Bab 4 Gautama's House
Bab 4 Gautama's House
Gautama's House..
Tama, Kelly,Arga dan Vivi sedang menyantap makan malam. Dan setelah itu mereka sedikit berbincang mengenai perjodohan.
"Arga, bagaimana dengan rencana yang kemarin aku bicarakan denganmu?" tanya Kelly pada Arga.
"Aku terserah pada Vivi dan Edward. Karena merekalah yang nanti akan menjalani kehidupan berumah tangganya. Tidak baik jika aku yang harus menentukan." Jawab Arga dengan lembut.
"Aku yakin, anakku pasti setuju dengan perjodohan ini. Iya kan, Sayang?" tanya Kelly pada Tama, suaminya.
Tama hanya mengangguk dan tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Jika Vivi setuju, aku akan membuat Edward juga setuju dengan perjodohan ini." Ucap Kelly.
"Bagaimana Vivi, apa kau setuju?" tanya Arga pada putrinya.
"Vivi setuju, Papa." Jawab Vivi dengan suara pelan.
Arga dan Kelly tersenyum lebar mendengar jawaban Vivi.
Setelah selesai, Arga dan Vivi pun pulang.
"Kel, aku ingin berbicara denganmu." Ucap sang suami pada istri yang hendak tidur.
"Iya, sayang." Jawab sang istri.
"Kel, kau merencanakan perjodohan dengan Arga tanpa memberitahu diriku lebih dulu?" tanya Tama pada Kelly.
"Iya, kenapa? apa itu salah?" tanya Kelly tanpa merasa bersalah.
"Astaga, ternyata kau tidak menghargai diriku sebagai suami." Jawab Tama sambil menekan kata itu sehingga membuat Kelly terbungkam.
***
Saat Vivi dan Arga di tengah perjalanan pulang.
"Sayang, yakin akan menikah dengan Edward?" tanya Arga pada putrinya.
"Kenapa tidak, Ayah? aku menyukainya dan juga sebagian hartanya bisa jatuh di tanganku nanti." Jawab Vivi dengan penuh percaya diri.
Mereka pun tersenyum licik.
"Ayah, suka dengan hal ini. Kita harus berhati-hati dan jangan sampai mereka tahu rencana ini." Ucap Arga.
"Iya. Ayah tenang saja, aku kan mengaturnya dan membuat Edward tergila-gila padaku. Dan setelah itu, aku akan membuatnya mengganti nama pemilik perusahaan jadi milikku." Jawab Vivi sambil memeluk lengan Ayahnya.
Mereka berdua telah memiliki rencana licik, untuk keluarga Tama. Namun, Mereka belum menyadari hal itu.
***
Pagi hari...
Kamis, pkl.08.20 waktu setempat.
Rey menghubungi kakaknya kembali, kali ini Rey telah mengirim foto wanita sang kakak.
"Bagaimana kakak? wanitamu sangat cantik, bukan?" tanya Rey pada Edward.
"Dia selalu cantik sejak dulu. Dan aku sangat menyukainya." Jawab Edward sambil terus memandangi foto wanitanya.
"Baiklah, kau memang sedang jatuh cinta. Aku tutup dulu sambungannya, wanitamu berjalan ke arah mejaku." Kata Rey lalu matikan sambungannya dengan Edward.
"Permisi, kakak." Sapa Stella pada Rey.
"Pagi juga." Balas Rey dengan senyuman.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Stella pada Rey.
"Silahkan, Nona. Saat ini pun kau sedang bertanya padaku." Jawab Rey santai.
Stella mengangguk dan terkekeh kecil.
"Begini, maaf sebelumnya. Apa kau tidak memiliki pekerjaan? aku bisa membantumu untuk bekerja disini." Tawar Stella pada Rey.
Rey hanya terkekeh.
"Maaf, Nona. Saya sudah memiliki pekerjaan. Jadi saya rasa cukup begini." Jawab Rey.
"Benarkah? tapi kau menghabiskan waktu setiap hari di sini. Bagaimana kau bekerja?" tanya Stella bingung.
"Ya begini lah pekerjaanku, Nona. menghabiskan waktu untuk menunggu seseorang hehe." Jawab Rey sambil tertawa kecil.
"Begitu ya?" Stella.
"Iya. Maaf jika aku di sini membuatmu tak nyaman, Nona." Ucap Rey lembut.
"Tidak. Hanya saja aku bingung, kenapa kau bisa menghabiskan waktu untuk di sini, itu saja." Jawab Stella.
"Tak apa, Nona. Aku memang sedang menjalankan pekerjaan ku." Balas Rey pada Stella.
Stella bingung dengan jawab Rey, namun ia tak ingin lagi bertanya. Karena
menurutnya, tak baik untuk terus menerus menggali kehidupan seseorang.
Lalu Stella, kembali bekerja.
Namun terdengar kekehan di telinga Rey.
Dia tidak sadar jika sambungannya dengan Edward belum terputus.
"Sial. Sejak kapan kau mendengar pembicaraanku dengan wanitamu?" tanya Rey pada Edward.
"Sejak tadi. Aku sangat menyukainya. Apa lagi saat menawarkanmu pekerjaan." Ledek sang kakak.
"Diamlah, atau aku akan berhenti mengawasi wanitamu." Jawab Rey dengan Ancaman.
"Jadi kau tak ingin bonus dariku?" rayu Edward lagi pada adiknya.
"Baiklah, aku akan mengawasinya sampai kau pulang." Jawab Rey lalu memutus panggilannya.
Di seberang negara sana, Edward tertawa saat menggodai sang adik.
"Kau terlihat bahagia, Ed. Ada apa?" tanya paman Rio penasaran.
"Tidak ada, Paman. Aku hanya suka menjahili Rey." Jawab Edward.
"Jangan kau buat dia menangis seperti dulu."Ucap sang paman.
"Dia tidak suka aku menyebutnya adik kecil." Jawab Edward dengan lelehan kecil.
Paman Rio Hanya menggelengkan kepalanya.
***
Tama masih tidak ingin berbicara dengan Kelly.
"Sayang, kau masih marah padaku?" tanya Kelly pada Tama yang sedari tadi hanya diam menyantap sarapan paginya.
"Maaf, aku minta maaf. Bukan itu maksudku, tapi tolonglah. Jangan kau mendiamkan aku." Ucap Kelly.
Tama hanya menghela napas.
"Aku hanya tidak suka, kau merencanakan perjodohan tanpa diriku. Aku tahu, aku hanyalah orang ketiga yang datang dalam kehidupanmu dan juga Arga." Ucap Tama.
"Apa yang kau bicarakan? kami ini hanya berteman sejak kecil, tidak lebih." Balas Kelly
"Baiklah, terserah padamu. Aku sudah kenyang." Ucap Tama berdiri lalu pergi dari hadapan Kelly.
Kelly pun berdiri dan mengejar Tama.
"Ayah, maafkan ibu. Tolong jangan begini." Pinta Kelly sambil memegang lengan suaminya.
Tama melihat buliran air mata Kelly akan berjatuhan, lalu Tama memeluknya.
"Aku tak suka melihatmu menangis, jangan kau buat senjata itu padaku. Aku minta maaf, tapi tidak seharusnya kau merencanakan perjodohan tanpa diriku. Apa kau mengerti?" tanya Tama pada Kelly.
Kelly pun menganggukkan kepalanya dan berjanji, hanya sekali ini saja. Yang sudah ia biarkan menjadi angin lalu.
***
Vivi yang sedang berkutat dengan alat dapurnya, sang ayah pun menghampiri dirinya.
"Vivi, kau sedang apa?" tanya Arga pada Vivi.
"Aku akan membuat red velvet untuk calon ibu mertuaku." Jawab Vivi dengan senyuman.
"Wah ... Anak ayah sudah punya calon mertua." Ledek sang ayah.
"Ayah, jangan menggodaku. Sebentar lagi, kita akan menjadi bagian dari mereka dan kita bisa membeli apa saja yang kita mau, benar bukan?" ucap Vivi dengan percaya dirinya.
Sang ayah pun tersenyum melihat anaknya bahagia.
***
Edward terlihat gelisah pagi ini, karena ia akan bertemu dengan kolega barunya. Edward menjadi perwakilan dari sang ayah karena sang ayah sudah terlalu sibuk dengan perusahaan utamanya.
"Selamat pagi, Pak Dony." Sapa Edward pada Dony.
"Selamat pagi juga, pak Edward." Balas Dony pada Edward.
"Aku pikir, kau sudah seumuran denganku. Ternyata kau masih sangat muda." Ucap Dony dengan senyuman.
"Aku mewakili ayahku, karena dirinya sudah terlalu sibuk. Jadi aku tak ingin menambahkan beban pikiran untuknya." Balas Edward juga dengan senyuman.
"Sebenarnya aku pun begitu, putriku yang harus datang. Tapi ... " Ucapan Dony terhenti saat itu.
Edward mengerutkan keningnya, ia merasa tak enak saat raut wajah koleganya berubah menjadi sedih.
"Tak apa, pak Dony. Tak perlu kau ingat jika itu menyedihkan." Ucap Edward menenangkan.
Dony hanya menganggukkan kepalanya. Ia sangat menerima saran dari Edward, memang sangat menyedihkan baginya untuk mengingat putrinya itu yang entah berada dimana.
Lalu mereka berbincang mengenai kerjasama mereka di dunia fashion untuk para dan wanita di semua kalangan.
***
Saat malam pun tiba, Stella hendak pulang. Namun lagi-lagi, Johan menahannya. Akan tetapi untuk kali ini Stella menolaknya.
"Stella, biar aku antar kau pulang." Ucap Johan sambil memegang lengan Stella.
"Maaf. Aku menolak untuk kali ini, Jo. Ada tempat yang harus aku kunjungi. Permisi, Jo." Jelas Stella pada Johan lalu pergi meninggalkannya.
Dari kejauhan, Rey menertawakan hal itu.
"Kau pikir kau itu siapa? kau bahkan tidak tampan seperti kakakku, hidungmu sangat kecil. Badanmu pun sangat pendek." Ucap Rey tertawa sambil mengejek Johan tanpa dia tahu.
Lalu Johan berbalik badan dan melihat Rey sedang tertawa. Johan pun menghampirinya.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Johan pada Rey.
"Aku sedang berbincang dengan kekasihku, ada apa kakak?" Ucap Rey pada Johan.
"Tidak ada. Mungkin aku salah melihat." Balas Johan sambil berlalu masuk ke dalam cafenya.
Lagi-lagi, Rey tertawa setelah mendapatkan pertanyaan itu dari Johan.
Ternyata dia menyadari jika sejak tadi, Rey telah menertawakan dirinya. Lalu Johan pun pergi membuntuti Stella setelah ia sudah mulai sedikit menjauh dari area cafe tempat Stella bekerja dan kemudian ia pun pulang kerumahnya.
.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
Bersambung..
