Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sinar matahari mulai menyengat, pepohonan yang rindang dapat menangkal sinar matahari yang panas.

"Re, ada air terjun re" kata Moreo yang mematung. Ketika aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, aku juga mematung terpukau. Betapa indahnya air sungai yang terjun bebas kebawah, membentuk pelangi kecil yang cukup transparan. Terlebih dibawah sana terdapat banyak sekali pohon, tetapi jika dilihat dari sini diantara pepohonan itu ada sebuah danau kecil.

Sedangkan air terjun itu mengarah ke barat yang mulai tertutup lagi oleh rimbunan pepohonan yang tidak terlalu tinggi.

" Re, bisa turun kan?" Tanya Moreo membuyarkan lamunanku.

"Bisa kok." Jawabku mengumpulkan nyali.

"Turun aja dulu, aku mau nunjukin sesuatu." Katanya.

"Hm, baiklah akan kutunggu dibawah." Kataku sambil mencari jalan.

Tapi... Bagaimana caranya turun anjir, meski ga terlalu tinggi ini gue bawa mangga asw.

"Turun lewat bebatuan itu aja, pegangan yang kuat trus turun perlahan." Kata Moreo yang bisa membaca pikiran ku.

"Okeoke" jawabku sambil mencoba untuk menempel di bebatuan. Tapi ngeri cu, sama aja tinggi. Tapi mau gimana lagi, dikit demi sedikit aku turun. Ketika sampai di tengah, aku kelelahan.

"Semangat Re, dikit lagi" teriak Moreo menyemangati ku.

Ntah kekuatan dari mana tiba-tiba aku sudah sampai di bawah.

"Reeee, bisa dengar???" Teriak Moreo dari atas.

"Gue ga tuliii" teriak ku sekuat tenaga.

"Denger ya, kalo gue ga mati lo jadi milik gue." Teriak Moreo.

Belum sempat ku jawab dia sudah terjun bebas, aku syok melihat nya loncat. Reflek mangga yang ku pegang pun terjatuh.

Byurrrrrr.  Air sungai itu terguncang hebat, airnya membasahi tubuhku. Tanpa berkata-kata lagi, aku berlari dan melompat ke sungai itu. Dulu aku pandai berenang, jadi aku bisa mencari Moreo.

Panik, gelisah, senang, dan takut menjadi satu. Dalam air aku mencari tubuh Moreo, hingga aku melihat ke dasar sungai. Ia tergeletak dibawah karna tekanan, tanpa pikir panjang aku keluar dari air menangkap oksigen dan menyelam.

Untung saja aku kuat untuk membawa Moreo ke daratan. Aku dengar dengan seksama detak jantung nya dan juga mengecek hidungnya.

Syukurlah jantungnya masih berdetak, hanya nafas nya yang terasa di kulit jariku. Ku tekan dadanya dengan kedua tangan ku, berharap dia masih bisa bernafas.

Apakah ini artinya aku harus memberinya nafas buatan. Sial, daripada aku kehilangan. Sebenarnya aku tidak tau cara memberi nafas buatan, tapi aku pernah melihat di film-film.

Aku berniat memperagakan nya, ku dekatkan bibirku ke wajahnya. Tunggu yang ditiup hidung apa mulut nya? Sewaktu nonton adegannya disensor, jadi yang ku lihat hanya muka nya yang berhadapan.

Tiba-tiba Moreo kembali bernafas dan membuka matanya. Wajah kami berdekatan, matanya terlihat berkilauan dibawah teriknya matahari.

Tak sengaja ku lepas kepala nya dari tangan ku, itu kepalanya terjatuh. Aku tahu dia masih lemas, tapi aku juga gak suka kalo bertatap muka sedekat itu.

"Sakit lah Re." Katanya yang meringis kesakitan.

"Biarin." Jawabku dengan ketus.

"Jadi gimana?" Tanya Moreo. Seketika aku ingat perkataan nya sebelum meloncat tadi.

"Apanya." Jawabku seolah tak mengerti.

"Hm, pokoknya lu milik gue sekarang. Gak bisa dibantah dan ga ada penolakan." Ucap nya sambil berdiri.

"Gue merasa lu adalah jodoh gue, jadi kenapa ga dicoba?  Gue bisa kok lindungi elu dari hewan buas dihutan." Sambungnya.

"Iya deh iya" jawab ku mengiyakan.

"Baiklah kita berjalan ikut sungai ini aja, gue juga baru turun kebawah sini." Katanya.

"Aku mah ikut aja." Jawabku.

Aku heran melihatnya sudah berdiri, meloncat-loncat, dan cengengesan. Padahal baru saja dia mau mati.

"Ayok sekarang, nanti mereka bisa nangkep elu." Ucap Moreo sambil mengulurkan tangannya.

"Bukannya lu abis terjun, gak lemes?" Tanya ku keheranan.

"Kan udah gue bilang, gue tuh bukan cowok yang lemah. Lagian gimana bisa ngelindungi elu kalo sekali terjun aja udah mati.

"Iya dah iya." Jawabku.

Kami berjalan mengikuti arus sungai, dari kejauhan aku melihat daun pisang.

"Lihat, ada pisang!" Seruku yang membuat Moreo terkejut.

"Hah? Pishan itu apa?" Tanya Moreo yang tak mengerti maksudku.

"Itu ada buah kuning kuning." Jelasku padanya.

"Kunin kunin tu apa lagi?" Tanya nya yang membuatku menepuk jidat, aku lupa.

"Ikutin aku aja" sebelum dia berbicara aku pun menarik tangan nya.  Sial, aku terpeleset dan hampir jatuh.

"Hati-hati, liat dibawah." Kata Moreo yang memegang balik tangan ku agar aku tak jatuh.

"Iya-iya bawel ih" aku berdecak sebal, dan terus berjalan.

Akhirnya sampailah kami di pohon pisang nya, saat aku ingin mengambil tangan Moreo menghadang ku.

"Biar aku coba dulu, siapa tau beracun." Kata Moreo was-was.

Aku tak bisa melarangnya, ya aku belum siap memberitahu siapa aku sebenarnya.

Moreo mengambil salah satu pisang yang berwarna hijau dan mencoba memakannya.

"Cih, gak enak. Mending cari yang lain." Katanya yang terlihat bego.

"Coba yang di bawahnya." Kataku sambil menunjuk pisang yang berwarna kuning.

"Gak, gak enak." Kata Moreo. Aku menggeleng kepala dan mengambil pisang yang berwarna kuning. Aku mengupasnya, lalu ku makan.

"Buah ini enak, gue aja yang gak pernah tau cara makan nya." Kata Moreo yang sepertinya mengenali pisang jika sudah dikupas.

"Gitu cara makan nya. Perasaan semalem kita makan bareng deh." Kataku sambil memakan pisang yang rasanya manis itu.

"Gue coba." Tangannya mengambil yang pisang lagi, tapi gak ada kapok nya dia ambil yang warna hijau.

"Gak gak enak." Katanya setelah mencoba.

"Makanya liat gue ambil yang mana, ini makanan yang enak warna nya kayak matahari. Nih coba." Kataku sambil mengupas kan pisang yang berwarna kuning itu.

"Hmm manis, enak enak." Betapa gembiranya dia, saking girangnya sampai-sampai dia jingkrak-jingkrak. ' dasar mahluk primitif' kataku dalam hati.

Tapi sebelum aku melanjutkan perjalanan, aku ingin menanam biji  mangga tadi. Karna aku tak sanggup membawanya, lebih baik ditanam saja.

Aku menyadari bahwa Moreo memperhatikan apa yang ku lakukan, tetapi ku abaikan. Aku mengambil sebuah batu dan menggali tanah dengan batu itu, lalu ku masukkan biji mangga nya dan ku tutup lagi dengan tanah.  Aku mencari kerikil lalu membuat lingkaran di sekeliling  mangga yang ku tanam tadi.

"Lu apain tadi?" Tanya Moreo sambil berjalan.

"Aku menanam buah tadi, dan batu kecil tadi untuk dewi pohon agar di lindungi dari hewan yang ingin merusaknya. Eh tunggu," Aku melupakan sesuatu, aku mengambil daun yang lebar dan membawa air untuk disiramkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel