Bab 3 Kekecewaan Dony
Bab 3 Kekecewaan Dony
Melia berusaha mendekati Dony yang baru saja pulang dari kantornya.
"Don, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Aku tahu, kau pasti sangat lelah." Tanya Melia lembut pada sang suami dan membantunya melepaskan jasnya.
"Kau tidak perlu begini, aku bisa sendiri." Jawab Dony masih terlihat kekecewaan di wajahnya, beruntung Dony tidak menceraikan istrinya itu. Karena dalam hatinya, ia masih mencintai Melia dan berharap putri mereka kembali.
"Maafkan aku, aku berjanji padamu untuk membawanya kembali pada kita. Kali ini saja kau terima perhatianku untukmu, Pa." Ucap sangat lembut pada suaminya.
Dony menatap sendu wajah sang istri, dalam hati ia sangat menyesal berbuat kasar terhadap Melia. Tapi semua itu ia lakukan karena ia sangat kecewa dengan tingkah laku Melia. Terukir kesedihan di wajah sang istri, ia sangat menyesal karena sebenarnya ia menambah beban dalam hidupnya. Melia sudha menyesal dengan kecerobohannya dan dirinya menambah beban karena kecewa dengan Melia.
"Baiklah, kau terlihat lelah. Sebaiknya kau beristirahat, Melia." Jawab Dony sambil berlalu menuju kamar mandi.
Melia tersenyum senang saat mendengar ucapan Dony dengan lembut. Ada sedikit harapan untuk dirinya memperbaiki segala kesalahan yang telah ia perbuat.
"Aku berjanji, aku akan kembalikan senyuman di keluarga kita." Ucap Melia pada dirinya sendiri.
***
Tama dan istrinya tengah bersiap untuk tidur, sebelum itu mereka sedikit berbincang mengenai putranya.
"Ayah, apa kau setuju jika aku menjodohkan Edward dengan Vivi anak Arga, sahabatku?" tanya Kelly pada sang suami.
"Sayang, apa aku tidak salah dengar? kau ingin menjodohkannya dengan Vivi?" tanya Tama memastikan ucapan istrinya.
"Aku tidak bercanda, aku menyukai Vivi. Dia gadis yang baik, juga cantik. Dia sangat sopan, aku ingin dia menjadi menantu kita." Ucap Kelly dengan senyuman penuh harap pada putranya itu.
Tama tersenyum tipis.
"Apa dia akan setuju? apa itu baik? aku tidak ingin menekan pada anak-anak." Ucap Tama.
"Tidak, aku yakin. Edward akan bahagia dengan Vivi." Jawab Kelly lagi.
Tama menghela napas berat.
"Aku yakin, Edward akan menolaknya." Batin Tama.
"Kau setuju kan, sayang? aku sangat berharap dengan ini semua menjadi kenyataan." Ucap Kelly lagi.
"Terserah padamu. Tetapi jika Edward menolak ku tidak akan ikut campur, aku serahkan semuanya pada Edward." Jawab Tama.
"Aku yakin, Edward akan setuju. Apa lagi Vivi itu sangat manis, sangat cantik." Jawab Kelly sambil tersenyum.
"Ya sudahlah, ayo kita tidur. Aku sudah mengantuk." Kata sang suami.
Kelly pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka tertidur.
***
Edward yang sedang memandangi foto wanitanya itu terlihat gelisah, karena sudah tak sabar untuk segera bertemu dengannya.
"Paman, aku benar-benar sangat merindukan dirinya. Wanitaku ... " Ucap Edward pada paman Rio sambil memandangi foto wanitanya.
"Iya, aku tahu. Semua itu sudah jelas terlihat dari wajahmu. Kita bisa mempercepat pekerjaan ini." Jawab sang paman membuangnya sedikit girang.
"Benarkah paman? aku akan mempercepat pekerjaan kita." Jawab Edward semangat.
"Hanya berkurang dua hari." Jawab paman Rio singkat.
"Sial, aku pikir berkurang seminggu." Jawab Edward kesal.
Sang paman hanya terkekeh.
"Sudahlah, tak apa. Daripada waktunya full, berkurang dua hari lebih baik daripada tidak sama sekali." Ucap sang paman membuatnya ia mengangguk pasrah.
"Aku hanya takut, lelaki lain akan mendapatkan dirinya lebih dulu dariku." Ucap Edward dengan wajah lesu.
"Percaya saja pada takdir. Jika dia itu takdirmu, dia pasti akan menjadi milikmu seutuhnya." Jawab sang paman meyakinkan Edward lagi.
Edward menganggukkan kepalanya.
"Kau benar, Paman. Aku yakin takdir.akan berpihak padaku dan dirinya untuk bersama." Kata Edward dengan penuh keyakinan.
Paman Rio tersenyum dan bangga melihat anak asuhnya sangat bersemangat untuk meraih yang ia inginkan. Ia sangat tahu, perjuangan Edward dari awal hingga saat ini.
***
Stella, sedang berusaha memejamkan matanya. Namun, sepintas wajah anak laki-laki itu kembali datang.
"Kenapa dia selalu datang? apa mungkin dia anakku? tapi aku belum pernah menikah."
Ucap Stella pada dirinya sendiri.
"Susah sekali untuk tidur, dia selalu datang. Dia mengatakan jika dia menyukaiku. Ingatanku benar-benar kacau." Tambahnya.
Lalu ponselnya berdering, Stella mengambil ponselnya dan ia terkejut melihat nama Johan yang tertera pada layar ponselnya.
Dengan malas Stella menjawab panggilan tersebut.
"Iya, ada apa Jo?" tanya Stella dengan malas.
"Kau belum tidur, Stella?" tanya balik Johan pada Stella.
"Iya, aku belum mengantuk." Jawab Stella singkat.
"Baiklah, aku akan menemani dirimu sampai tertidur. Tidak ada penolakan, Stel." Ucap Edward pada Stela.
Stella hanya menjawab dengan gumaman.
"Stella, aku ingin bertanya sesuatu yang penting padamu. Bolehkah?" tanya Johan meminta izin pada Stella.
"Kau ingin bertanya sesuatu yang penting tentang apa, Jo?" tanya Stella balik pada Johan.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Johan membuat Stella terdiam sejenak.
"Belum, ada apa kau menanyakan hal itu?" tanya Stella lagi.
"Tidak. Hanya saja, berarti aku memiliki harapan padamu." Jawab Johan dengan senyum lebar.
"Oh.." Stella.
"Johan, maaf. Sepertinya aku sudah mengantuk. Bolehkah aku tidur?" tanya Stella pada Johan.
"Baiklah, kau istirahatlah. Aku akan menjemputmu besok pagi, Stel." Ucap Johan pada Stella.
"Tidak perlu, Jo. Aku akan berangkat sendiri. Malam, Jo." Jawab Stella lalu mematikan sambungannya dengan Johan.
"Apa maksud ucapannya? dia menyimpan harapan padaku? dia sangat baik tetapi sayangnya, aku tak menaruh hati padanya. Maafkan aku, Jo." Ucap Stella lalu memejamkan matanya.
***
Hari pun berganti..
Kini, Vivi gadis yang akan di jodohkan dengan Edward telah sampai dirumah keluarga Gautama Golden.
"Kau manis sekali, Vivi. Aku sangat menyukaimu." Ucap Kelly pada Vivi yang saat ini sedang tersenyum malu.
"Tante tidak perlu memujiku berlebihan seperti itu. Aku jadi malu," kata Vivi dengan malu-malu.
"Kau lucu sekali, Vivi. Apa kau sudah makan?" tanya Kelly pada Vivi lagi.
"Sudah Tante. Oh ya ... kenapa rumahnya sepi sekali, Tante? tanya Vivi pada Kelly dengan mata yang seperti sedang mencari seseorang.
"Kau pasti mencari Edward, bukan?" gurau Kelly pada Vivi.
Vivi pun menunduk malu.
"B-bukan, Tante." Jawab Vivi gugup
"Tak apa, Vivi. Rumah ini memang sedang sepi, om Tama sedang di kantor, Rey sedang di apartemennya dan Edward belum pulang dari negara seberang." Jelas Kelly pada Vivi.
Vivi menganggukkan kepalanya.
"Kau sudah tak sabar bertemu dengan Edward?" tanya Kelly pada Vivi.
Vivi hanya tersenyum malu.
"Tenang saja, dia akan segera kembali. Dia sedang menyelesaikan pekerjaannya disana." Jawab Kelly sambil mengelus tangan Vivi.
"Tante ke atas dulu ya, mau ambil dress untuk kamu." Ucap Kelly.
Vivi menganggukkan kepalanya dan tersenyum kembali.
Setelah Kelly tak terlihat di hadapan Vivi, ia pun tersenyum licik.
"Aku tidak hanya menyukai Edward, tetapi juga menyukai harta kekayaan keluarga Golden." Ucap Vivi dengan senyuman liciknya.
***
Pagi ini Rey lebih cepat menghubungi sang kakak.
"Kakak, kau cepatlah pulang. Lelaki itu sudah berani mengantar jemput wanitamu, tadi pagi aku melihatnya." Kata Rey pada sang kakak.
"Apa? kau tidak salah lihat?" tanya Edward dengan geraman.
"Mataku masih sangat bagus, jadi aku tidak salah lihat. Dan aku juga sudah berada di cafenya." Jawab Rey dengan menyeruput secangkir cokelat hangatnya.
Edward memutuskan sambungan dengan sang adik.
Brakkk
Edward membanting ponselnya ke meja.
Hal itu membuat kaget sang paman.
"Kau sudah tak membutuhkan ponsel.ini, Ed?" tanya sang paman mengambil ponsel Edward.
"Diamlah, Paman. Aku sedang kesal, wanitaku di dekati oleh atasannya. Aku sangat benci dengan hal ini." Ucap Edward penuh kekesalan.
"Baiklah, sebaiknya kita harus gerak cepat. Aku takut jika wanitamu jatuh kedalam pelukan laki-laki itu." Jawab sang paman.
"Jangan kau tambahkan rasa kesal ku, Paman." Ucap Edward.
"Aku hanya mengajakmu untuk bersemangat, semakin bersemangat semakin cepat selesai pekerjaan kita disini. Dan kita bisa kembali dalam waktu yang cepat." Jelas paman Rio.
"Ya. Kau benar juga, Paman. Ayo kita kembali bekerja." Jawab Edward.
***
Stella terus menerus melihat ke arah Rey. Karena ia baru sadar jika Rey berada di cafe tempat ia bekerja setiap harinya. Hanya membuang waktu,menurutnya.
"El, kenapa laki-laki itu berada di sini setiap hari?" tanya Stella pada Eli.
Eli hanya memutar bola mata malas. Seolah-olah malas untuk menanggapi ucapan Stella.
"Begini ya, Stella. Ini tempat umum, jadi bebas untuk siapa saja yang datang kemari setiap waktu, bukan?" tanya Eli menjelaskan kepada Stella.
Stella pun menganggukkan kepalanya dan berpikir bahwa, ada benarnya yang dikatakan Eli. Cafe itu adalah tempat umum, siapa saja bisa datang di setiap waktu. Dan rasa curiga Stella pun menghilang.
.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
.
bersambung
