Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 Mimpi yang Menghantui Stella

Bab 1 Mimpi yang Menghantui Stella

Stella tersentak kembali saat tidur, lagi-lagi seorang anak kecil bergender laki-laki yang tidak ia kenal muncul dalam mimpinya. Dia benar-benar merasa terganggu dengan hal itu karena wajahnya terlihat samar.

"Siapa anak lelaki itu? kenapa aku tak mengenalnya? aku benar-benar tak tahu maksud dengan semua ini."

Stella mencoba mengingat kembali wajah anak kecil bergender laki-laki itu, ia teringat seuntai senyuman yang anak itu berikan padanya. Namun, tetap saja ia tak kenal dengan anak itu.

Lalu Stella berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya. Dan ia kembali menjalankan tugasnya sebagai pelayan di sebuah cafe milik keluarga Johan Archer temannya.

Sesampainya di cafe, sudah terlihat Johan berada di dalam ruang pribadinya. Terlihat Johan melemparkan senyuman pada Stella, Stella pun membalas senyuman Johan.

Lalu Johan berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dan menghampiri Stella yang sedang membersihkan sisa-sisa debu yang ada di meja cafe miliknya.

"Pagi, Stel.."

"Pagi juga, Jo."

Johan lalu duduk di depan Stella dan terus memandangi wajah Stella.

"Jangan terus menerus memandangku, Jo. Aku bisa tak fokus bekerja."

ucap Stella menegur Johan.

Jujur, Stella sangat risih dengan Johan yang semakin hari semakin mendekatinya.

"Kenapa? apa ada yang salah? aku ingin menikmati wajah manis mu, Stel.."

Stella menghela napas panjang dan ia tak menggubris yang dilakukan Johan.

"Kau sudah sarapan, Stel?" tanya Johan pada Stella

"Sudah, aku sudah sarapan di kedai kecil dekat

tempat tinggal ku." jawab Stella yang berusaha menghindar dari Johan.

Johan menganggukkan kepalanya, tampak kecewa dari raut wajahnya. Sepertinya ia berharap akan makan sarapannya dengan Stella, namun Stella lebih dulu menolaknya.

"Ya sudah, aku kembali ke ruangan ku. Kau bekerjalah dengan baik, nanti aku yang akan mengantarkan mu pulang." ucap Johan sambil berlalu dari hadapan Stella.

Lagi-lagi Stella menghela napas panjang, ia sangat tak enak dengan yang lain karena ia takut mereka menganggap jika dirinya di perlakukan berbeda dari karyawan lainnya.

"Sangat menyebalkan." Gumam Stella.

****

Rey menghubungi seseorang yang berada di seberang kota sana, seseorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.

"Kakak, apa kau mendengarku?" tanya Rey pada kakaknya.

"Aku tidak tuli, kau berbicaralah seperlumu." Jawab kakaknya singkat.

"Kakak, kapan kau kembali? aku sudah lelah, cepatlah. Aku pun punya seseorang yang harus ku kejar, bukan terus menerus mengawasi kesayangan mu itu." kata Rey kesal.

"Kau sangat cerewet, kau ini lelaki bukan anak gadis." Ucap sang kakak pada Rey.

"Baiklah. Kakak, kau tak takut dirinya di rebut orang lain? jika kau terlambat datang, bisa-bisa kau terlambat." Ucap Rey yang membuat telinga dan hati sang kakak Panas.

"Diamlah, kau akan ku tenggelamkan jika terus menerus memanasiku." ketus sang kakak.

"Kau sangat kejam, demi dirinya kau tega menenggelamkan diriku?" tanya Rey padanya.

Sang kakak berdecak kesal, karena ia merasa terlalu membuang waktu untuk berdebat kecil dengan adiknya.

"Aku akan pulang secepatnya, kau bersabarlah. Sebentar lagi aku tak akan membuatmu menjadi kacung ku lagi." jawab sang kakak.

Lalu sang kakak mematikan sambungannya dan membuat Rey menggerutu dirinya.

"Sialan kau, kak Ed. Menyebalkan sekali, mentang-mentang kau jauh lebih tua dariku jadi kau seenaknya menyuruhku. Untung saja aku sabar."

****

Edward Golden,

ia terduduk dan menyandarkan bahunya di dinding sofa, memijat pelipisnya. Terlihat sangat frustasi, ia sangat takut jika miliknya di sentuh oleh orang lain.

"Kau sedang apa, Ed?" tanya paman Rio pada Edward.

"Paman, sampai kapan kita di sini? aku sudah tak sabar, aku takut ia di sentuh orang lain." Kata Edward lesu.

Paman Rio hanya tertawa saat mendengar Edward mengeluh.

"Kau menertawakan ku lagi?" tanya Edward kesal pada sang paman.

"Aku menertawakan mu karena aku baru sadar, jika kau benar-benar sudah dewasa." Kata paman Rio padanya.

Edward tersenyum tipis.

"Paman, kau belum menjawab pertanyaanku." kata Edward.

"Kau bersabarlah, sebentar lagi pekerjaan kita akan selesai dan kembali ke negara kita." Kata sang paman pada Edward.

Edward hanya menganggukkan kepalanya, menatap foto seorang wanita cantik, terukir senyuman di bibirnya.

Sang paman hanya tersenyum geli melihat anak asuhnya itu.

"Ayolah paman, jangan seperti itu. Kau tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, bukan?" kata Edward.

Lagi-lagi sang paman tertawa dengan ucapan Edward.

"Iya, aku tahu. Bahkan aku tahu rasanya di khianati." kata sang paman tersenyum tipis.

"Aku tak ingin kau mengungkit masa lalumu. Aku tak suka kau bersedih." Kata Edward padanya.

"Baiklah. Kau harus berjuang mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan sampai kau menyerah, apapun rintangannya, okay?" paman Rio.

Edward mengukir senyum di bibirnya dan menganggukkan kepalanya.

"Dia itu milikku dan akan tetap menjadi milikku." ucap Edward sambil tersenyum.

Paman Rio pun tersenyum mendengar ucapan Edward, ia sangat tahu perjuangan Edward sampai detik ini. Edward berjuang demi wanita yang dia inginkan dan paman Rio lah saksi kehidupanya.

Karena paman Rio adalah orang tua asuh dan kepercayaan orang tua Edward untuk mengawasinya sejak ia kecil.

****

Saat sore hari, Stella telah selesai merapikan barang-barang miliknya. Ia akan pulang dengan cepat, karena hari ini terasa sangat melelahkan baginya. Stella telah melangkahkan kakinya untuk keluar cafe itu lalu di tahan oleh Johan.

"Stel, ayo pulanglah denganku. Aku akan mengantarmu sampai depan gedung apartemen tempatmu tinggal," ucap Johan sambil memegang lengan Stella.

"Tidak, Jo. Terimakasih." Kata Stella sambil menyingkirkan tangan Johan dari lengannya.

"Ayolah, aku harus memastikan kau pulang dengan selamat." Rayu Johan dengan penuh harap.

Karena lelah, Stella terpaksa menerima permintaan Johan untuk mengantarnya pulang.

Stella pun masuk ke dalam mobil Johan, lalu mobil mereka melaju meninggalkan cafe milik Johan.

Rey berdiri menatap mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang.

Senyuman sinis terukir di bibirnya.

"Kau takkan bisa memilikinya, bung. Dia adalah kakak iparku. Di seberang sana, dia sedang berjuang untuknya."

Lalu Rey kembali menghubungi Edward.

"Ada apa lagi? kau benar-benar sangat menggangguku." Jawab Edward dengan kesal.

"Begitukah? jadi kau tidak butuh kabar tentang wanitaku itu? jika begitu, tutuplah teleponnya." Kata Rey.

"Baiklah, ada informasi apa lagi adik kecil?" tanya Edward padanya.

"Diamlah, jangan panggil aku seperti itu. Aku bukan anak kecil." Jawab Rey dengan kesal.

"Okay, jadi informasi apa lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Edward pada adiknya.

"Aku melihatnya di antar pulang oleh pemilik cafe. Kau tidak ingin cepat pulang?" Jelas Rey lalu bertanya pada Edward.

"Terus awasi lelaki itu, jangan sampai dia menyentuh wanitaku. Kau mengerti?" ucap Edward pada adiknya.

"Sayangnya, lelaki itu telah menyentuhnya." Jawab Rey santai.

"Kenapa kau tak menghajarnya? sial ... " kata Edward bertanya dengan kesal.

"Tak mungkin aku menghajarnya, bukan? mereka akan berpikir jika aku ini orang yang tidak punya etika. Bahkan wanita mu saja belum tentu mengingatmu, bagaimana denganku?" jelas Rey.

Edward terbungkam setelah mendengar ucapan adiknya, ada benarnya yang Rey katakan. Karena sudah duabelas tahun lalu mereka bertemu, belum tentu Stella masih mengingatnya.

***

Setelah sampai di depan gedung apartemen Stella..

"Terimakasih, Jo. Kau sudah mengantarkan ku. Maaf sudah merepotkan dirimu." Ucap Stella.

"Tak apa, aku yang ingin mengantarmu. Kau masuklah dan istirahatlah, Stel." Jawab Johan lalu memberi perhatian penuh harap pada Stella.

Stella hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia berjalan masuk ke dalam gedung apartemennya setelah Johan melakukan mobilnya menjauh dari situ.

"Melelahkan sekali. Aku benar-benar butuh istirahat,"

"Johan sangat baik, tapi aku tak menyukainya. Entah kenapa, aku merasa aku seperti sedang jatuh cinta tapi tak tahu dengan siapa," kata Stella sambil merebahkan tubuhnya lalu menutup matanya karena tak tahan menahan rasa kantuk dan lelah yang melandanya.

"Aku menyukaimu, jangan pernah merasa sendiri. Apalagi sampai menangis, aku tak suka itu."

Lagi-lagi, bayangan anak itu datang menghampirinya kembali melalui mimpinya.

Stella mengusap wajahnya kasar lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Memikirkan siapa sebenarnya anak itu?

.

Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel