Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

"Dewi pohon, aku mohon agar kau jaga ini sampai berbuah." Ucapku lirih.

Ku ambil lagi mangga ku dan berlari menuju Moreo. Tiba-tiba aku merasa dejavu. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian apa dan dengan siapa.

Akhirnya aku bisa mengingatnya. Dulu saat masih duduk di bangku dasar, ada laki-laki bernama Arka. Dia adalah cinta pertama bagiku, Brian juga tahu persis kalau aku menyukainya. Akan tetapi saat ada kegiatan menjelajah dia menggandeng tanganku dan berkata

" Suatu hari nanti aku akan menemukan mu, dan kita akan menikah.", Dan tiba-tiba ketika aku asik berbincang dengan Brian para guru panik karena Arka hanyut dalam sungai.

Dulu aku sangat terpukul dengan kepergian Arka, bahkan Brian juga tak bisa menghibur ku. Sifat Arka hampir sama dengan Moreo, mungkin karena itulah aku menyukainya.

"Re, ada danau." Kata Moreo yang membuyarkan lamunanku.

"Wahhh indahnya" aku kagum dengan danau itu, airnya bersih juga ada pohon jambu air.

Aku sangat suka dengan jambu air, tiap bi Mirna pulang kampung pasti bawa jambu air satu plastik. Rasanya manis, segar, dan juicy bikin ketagihan deh pokoknya. Tapi beda kalau beli di market, lebih segar yang dibawa bi Mirna sih.

"Moreo, ada buah enak ikut aku." Tanpa mendengar jawaban dari Moreo aku segera berlari menuju pohon jambu itu. Pohonnya tak terlalu tinggi jadi aku bisa meraih yang merah, dan ku taruh diantara kepalan tanganku. Dan terbelah menjadi dua jambu itu, tidak busuk dan wangi. Ku ambil bijinya dan ku bersihkan bagian bawahnya.

"Nih, cobain deh. Enak bangettt" ajak ku pada Moreo sambil ku berikan belahan jambu air itu.

Rasanya benar-benar manis dan juicy, rasa buah yang dipetik langsung dari pohonnya memang beda.

"Enakk, gue baru tau ini bisa dimakan." Kata Moreo terheran-heran. Nampaknya dia juga menyukai jambu air itu.

Setelah dirasa cukup kami pun kembali ke tepi sungai dan melanjutkan perjalanan. Kini matahari berada di barat daya, awan juga tak membawa hujan.

"Moreo, sampai kapan kita berjalan?" Tanyaku.

"Kenapa? Capek?" Lah malah nanya balik.

"Gak gitu" jawabku.

" Dari tadi kita kan istirahat." Jawabannya yang nampak nya tak memikirkan malam yang akan datang.

" Maksudku, kalau gelap kita tidur dimana?" Ku ajukan pertanyaan yang membuatnya memutar otak.

" Nanti kalo ketemu gua kita istirahat disitu." Jawabnya dengan enteng.

"Kalau gak nemu?" Tanya ku.

"Ada kok tenang aja, gue buatin deh kalo nggak ada." Jawabnya yang terdengar sombong.

Yang benar saja, tak lama kami menemukan sebuah gua. Moreo yang hendak masuk ku tahan, ku letakkan mangga ku.

"Kalau ada hewan buas didalam gimana?" Tanyaku pelan.

"Lu khawatirin gue ya?" Tanya nya.

"Yaudahlah masuk aja sana." Jawabku sambil memalingkan muka.

Dia mengambil batu dan bambu, tiba-tiba ia melempar batunya ke gua. Seperti dugaanku ada ular sebesar lengan orang dewasa, aku melihat aba-aba dari Moreo seakan aku harus sembunyi dibalik pohon.

Aku memperhatikan caranya berkelahi, ku akui dia sangat cekatan dalam hal seperti itu. Dalam beberapa menit bambunya menusuk mata ular dan leher yang kemudian ia buang ke sungai.

Aku berjalan perlahan menuju Moreo, dia tersenyum melihat yang terkagum-kagum.

"Baiklah baik tuan yang perkasa, akan ku buatkan api." Kataku mengambil batu.

Ku gesek kedua batu hingga muncul secuil api yang kemudian ku lempar ke arah dedaunan kering. Ku ambil ranting kering dan membakar ujungnya.

"Baik ayo masuk" ajak Moreo setelah mengambil obor dariku.

"Bentar tunggu dulu." Aku berlari mengambil mangga yang tadi aku bawa, lalu berlari kearah Moreo.

Ternyata gua itu tak dalam, aku meletakkan mangga di sudut gua. Sedangkan Moreo mengubur sedikit ujung obor yang tak terbakar. Akhirnya kami bisa beristirahat dengan tenang disini.

Aku terbangun mendengar jeritan sapi. Ku gosok pelan mataku dan mencoba untuk berdiri menghampiri suara tersebut, tetapi sampai diluar gua  sinar matahari dari barat membuat mataku silau. Ku berlari menuju sungai, dan kuambil air dari kedua tangan ku untuk membasuh muka.

Ternyata tak jauh dari atas gua Moreo berdiri menatap ku, aku yang masih linglung mencoba melangkah menuju Moreo. Kini dihadapan ku bukan hanya Moreo tetapi ada juga mayat sapi yang tak berdosa, aku mengerti Moreo ingin memakan daging. Tetapi bagaimana denganku, aku lebih suka memakan buah daripada sapi itu. Bukan karena tak ada bumbu, tetapi diperut sapi itu terdapat nanah.

"Lu gak suka?" Pertanyaan yang sudah bisa ditebak, tentu saja karena mimik mukaku yang menandakan jijik.

"Gue makan mangga aja, itu mangga bawanya penuh perjuangan. Sia-sia kalo gak dimakan, lu makan daging aja." Alasan yang tepat untuk menanggapi manusia primitif.

"Yaudah terserah lo" katanya sambil menguliti sapi itu.

Kini hari mulai gelap, walau langit berwarna jingga. Aku memutuskan untuk mengumpulkan dedaunan kering yang tak jauh dari gua serta mencari ranting pohon yang jatuh. Sambil terus mencari aku bersenandung kecil, entah perasaan apa ini. Selama ini aku memang menginginkan kebebasan yang liar, bagai burung terlepas dari sangkar. Tetapi aku juga merindukan kehidupanku yang membosankan, terlebih pada mami and dadi.

Karena terus melamun aku tak sadar ada akar pohon yang membuatku tersandung, dedaunan dan ranting yang kubawa jatuh berserakan. Sedangkan lutut kananku tergores, darahku pun keluar sedikit demi sedikit. Aku meringis kesakitan, dan teringat akan kejadian dilantai sekolah. Memang sewaktu itu entah karena aku sangat takut atau bagaimana rasanya kaki ku mati rasa. Tetapi berbeda dengan ini,  rasanya membuat ingatan pahit terus teringat.

Aku mencoba berdiri dan menghampiri pohon yang akarnya tidak sopan, aku berniat memukul pohon itu. Tetapi niat ku terhenti ketika aku menatap keatas, ternyata pohon belimbing. Ada yang berwarna kuning dengan silau matahari yang jingga, kini aku ingin mengambilnya.

  Sial disini gak ada tangga, sangat merepotkan. Ya, dengan memanjat. Tapi aku hanya bisa memanjat pohon mangga, aku ingin mencoba tapi banyak semut merah. Kalau aku pakai ranting pohon yang panjang buahnya akan bonyok ntah lah apa bahasanya intinya mbonjrot.

Aku berusaha keras memutar otak, tetapi tetap saja aku tidak menemukan ide. Tiba-tiba Moreo menepuk pundak ku, aku yang terkejut tak sadar kalau salah satu kakiku terangkat. Apa sih namanya, njingkat. Ah sudahlah lupakan, aku tertawa ketika Moreo tertawa dengan tingkah ku.

"Lu kenapa sih, perasaan gue cuma megang pundak lu." Katanya seakan tak berdosa.

"Ih lu sih bikin gue kaget, tolong dong ambilin itu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel