan menunjukan siapa diriku padamu." Ucap Edward dengan suara lembut pada Stella.

Stella pun masuk kedalam mobil Edward. Lalu Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Di dalam mobil, Edward terus menggenggam tangan Stella dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir mobil.

Stella menatap tangannya yang digenggam Edward, ada nuansa berbeda dalam hatinya. Ia ingin menolak namun tak bisa. Seperti ada dorongan yang membuatnya menerima tangan Edward menggenggam tangannya.

Setelah beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat yang Edward akan tunjukkan pada Stella.

"Ayolah, kakak manis. Kita sudah sampai, turunlah." Ucap Edward lembut dan membukakan pintu mobil untuk Stella.

Stella mengerutkan keningnya, ia tidak asing dengan tempat yang saat ini ia berdiri dengan Edward.

"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Stella pada Edward.

"Karena disinilah tempat kau akan mengingat siapa diriku." Ucap Edward tersenyum manis pada Stella.

Stella mencoba mengingat namun tak ingat sama sekali dengan lelaki disampingnya. Ia hanya ingat dengan tempat ini. Tepat di samping sekolah dasar yang sering ia lewati setelah beberapa hari setelah kejadian waktu lalu. Kejadian yang membuatnya terpuruk dalam kesedihan.

"Kemarilah, sayang." Ucap Edward menarik tangan Stella dan mendudukkan dirinya di tangga gedung gereja yang sangat besar.

"Kau duduklah disini dan aku akan mundur sedikit." Ucap Edward membuatnya bingung.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu, jelaskan saja siapa dirimu sebenarnya." Pinta Stella tidak sabar.

Edward hanya tersenyum pada Stella.

"Baiklah, biar aku jelaskan padamu." Ucap Edward.

Stella memperhatikan Edward.

"Waktu itu kau tepat duduk di situ dan saat itu juga kau sedang menangis. Lalu aki berjalan pelan ke arahmu, seperti ini … " ucap Edward sambil memperagakan yang ia katakan pada Stella.

"Lalu aku berdiri dihadapanmu seperti ini … " lanjut Edward melanjutkan peran dirinya waktu itu.

Stella terdiam mencoba mengingat, dan dia berhasil mengingat siapa Edward sebenarnya.

Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel