Bab 6
"Aku tak tahu, kata mereka aku pembawa sial dan-"
"Apa pemimpin nya lelaki paruh baya?" Potong nya.
"Iya" jawabku pasrah.
" Kami berniat akan mencari mu besok, tapi syukurlah kau sudah ketemu. Kalau tidak suku kami dan suku itu akan berperang" jelasnya.
" Untung saja kau tidak mati kelaparan, suku itu memang tidak punya hati" lanjutnya.
"A..aku tak mengerti" suaraku yang terputus-putus karena terlalu takut.
" Tak apa wajar kau tak tau, sekarang kau ikut kami. Kamilah keluarga mu sekarang" katanya yang penuh semangat.
"Tapi kenapa aku menjadi penyebab perseteruan-"
"Nanti akan diceritakan bibi. Jadi kau mau ikut kami?" Tawaran yang cukup membingungkan.
Masalahnya, kami baru saja bertemu. Kenapa dia tahu asal usul ku, lalu kenapa harus ikut mereka? Tapi kalau dipikir-pikir lagi daripada aku mati kelaparan, mungkin ada baiknya aku ikut mereka.
"Baik aku ikut" jawabku selang beberapa menit.
"Moreo" katanya sambil menarik tanganku menuju para lelaki tadi. Namanya unik, tapi aku menyukainya.
"Mari pulang, dia sudah ditemukan!!!" Ucapnya girang. Ia menoleh ku dan tersenyum lebar.
"Akhirnya.." kata salah satu lelaki dewasa yang berambut sebahu.
Aku pun mengikuti mereka , tetapi aku terjatuh. Karna aku belum makan itu membuatku lemas.
" Kau kenapa?" Tanya Moreo.
"Aku belum makan" jawabku lirih.
Tak ku sangka Moreo menggendongku. Kuat juga dia, menebar pesona jiakhhhh. Maklum saja aku dulu sama sekali belum punya pengalaman berpacaran. Bau keringatnya dibawah sinar matahari membuat hatiku mabuk.
Akhirnya aku melihat banyak manusia sedang melakukan banyak hal, tapi karna lemas aku tak mempedulikannya.
" Dia sudah datang" teriak lelaki yang tadi mengangkat daging.
Banyak sekali yang berkata seperti itu, saling sahut menyahut. Moreo menyandarkan tubuhku di pohon apel, banyak buah di depanku.
"Makanlah, ini untuk kita semua" ucap Moreo. Aku tidak mau menolak rezeki, ku makan buah pisang dan apel. Aku pun kenyang walau hanya makan buah.
Tiba-tiba ada wanita yang duduk di sebelahku.
"Kamu anaknya kakak ku, jangan takut padaku. Sini ku jelaskan padamu." Katanya sambil memperhatikan ku.
"Baiklah" jawabku.
" Jadi ibumu dulu adalah calon istri sang kepala suku, tetapi ada pria dari suku itu yang menyukai ibumu. Lalu ayahmu dulu memaksa ibumu untuk tinggal bersamanya, karena ibumu akan diperistri maka ia menolak. Tetapi ayahmu memaksa, dan membawa ibumu di sukunya. Ia tak kunjung kembali hingga kami berpindah tempat, akhirnya aku bertemu dengan ibumu di perbatasan sungai itu. Ia menderita karena suku ayahmu tidak menyetujui pernikahan ayahmu dan ibumu, maka dari itu ayahmu dibuang dan ibumu yang sedang hamil pun hanya numpang disitu. Sebelum dia pergi, dia bilang nanti setelah melahirkan aku akan meminta mereka untuk menjaga anakku sampai setinggi perut sang kepala sukunya. Dan saat itu temukan anakku, oh iya namanya Area. Itu kata ibumu sebelum kami berpisah." Jelasnya panjang lebar.
Aku hanya menunduk kebingungan, kesepian, dan rindu akan kehangatan.
" Area, karena aku menggantikan ibumu menjadi istri kepala suku, nanti aku ingin kau menjadi penerus ku." Kata wanita itu sambil tersenyum.
"Baiklah, aku dengan senang hati menerima nya." Jawabku sambil mencoba tersenyum. Ada alasan kenapa aku mau, ya karena aku belum terlalu paham akan situasi ini. Dan aku hanya bisa pasrah.
