Bab 7
"Maksud bibi gimana?" Tanya ku yang masih kebingungan. Sedangkan bi Arui meminum air yang ia ambil.
"Besok kau akan tau, sekarang tidurlah bersama dalam gua itu." Perintahnya tanpa memberiku penjelasan lebih dalam.
"Tapi tad-"
"Tidurlah besok kau akan tau." Potong bi Arui. Aku pun hanya mengangguk paham.
Aku mengambil ranting kering yang ada disekitar dan membakarnya agar dapat dijadikan obor. Aku berjalan melewati jalan yang sama sambil memikirkan saran bi Arui.
Tak terasa aku sudah berada di depan gua, karena sudah malam keadaan dalam gua tidak terlalu jelas. Ku matikan obornya dan segera masuk ke gua, aku mencoba berhati-hati agar tidak menginjak orang lain.
Akhirnya aku berbaring di bagian paling luar karena aku datang lebih lama, memang hanya beralas tanah dan berbantal tangan.
Aku jadi merindukan kasurku yang empuk, tapi bagaimana pun juga aku akan kembali ke tubuh ku yang dulu. Aku bahkan belum memberi Lae jawaban yang pasti, apakah sebenarnya aku menyukai Brian.
Mau bagaimana pun cuma Leo yang tahu banyak tentang ku, akankah Leo menganggap ku adiknya. Mungkin aku terlalu memikirkannya, aku selalu menganggap nya kakakku.
Bukan berarti tidak menyukainya, sebenarnya apa itu cinta. Dadaku menjadi sesak ketika memikirkannya, lagi dan lagi. Berharap esok ku masih disini. Memang ingin kembali, tapi sebelum itu aku ingin sebebas ini.
Dan aku pun terlelap, dalam mimpi semua terasa terhenti. Tiba-tiba aku berada dimana tak ada gravitasi, rasanya tak asing. Hanya ada satu warna yang dapat ku lihat, lalu terdapat seperti gelombang berwarna hijau yang memudar. Diiringi suara yang tidak terlalu jelas, tapi sedikit yang aku bisa dengar dengan jelas.
Lagi lagi lagi,lebih cepat.
Lalu aku pun terbangun, dalam pikiran ku hanya kata-kata itu. Aku tak mengerti akan maksud dari mimpi aneh itu.
Pagi menyingsing, kicauan burung liar bagai alarm yang membangunkan para manusia.
Ketika pagi aku bisa melihat arah gua dengan benar. Ternyata gua itu ada di timur, karena jika memandang lurus dari gua terlihat sungai yang mengalir.
Akan tetapi terlihat di langit Utara mendung gelap akan menerkam kami. Tetapi bukan hanya itu, yang lebih menghawatirkan adalah bi Arui yang sudah ada di dekat sungai yang arusnya besar.
Aku hendak berlari, namun tak ku sangka Moreo menggandeng tanganku. Sontak membuat ku salah tingkah, tapi aku bisa menutupinya. Aku berlari mengikuti Moreo, kini berjarak sekitar 5 meter dari bi Arui. Aku bisa melihat dengan jelas rambutnya yang kiriting terurai mengombak, bibirnya yang merona dan juga matanya bersinar padam. Menandakan keputusasaan dan pasrah yang mendalam.
"Berhenti!, Aku hanya ingin bilang kalau aku menyayangi kalian semua." Aku yang terhenti mulai menduga-duga.
Tepat sekali, bi Arui menenggelamkan dirinya di arus sungai yang besar. Ia terhanyut dan hilang entah dimana.
"Istri kepala suku sudah meninggal, kemarin dia mengatakan padaku jikalau dia tidak ada maka yang menjadi penggantinya adalah Area." Kata seorang wanita paruh baya yang seperti nya orang yang sangat mengenal bi Arui.
Kini semua tatapan mata tertuju padaku, tentu saja aku masihlah sangat muda untuk diperistri.
" Tapi bukankah Area itu dijodohkan sama Amroe." Kata seseorang lelaki yang suaranya berat.
Lalu muncullah lelaki yang sepertinya pernah aku lihat. Kalau diperhatikan lebih seksama dia adalah lelaki yang berburu bersama Moreo dulu.
"Bagaimana ini, kalau terus begini siapa yang benar." Teriak seorang wanita mengompori para manusia-manusia yang sedang kebingungan.
Moreo menarik tanganku perlahan menjauhi para manusia-manusia itu, ketika dirasa aman dan tidak ada yang melihat Moreo pun melepas genggaman ku.
"Kita harus kabur dari sini, ini pesan dari bi Arui." Pernyataan Moreo membuatku terkejut.
"Tapi kenapa?" Tanyaku.
"Lo gila? Lo mau dijodohin ama bapak-bapak itu, atau lu mau dijodohin ama Amroe? Amroe itu suka lemes, cuma beban berburu aja ga bisa. Mending ama gue, kita lari aja dari sini." Penjelasan Moreo membuat jantungku tidak sehat.
Kalau dipikir-pikir lagi, memang perawakan dari Amroe nampak lemah. Waktu berburu dulu ia hanya membawa bagian yang kecil, aku tak terlalu menyukainya.
Mungkin ini yang dimaksud bi Arui semalam, mungkin aku bisa mempercayai Moreo.
" Baiklah ayo kita pergi" jawabku dengan senyum lebar.
Ku lihat wajah girang Moreo terpancar jelas, tanpa berkata-kata lagi Moreo menarik tangan ku dan berlari lagi. Rasanya seperti hidup di padang bunga yang ada dalam cerita dongeng, hanya aku peran utama dan pelaku utama. Dimana hidup dengan kedamaian tanpa kekerasan.
Pohon demi pohon kami lalui, hingga perutku berbunyi yang mengacaukan suasana. Tidak bisa disalahkan karena sedari pagi kami belum sarapan.
Moreo melepaskan tangannya dan memanjat pohon mangga, aku memperhatikan dengan seksama bagaimana caranya memanjat.
Ia pun turun membawa 4 buah mangga, aku heran dia bisa berani memanjat pohon mangga yang sangat tinggi.
"Ayo pergi, kalau cuma sampai sini bakal ketangkep nanti." Ajak Moreo.
Aku mengikuti Moreo sampai akhirnya kami menemukan bukit. Di bukit itu bertebaran kupu-kupu, karna banyak bunga yang indah.
"Kita makan dibawah bukit ini, kita nggak tau kalo bunga ini beracun atau enggak." Ucap Moreo. Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya kebawah bukit, ternyata dibawah bukit itu nampak seperti celah. Aku mendaratkan pantatku ke tanah yang agak basah.
"Nih, makan satu dulu yang satunya buat nanti." Kata Moreo.
"Iya, terimakasih."
Moreo membalas dengan senyuman lalu memakan buah mangga itu.
Mangga ini benar-benar manis, isinya berwarna oren dan kulitnya berwarna hijau tua. Rasanya benar-benar juicy.
Mangga ku kini tersisa bijinya, ku bawa bersama mangga yang lain.
"Itu dibuang aja, nggak bisa dimakan." Ucap Moreo yang kebingungan melihatku membawa biji mangga.
" Ini nanti mau aku tanem, biar tumbuh lagi" jawabku dengan enteng sambil berjalan mengikuti Moreo.
Kami berjalan dan berlari mengikuti arus air, melayang dan terjatuh menaiki angin.
"Tunggu aku haus." Protes ku pada Moreo yang sedari tadi berlarian.
Ku letakkan mangganya dan mengambil batu, ku lempar di sungai yang arusnya tidak terlalu kencang. Aman, dalam pikirku.
"Kenapa lempar batu?" Tanya Moreo yang heran.
"Untuk mengetahui apakah didalam sungai ini ada hewan buas." Jawabku.
"Haha lucu sekali, paling banyak didalam air juga ikan. Ada-ada lu." Katanya mengejek ku.
Tak ku hiraukan perkataannya, langsung ku ambil air itu kuangkat dengan kedua tanganku. Rasa segar dari air yang jernih.
"Lanjut jalan?" Ajak Moreo.
"Lanjuttt" jawabku sambil mengembangkan senyum ceria.
