Bab 11 Menghindar Dari Ibu
Bab 11 Menghindar Dari Ibu
Kini Edward berada dirumah, setelah mengantarkan kekasihnya pulang.
Langkah kakinya terhenti saat sang ibu memanggilnya.
"Edward … " panggil ibu pada Edward.
Lalu Edward pun berhenti dan berbalik menatap sang ibu.
"Ya, Bu. Ada apa?" tanya Edward pada ibunya.
"Kau sengaja menghindar dari ibu?" tanya ibunya lagi pada Edward.
Edward hanya menghela napas.
"Jika ibu ingin membahas soal perjodohan, maaf aku tidak ada waktu untuk itu. Karena aku tidak bisa." Jelas Edward pada ibunya.
"Edward, Vivi ada disini. Dia sudah menunggumu sejak tadi." Kata Kelly pada putra pertamanya.
"Lalu apa hubungannya denganku, Ibu?" tanya Edward kembali.
"Dia calon istrimu, Edward." Kata ibunya memperjelas.
"Maaf, Bu. Calon istriku hanya ada satu dan dia bukanlah Vivi, gadis yang ibu pilihkan." Kata Edward kepada ibunya.
"Tega sekali kau, Edward." Kata ibunya pada Edward.
Edward hanya terkekeh pelan.
"Ibu, Aku tidak pernah meminta ibu untuk mencarikan seorang gadis untukku. Karena aku sendiri sudah memiliki seorang kekasih, yang sangat aku cintai sejak dulu." Kata Edward menjelaskan bahwa dirinya telah memiliki seorang kekasih.
Lalu Edward pergi meninggalkan sang ibu yang masih berdiri di dekat sofa.
Edward terus berjalan menuju kamarnya tanpa menggubris panggilan sang ibu.
Lalu muncullah Vivi di belakang Kelly.
"Benar bukan, dugaanku Tante. Edward akan menolak perjodohan ini." Ucap Vivi dengan wajah sendu.
"Oh sayang, itu tidak akan pernah terjadi. Tante bisa jamin itu." Ucap Kelly memeluk Vivi.
"Aku sangat sedih, jika Edward membatalkannya." Ucap Vivi lagi.
"Tante, akan mencari cara Edward menikahimu." Ucap Kelly menenangkan Vivi.
Tama hanya menghela napas yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
***
Keadaan Melia kini semakin buruk, ia tak boleh banyak bergerak. Jika ia banyak bergerak, kondisinya akan semakin drop.
"Melia, apa kau ingin makan malam?" tanya Dony pada istrinya.
"Tidak. Aku hanya ingin bertemu putri kita, aku ingin menebus kesalahanku padanya." Ucap Melia pelan.
"Kau harus bersabar. Aku sudah mengutus beberapa orang untuk mencarinya." Ucap Dony lagi.
"Aku takut, jika Tuhan akan memanggilku lebih dulu." Ucap Melia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tidak, Melia. Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka. Kita akan bertemu dengan putri kita nanti, jadi kau bersabarlah." Jawab Dony menenangkan Melia.
"Aku sangat takut, Dony." Kata Melia.
"Jangan takut, aku disini. Maafkan aku yang kemarin sempat tak peduli padamu." Ucap Dony pada Melia.
Melia menganggukkan kepalanya.
Ia sangat menyesal karena kecerobohannya, kini ia kesulitan untuk mencari sang putri.
***
Edward berjalan turun dari tangga.
Lalu, Vivi menyapanya.
"Edward, kau mau pergi kemana?" tanya Vivi dengan suara pelan pada Edward.
Edward menghela napas panjang.
"Aku akan pergi, ada apa?" tanya Edward dengan wajah datar.
"Bolehkah, aku ikut denganmu. Aku ingin pulang dan supirku tidak bisa menjemputku." Kata Vivi beralibi.
Lalu muncullah Kelly.
"Sudahlah, kau antarkan saja dia. Dia kan juga calon istrimu." Ucap Kelly tersenyum.
Edward berniat untuk menolak namun ia tak ingin membuang waktu untuk berdebat.
"Baiklah, aku akan mengantarnya." Kata Edward.
Vivi tersenyum lebar, begitu juga dengan Kelly.
Lalu Edward dan Vivi berada dalam satu mobil.
"Edward, terimakasih." Ucap Vivi.
"Ya." Jawab Edward singkat.
"Oh ya … Vivi, aku sengaja untuk mengantar dirimu pulang karena ada satu hal yang harus kau tahu. Aku menolak perjodohan kita." Ucap Edward pada Vivi.
"Kenapa, Edward? Apa aku tidak cantik?" tanya Vivi.
"Bukan. Kau cantik, tapi aku sudah memiliki kekasih. Aku sangat mencintainya." Jawab Edward.
"Aku tidak bisa,.Edward. Aku sudah terlanjur menyukaimu." Kata Vivi.
"Terserah padamu. Karena aku sudah mengatakan untuk menolak perjodohan kita." Jawab Edward ketus.
Vivi hanya terdiam.
"Kau turunlah, sudah sampai di depan rumahmu." Kata Edward menyuruh Vivi turun.
"Aku akan berusaha untuk memenangkan hatimu, Edward." Jawab Vivi lalu turun dari mobil Edward.
Edward tersenyum sinis.