"Oh iya nama bibi siapa?" Tanyaku menahannya yang ingin beranjak meninggalkan ku.
"Namaku Arui, dan ibumu Arei." Katanya sambil tersenyum ramah padaku. Lalu sesaat wanita itu pergi meninggalkan ku.
Aku pun sendiri lagi, walau di depanku banyak orang yang sedang lalu lalang.
" Tidur aja Re" ucap Mareo tiba tiba yang membuatku terkejut.
"Euhm... Iya" jawabku sambil mengatur posisi untuk berbaring.
Ku pejamkan mataku hingga hanya gelap yang terlihat. Kalau di ingat" Moreo manis juga, gagah pula.
*****
Ku buka mataku perlahan, mencoba untuk berdiri. Mereka sedang membakar sapi, ada berbagai macam buah seperti; pisang,mangga,apel,pepaya,dan buah rambutan.
"Udah bangun re?" Pertanyaan konyol berkedok basa basi itu membuat ku menoleh pada Moreo yang sedang membawa kayu.
"Udah" jawabku
"Maksud nya apa?" Tanya Moreo memastikan.
Ups, ternyata aku keceplosan ngomong bahasa Indo. Aneh bisa-bisa nya aku lancar dalam berbahasa primitif.
"Udah bangun kok, tem-"
"Makanan sudah siap, mari kita makan. Anak-anak!" Potong Bi Arui.
Aku pun ikut serta, termasuk Moreo. Makan bersama membuat rasa daging yang hambar menjadi lebih nikmat. Jujur saja ini masuk akal jika rasanya hambar, sapi bakar ini hanya baunya yang harum. Maklum saja proses memasaknya hanya dibakar tanpa rempah-rempah.
Mungkin mereka juga belum mengetahui tentang rempah-rempah dan juga garam atau pun gula. Lain hal dengan buah-buahan nya yang segar, pisang saja rasanya lebih padat dan mengenyangkan. Tekstur pisang nya berbeda dengan pisang yang dulu sering beli di supermarket.
Mangga pun manis dan juicy, aku tidak terlalu tahu tentang jenis mangga. Tetapi mangga itu sangat besar dan bijinya kecil, kulitnya masih hijau tetapi sudah empuk.
Adapun apel yang diambil langsung dari pohonnya, rasanya sangat manis. Buahnya besar dan mengenyangkan, meski separuh hijau dan separuh nya lagi merah.
"Besok kita tetap disini dulu, sepertinya besok hujan akan turun." Ucap kepala suku.
"Dia namanya siapa?" Tanyaku pada Moreo yang sedang memakan pisang.
"Itu namanya tuan Omomari, dia diangkat jadi kepala suku karena bisa meramal hujan." Jelasnya.
"Seorang kepala suku harus memiliki pasangan, jadi kalau kau mau jadi istri seorang kepala suku harus menikahi kepala suku." Sambungnya.
Ku dekatkan mulutku pada daun telinganya seraya berbisik.
"Bi Arui pengen gue jadi calon istri kepala suku." Jelas ku padanya.
" Begitu ya, hm. Aku akan mencoba jadi kepala suku nanti ag-"
"Area, ikut bibi dulu. Cuma sebentar." Tiba-tiba bi Arui memotong pembicaraan. Mau tak mau aku harus meninggalkan Moreo.
"Iya bi" Jawab ku.
Aku mengikuti bi Arui yang membawa obor menuju sungai. Ketika sampai, bi Arui menangis memandang air sungai yang memantulkan indahnya bulan.
Tangis yang ia sembunyikan tak bisa ditutupi, hidungnya memerah diantara kulitnya yang gelap. Jujur saja, bi Arui sangat manis dengan rambut nya yang keriting dan bibirnya yang tebal.
"Maaf ya area, bibi gak bisa lama disini. Bibi pengen ketemu sama ibumu, banyak hal yang bibi alami ketika ibumu tak ada. Bibi memang egois, tetapi bibi mempunyai saran." Jelas bi Arui yang masih terisak.
"Dulu kau dijodohkan dengan Amroe. Jika kau tak ingin menjadi istri kepala suku, maka menikahlah dengan Amroe."
