Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Lelaki Aneh

Bab 6 Lelaki Aneh

Pagi itu, Stella baru saja bersiap untuk berangkat bekerja. Namun ia terkejut, ketika laki-laki yang kemarin sore ia temui telah berada di hadapannya.

"Selamat pagi, kakak manis." Sapa Edward pada Stella dengan senyuman.

"Pagi." Balas Stella singkat, lalu ia memanggil taksi untuk pergi ke cafe tempat ia bekerja.

"Kau memang sangat cantik, bahkan semakin cantik." Ucap Edward pada dirinya sendiri.

Lalu Edward pergi begitu saja setelah melihat wanitanya berangkat ke cafe.

***

Sesampainya di cafe, Stella terduduk dengan wajah yang sedikit lesu.

"Stel, apa kau baik-baik saja?" tanya Elly pada Stella.

Stella menidurkan kepalanya di meja.

"Aku sangat lelah. Semalam aku kesulitan untuk tidur." Jawab Stella pelan.

"Apa mimpi itu menghantuimu lagi, Stel?" tanya Eli lagi.

"Tidak. Tapi … " ucapan Stella terhenti saat bayangan laki-laki yang sudah dua kali ia temui itu muncul di benaknya.

"Hei.. kenapa kau melamun?" tanya Stella menyadarkan Stella dari lamunannya.

"Kali ini bukan mimpi, El. Tapi ini nyata." Jawab Stella.

"Maksudmu? Anak kecil, berjenis kelamin laki-laki itu nyata datang padamu?" tanya Elly penasaran.

"Bukan begitu ceritanya. Jadi, sudah dua kali aku bertemu dengannya dan dia juga tersenyum padaku." Ucap Stella.

"Dan wajahnya menghantuiku lagi, begitu?" tanya Elly.

Stella hanya terdiam mendengar perkataan Elly.

Lalu tak lama kemudian Johan datang menghampiri mereka. Johan lalu menyapa mereka berdua namun pandangannya tetap tertuju pada wajah manis Stella wanita yang ia sukai. Setelah menundukkan kepalanya karena ia merasa risih. Karena setiap kali bertemu Johan, dia selalu diperlakukan dengan beda.

"Stella, nanti sore aku akan mengantarkan kau pulang ke apartemenmu." Ucap Johan sambil menatap wajah cantik Stella.

Kali ini setelah kembali menolak permintaan Johan.

"Maaf Jo, tidak perlu. Aku akan pulang sendiri nanti sore. Terimakasih untuk tawaran mu." jawab Stella.

"Baiklah, aku tidak akan memaksa untuk sekarang tapi nanti malam aku akan mengajakmu untuk dinner dan tidak ada kata penolakan untuk ini." Ucap Johan pada Stella.

Stella pun terpaksa menerima permintaan Johan karena ia sudah tidak enak untuk menolak lagi.

Lalu Johan berpamit pergi ke dalam ruang kerjanya.

Elly mengira jika Johan akan memberikan suasana romantis nanti malam untuk mereka berdua.

"Cukuplah El, aku tidak menyukainya. Aku hanya sebatas menghargai ajakan dirinya, tidak lebih dari itu." Ucap Stella.

"Baiklah, aku minta maaf Stel. Apapun keputusanmu, asal itu yang membuatmu bahagia aku akan selalu mendukungmu." Ucap Elly pada Stella.

Stella menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Elly.

"Aku hanya berharap kau hidup bahagia dengan pasanganmu nantinya. Dan aku berharap kau, bisa pergi menemui keluargamu lagi." Ucap Elly pada Stella.

Stella menundukkan kepalanya, ia merasakan sesak di dalam hati. Sejak duabelas tahun lalu, ia belum pernah lagi menemui kedua orang tuanya. Padahal dalam hatinya yang paling kecil, ia jauh sangat amat merindukan mereka.

Stella menggelengkan kepalanya, terlihat raut sedih menghampiri wajah cantiknya. Lalu Elly pun mengelus punggung telapak tangan Stella, ia merasa bersalah atas ucapannya.

"Maafkan aku, Stell. Tidak seharusnya aku mengucapkan kata ini. Karena ucapanku, kau menjadi bersedih." Ucap Elly karena tak enak pada Stella.

"Tak apa, El. Aku mengerti, kau memberikan saran yang baik untukku. Terimakasih untuk itu, tapi aku belum bisa dan belum siap untuk menemui mereka. Karena aku tak yakin, jika mereka masih membutuhkanku." Kata Stella sambil tersenyum tipis.

***

Edward yang baru saja pulang, tiba-tiba dicegat oleh sang ibu saat ia akan berjalan menaiki tangga.

"Edward." Panggil ibu pada Edward dan Edward pun berhenti lalu menolehkan kepalanya pada sang ibu.

"Iya Bu, ada apa?" Jawab Edward.

"Edward, nanti malam kita akan melakukan dinner pertemuan dua keluarga. Jadi ibu mohon, untuk kau tidak pergi kemanapun." Kata sang ibu kepada Edward, putranya.

Edward menganggukkan kepalanya dan ia menyetujui permintaan sang ibu untuk tidak pergi kemanapun selain dengan mereka.

***

Tibalah waktu malam..

