Bab 2 Keluarga Harmonis Tama dan Kelly
Bab 2 Keluarga Harmonis Tama dan Kelly
Kelly menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan untuk Rey yang akan berangkat ke kantor, Kelly menyiapkan sarapan pagi dengan penuh cinta untuk keluarganya.
"Pagi, sayang." Sapa Tama pada istrinya, Kelly.
"Pagi juga, sayang. Kau sudah rapi ternyata." balas Kelly dengan senyuman manisnya.
"Kau cantik sekali dan akan selalu cantik, sayang." Puji sang suami pada istrinya.
"Kau tak bosan mengatakan hal itu padaku, Tama?" tanya Kelly pada Tama.
"Tidak, karena setiap hari rasa cintaku semakin dalam padamu dan juga kau semakin cantik." Gombalnya lagi.
"Sudahlah, kalian sudah cukup bermesraan di hadapanku. Jangan kalian pikir, aku ini patung." Ucap Rey dengan sangat kesal pada kedua orangtuanya.
Tama dan Kelly tertawa lepas menyadari hal itu. Karena sejak tadi mereka tak sadar jika telah ada Rey di dekat mereka.
"Kau sudah dewasa, jadi cepatlah mencari pasangan." Ucap sang ibu padanya.
"Aku ingin kakak yang menikah dulu, aku gampang saja nanti. Tidak ingin gegabah mencari wanita yang akan menjadi milikku selamanya." Ucap Rey pada kedua orangtuanya.
"Ternyata kau sudah dewasa ya? mau ayah carikan?" tanya sang ayah padanya.
"Tidak perlu. Aku tak ingin ada campur tangan selain tanganku sendiri untuk mencapai masa depanku." Jawab Rey dengan ketus.
Lagi-lagi kedua orangtuanya tertawa mendengar ucapan Rey.
Anak kecil mereka telah dewasa sekarang.
"Baiklah. Jika kau gagal, ibu akan mencarikan wanita untukmu dan juga untuk kakakmu, ibu sudah mempunyai gadis cantik untuk dirinya." Kata sang ibu pada Rey.
Lalu Rey tersedak mendengar ucapan sang ibu dan sang ayah pun menyodorkan segelas air minum untuknya.
"Pelan-pelan saja, kau tidak perlu dengarkan itu. Ibu hanya bercanda." kata sang ayah.
Rey lalu meneguk air minumnya dan bernapas lega setelah mendengar ucapan sang ayah.
"Ibu, jangan kau bercanda seperti itu. Aku sangat takut jika kau yang mencarikannya untuk kami." Ucap Rey dengan lesu.
"Memangnya kenapa kalau ibu yang mencarikan untuk kalian? bukankah itu bagus?" tanya ibu pada Rey.
"Tidak Bu, bukan begitu. Hanya saja takut kalau nanti tidak cocok." Jawab Rey.
"Begitu ya ... " balas ibu dengan suara kecil.
Lalu mereka kembali melanjutkan sarapan paginya. Setelah itu, Rey dan Ayah berpamitan untuk berangkat bekerja.
"Ayah berangkat kantor dulu ya, Bu. Ibu jangan kemana-mana kalau tidak ada keperluan yang penting." Kata ayah pada istrinya.
"Iya, Ayah hati-hati ya? nanti siang mau di antarkan bekal atau ayah pulang?" tanya sang istri sambil merapikan jas suaminya.
"Nanti ayah hubungi lagi, ayah berangkat dulu ya, Bu." Pamit ayah sambil mencium kening sang istri.
Lalu bergantian dengan Rey yang berpamitan.
"Rey juga berangkat dulu, Bu. Ibu hati-hati di rumah, istirahat yang cukup." Kata Rey sambil mengingatkan sang ibu.
"Iya, kalau pulang jangan lupa bawakan menantu untuk ibu." Jawab ibunya dengan kekehan kecil.
Rey tak menggubris perkataan sang ibu lalu ia pergi dengan perasaan sedikit kesal karena candaan orangtuanya.
***
Di lain tempat, Melia sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
Lalu terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, Melia dengan cepat menghampiri suaminya.
"Don, kau mau sarapan? aku sudah menyiapkannya untukmu." Kata Melia dengan seuntai senyuman manis di bibirnya namun tiba-tiba senyumannya itu hilang dan raut wajahnya berubah sedih seketika.
"Kau tak perlu memberikan perhatian untukku. Karena kecerobohan mu itu, aku jadi sangat kacau. Aku memang menyayangimu, tapi itu dulu. Tidak dengan sekarang." Jawab Dony dengan sinis pada Melia, istrinya.
Kemudian Dony pergi begitu saja dari hadapan Melia, tanpa memperdulikan Melia yang kini wajahnya basah oleh air mata.
Melia sangat menyesal, karena kebodohannya ia kehilangan orang yang sangat mereka sayang.
Ia kalah dengan emosi.
"Aku minta maaf, Don." Ucap Melia sambil terus terisak.
"Sayang, maafkan mama. Kemana lagi mama harus mencarimu, dua belas tahun lalu kau pergi. Pergi karena kecerobohan mama. Mama minta maaf, sayang." Kata Melia sambil memandangi foto putri kecilnya yang hilang karena kecerobohannya.
Melia sangat menyesali perbuatannya, namun semua tak bisa mengembalikan keadaan ke dua belas tahun lalu. Ia ingin sekali bertemu dengan putri semata wayangnya, ingin bersimbah dan memohon maaf padanya.
"Mama janji, mama akan menemukanmu dan menebus semua kesalahan mama. Mama mencintaimu, mama menyesal." Ucap Melia.
***
Johan terus memandangi wajah manis Stella, Stella benar-benar bisa membuat laki-laki manapun tertarik karena parasnya yang cantik dan juga sangat indah untuk di pandang, Stella si gadis berambut pirang. Meskipun usianya sudah memasuki kepala tiga namun ia masih terlihat sangat muda dan sangat menarik perhatian pria dari kalangan muda dan juga tua.
"Stella, kau tidak sadar jika Johan telah memandangku sejak tadi?" tanya Eli pada Stella.
"Aku sadar, El. Hanya saja aku tak peduli dengan hal itu. Aku tak ingin kerjaku terbengkalai karenanya." Jawab Stella pada Eli.
"Dia menyukaimu, kenapa kau tak meresponnya?" tanya Eli lagi.
"Tidak. Aku tidak menyukainya, karena aku menyukai anak kecil itu." Jawab Stella singkat.
"Astaga, kau masih menganggapnya ada? dia anak kecil dan bahkan itu hanya ada di mimpimu, Stel. Jangan bodoh hanya karena mimpi." Ucap Eli pada Stella.
Stella menghela napas panjang.
"Aku merasa jika itu adalah nyata, El. Entah kenapa, hatiku terasa berbeda ketika aku mengingat anak itu." jawab Stella.
Eli hanya menganggukkan kepalanya.
"Tak apa, Stel. Semoga kau tidak terobsesi dengan mimpimu. Apapun keputusanmu aku mendukungmu asal itu nyata." Kata Eli.
"Iya, aku tidak gila. Aku hanya merasa seperti nyata, begitu saja. Tidak lebih, El." Jelas Stella pada Eli, sahabatnya.
"Baiklah, ayo kita makan siang. Kau belum makan pagi, aku ya ingin kau menghubungi ku tengah malam seperti waktu lalu karena kelaparan." Sindir Eli.
Stella hanya tertawa saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
Di sisi lain, Johan tersenyum melihat wanita yang ia sukai tertawa lepas, jelas terukir kebahagiaan di wajahnya.
"Sangat cantik, aku sangat menyukainya." Ucap Johan.
Di meja sudut paling belakang, Rey tersenyum dengan sinis.
"Jangan harap kau akan mendapatkan wanita kakakku. Kau akan tertinggal jauh dibelakang jika dia telah kembali." Ucap Rey sambil memandang tak suka dengan Johan.
Lalu Stella menghampiri mejanya.
"Permisi kak, aku akan mengantarkan minuman tambahan milikmu." Ucap Stella sambil menyodorkan segelas ice blue ocean untuk Rey.
Rey terdiam menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Kau tidak salah pilih, kakak. Wanitamu sangat cantik. Jika aku jadi pemilik cafe ini, aku akan melamarnya lebih dulu di banding dirimu." Batin Rey.
Rey terkekeh dengan ucapan dalam hatinya dan hal itu membuat Stella bingung.
"Apa ada hal yang lucu, dengan saya kak?" tanya Stella pada Rey.
"Oh tidak, maaf. Saya hanya teringat dengan kakak saya." Jawab Rey lembut.
Stella menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Baiklah, permisi kak." Ucap Stella sambil berpamitan untuk pergi.
Rey hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu menghubungi Edward.
"Hei ... sedang apa kau, kak?" tanya Rey pada Edward.
"Menurutmu?" tanya balik sang kakak.
"Kau menyebalkan sekali. Aku bertanya padamu, kenapa kau balik bertanya padaku bukannya menjawab?" jawab Rey kesal.
"Baiklah, aku sedang bekerja dan sangat sibuk. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" jelas Edward.
"Kau membutuhkan diriku seolah-olah kau tak butuh." Ucap Rey.
Edward hanya terkekeh mendengar ucapan Rey.
"Baiklah, adik kecil. Ada informasi apa untuk hari ini?" tanya Edward lembut pada sang adik.
Rey menghela napas berat.
"Untung aku sangat sabar, jika tidak akan aku nikahi lebih dulu wanitamu itu." Celoteh Rey.
"Hei ... berani kau menyentuhnya, akan aku hajar kau." Jawab Edward tak terima.
"Baiklah, aku hanya bercanda. Dan apa kau tahu kakak, mejaku baru saja di datangi olehnya. Ternyata dia sangat cantik, terlihat seumuran denganku." Ucap Rey membuat sang kakak tersenyum.
"Benarkah? aku sangat merindukannya. Tolong kau awasi saja tingkah laku atasannya. Jangan sampai dia menyentuh wanitaku." Ucap Edward.
"Wanitaku, wanitaku. Terserah padamu, aku hanya ingin kau pulang dan aku juga harus mencari wanitaku." Jawab sang adik.
"Baiklah, adik kecil. Kau bersabarlah sebentar lagi." Ucap sang kakak memenangkan adiknya.
"Aku bukanlah adik kecil, aku sudah dewasa." Jawab Rey dengan ketus.
"Bagiku kau tetaplah adik kecil, untukku." Jawab Edward membalikkan perkataan Rey.
"Ya, terserah padamu." Jawab Rey ketua lalu mematikan sambungannya pada sang kakak.
"Sangat menyebalkan, aku pun juga harus mencari masa depanku. Bukan untuk melihat masa depanmu, saja." Ucap Rey.
.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
.
bersambung
