Bab 12 Membawa Stella kerumah
Bab 12 Membawa Stella kerumah
Masih sangat pagi, suara ponsel Stella berbunyi. Dan itu sangat mengganggu tidurnya.
Lalu Stella menjawab teleponnya dengan mata yang masih terpejam.
"Siapa?" tanya Stella dengan suara parau.
Orang yang meneleponnya hanya terkekeh mendengar suara itu.
"Edward?" panggil Stella
"Iya, sayang. Ini aku, kau baru bangun tidur?" tanya Edward padanya.
"Iya, dan kau mengganggu tidurku." Ucap Stella.
"Kau ingin tidur lagi?" tanya Edward lagi.
"Iya, aku masih mengantuk." Jawab Stella.
"Baiklah, nanti kau mau dibawakan apa untuk sarapan?" tanya Edward.
"Terserah kau saja, Edward. Aku akan memakan makanan apa saja yang kau bawakan." Jawab Stella.
Edward terkekeh lagi.
"Kau lanjutkan saja tidurmu, nanti aku akan membangunkan mu lagi." Ucap Edward.
Namun tak ada jawaban lagi dari Stella dan Edward pun terkekeh.
Dan ia pun mematikan teleponnya dengan Stella.
"Lucu sekali." Kata Edward.
"Siapa yang lucu?" tanya Rey yang baru masuk kedalam kamar Edward.
"Kau selalu saja ingin tahu." Ucap Edward.
"Terserah diriku lah." Ketus Rey.
"Kau darimana saja, kenapa baru terlihat sejak kemarin?" tajy Edward pada adiknya.
"Aku berada di tempat paman Rio, aku kasihan dengannya karena ia selalu sendiri." Ucap Rey.
Edward menganggukkan kepalanya.
"Nanti aku akan mengenalkan Stella pada paman Rio. Dan aku akan mengajaknya kesini." Kata Edward.
"Itu ide bagus, kakak. Jadi kau bisa menghindar dari perjodohan itu." Jawab Rey.
"Benar sekali, dan aku tidak suka dengan Vivi. Aku pernah melihatnya mesra dengan seorang laki-laki tapi aku tak peduli dengan itu." Ucap Rey.
"Mungkin saja itu kekasihnya." Lanjut Rey.
"Kemungkinan begitu, tapi biarkan saja. Aku tak peduli dengannya." Ucap Edward.
"Kemarin aku berkelahi dengan pemilik cafe itu." Ucap Edward.
"Oh ya? kenapa kau tak memberitahuku?" ucap Rey.
"Kau pikir aku ini tidak gentle?" tanya Edward sinis pada adiknya.
Rey hanya terkekeh.
"Kau berkelahi karena apa, kak?" tanya Rey penasaran.
"Johan menyentuh dan dia berbuat kasar pada Stella. Aku tak terima dengan itu dan aku meninju wajah jeleknya itu." Ucap Edward.
"Bukankah dia juga tampan, kakak?" Ucap Rey.
"Tidak. Dia berwajah jelek dan sudah ku tambahi kejelekan di wajahnya itu." Jawab Edward dengan senyum sinis.
Edward dan Rey pun tertawa setelahnya.
***
Kali ini kebahagiaan menyelimuti kehidupan Elly sahabat Stella.
Ia hamil dan hari ini ia akan mengajukan surat pengunduran diri dari tempat kerjanya.
Ia mendatangi Johan di ruang kerjanya.
"Permisi, Jo. Apa kau sibuk?" tanya Elly pada Johan.
"Tidak, kau masuklah." Jawab Johan dan menyuruh Elly masuk.
"Jo, maaf. Ini surat pengunduran diri dariku. Stuart menyuruhku untuk berhenti karena aku sedang hamil sekarang." Ucap Elly pada Johan.
Johan terdiam sejenak.
Lalu ia menerima surat pengunduran diri dari Elly.
"Baiklah, tak apa. Kau memang harus menjaga kesehatanmu dan dengan calon bayimu. Selamat atas kehamilanmu, Elly." Ucap Johan pada Elly.
"Terimakasih, Jo. Kalau begitu aku berpamitan untuk pulang. Terimakasih sekali lagi." Ucap Elly pada Johan.
Johan menganggukkan kepalanya dan Elly pun keluar dari ruang kerjanya.
Johan mengusap wajahnya kasar.
"Semakin banyak yang mengajukan surat pengunduran diri dari sini. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Johan.
***
Edward sudah masuk ke dalam apartemen kekasihnya itu.
Ia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Stella masih tertidur.
Lalu Edward ikut naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Stella.
Edward mengganggu tidurnya.
"Sayang, bangunlah. Aku membawakan sarapan pagi untuk kita." Ucap Edward lembut.
Stella hanya menggeliat kecil, merasa terusik kembali tidurnya.
"Aku akan mengangkat dan membawamu ke kamar mandi jika kau tak mau bangun." Ancam Edward.
"Dialah, Edward. Kasur ini terus melambai-lambai padaku dan dia menyuruhku untuk tidur terus." Kata Stella lalu memeluk tubuh Edward.
Edward hanya terkekeh lalu membalas pelukan Stella.
"Stella, kau mandilah. Aku akan membawamu ke rumah orang tuaku." Ucap Edward lalu mengecup pucuk kepala Stella.
Stella menaikkan pandangannya pada Edward.
"Kau akan memperkenalkanku pada orang tuamu?" tanya Stella.
"Iya. Jadi kau bangun dan mandilah, sayang. Jangan lupa kau untuk dandan yang cantik." Kata Edward lembut.
"Baiklah. Tunggu lima menit lagi." Ucap Stella menyembunyikan wajahnya di dada bidang Edward.
"Aku menyukai sifat manjamu ini, Stella." Ucap Edward.
"Benarkah?" tanya Stella lalu menatap Edward.
Edward menganggukkan kepalanya.
"Edward … " panggil Stella pada Edward.
"Hem … " jawab Edward hanya dengan gumaman.
"Aku takut jika nanti orang tuamu tak menyukaiku." Ucap Stella.
Edward terdiam sejenak.
"Tak usah takut. Jika mereka tak menyukai dirimu, aku akan tetap menyukaimu." Ucap Edward.
"Tapi,.Edward ,-" ucapan Stella terhenti saat Edward menyambar ucapannya.
"Percayalah padaku, Stella. Aku takkan membuatmu bersedih, jadi kau tenang saja. Aku mencintaimu, sayang." Ucap Edward.
Lalu Stella tersenyum.
"Baiklah, aku akan mandi. Kau keluarlah dulu." Ucap Stella pada Edward.
"Aku akan menunggumu di depan." Kata Edward sambil berjalan keluar dari kamar Stella.
Stella pun mengiyakan ucapan Edward.
***
Setelah selesai sarapan, Edward pun mengajak Stella untuk pergi ke rumahnya.
Selama di perjalanan, Stella menyandarkan kepalanya di bahu Edward untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman parkir rumah mewah milik orang tua Edward.
"Apa kau gugup, sayang?" tanya Edward pada Stella.
"Iya, aku sangat gugup." Jawab Stella.
"Tenang saja, aku akan selalu berada di sampingmu." Ucap Edward sembari mengaitkan jari jemarinya dengan jemari Stella.
Lalu Edward mengajaknya masuk kedalam rumah itu.
Kelly berdiri dan mendekat pada Edward dan Stella saat melihatnya.
"Ibu, ayah kenalkan. Dia adalah calon istriku." Ucap Edward dengan senyuman.
"Cantik sekali, siapa namamu?" tanya Tama pada Stella.
"Auristella. Panggil saja Stella, Om." Jawab Stella sopan.
"Kau bertemu dengannya dimana, Edward?" tanya Kelly pada Edward, namun matanya masih tertuju pada Stella.
Kelly melihat Stella dari bawah hingga ke atas. Lalu tatapan tak suka terlihat jelas di wajahnya. Stella pun menyadari hal itu.
"Aku bertemu dengannya sejak dua belas tahun lalu, Ibu." Jawab Edward tersenyum pada Stella.
"Darimana asalnya? kenapa dia terlihat biasa saja." Ucap Kelly meremehkan Stella.
"Ibu, Stella memang terlihat biasa saja di mata orang lain. Tapi dimataku, dia terlihat sangat spesial." Ucap Edward yang masih menggenggam tangan Stella.
Tatapan sinis Kelly lemparkan pada Stella.
"Kau tahu bukan, kami ini adalah keluarga terpandang di negara ini." Ucap Kelly pada Stella.
Stella menganggukkan kepalanya.
"Iya, saya tahu Tante." Jawab Stella menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Ibu, jangan seperti itu pada Stella. Dia adalah tamu kita." Kata Tama pada istrinya.
"Edward, kau buatkan minum untuknya. Dia pasti sangat kehausan." Perintah ayah pada Edward.
"Iya, aku akan membuatkan minuman untuknya." Ucap Edward.
"Kau tunggulah sebentar, Stella. Aku takkan lama." Kata Edward pada Stella dan Stella pun mengangguk.
"Stella, Om tinggal dulu. Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Ucap Tama pada Stella. Dan lagi-lagi Stella hanya menganggukkan kepalanya.
Kini hanya ada Stella dan Kelly.
"Jadi kau, yang membuat putraku tak menuruti keinginanku." Ucap Kelly pada. Stella.
"Maksud Tante apa? Stella tidak pernah membuatnya untuk menentang kedua orang tuanya." Jawab Stella.
"Alasan saja. Kau dengar baik-baik, kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Dan aku sudah menjodohkan Edward dengan gadis pilihanku. Dia jauh lebih cantik darimu. Kau lihatlah dirimu, tidak pantas untuk menjadi istri Edward." Ucap Kelly pada Stella.
Stella menggigit bibir bawahnya.
Ia tak kuasa untuk menahan air matanya yang akan berjatuhan.
Lalu Stella berdiri dan berpamitan untuk pergi.
"Maaf. Saya permisi dulu, Tante." Ucap Stella sembari meneteskan air matanya.
Lalu ia berlari keluar dari rumah itu.
Kelly tersenyum licik, ia senang membuat Stella bersedih.
Lalu keluarlah Edward dengan membawa nampan berisi minuman untuk Stella.
"Dimana Stella, Bu?" tanya Edward bingung pada ibunya karena ia tak melihat Stella di sana.
"Dia berpamitan untuk pulang tadi pada ibu. Untuk apa kau menanyakan dirinya." Ketus Kelly pada putranya.
"Apa yang ibu katakan padanya?" Tanya Edward dengan tatapan tajam.
"Kau menuduh ibu mengatakan yang tidak-tidak padanya?" tanya Kelly kembali pada Edward.
Lalu Edward mencoba untuk menghubungi Stella, namun Stella tak menjawab panggilannya.
"Sial." Ucap Edward dengan kesal.
Lalu Edward berlari keluar untuk mengejar Stella, namun setelah sudah tak terlihat lagi.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like dan komen.
Bersambung...