"Kau takkan pernah bisa mengambil hatiku, karena hati ini sudah sepenuhnya milik Stella." Ucap Edward.
Lalu ia melajukan mobilnya pergi dari depan rumah Vivi.
***
Stella menunggu Edward, karena ia berjanji akan datang lagi dengan membawa makanan untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian bell apartemen berbunyi, Stella berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Ia membuka pintu dan melihat Edward sudah berada di sana. Ia membawa dua cangkingan yang berada di tangan kanan dan kirinya.
"Kau lama sekali, Edward." Kata Stella sembari mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan aku, sayang. Tadi ada gangguan kecil. Tapi tenang saja, aku sudah menyingkirkannya." Ucap Edward.
Lalu ia masuk membuntuti Stella.
Stella masih cemberut karena Edward telat datang.
"Kau menggemaskan sekali jika sedang marah. Ingin rasanya aku mencium bibirmu seperti tadi pagi." Goda Edward pada Stella.
"Edward." Ucap Stella sambil melorotkan matanya pada Edward.
Sedangkan dia hanya tertawa karena kekasihnya sedang kesal.
"Baiklah, aku minta maaf. Jangan kau marah padaku." Ucap Edward mengangkat tubuh Stella dan lalu memangkunya.
"Turunkan aku, Edward. Aku bukanlah anak kecil." Ucap Stella.
"Kau memang bukan anak kecil, tapi kau adalah wanita yang harus aku beri kasih sayang dan juga perhatian." Ucap Edward sembari merapikan rambut Stella yang sedikit berantakan.
"Kenapa kau sweet sekali, Edward? Siapa yang mengajarimu?" tanya Stella padanya.
"Paman Rio." Jawab Edward.
"Paman Rio? siapa dia?" tanya Stella lagi.
"Nanti akan ku kenalkan kau dengannya. Sekarang ayo, kita makanlah dulu." Ajak Edward pada Stella.
Stella pun mengiyakan ajakan Edward dan mereka memakan makan malam dengan tenang.
***
Vivi, ia mengadu segala ucapan Edward padanya ke sang ayah.
"Jadi Edward menolak perjodohan itu?" tanya Arga pada putrinya.
"Iya ayah, bagaimana caranya agar dia menjadi milikku. Aku ingin kita menjadi bagian dari mereka, yang memiliki kekayaan berlimpah." Kata Vivi.
"Ya, kau benar. Ayah akan mencari cara agar kalian tetap menikah." Kata Arga lagi.
"Terimakasih, ayah. Kau yang terbaik bagiku." Ucap Vivi tersenyum lebar.
"Edward mengatakan jika dirinya telah memiliki kekasih." tambahnya lagi.
"Kau tenang saja, Kelly takkan diam saja melihat gadis yang ada disamping putranya nanti. Kau harus pandai untuk terus mengambil perhatian Kelly. Dengan begitu kau akan mudah mendapatkan hati Edward." Ucap Arga pada Vivi.
Vivi dan Arga pun tersenyum licik. Mereka memiliki niat yang buruk pada keluarga Golden.
***
Johan meneguk minuman yang menurutnya dapat menghilangkan rasa stress sejenak. Ia sangat menyesal karena ia tak bisa mendapatkan Stella.
"Stella, aku menginginkanmu. Kenapa kau tega pergi, Stella." Ucap Johan sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kau menghindar dariku, siapa laki-laki yang membawamu pergi dariku." Kata Johan lagi.
Johan begitu kacau setelah kejadian tadi siang. Ada rasa menyesal karena telah membuat Stella ketakutan karena sikap dirinya.
Di sisi lain..
Stella sedang berbincang dengan Elly sahabatnya melalui sambungan ponsel.
"Stella, apa kau baik-baik saja?" tanya Elly dengan perasaan sangat khawatir.
"Aku baik aja, El. Hanya saja, aku tak menyangka, jika Johan akan berlalu seperti itu padaku.".Jawab Stella.
"Dan kenapa kau mengajukan surat pengunduran diri? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Elly lagi.
"Edward tak mengizinkanku untuk berdekatan dengan Johan." Jawab Stella.
"Siapa Edward? Apa dia kekasihmu?" tanya Elly penasaran.
"Iya. Dan ternyata dia anak laki-laki yang sering datang dalam mimpiku." Jawab stella lagi
"Benarkah? jadi semua itu nyata, Stella?" Elly.
"Iya, aku juga tidak tahu. Kenapa aku tak ingat dengan dirinya." Jawab Stella dengan kekehan kecil.
"Stella, aku sangat tidak percaya ini. Dan ternyata ini ada fakta." Ucap Elly.
"Aku sendiri pun kurang percaya tapi ini semua adalah kenyataan, Elly." Balas Stella.
"Semoga kau bahagia dengan Edward, Stella. Aku ingin kau ada seseorang yang menemanimu tidur setiap malam." Ucap Elly dengan tawa.
"Iya, terimakasih Elly. Kau adalah sahabat terbaikku." Jawab Stella.
"Sama-sama. Baiklah, ayo kita tidur. Hari sudah larut." Ucap Elly.
"Oke. Selamat malam dan selamat beristirahat, Elly." Balas Stella pada Elly, lalu memutuskan sambungan telepon mereka.
Lalu Stella berjalan memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya, sebelum melanjutkan untuk tidur.
.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
Bersambung...
