Bab 5 Edward Kembali
Bab 5 Edward Kembali
Dua minggu kemudian..
Edward dan paman Rio sedang berjalan dengan menggeret kopernya di bandara. Mereka telah sampai di negaranya kembali.
Lalu Edward melihat adik kecilnya datang menghampiri mereka.
"Kakak?" panggil Rey dengan suara lantang.
Lalu mereka bertemu dan berpelukan layaknya kakak beradik.
"Ternyata kau sudah tinggi, adik kecil." Ucap Edward sambil mengusap kasar kepala Rey.
"Iya dan aku jauh lebih tampan darimu, bukan?" tanya Rey dengan percaya dirinya.
"Terserah padamu. Karena untuk Stella, ketampanan ku sudah melampaui batas." Balas Edward kembali.
Rey hanya menanggapi dengan malas dan paman Rio hanya geleng kepala dengan tingkah laku mereka berdua.
"Aku sudah tidak sabar ingin menemui wanitaku." Ucap Edward pada dua orang di sampingnya.
"Kau temui saja dahulu kedua orangtuamu yang sudah menunggu, jangan kau temui wanitamu lebih dahulu karena dia belum tentu masih mengingat dirimu." Ucap sang paman.
Edward terdiam sejenak lalu mengiyakan saran sang paman.
Mereka pun berjalan menuju parkiran dan sesampainya disana, mereka langsung memasuki mobil mewah milik Rey.
"Kau tenang saja, kau bisa menemuinya nanti. Kau sudah tahu alamat tinggalnya jadi tenanglah sebentar." Ucap Rey pada Edward.
Edward menganggukkan kepalanya, lalu bercakap..
"Aku bahkan sudah berjuang dan menunggu dalam waktu yang sangat lama. Dua belas tahun aku berjuang dan menunggu waktu yang tepat untuknya." Ucap Edward.
"Aku tahu. Terapi dalam keadaan seperti ini, biasanya satu detik pun bagaikan setahun. Benar bukan, Paman?" tanya Rey pada paman Rio.
Paman Rio hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ia tak menyangka jika Rey memiliki pemikiran seperti itu. Berbeda dengan pemikiran Rio, ia menginginkan segalanya yang ia inginkan segera tercapai.
***
Sesampainya dirumah, kedua orangtuanya menyambut Edward dan paman Rio dengan hangat.
"Sayang, apa kabar?" sapa sang ibu memeluk putranya, Edward.
Edward membalas pelukan sang ibu.
"Aku baik, Bu. Bagaimana dengan ibu?" tanya Edward kembali.
"Ibu juga sangat baik, sayang." Kata ibu sambil mencium kening Edward.
Edward tersenyum.
"Kau tak merindukan ayah?" tanya sang ayah tak ingin kalah.
"Bagaimana mungkin? aku jelas sangat merindukan kalian berdua." Ucap Edward lalu memeluk sang ayah.
"Jadi kau tak menganggap ku?" tanya Rey dengan sinis.
Mereka terkekeh mendengar pertanyaan Rey.
"Aku lupa, jika diriku bukanlah anak tunggal." Jawab Edward dengan lelehan kecil.
"Ibu, lihatlah kakak. Dia selalu saja begitu padaku." Kata Rey mengadu pada Ibu.
"Dia hanya bergurau, sayang." Kata ibunya.
"Dasar pengaduan, mengaku sudah dewasa tetapi masih saja pengaduan." Sindir Edward.
"Diamlah. Aku sedang malas padamu." Kata Rey.
Lagi-lagi mereka hanya terkekeh melihat Rey seperti anak kecil.
Lalu seorang gadis berdehem di sebelah Kelly.
"Oh ya, Edward kenalkan ini Vivian anak teman Ibu yang belum lama bertemu kembali." Kata Kelly pada Edward.
Edward menganggukkan kepalanya, lalu berjabat tangan untuk berkenalan dengan Vivi. Setelah itu, Edward berpamitan untuk beristirahat sejenak untuk melepaskan rasa lelah.
"Vivi, dia sangat tampan bukan?" tanya Kelly pada Vivi.
Vivi menganggukkan kepalanya dan senyum malu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Kelly lagi.
"Iya Tante, aku menyukainya." Jawab Vivi pelan.
Tama hanya menghela napas sedangkan Kelly, dia tersenyum senang dengan hal ini.
****
Saat sore hari, Edward pergi menuju cafe tempat wanitanya bekerja.
Suara langkah kaki dengan tergesa-gesa melangkah menuruni anak tangga satu persatu.
"Ed, kau mau kemana? kenapa terlihat terburu-buru?" tanya Kelly pada anak pertamanya itu.
"Iya Bu, aku harus mengunjungi suatu tempat." Jawab Edward dengan senyuman.
"Jika boleh, kau ajaklah Vivi ikut dengan mu." Pinta sang ibu.
Edward terkejut dan terdiam sejenak.
"Maaf Bu, aku tidak bisa. Aku harus pergi dulu." Jawab edward lalu pergi tanpa menggubris ibunya dan Vivi.
"Tak apa tante, kita butuh waktu yang sedikit panjang untuk bertemu kembali." Ucap Vivi.
Kelly tersenyum dan menyetujui ucapan Vivi.
****
Sore hari..
Sesampainya Edward di depan cafe, ia baru saja turun dari mobilnya.
Dan ia berdiri tepat di seberang jalan yang berhadapan dengan cafe. Lalu keluarlah seseorang yang ia harapkan untuk keluar.
Namun sepertinya benar dugaan sang paman, ia tak ingat dengan Edward.
Stella melangkahkan kakinya keluar dan ia bertemu pandang dengan Edward. Stella mengerutkan keningnya.
"Siapa dia? kenapa tersenyum padaku?" batin Stella
Stella kembali memandang wajah lelaki di seberang cafe dan ya.. dia masih tersenyum padanya. Lalu Stella berjalan kembali tanpa memperdulikannya.
"Aneh sekali." Gerutu Stella.
Lalu Edward memasuki mobilnya dan mengikuti pelan langkah kaki wanitanya itu.
Hingga sampai di bawah gedung apartemen tempat tinggal wanitanya, ia menatap sejenak ke arah gedung itu.
"Dia tinggal di sini? apartemen yang bagus dan terlihat elegan." Ucap Edward pada dirinya sendiri.
"Besok kita akan bertemu kembali, sayang." Tambahnya.
Lalu Edward melakukan mobilnya dan sampai kerumah saat hari sudah petang.
Edward berjalan memasuki rumahnya dan ia langsung menuju kamar.
Ia langsung merebahkan tubuhnya, hingga ia terlonjak kaget saat mengetahui ada orang lain di kamarnya.
"Kau baru pulang, Ed?" tanya paman Rio pada Edward.
"Astaga, kau sangat mengagetkanku." Ucap Edward sambil mengelus dadanya.
Sang paman hanya terkekeh.
"Sejak kapan kau di sini paman?" tanya Edward lagi.
"Sejak kau pergi. Apa kau telah bertemu dengannya?" tanya paman.
"Iya, tapi sepertinya dia lupa padaku. Dia bahkan memandangku aneh, saat melihat diriku tersenyum padanya." Kata Edward.
"Jelas saja dia melihatmu aneh, dia berpikir bahwa kau ini orang asing. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat, Edward." Kata sang paman.
Edward menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, apa kau tahu kenapa ada seorang gadis dirumah ini?" tanya paman Rio pada Edward.
Edward menatap sang paman sejenak.
"Memangnya ada apa?" tanya Edward penasaran.
"Begini, kau akan mengetahuinya besok malam. Karena besok malam akan ada pertemuan keluarga." Jelas sang paman.
"Paman, apa itu kabar buruk?" tanya Edward lagi.
"Ya. Bisa di bilang seperti itu ,Ed. Sebaiknya kau siapkan saja mentalmu." Ucap paman Rio sambil memberi saran.
"Baiklah paman, aku akan mencerna ucapanmu." Jawab Edward.
Paman Rio hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kau melihat adik kecilku, Paman?" tanya Edward.
"Dia sudah tidur sejak tadi. Dia merengek pada ibumu, dan apa kau tahu yang dia inginkan?" tanya sang paman.
"Tidak. Memangnya apa yang dia inginkan?" tanya Edward pada sang paman.
"Dia menginginkan seorang gadis." Jawab paman Rio dan membuat mata Edward terbelalak.
"Apa? jadi dia ingin menikah, begitu?" tanya Edward memastikan.
Paman Rio hanya menganggukkan kepalanya.
"Itu hanya bercanda, Edward." Kata sang paman dengan santai.
"Astaga, kau benar-benar menjengkelkan." Kata Edward lalu memejamkan matanya.
Sedangkan sang paman hanya tertawa.
***
"Sayang, apa kau setuju jika besok malam kita membicarakan tentang perjodohan Edward dengan Vivi?" tanya Kelly pada suaminya.
"Iya. Lebih cepat lebih baik, bukan?" jawab Tama singkat.
"Ya. Kau benar, karena aku sudah tidak sabar ingin mempunyai seorang menantu." Balas Kelly.
"Ya sudah, ayo kita tidur. Hari sudah larut, selamat malam." Ucap Tama pada Kelly.
"Malam juga, Ayah." Balas Kelly pada suaminya, lalu mereka memejamkan matanya.
***
(POV Stella)
Stella kesulitan untuk tidur, karena ia masih teringat laki-laki aneh yang tadi sore ia temui.
"Kenapa sekarang bayangan laki-laki yang tadi sore itu menghantuiku."
"Aku jadi seperti orang gila begini karenanya. Wajahnya selalu menghantuiku."
"Sepertinya dia jauh lebih muda dariku."
Lalu Stella benar-benar berusaha keras untuk membuat matanya tertidur.
Namun usahanya tak membuahkan hasil, ia mengacak rambutnya.
"Ya Tuhan, untuk tidur saja kenapa sangat sulit? aku harus bagaimana sekarang?"
Lalu Stella berjalan ke dapur dan mengambil toples berisi snack, ia menyemil snack untuk menghilangkan rasa bosan karena ia ingin tidur namun tak bisa.
"Kenapa di saat aku memakan snack pun, senyuman mereka menghantuiku." Ucap Stella.
Lalu Stella memutuskan untuk merendam tubuhnya di dalam bak berisi air hangat dan akhirnya dia pun berhasil tertidur dengan nyenyak di dalam bak
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
Bersambung..