Johan menjemput Stella dan kini mereka telah sampai di sebuah restoran mewah, sebelum itu Johan meminta kepada Stella untuk berdandan dan menggunakan dress cantik dan Stella pun mengiyakan permintaan Johan, karena ia mengira jika Johan akan mengajaknya untuk pergi ke suatu acara.

Sesampainya mereka di restoran mewah, Johan telah memesan meja khusus untuk mereka berdua.

Johan terus menatap wajah cantik Stella.

"Kau sangat cantik malam ini Stella, aku sangat terpana melihat kecantikanmu." Puji Johan pada Stella.

"Jangan terus memandangku, Jo. Dan tolong jangan terus memuji diriku secara berlebihan." Ucap Stella pada Johan.

"Yang aku katakan itu memang benar, Stella. Kau ini sangat cantik dan akan selalu cantik dimataku." Ucap Johan.

Setelah terdiam dengan ucapan Johan, kini ia mulai risih dengan Johan yang saat ini menggenggam telapak tangannya.

Stella sudah berusaha untuk melepas telapak tangannya dari genggaman Johan, namun Johan menggenggamnya dengan erat.

"Stella, aku aku akan mengatakan sesuatu yang serius padamu." Ucap Johan pada Stella.

Perasaan Stella mulai tak enak, ia menatap wajah Johan dihadapannya.

Lalu Johan mengelus punggung telapak tangan Stella.

Stella pun terkejut.

"Stella, aku sangat menyukaimu. Jadilah kekasihku Stella?" Kata Johan pada Stella.

Lalu Stella menarik telapak tangannya dari genggaman Johan. Ia pun berdiri dan pergi dari hadapan Johan secara tiba-tiba.

Tuhan memanggil Stella, namun Stella sudah terlanjur pergi dari hadapannya.

Ia pun terduduk kembali dengan perasaan yang kacau.

***

Tempat meja belakang tempat Stella dan Johan berada sebelumnya, dua buah keluarga sedang melakukan pertemuan penting.

Mata Edward sedikit menajam saat menyadari jika wanitanya setelah disentuh oleh pria lain meskipun itu itu hanya telapak tangannya.

Dan ditambah lagi kemarahan Edward saat mendengar pertemuan keluarga ini adalah untuk membicarakan tentang perjodohan dirinya dengan Vivi.

Saat Edward melihat wanitanya berlari keluar dari restoran mewah itu, Edward pun berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan keluarganya dan keluarga Vivi. Ia masa bodoh dengan perjodohan ini.

Lalu ia membuntuti Stella yang sedang berjalan menyusuri pinggiran kota menuju tempat tinggalnya.

Edward bersiul agar wanita nya itu menengokkan kepala pada dirinya.

Saat Stella melihat adanya Edward di belakangnya, Ia pun terkejut dan mempercepat langkah kakinya menuju gedung apartemennya. Edward pun ikut mempercepat langkah kakinya mengikuti Stella, ia ingin memastikan jika wanitanya telah sampai dengan selamat sampai apartemennya.

Sesampainya di depan gedung apartemen milik Stella. Stella berdiri dan berhenti lalu berbalik badan menatap Edward.

"Apa kau mengikutiku?" tanya Stella pada Edward.

Edward hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis kepada Stella.

"Kau manusia yang sangat aneh, berhentilah untuk mengikutiku. Aku sangat risih dengan tingkahmu itu." ucap Stella lalu pergi masuk ke dalam gedung apartemennya.

Edward menatap sejenak gedung apartemen tempat wanitanya tinggal, ia tersenyum mengingat wanitanya itu kesal dengan dirinya.

"Ternyata benar, dia tidak ingat denganku. Baiklah sayang, aku akan membuatmu mengingat diriku selamanya." Kata Edward sebelum pergi meninggalkan gedung apartemen milik wanitanya itu.

Ternyata Stella, melihat ke arah Edward dari jendela apartemennya. Namun Edward tak menyadari hal itu.

"Siapa dia? kenapa dia seperti menguntit diriku sejak kemarin. Apa dia mengenalku? sepertinya tidak mungkin, karena aku tak mengenalnya." Kata Stella pada dirinya sendiri.

***

Edward tidak pulang kerumahnya, melainkan pulang ke apartemen paman Rio.

"Kau tidak pulang?" tanya sang paman pada Edward.

"Tidak. Jika aku pulang, sudah pasti ibu dan ayah akan memaksa ku untuk menikahi gadis itu." Ucap Edward.

"Kau harus bertemu dengan Stella, katakan yang sebenarnya siapa dirimu. Dengan adanya Stella, kau akan mudah untuk menolak perjodohannya." Kata sang paman lalu memberi saran.

"Benar yang kau katakan, Paman. Kau memang yang paling mengerti diriku." Ucap Edward.

"Lalu, bagaimana dengan diriku?" tanya Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.

Edward hampir terlonjak kaget.

"Kau? sejak kapan kau disini?" tanya Edward pada adiknya.

"Aku sejak siang sudah berada disini. Apa ada masalah dengan anda, Tuan muda?" gurau sang adik pada kakaknya.

"Biasa saja." Jawab Edward datar.

Paman Rio hanya terkekeh, melihat raut wajah Rey yang mulai masam.

.

Terimakasih, telah membaca. Jangan lupa, like dan komen.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel